Chapter Thirty Six
Nilai Kembali Normal
POV: Irvan
Aku tidak tidur sama sekali.
Pukul lima lewat sepuluh, aku duduk di tepi kasur dengan ponsel di tangan dan mengetik pesan yang sudah kuhapus sebelas kali sejak pukul tiga. Aku menghapus maaf semalam nggak angkat. Aku menghapus aku perlu ngomong sesuatu. Aku menghapus Sa, semalam aku. Aku menghapus kalimat panjang yang dimulai dengan aku nggak tahu harus mulai dari mana dan berakhir dengan sesuatu yang terlalu mirip surat perpisahan.
Akhirnya aku mengetik lima kata, dan menekan kirim sebelum sempat menghapusnya lagi.
Selamat pagi. Jam enam ya.
Lalu aku berdiri, memakai kaus hitam lengan pendek, dan berjalan ke dapur.
Ibu sudah di sana. Duduk di meja makan kecil, dengan kerudung cokelat yang miring dan mata yang bengkak. Di depannya, dua gelas teh. Satu sudah diminum setengah. Satu masih penuh, mengepul.
Ibu tidak menatapku. Ibu menatap tempat sampah di bawah wastafel.
Aku mengikuti pandangannya. Tutup tempat sampah itu sedikit terbuka. Dari celahnya, ujung botol plastik kecil menyembul. Garis spidol hitam di dindingnya.
Aku menatap Ibu.
Ibu menatapku.
Ibu tidak berkata apa-apa. Ia hanya mendorong gelas teh yang masih penuh ke arah kursiku. Lalu ia berdiri, mengambil gelasnya sendiri, dan berjalan ke kamarnya.
Di ambang pintu kamar, Ibu berhenti.
“Tehnya diminum,” kata Ibu tanpa menoleh. “Kamu sekarang boleh minum banyak.”
Pintu kamar Ibu tertutup.
Aku berdiri di dapur, menatap gelas teh yang mengepul, dan baru menyadari bahwa Ibu tidak mematikan lampu kamarnya semalam karena tidur.
Pukul lima empat puluh, aku membuka rolling door Kedai Setengah.
Dodi dan Kirana belum datang. Aku menyalakan lampu bohlam kuning di atas bar. Aku menyalakan mesin espresso. Aku menunggu mesinnya panas, dan selama menunggu, aku berlatih.
Bukan latihan ketawa. Latihan bilang.
Sa, semalam aku hampir pergi.
Aku mengucapkannya pelan, ke mesin espresso yang berdengung. Kalimat itu terdengar aneh. Seperti kalimat dari bahasa asing yang baru dipelajari.
Sa, semalam aku hampir pergi. Aku udah ngisi tas. Aku udah pegang grendel. Aku nggak jadi. Tapi aku hampir.
Papa kamu bilang aku harus bilang. Jadi aku bilang.
Mesin espresso berbunyi. Panas. Siap.
Aku menggiling biji kopi. Aku menekan tamper. Aku menyeduh kopi susunya. Enam puluh lima derajat. Busa tipis. Gula setengah sendok, diaduk sebelum susu masuk.
Aku memasang sleeve. Aku mengambil pulpen hijau dari saku kaus.
Aku tidak tahu harus menulis apa.
Pukul lima lima puluh delapan, aku masih berdiri di sana dengan pulpen di atas sleeve kosong.
Pukul enam tepat, lonceng berbunyi.
Ia masuk dengan jas dokter yang kusut di bagian belakang, kusut seperti jas yang semalaman diduduki di lantai. Cepolnya miring. Satu helai rambut lolos di pelipis kiri. Lingkar hitam di bawah matanya.
Ia tidak tidur juga.
Ia berjalan ke kasir. Ia berdiri di depan meja kasir, di depanku, dengan meja di antara kami. Ia menatap cup kopi susu di tanganku, dengan sleeve yang masih kosong.
Aku membuka mulut. Sa, semalam aku hampir pergi.
“Mbak Kirana belum datang?” tanya Salsa.
Aku menutup mulut. “Belum.”
