← Gula Setengah Sendok

Chapter Forty One

Epilog: Gelas Penuh

POV: Irvan


Aku bangun pukul lima lewat lima puluh, dan sisi kasur di sampingku sudah kosong.

Bukan kosong yang dingin. Seprainya masih hangat. Bantalnya masih menyimpan lekukan kepala. Ada sehelai rambut gelap, panjang, melengkung di atas sarung bantal putih, dan aku tahu tanpa perlu memeriksa bahwa helai itu berasal dari pelipis kiri.

Dari dapur, terdengar bunyi teko.

Aku berbaring sebentar dan mendengarkan. Bunyi air yang dituang dari teko aluminium yang penyok di beberapa tempat. Bunyi sendok yang mengaduk, pelan, berputar, berhenti. Bunyi toples gula dibuka. Lalu tidak ada bunyi apa-apa, cukup lama, seperti seseorang yang sedang menakar sesuatu dengan sangat hati-hati.

Hari Minggu. Kedai Setengah buka pukul tujuh di hari Minggu sekarang, bukan pukul enam, karena Kirana yang memegang kunci di akhir pekan dan Kirana bilang, Mas, hari Minggu itu buat Mas di rumah. Pak Ujang bisa nunggu sejam. Dia bisa makan gorengan dulu.

Aku tidak membantah. Aku sudah belajar tidak membantah Kirana.

Aku meletakkan telapak tangan di perut kanan bawah. Kebiasaan, setiap pagi sejak operasi. Di bawah kulit, di bawah bekas luka yang sekarang sudah tinggal garis tipis berwarna lebih pucat, ginjalnya bekerja. Kemarin, di poli lantai satu, dr. Bambang membaca angka-angka di layar komputer, menggulir ke atas sampai ke hasil saat rejeksi, lalu ke bawah lagi.

Stabil, Mas, katanya. Seperti biasa.

Lalu ia melepas kacamatanya, mengelapnya, memasangnya kembali, dan menambahkan sesuatu yang tidak biasa.

Mulai sekarang, kopinya boleh satu gelas penuh.


Aku berjalan ke dapur dengan kaus tidur dan kaki telanjang.

Ia berdiri di depan kompor dua tungku, membelakangiku. Daster batik hadiah Ibu. Rambut dicepol asal, miring ke kanan, karena ia mencepolnya sendiri dalam gelap supaya tidak membangunkanku. Satu helai lolos di pelipis kiri.

Di atas kompor, teko Mang Ade. Di meja dapur di sampingnya, dua gelas.

Satu gelas kaca bening, ukuran biasa. Penuh. Kopi tubruk, hitam pekat, dengan uap yang naik tipis ke udara pagi yang dingin. Ampasnya sudah tenggelam semua. Tidak ada yang mengapung.

Satu cangkir keramik kecil, hadiah dari Sus Tini, bergambar bunga melati. Berisi sesuatu yang bening kecokelatan.

Ia mendengar langkahku. Ia tidak menoleh.

“Duduk,” katanya.

Aku duduk di kursi meja makan kecil kami. Sekarang ada empat kursi. Kursi ketiga dan keempat datang bulan lalu, dari toko mebel di Jalan Cibadak, dan Ibu yang memilih warnanya.

Ia mengangkat gelas kaca bening itu dengan dua tangan. Lalu, sebelum menyerahkannya, ia berhenti. Ia menatap gelas itu. Ia menatap toples gula di meja dapur, yang tutupnya masih terbuka.

Lalu ia menoleh padaku. Matanya menyipit sedikit. Senyumnya miring ke kiri.

“Setengah sendok, kan?” tanyanya.

Aku menatapnya.

Pagi pertama, di Kedai Setengah, aku yang menanyakannya. Bibirku bergerak sendiri sebelum aku bisa menghentikannya, dan seluruh kedai berhenti bernapas. Di balik bar, ketika Kirana sakit dan Dodi terjebak di bengkel Pasupati, ia yang menanyakannya, dengan sendok kecil di atas toples dan hati anatomis berbentuk angsa yang belum jadi. Di sleeve pertama tanpa coretan, aku yang menuliskannya, dengan pulpen hijau delapan tahun yang tintanya baru keluar di goresan keempat.

Dan sekarang ia menanyakannya, di dapur rumah kecil kami, pukul enam pagi, dengan kopi yang ia buat sendiri untukku.

“Iya,” kataku. “Setengah sendok.”

“Aku tahu,” katanya. “Aku udah nakar.”

Ia meletakkan gelas itu di depanku.


Ada sleeve di gelas itu.

Sleeve karton cokelat, dari Kedai Setengah. Ia pasti membawanya pulang dari kedai kemarin sore, ketika aku masih di poli dan ia mampir untuk ngopi dengan Kirana. Sleeve itu dipasang di sekeliling gelas kaca bening, terlalu longgar, karena sleeve itu dibuat untuk cup kertas, bukan gelas kaca. Ia menahannya dengan karet gelang di bagian bawah. Karet gelang yang biasa ia pakai untuk mencepol rambut.

