Chapter Thirteen
Kejutan untuk dr. Salsa
POV: Irvan
Pukul empat sore, dr. Reza datang dengan mobil listrik yang penuh balon.
Balonnya berbentuk hati, warna merah muda dan putih, dua puluh empat buah. Ia memarkir mobilnya di depan kedai dengan sangat hati-hati, keluar, membuka pintu belakang, dan balon-balon itu menyembul keluar seperti busa sabun dari mesin cuci yang terlalu penuh. Tukang parkir rumah sakit di seberang jalan berhenti menjerit-jerit untuk pertama kalinya dalam sejarah, karena terlalu sibuk menonton.
“Dua puluh empat,” kata dr. Reza, menyerahkan segenggam tali balon pada Dodi dengan napas tersengal. “Satu buat setiap bulan saya kenal dia.”
“Bapak kenal Bu Dokter dua tahun?” tanya Dodi.
“Dua tahun. Yang setahun cuma lihat dari jauh.”
Dodi menatap balon-balon itu, lalu menatap dr. Reza, dan matanya mulai berkaca-kaca. Dodi, yang seminggu terakhir menyaksikan sandiwara makan siang tanpa mengerti apa pun, yang menulis MASIH DI SINI di cup pagi tadi dengan tangan gemetar, sekarang berdiri di antara dua puluh empat balon hati dan tampaknya sudah sepenuhnya kehilangan pegangan atas tim mana yang harus ia dukung.
“Pak,” katanya serak. “Saya bantuin, Pak. Saya bantuin sepenuh jiwa.”
Selama tiga jam berikutnya, Kedai Setengah berubah.
Meja-meja dipinggirkan, kecuali satu: meja dekat jendela, yang dibiarkan di tengah dengan dua kursi berhadapan. Taplak putih dipinjam dari Ibu, yang mengantarkannya sendiri sambil menatapku dengan wajah yang tidak bisa kubaca, lalu pulang tanpa berkata apa-apa. Lilin LED kecil-kecil di sepanjang jendela. Mawar di vas kaca. Bukan mawar putih, karena Dodi berhasil meyakinkan dr. Reza bahwa mawar putih itu energinya duka cita, Pak, nanti Bu Dokter ngira Bapak mau ngelayat. Mawar merah muda.
Kue red velvet bulat di atas piring saji. Di atasnya, tulisan krim putih: Salsabila.
Dan dua puluh empat balon hati, yang ditempelkan Dodi ke langit-langit dengan selotip, satu per satu, berdiri di atas kursi plastik, sementara Kirana memegangi kursi itu dari bawah dengan wajah yang sangat sabar.
Aku membersihkan mesin espresso. Aku membersihkannya tiga kali.
Pukul tujuh lewat lima belas, dr. Reza mendekati bar dengan cup karton kosong di tangan.
“Mas,” katanya. “Satu permintaan terakhir.”
Aku menunggu.
“Kopinya nanti, tolong dibikin persis kayak yang biasa dia minum. Persis.” Ia meletakkan cup kosong itu di meja bar. “Dan saya mau nulis sesuatu di sleeve-nya. Boleh?”
Tanganku berhenti di atas lap.
“Kenapa di sleeve, Pak?”
“Karena saya perhatiin, dia selalu lihatin sleeve-nya lama banget. Tiap pagi.” Dr. Reza tersenyum, malu. “Saya nggak tahu kenapa. Mungkin dia suka desainnya. Tapi saya pikir, kalau saya tulis sesuatu di situ, dia pasti baca.”
Ia mengambil sleeve dari tumpukan di samping mesin kasir. Ia mengeluarkan pulpen dari saku kemejanya, pulpen hitam yang mahal, dan menulis dengan hati-hati, huruf per huruf, tulisan tangan dokter yang ternyata sangat rapi.
Salsabila, mau makan malam sama aku? Sekali aja.
Ia menatap tulisan itu. Lalu ia memberikannya padaku.
“Mas yang pasang, ya,” katanya. “Mas kan yang biasa pasang.”
Aku menerima sleeve itu.
Karton cokelat yang sama. Tempat yang sama. Lima minggu aku menulis di karton seperti ini setiap pagi, lalu mencoretnya, dan setiap pagi ia meninggalkannya di meja dekat jendela. Lima minggu, itu satu-satunya tempat di dunia di mana aku bisa mengatakan sesuatu padanya tanpa benar-benar mengatakannya.
Sekarang ada tulisan laki-laki lain di sana. Tidak dicoret. Jelas. Berani.
Tulisan yang seharusnya kutulis delapan tahun lalu.
“Siap, Pak,” kataku.
Pukul delapan tepat, lonceng berbunyi.
Dodi sudah mematikan lampu utama. Hanya lilin LED di sepanjang jendela dan lampu bohlam kuning di atas bar yang menyala. Dua puluh empat balon hati bergoyang pelan di langit-langit, ditiup angin AC.
Salsa berdiri di ambang pintu.