“Boleh minta cup satu lagi?”
“Buat siapa?”
“Buat kamu.”
Aku menatapnya.
“Kamu boleh kopi lagi,” kata Salsa. “Setengah gelas. Dr. Bambang udah izinin lagi waktu kamu pulang kemarin. Aku tahu kamu belum minum. Kamu nggak pernah bikin buat diri sendiri.” Ia mengulurkan tangan. “Cup-nya.”
Aku memberikan cup kosong padanya. Ia meletakkannya di meja kasir.
Lalu ia memasukkan tangan ke saku kiri jas dokternya, dan mengeluarkan sesuatu.
Sleeve cokelat. Terlipat dua.
Ia membuka lipatannya dan memasangnya di cup kosong itu dengan sangat hati-hati, seperti memasang perban.
Lalu ia mendorong cup itu melewati meja kasir. Ke depanku.
“Isi,” katanya. “Kopinya buat kamu. Setengah aja.”
Aku menunduk menatap sleeve itu.
Tinta hijau. Tulisan bulat-bulat yang rapi. Tidak dicoret.
Aku tahu. Makasih udah tinggal.
Aku tidak bisa bergerak.
Aku menatap tiga kata dan satu kalimat itu. Lalu aku mengangkat wajah dan menatapnya.
“Ibu,” kataku.
“Ibu,” kata Salsa. “Jam dua lewat dua puluh lima. Ibu bilang kamu buka lemari.”
“Kamu tahu dari jam dua?”
“Dari jam dua.”
“Kamu...” Suaraku tidak mau keluar dengan benar. “Kamu nggak dateng.”
“Nggak.”
“Kamu nggak nelepon.”
“Nggak.”
“Kenapa?”
Salsa menatapku. Wajahnya lelah. Sangat lelah. Tapi matanya tenang, tenang seperti mata dokter di samping ranjang ICU, dengan dua jari di atas nadi.
“Karena delapan tahun aku milihin buat kamu,” katanya. “Ruko. Rumah sakit. Ginjal. Aku susun semuanya dari jauh, biar kamu nggak bisa lari. Dan kamu nggak lari.” Ia menarik napas. “Tapi kamu juga nggak pernah milih buat tinggal. Kamu cuma nggak nemu jalan keluar.”
Aku tidak bisa menjawab.
“Semalam,” kata Salsa pelan, “pintunya kebuka. Grendelnya udah kegeser dua senti, kata Ibu. Jalan keluarnya ada. Dan kamu nggak keluar.”
Ia mengulurkan tangan melewati meja kasir dan meletakkan jarinya di sleeve, di atas tulisannya sendiri.
“Kamu milih, Van,” katanya. “Pertama kali. Kamu yang milih.”
Aku seharusnya diam. Aku seharusnya mengisi cup itu dengan kopi, setengah gelas, dan meminumnya, dan memeluknya, dan tidak membahas semalam lagi.
Tapi aku sudah berjanji.
“Sa,” kataku. “Aku harus bilang.”
“Aku udah tahu, Van.”
“Aku tahu kamu udah tahu. Tapi aku harus bilang.” Aku meletakkan pulpen hijau di meja kasir. Tanganku gemetar. “Papa kamu bilang, kalau aku takut, kalau aku mikir mau pergi, aku harus bilang. Ke kamu. Langsung. Jadi aku bilang.”
Salsa diam. Ia menunggu.
“Semalam aku hampir pergi,” kataku.
Kalimat itu keluar. Kalimat yang kulatih ke mesin espresso. Di luar latihan, kalimat itu terdengar jauh lebih buruk. Jauh lebih telanjang.
“Aku takut,” kataku. “Kreatininnya naik. Dr. Bambang bilang membaik, bukan aman. Dan aku mikir, kalau ginjal kamu gagal di aku, kamu yang paling sakit. Kamu bakal nyalahin diri sendiri. Kayak soal permen jahe. Tujuh tahun.” Suaraku pecah. “Aku nggak mau kamu lihat ginjal kamu mati di badan aku, Sa. Aku nggak mau kamu duduk di samping kursi tujuh lagi. Jadi aku pikir, mendingan aku pergi sekarang. Sebelum itu terjadi.”
