← Gula Setengah Sendok

Chapter Eighteen

Kaleng Biskuit

POV: Irvan


Aku tidak tidur malam itu.

Salsa tertidur lagi di kursi plastik sekitar pukul dua, kepala bersandar di dinding, dua jari masih di pergelangan tanganku. Aku tidak berani bergerak. Aku berbaring dengan tangan kanan di atas selimut, membiarkan jari-jarinya di sana, dan menatap langit-langit kamar kelas dua yang tidak punya noda berbentuk Sulawesi.

Hari ke-392.

Aku mencoba mengingat hari itu. Selasa, bulan Juli, hujan dari subuh. Aku tidak ingat apa-apa. Itu hanya satu dari ratusan Selasa yang sama, empat setengah jam di kursi abu-abu RS Kartika, jendela kecil menghadap tempat parkir. Hari itu ada pasien yang kram, mungkin. Hari itu ada dokter jaga yang naik dari IGD, mungkin. Aku tidak memperhatikan. Aku tidak pernah memperhatikan siapa pun di sana.

Dan hari Jumat setelahnya, ada perempuan bertopi rajut di balik ambulans tua, menutup mulutnya dengan dua tangan.

Tujuh tahun. Tujuh tahun ia tahu, dan ia tidak datang. Bukan karena ia tidak peduli. Karena ia tahu aku akan lari.

Ia benar. Aku akan lari. Aku tahu persis aku akan lari, karena aku sudah melakukannya: ketika kawan lama memanggil namaku di pasar Kosambi, aku pindah kos dalam sebulan.

Ia mengenalku lebih baik dari aku mengenal diriku sendiri. Dan ia menggunakan semua pengetahuan itu untuk satu hal: supaya aku tidak lari dari tempat ia bisa melihatku.

Pukul lima pagi, langit di jendela berubah dari hitam ke abu-abu. Salsa membuka mata, menatapku, lalu menatap jam tangannya.

“Aku pulang sebentar,” katanya. “Mandi. Ambil sesuatu.”

“Ambil apa?”

Ia berdiri, melipat jas dokternya di lengan, merapikan rambutnya yang terurai dengan jari, dan gagal. Lalu ia menatapku dari ujung ranjang.

“Kamu nanti lihat sendiri,” katanya.


Ia kembali pukul sembilan, dengan rambut basah yang dicepol rapi dan satu helai yang lolos di pelipis kiri, kemeja hijau muda, dan sebuah kaleng biskuit di pelukannya.

Kaleng Khong Guan. Yang besar, yang bundar, yang gambar tutupnya keluarga sedang duduk di meja makan dengan seorang ibu menuang teh. Kaleng yang ada di setiap rumah di Indonesia saat Lebaran, dan yang setelah biskuitnya habis, berubah fungsi jadi tempat menyimpan jarum jahit, atau kerupuk, atau surat-surat penting.

Catnya sudah sedikit mengelupas di pinggir.

Salsa duduk di kursi plastik. Ia meletakkan kaleng itu di atas ranjang, di samping kakiku. Lalu ia tidak membukanya. Ia hanya menatapnya, dua tangan di atas tutupnya, seperti seseorang yang berdoa sebelum makan.

“Mbak Kirana yang nyimpenin buat aku,” katanya.

Aku tidak mengerti. “Kirana?”

“Hari kedua aku datang ke kedai kamu,” kata Salsa, masih menatap kaleng, “aku nunggu sampai kedai tutup. Aku ketuk pintu belakang. Mbak Kirana yang buka.”

Aku menatapnya.

“Aku bilang, Mbak, sleeve yang saya tinggal di meja tiap pagi, tolong jangan dibuang. Tolong disimpan. Nanti tiap minggu saya ambil.” Salsa tersenyum sedikit, ke kaleng itu, bukan ke aku. “Mbak Kirana lihatin aku lama banget. Kayak lihat orang gila. Terus dia nanya satu hal: Bu Dokter kenal Mas Irvan dari dulu, ya?”

“Terus kamu jawab apa?”

“Aku nggak jawab. Aku cuma bilang, tolong.” Salsa membuka sedikit tutup kaleng, lalu menutupnya lagi. “Dia ngangguk. Dia nggak nanya apa-apa lagi. Tiap Sabtu malam, jam setengah sepuluh, di pintu belakang, dia kasih aku amplop cokelat. Isinya sleeve seminggu.”