Ada tulisan di sleeve itu. Tinta hijau. Tulisan bulat-bulat yang rapi.

Atas nama: Istri. Udah. Titik.

Aku membacanya. Aku tersenyum.

Orang Asing. Pasien Nomor Tujuh. Dokter Galak. Tamu Undangan. Masih di Sini. Masih Apa. Calon Istri yang Tertunda.

Istri. Udah. Titik.

Lalu aku melihat ada baris kedua. Di bawah, lebih kecil, seperti catatan kaki yang ditulis dengan tangan yang sedikit lebih gemetar.

(Yang di sebelah teh tawar dulu. Sembilan bulan. Bukan karena patah hati.)

Aku membacanya.

Lalu aku membacanya sekali lagi.

Lalu aku membacanya ketiga kalinya, dan pada kali ketiga, kata-kata itu berhenti menjadi kata-kata dan mulai menjadi sesuatu yang lain.

Aku menatap cangkir keramik bergambar bunga melati di meja dapur. Isinya bening kecokelatan. Bukan kopi.

Teh tawar.

Di RS Kartika, aku minum teh tawar. Setahun penuh. Teh tawar nggak punya takaran gula. Teh tawar nggak punya kenangan.

Aku mengangkat wajah dan menatapnya.

Ia berdiri di depan kompor, dua tangan memegang ujung meja dapur di belakangnya, seperti orang yang menahan diri supaya tidak jatuh. Wajahnya merah. Matanya basah. Tapi ia tidak menangis. Ia tersenyum, senyum yang tidak miring ke mana-mana, senyum yang sama dengan yang ia berikan di kasir Kedai Setengah ketika menulis Dari hari ke-1 di bawah tulisanku.

“Kemarin,” katanya pelan. “Pas kamu di poli. Aku ke lantai tiga. Ke poli kandungan.”

Aku tidak bisa bicara.

“Aku dokter,” katanya. “Aku udah curiga dari dua minggu lalu. Aku cuma nggak mau percaya sebelum lihat sendiri.” Ia tertawa kecil, basah. “Mual tiap pagi. Nggak bisa cium bau kopi tubruk gosong. Telat. Aku calon konsultan ginjal, Van. Aku bisa diagnosis semua orang. Butuh dua minggu buat diagnosis diriku sendiri.”

Aku menatapnya.

“Terus,” katanya, “ada permen jahe di laci dapur.”

Aku tidak bergerak.

“Dua minggu lalu,” kata Salsa. “Aku buka laci, ada sebungkus permen jahe. Baru. Belum kedaluwarsa. Aku nggak tahu siapa yang taruh.” Ia menatapku. “Terus seminggu lalu, ada lagi. Di saku jas dokterku. Terus tiga hari lalu, di tas selempangku. Terus kemarin pagi, di dalam sepatu.”

Aku tidak menjawab. Aku tidak perlu.

Aku nggak tahu siapa yang taruh.

Ia tahu.

“Kamu tahu duluan,” katanya. “Kamu tahu sebelum aku tahu.”

“Aku nggak tahu,” kataku. Suaraku serak. “Aku cuma lihat kamu mual. Tiap pagi. Udah tiga minggu. Kamu tekan perut kamu di depan wastafel, terus kamu bilang kebanyakan kopi, terus kamu ke rumah sakit.”

Aku menatap tanganku sendiri di atas meja.

“Sembilan tahun lalu,” kataku, “ada orang yang lihat aku mual. Empat kali seminggu. Dia ngitung. Dia nggak maksa aku periksa. Dia cuma kasih aku permen jahe.”

Salsa menutup mulutnya dengan tangan.

“Aku nggak tahu kamu hamil, Sa,” kataku. “Aku cuma tahu kamu mual. Dan aku tahu satu-satunya hal yang bisa aku lakuin.”


Ia tidak menutup mulutnya lagi. Ia menangis, akhirnya, pelan, berdiri di depan kompor dua tungku dengan teko Mang Ade di belakangnya. Aku berdiri dari kursi. Aku berjalan ke arahnya. Aku memeluknya, dan ia membenamkan wajahnya di kaus tidurku, dan aku meletakkan telapak tanganku di perutnya.

Bukan perut kanan bawah. Bukan di atas ginjal. Di bawah pusar, di atas daster batik hadiah Ibu.

Tidak ada yang bisa kurasakan di sana. Belum. Terlalu awal. Aku tahu itu tanpa perlu menjadi dokter.

Tapi aku membiarkan tanganku di sana.

“Separuh kamu tinggal di aku,” kataku ke rambutnya.

“Kebalik,” katanya, tertawa di antara isak.

“Nggak kebalik, Sa. Kali ini nggak kebalik.”

Ia mendongak.