Salsa tidak bergerak.
“Aku ngisi tas,” kataku. “Aku bawa obat. Aku nggak mau berhenti hidup, Sa. Aku cuma mau berhenti jadi beban. Aku jalan ke pintu. Aku pegang grendelnya.”
“Terus?”
“Terus aku inget semuanya.” Aku menatapnya. “Kaleng biskuit. Tabungan nikah. Map biru. Kamu di balik ambulans. Kamu di tangga darurat. Dan aku sadar, kalau aku pergi, kamu bakal nyari aku. Kamu bakal nemuin aku. Dan kamu nggak bakal masuk. Kamu bakal nunggu di luar lagi. Delapan tahun lagi.”
Salsa menunduk.
“Aku bukan ngebebasin kamu,” kataku. “Aku ngehukum kamu. Lagi.”
Hening. Lampu bohlam kuning berdengung di atas kami.
“Terus ada kucing,” kataku.
Salsa mengangkat wajah. Matanya basah. Sudut bibirnya bergerak.
“Si Oyen,” katanya. “Kucing Bu RT. Ibu laporan.”
“Aku hampir teriak.”
“Ibu juga.”
Kami menatap satu sama lain di seberang meja kasir. Lalu Salsa tertawa. Tawa yang basah, pecah di tengah, berubah menjadi isak, lalu kembali menjadi tawa.
Aku memutari meja kasir.
Aku berdiri di depannya. Aku tidak memeluknya. Belum. Aku meraih tangannya dulu. Dua tangannya, dingin seperti biasa, dan menggenggamnya di antara kami.
Lalu aku mengatakannya. Untuk pertama kalinya, keras-keras, bukan di kepala, bukan di sleeve, bukan sambil menatap langit-langit kamar pukul tiga pagi.
“Aku nggak ke mana-mana, Sa.”
Ia menatapku.
“Aku nggak ke mana-mana,” ulangku. “Kalau aku takut lagi, aku telepon kamu. Kalau aku buka lemari lagi, aku telepon kamu dulu. Kalau aku pegang grendel, aku telepon kamu dari depan pintu.”
“Jam tiga pagi?”
“Jam berapa aja.”
“Aku angkat,” kata Salsa. “Jam berapa aja. Aku angkat.”
Lalu ia membenamkan wajahnya di dadaku, di kaus hitam lengan pendek yang kubeli untuk siraman delapan tahun lalu, dan aku memeluknya. Di depan kasir Kedai Setengah, pukul enam lewat sembilan pagi, dengan dua cup kopi susu di meja dan lampu bohlam kuning yang tidak pernah kumatikan lagi.
Lonceng pintu berbunyi.
Aku mendongak. Dodi berdiri di ambang pintu dengan helm di kepala. Di belakangnya, Kirana.
Dodi menatap kami. Ia menatap dua cup kopi di meja kasir. Ia menatap wajah Salsa yang basah di dadaku.
Ia melepas helmnya pelan-pelan, seperti di hari ketika ia telat empat puluh menit.
“Kir,” bisiknya. “Kita telat lagi?”
“Nggak, Dod,” kata Kirana. Ia menarik kerah kemeja Dodi dari belakang dan menyeretnya kembali keluar. “Kita kepagian.”
Pintu tertutup. Lonceng berbunyi.
Kontrol berikutnya tiga hari kemudian.
Salsa tidak boleh masuk ruang poli. Ia menunggu di kursi tunggu di koridor, dengan tas selempang di pangkuan, seperti keluarga pasien lain. Kali ini ia tidak mengoreksi siapa pun. Ia hanya duduk dan menatap pintu ruang poli.
Dr. Bambang membaca hasil labku di layar komputer. Ia menggulir ke atas, ke hasil seminggu lalu, ke hasil saat biopsi, lalu ke bawah lagi, ke hasil hari ini.
Ia menatapnya lama.