Kirana.

Kirana yang menyimpan sleeve hari pertama dan meletakkannya di depanku tanpa berkata apa-apa. Kirana yang menaruh pulpen tinta hijau di laci kasir dengan sticky note kalau Mas mau balas. Kirana yang menyimpan sleeve ulang tahunku seharian di saku celemek dan bilang saya pikir Mas perlu bacanya pas kedai udah sepi. Kirana yang mengusir pelanggan di malam hujan. Kirana yang menyeret Dodi pulang sebelum malam uji menu.

Kirana tahu. Dari hari kedua.

“Kenapa nggak kamu bawa sendiri?” tanyaku. “Sleeve-nya. Kenapa ditinggal di meja?”

Salsa mendongak. Ia menatapku seolah-olah itu pertanyaan paling bodoh di dunia.

“Karena kamu lihatin aku dari balik mesin espresso, Van. Tiap pagi. Dua puluh menit.” Ia menunjuk mataku dengan dagunya. “Kalau aku masukin sleeve ke tas di depan kamu, kamu tahu aku baca. Kalau kamu tahu aku baca, kamu berhenti nulis.”

Aku tidak bisa membantahnya. Ia benar. Aku akan berhenti nulis. Aku berhenti di hari ketika ia menulis Masih Apa di cup.

“Jadi aku baca di meja,” kata Salsa. “Pakai sinar matahari dari jendela. Coretannya tebal, tapi kalau diangkat ke arah cahaya, tintanya kelihatan tembus.” Ia tersenyum lagi, kecil, miring sedikit ke kiri. “Kursi dekat jendela itu nggak cuma buat lihatin rumah sakit, Van.”


Ia membuka kaleng itu.

Di dalamnya, sleeve-sleeve cokelat bertumpuk rapi. Sangat rapi. Sudut ketemu sudut. Diikat dengan karet gelang per minggu, setiap ikatan diberi secarik kertas kecil bertuliskan tanggal dengan tinta hijau.

Enam minggu. Lima ikatan karet gelang, dan satu ikatan yang lebih tipis.

Salsa mengambil ikatan pertama. Ia melepas karetnya dengan hati-hati, seperti melepas perban dari luka yang baru kering.

Lalu ia mengambil sleeve paling atas, mengangkatnya ke arah jendela kamar rawat, ke cahaya pagi yang masuk miring dari luar, dan membaca.

“Kamu masih jaga malam?” Suaranya pelan.

Aku memalingkan wajah ke dinding.

Ia mengambil sleeve berikutnya. “Kamu kurusan.”

Sleeve berikutnya. Suaranya sedikit lebih pelan. “Maaf.”

Ia berhenti. Ia menatap sleeve itu lama. Coretan di atasnya paling tebal, sampai karton cokelatnya hampir sobek di satu titik, tapi di bawah cahaya jendela, empat huruf itu tetap terlihat, tembus, seperti hantu.

“Ini yang paling lama aku baca,” katanya. “Aku duduk di jendela dua puluh menit, Van. Dua puluh menit aku lihatin empat huruf ini. Terus aku visite, dan aku salah nulis dosis obat di status pasien. Untung perawatnya teliti.”

Aku menatap dinding. Dinding kamar kelas dua dicat krem, dengan bekas paku di satu titik, tempat dulu mungkin ada jam.

“Kenapa ginjal, Sa?” baca Salsa.

Lalu, sleeve berikutnya. “Kamu jaga malam lagi.”

“Makasih.” Dicoret dua kali. “Ini yang besok paginya setelah ulang tahun kamu,” katanya. “Coretannya dobel. Aku pikir kamu nyesel.”

“Aku nggak nyesel.”

“Aku tahu.” Salsa mengusap coretan itu dengan ibu jari. “Sekarang aku tahu.”

Pintu kamar terbuka.


“Van! Ibu bawain bubur ayam tanpa garam!”