“Separuh kamu tinggal di aku,” kataku lagi. Aku menekan telapak tanganku lebih lembut di perutnya. “Dan separuh aku tinggal di sini.”

Ia menatapku lama sekali. Lalu ia mencium keningku. Tanpa berjinjit, karena aku menunduk. Di tempat yang dulu sering ia kerutkan ketika memarahiku karena busa yang terlalu tebal.


Aku duduk kembali di kursi meja makan.

Gelas kaca bening masih di sana. Kopi tubruk, hitam pekat. Uapnya masih naik, lebih tipis sekarang. Ampasnya sudah tenggelam semua.

Gelas penuh. Bukan setengah. Bukan dua ratus mililiter di gelas kecil dengan garis spidol hitam yang hampir pudar. Penuh, sampai hampir tumpah dari bibir gelas.

Ia menyeduhnya dengan takaran yang dipelajarinya diam-diam dari Dodi, selama tiga Minggu sore berturut-turut di dapur Kedai Setengah. Aku tahu, karena Dodi tidak bisa menyimpan rahasia, dan karena Dodi mengirim video latihannya ke grup Keluarga Kedai Setengah dengan judul BU DOKTER BELAJAR KOPI TUBRUK (PERCOBAAN KE-17), dan Pak Ujang membalasnya dengan stiker kembang api.

Aku mengambil pulpen hijau dari saku kaus tidurku. Pulpen yang sembilan tahun tergeletak di atas kotak undangan di lemari jati Ibu. Pulpen yang tintanya baru keluar di goresan keempat. Aku selalu membawanya sekarang. Di saku kaus. Di saku celemek. Di samping dompet, di samping KTP, di samping sleeve ulang tahun dan selembar kertas berisi satu nama binatang yang tersisa.

Aku memutar gelas, supaya sleeve menghadap ke arahku.

Di bawah tulisannya, di ruang kosong yang tersisa, aku menulis.

Pelan. Tidak terburu-buru. Tidak panik.

Tulisanku yang tegak, sedikit miring ke kanan, dengan tinta hijau yang sedikit pudar di beberapa huruf karena pulpennya sudah terlalu tua.

Iya. Dari hari ke-1.

Aku tidak mencoretnya.

Salsa membaca tulisanku dari balik bahuku. Aku mendengar napasnya berhenti, lalu pecah.

Aku mengangkat gelas itu dengan dua tangan.

Aku meniupnya.

Satu.

Buat panasnya.

Dua.

Buat capeknya. Sembilan tahun capeknya. Kursi tujuh dan gelas kecil dan tas ransel hitam dan tangga darurat RS Kartika dan kaleng cat bekas di halaman belakang rumah Pak Hendra.

Tiga.

Buat doa.

Tiupan ketiga, kali ini, buat dua orang.

Aku minum.

Kopi tubruk. Gula setengah sendok. Tidak gosong. Tidak terlalu manis. Ampasnya diam di dasar gelas. Hangat, melewati tenggorokanku, turun ke dadaku, ke perut kanan bawah tempat ginjalnya tinggal.

Aku tidak menghitung tegukannya.

Aku minum sampai gelas itu kosong.

Di luar jendela dapur, langit Bandung berubah dari biru tua ke jingga pucat. Di halaman kecil di depan rumah, enam pot cabai berderet di sepanjang pagar. Di sudutnya, bibit pohon jambu air yang kucangkok dari halaman belakang rumah Ibu, setinggi lutut, dengan daun-daun muda yang hijau terang.

Di atas meja dapur, kaleng Khong Guan, hampir penuh.

Salsa duduk di kursi di sampingku. Ia mengangkat cangkir keramik bergambar bunga melati. Ia meniup teh tawarnya. Satu. Dua. Tiga.

Lalu ia menyesap, dan menjulurkan lidah.

“Nggak enak,” katanya. “Teh tawar paling nggak enak di Bandung.”

“Sembilan bulan,” kataku.

“Sembilan bulan,” katanya. Lalu ia meletakkan cangkirnya, meraih tanganku di atas meja, dan menyelipkan jari-jarinya di antara jari-jariku. Dingin. Selalu dingin di pagi hari.

Aku menggenggamnya.

Jam dinding di atas pintu dapur menunjuk pukul enam lewat sembilan.

Di seberang kota, Kedai Setengah masih tutup. Lampu bohlam kuning di atas bar belum dinyalakan. Di kursi dekat jendela, belum ada yang duduk.

Satu jam lagi, Kirana akan membuka rolling door. Pak Ujang akan memesan empat kopi hitam untuk pos satpam. Dodi akan menulis nama di cup dengan huruf tiga dimensi. Dr. Reza akan memesan americano tiga sendok gula.

Dan di dapur rumah kecil di gang dekat rumah Ibu, dua orang yang tidak ke mana-mana duduk berdampingan, dengan satu gelas kosong dan satu cangkir teh tawar di antara mereka, menunggu matahari terbit.

Tanpa menghitung.


TAMAT