Aku menunggu kacamatanya dilepas. Menunggu ujung jas. Menunggu kabar.
Dr. Bambang tidak melepas kacamatanya.
“Turun, Mas,” katanya. “Hampir kembali ke angka sebelum rejeksi.”
Aku tidak bisa bernapas.
“Kadar obatnya pas. Urinnya bagus. Tekanan darahnya bagus.” Dr. Bambang memutar layar ke arahku. Angka-angka itu berderet, naik lalu turun, seperti grafik bukit kecil. “Stabil.”
“Stabil, Dok?”
“Stabil.”
“Bukan membaik?”
Dr. Bambang menatapku. Lalu, pelan, ia tersenyum. Senyum yang sama dengan hari ketika ia membawa teko biru muda ke kamar 512 dan bilang dokter memang membingungkan, Mas.
“Saya nggak pernah bilang aman, Mas,” katanya. “Tiga puluh tahun saya jadi dokter ginjal, saya nggak pernah bilang aman ke satu pasien pun. Karena tubuh manusia nggak pernah aman.” Ia mengetuk layar dengan ujung jari. “Tapi stabil itu kata paling dekat sama aman yang saya punya.”
Aku menatap angka-angka itu.
“Makasih, Dok.”
“Jangan makasih ke saya.” Dr. Bambang menunjuk pintu ruang poli dengan dagunya. “Makasih ke yang nunggu di luar. Ginjalnya dia yang kasih. Saya cuma ngejaga.”
Salsa berdiri dari kursi tunggu ketika aku keluar dari ruang poli.
Ia tidak bertanya. Ia menatap wajahku.
Aku tidak bilang apa-apa. Aku mengeluarkan ponselku, membuka foto yang baru saja kupotret dari layar komputer dr. Bambang dengan izinnya, dan menyodorkannya.
Ia menatap foto itu. Grafik bukit kecil. Angka terakhir di ujung kanan.
Ia menatapnya sebagai dokter. Aku melihatnya. Aku melihat matanya bergerak, membaca, menghitung, membandingkan.
Lalu ia menatapnya sebagai perempuan yang memberikan satu ginjalnya pada laki-laki yang hampir pergi tiga malam lalu.
Ia menutup mulutnya dengan tangan.
Di ujung koridor, Sus Mira, yang kebetulan lewat dengan setumpuk berkas, berhenti. Ia menatap kami. Ia menatap ponsel di tangan Salsa. Lalu ia berjalan cepat ke arah kami, mengintip layar ponsel dari balik bahu Salsa, dan menjerit kecil.
“Mas! Itu kreatinin Mas?!”
“Sus...”
“Saya foto! Saya foto!” Sus Mira mengeluarkan ponselnya sendiri dan memotret layar ponselku. “Saya jadiin wallpaper! Saya kirim ke grup!”
“Sus, itu data medis...”
“Datanya Mas sendiri, Mas izinin!” Sus Mira sudah mengetik di ponselnya. “Grup unit HD. Grup satpam. Grup Keluarga Kedai Setengah. Mbak Rina pasti seneng.”
Sore harinya, Dodi mengirimiku tangkapan layar. Grup Keluarga Kedai Setengah. Pak Ujang sudah memasang foto grafik kreatininku sebagai foto profil grup, dengan stiker kembang api di sudutnya. Di bawahnya, Pak Ujang menulis: GINJAL DR. SALSA STABIL. MAS IRVAN STABIL. TARUHAN JILID 2 MASIH JALAN. SIAPKAN GORENGAN.
Mbak Rina membalas dengan satu emoji: 🗓️.
Malam itu, di rumah Ibu, Salsa duduk di sisi kiri meja makan kecil. Kursi yang delapan tahun kosong itu tidak lagi kosong.
Ibu memasak sayur asem. Dua panci. Satu dengan garam, satu tanpa garam, walaupun dr. Bambang sudah bilang aku tidak perlu lagi diet seketat dulu. Ibu bilang ia sudah terbiasa. Ibu bilang delapan tahun membuat tangannya otomatis mengambil panci kecil.