Ibu masuk dengan rantang plastik tiga susun dan wajah yang sudah berhenti menangis tapi belum berhenti bengkak. Kerudung cokelat, daster batik. Ia berhenti di ambang pintu dan menatap pemandangan di depannya: Salsa di kursi plastik, kaleng Khong Guan terbuka di atas ranjang, sleeve-sleeve cokelat di pangkuannya, dan aku yang menatap dinding.

Ibu meletakkan rantang di meja dengan bunyi gedebuk.

“Itu apa?” tanya Ibu.

“Sleeve, Bu,” kata Salsa.

“Sleeve apa?”

“Sleeve kopi. Yang Van tulisin tiap pagi, terus dicoret.”

Ibu menatapku. Lalu Ibu menarik kursi plastik kedua dari pojok kamar, menyeretnya ke samping kursi Salsa, dan duduk. Ia mengulurkan tangan.

“Coba Ibu lihat.”

“Bu,” kataku. “Jangan.”

“Diem, Van. Kamu pasien.” Ibu mengambil sleeve dari tangan Salsa. Ia mengangkatnya ke cahaya jendela, menyipitkan mata di balik kacamata bacanya, dan membaca dengan suara keras. “Kamu kurusan.”

Ibu menurunkan sleeve itu. Ia menatapku.

“Ya Allah, Van,” kata Ibu. “Delapan tahun nggak ketemu, kalimat pertama kamu kamu kurusan? Itu bukan rayuan. Itu laporan gizi.”

Salsa mengeluarkan suara kecil. Separuh tawa, separuh isak.

“Itu bukan kalimat pertama, Bu,” katanya. “Kalimat pertamanya dia nggak kasih ke aku.”

“Mana?”

Salsa menatapku.

Aku menatapnya balik. Lalu, pelan, aku meraih kemeja yang tergantung di tiang infus, kemeja abu-abu yang kupakai waktu jatuh di kedai, yang dilepas perawat IGD dan dititipkan Kirana dengan rapi. Aku merogoh saku dadanya.

Ada di sana. Di belakang spidol yang masih terselip. Sleeve yang dilipat dua, sudah sangat lembek, pinggirnya mulai berbulu karena terlalu sering dilipat dan dibuka.

Aku menyerahkannya pada Salsa.

Ia membukanya pelan-pelan. Ia tidak perlu mengangkatnya ke jendela. Ia sudah tahu isinya. Ia pernah membacanya di meja dekat jendela, enam minggu lalu, di pagi pertama, sebelum meninggalkannya untuk Kirana.

Apa kabar, Sa

Dua garis hitam tebal.

“Kirana kasih ini ke aku hari itu,” kataku. “Aku nggak buang.”

Enam minggu aku memindahkannya dari saku kemeja ke saku kemeja, setiap pagi, bersama spidol. Aku tidak pernah bilang itu pada siapa pun.

Salsa menatap sleeve itu. Lalu, tanpa berkata apa-apa, aku meraih dompetku di laci samping ranjang, membukanya, dan mengeluarkan dua benda dari belakang KTP. Sleeve ulang tahun. Dan sebungkus permen jahe.

Aku meletakkannya di pangkuan Salsa, di atas tumpukan sleeve yang lain.

“Itu dua yang hilang dari kalengmu,” kataku. “Sekarang lengkap.”

“Yang ulang tahun,” kata Salsa pelan, “Mbak Kirana minta izin dulu. Katanya, yang ini nggak boleh masuk amplop, Bu Dokter. Yang ini harus sampai ke Mas Irvan.”

Salsa menunduk menatap tiga benda di pangkuannya. Sleeve pertama. Sleeve ulang tahun dengan tinta hijau. Permen jahe terakhir yang ia masukkan ke toples tip malam itu.

Ibu menatap kami berdua bergantian. Lalu Ibu berdiri, mengambil rantang bubur, dan berjalan ke pintu.

“Ibu ke kantin,” kata Ibu. “Beli teh. Lama.”

Pintu tertutup.


Salsa mengambil sleeve dari ikatan terakhir. Ikatan yang paling tipis.

Ia mengangkatnya ke cahaya jendela. Ia tidak membacanya keras-keras. Aku tahu sleeve apa itu, dari caranya memegang. Dari caranya menahan napas.

Aku masih

Dua garis hitam tebal. Coretan yang paling cepat, paling panik, karena Dodi bersin di luar jendela.