Salsa menyendok dari panci tanpa garam. Untuk dirinya sendiri.
“Neng,” kata Ibu. “Itu yang nggak pakai garam.”
“Iya, Bu. Saya tahu.”
“Kenapa?”
Salsa menatap mangkuknya. “Biar kebiasaan, Bu,” katanya. “Kakek Darmo di bangsal tiga bilang, istrinya dulu masak sayur asem tiap kali dia pulang. Garamnya kurang. Lima puluh tiga tahun.”
Ibu menatap Salsa. Lalu menatapku. Lalu menatap Salsa lagi.
Aku tidak mengerti. Salsa tidak menjelaskan. Ibu juga tidak bertanya. Tapi Ibu menyeka matanya dengan ujung kerudung, dua kali, dan menyendokkan tempe goreng tambahan ke piring Salsa.
Setelah makan, ketika Ibu mencuci piring dan Salsa mengeringkan, aku duduk di meja makan dan mengeluarkan ponselku. Aku membuka kalender. Aku menggulir ke depan. Bulan demi bulan.
Aku berhenti di satu tanggal.
“Sa,” kataku.
Salsa menoleh dari wastafel, lap piring di tangan.
“Lamarannya kapan?”
“Dua minggu lagi. Mama udah atur.”
“Akadnya?”
Salsa berhenti mengeringkan piring. Ibu berhenti mencuci. Mereka berdua menatapku.
“Akadnya,” ulangku. “Kapan?”
Salsa meletakkan lap piring di meja dapur. Ia berjalan ke meja makan, menarik kursi, dan duduk di sampingku. Ia menatap layar ponselku. Kalender. Tanggal yang sudah kupilih, dengan jempol yang tidak berhenti di sana.
Ia menatapnya lama.
“Van,” katanya pelan.
“Hm.”
“Itu tanggalnya Mbak Rina.”
“Aku tahu.”
“Mbak Rina bakal menang taruhan lagi.”
“Aku tahu.”
Salsa menatapku. Matanya basah. Tapi ia tersenyum, senyum yang tidak miring ke mana-mana, senyum orang yang baru saja menemukan angka terakhir di bawah garis yang ditarik di halaman belakang buku catatan koas.
Ia mengulurkan tangan dan menyentuh tanggal di layar ponselku dengan ujung jarinya.
Dua belas Juni.
Tanggal yang delapan tahun lalu batal.
- 1 Pesanan Jam Enam
- 2 Aku Nggak Siap
- 3 Tiup Tiga Kali
- 4 Permen Jahe di Toples Tip
- 5 Croissant Terakhir
- 6 Gula Tiga Sendok
- 7 Hal yang Tidak Diketahui Orang Asing
- 8 Van
- 9 Pasar Hari Minggu
- 10 Menu Baru
- 11 Masa Depan yang Pantas
- 12 Sandiwara Makan Siang
- 13 Kejutan untuk dr. Salsa
- 14 Kalimat yang Sama
- 15 Kursi Kosong Jam Enam
- 16 Yang Berlari Menyeberang
- 17 Tahun Kedua
- 18 Kaleng Biskuit
- 19 Tabungan Nikah
- 20 Harga Lima Tahun
- 21 Yang Kusiapkan Sambil Menunggu
- 22 Satu Malam
- 23 Sebelum Operasi
- 24 Tangan yang Masih Menggenggam
- 25 Sekarang Aku yang Jaga
- 26 Pulang
- 27 Kencan Pertama yang Kedua
- 28 Pegangan Tangan Itu Susah
- 29 Nembak Ulang
- 30 Resmi (Lagi)
- 31 Sandiwara yang Ketahuan
- 32 Lamaran
- 33 Angka yang Naik
- 34 Di Depan Pintu
- 35 Malam yang Sama
- 36 Nilai Kembali Normal reading
- 37 Kebaya yang Menunggu
- 38 Pagi Akad
- 39 Sekarang Aku Siap
- 40 Rumah Kecil, Dapur Gosong
- 41 Epilog: Gelas Penuh