“Ini yang bikin aku nggak tidur semalaman,” kata Salsa. “Aku berdiri di bawah lampu gerbang rumah sakit, baca ini, terus aku masuk ke ruang jaga dan nggak bisa tidur. Aku cuma duduk, mikirin kata ketiganya. Aku masih apa, Van? Masih sakit? Masih marah? Masih bohong?”

Ia menurunkan sleeve itu. Ia menatapku.

“Masih sayang?”

Aku tidak menjawab. Aku tidak sanggup.

“Makanya besoknya aku nulis Masih Apa di cup,” kata Salsa. “Aku pikir, kalau aku nanya, kamu bakal jawab. Atau seenggaknya kamu bakal nulis lagi.” Ia tertawa kecil, pahit. “Terus kamu berhenti nulis. Terus kamu makan siang sama Mbak Nadia di kursiku. Terus kamu bilang aku jangan datang lagi.”

“Sa...”

“Aku tahu sekarang kenapa.” Ia mengikat ulang sleeve-sleeve itu dengan karet gelang, sangat rapi, sudut ketemu sudut. “Mbak Nadia udah tunangan. Polisi pakai kacamata item di meja pojok itu tunangannya. Residenku yang ngegosip ternyata nggak lihat cincin kawin, cuma cincin tunangan, dan itu bukan dari kamu.”

Aku menatapnya.

“Aku dokter, Van,” katanya. “Aku diagnosis orang tiap hari. Kamu pikir aku nggak bisa diagnosis sandiwara makan siang yang tunangannya ikut nonton sambil pesan air putih empat kali?”

Ia memasukkan ikatan terakhir ke dalam kaleng, bersama sleeve pertama, sleeve ulang tahun, dan permen jahe. Ia menutup kaleng itu. Gambar keluarga di tutupnya menatapku: seorang ibu yang menuang teh, seorang ayah yang membaca koran, anak-anak yang menunggu biskuit.

“Aku tahu itu sandiwara,” kata Salsa pelan. “Tapi tetap sakit.”


Aku tidak bisa berkata apa-apa untuk waktu yang lama.

Di luar, suara troli obat lewat di koridor. Kakek di ranjang sebelah mendengkur dengan irama metronom. Seseorang memanggil nama perawat di kejauhan.

“Kenapa kamu simpan?” tanyaku akhirnya. Suaraku hampir tidak terdengar. “Semua ini. Kenapa?”

Salsa mengusap tutup kaleng dengan jari.

“Karena itu satu-satunya cara kamu ngomong sama aku,” katanya. “Delapan tahun kamu diem. Terus tiba-tiba, tiap pagi, ada kalimat. Dicoret, tapi ada.” Ia mengangkat bahu. “Orang yang lagi kehausan, Van, nggak protes airnya keluar dari keran yang bocor.”

Ponselku berdering di laci samping ranjang.

Salsa mengambilnya dan menatap layarnya. Lalu ia menyerahkannya padaku, dan aku melihat namanya di layar. Kirana.

Aku mengangkatnya.

“Mas,” kata Kirana. Suaranya kalem seperti biasa, tapi ada sesuatu di bawahnya. “Mas udah bisa ngobrol?”

“Bisa, Kir.”

“Maaf ganggu. Saya cuma mau tanya soal kerjaan. Saya lagi beresin berkas di laci kasir, soalnya kontrak sewa ruko kita jatuh tempo bulan depan, dan Mas lagi di rumah sakit, jadi saya pikir saya urus dulu.” Jeda. Bunyi kertas dibalik. “Mas. Saya baru baca kontrak lima tahun ini dari awal.”

“Kenapa?”

“Ini ruko dua lantai, Mas. Di depan rumah sakit. Di jalan utama.” Kirana berhenti sebentar. “Saya cek harga sewa ruko di sebelah. Toko obat yang di kiri, sama warung padang yang di kanan. Mereka bayar hampir tiga kali lipat dari kita.”

Aku tidak menjawab. Di kursi plastik, Salsa sedang menatap kaleng Khong Guan di pangkuannya. Ia tidak bergerak. Ia bahkan tidak bernapas.

“Mas,” kata Kirana. “Sewa ruko kita kok lima tahun nggak pernah naik, ya?”