Ia memakai kemeja biru tua dan celana kain hitam. Jas dokternya terlipat di lengan. Rambutnya dicepol lebih rapi dari biasanya. Helai rambut di pelipis kiri tetap lolos.
Dr. Reza bilang padanya ada yang ingin dibahas soal pasien bersama. Pasien gagal jantung dengan komplikasi ginjal, katanya, yang memang benar ada. Itu satu-satunya kebohongan dalam seluruh rencana dr. Reza, dan ia merasa bersalah karenanya sepanjang sore.
Salsa menatap kedai yang gelap. Lilin-lilin di jendela. Balon-balon di langit-langit. Meja dengan taplak putih dan mawar merah muda. Kue red velvet bertuliskan namanya.
Dr. Reza berdiri di samping meja itu, tegap, dalam kemeja putih yang disetrika paling rapi seumur hidupnya.
Salsa tidak bergerak.
Lalu matanya bergerak. Melewati dr. Reza. Melewati meja dan mawar dan kue. Ke bar.
Ke aku.
Aku berdiri di balik mesin espresso di bawah lampu bohlam kuning, memegang pitcher susu yang tidak perlu kupegang, dan ia menatapku lama sekali. Bukan dua detik. Bukan empat detik. Aku tidak menghitung. Aku tidak bisa menghitung.
Wajahnya tidak menunjukkan apa pun.
Lalu ia memalingkan wajah, tersenyum sopan pada dr. Reza, dan berjalan ke meja.
Aku menyeduh kopinya.
Enam puluh lima derajat. Busa tipis. Gula setengah sendok, diaduk sebelum susu masuk. Aku melakukan semua itu dengan tangan yang bekerja sendiri, seperti lima minggu terakhir, seperti sembilan tahun terakhir.
Lalu aku memasang sleeve dr. Reza.
Salsabila, mau makan malam sama aku? Sekali aja.
Dodi mengambil cup itu dari tanganku. Ia menatapku sebentar, matanya basah, lalu berjalan ke meja dengan langkah seperti pengiring pengantin.
Salsa menerima cup itu. Ia menatap sleeve-nya.
Ia membaca tulisan di sana. Aku melihat matanya bergerak dari kiri ke kanan, sekali. Lalu sekali lagi.
Lalu ia mengangkat wajahnya dan menatap bar.
Menatapku.
Hanya sebentar. Seperti orang yang mencocokkan tulisan tangan dengan pemiliknya, dan menemukan bahwa tulisan ini bukan milik orang yang ia kira.
Lalu ia kembali menatap dr. Reza.
Dr. Reza berdiri. Ia merapikan kemejanya. Ia mengeluarkan selembar kertas dari saku, kertas yang sudah direvisi Dodi tiga kali, dengan coretan pulpen merah yang sudah dipindahkan ke versi bersih.
“Salsabila,” kata dr. Reza. Suaranya bergetar sedikit. “Sejak pertama kali aku melihatmu...”
Pop.
Balon pertama meletus.
Balon hati merah muda di atas meja kasir, yang ditempel Dodi paling dekat dengan lubang AC. Bunyinya tidak keras, tapi di kedai yang sunyi, bunyinya seperti tembakan pistol mainan.
Dr. Reza berhenti. Ia menoleh ke langit-langit. Lalu ia menarik napas, kembali ke kertasnya.
“...sejak pertama kali aku melihatmu, aku tahu kamu orang yang...”
Pop.
Balon kedua.
“...yang luar biasa,” lanjut dr. Reza, dengan tekad seorang dokter yang tetap melanjutkan resusitasi walaupun lampu ruang operasi berkedip. “Kamu kuat. Kamu tegas. Kamu...”
Pop. Pop.
Dua sekaligus. Balon di dekat jendela.
Di balik kasir, Dodi menutup wajahnya dengan dua tangan dan mengeluarkan suara seperti anjing kecil yang terinjak. Kirana berdiri di sampingnya, menatap lubang AC dengan wajah datar, dan aku bersumpah aku melihat sudut bibirnya bergerak.
“...kamu peduli sama semua orang,” kata dr. Reza, sekarang sedikit lebih cepat, seperti orang yang berlomba dengan balon. “Kamu peduli sampai kamu lupa peduli sama dirimu sendiri. Dan aku...”
Pop.
“...aku mau jadi orang yang peduli sama kamu.”
Pop. Pop. Pop.
Salsa tertawa.
Ia tidak bisa menahannya. Ia menutup mulut dengan punggung tangan, bahunya berguncang, matanya basah, dan ia tertawa sementara balon-balon hati merah muda meletus satu per satu di atas kepalanya seperti kembang api yang paling menyedihkan di dunia.
Dr. Reza menatapnya tertawa. Lalu, pelan-pelan, dr. Reza tertawa juga.
Ia melipat kertasnya dan memasukkannya ke saku. “Ya udah,” katanya, masih tertawa. “Intinya gitu. Balonnya udah ngomong semuanya.”
Salsa berhenti tertawa. Ia menyeka matanya dengan ujung jari.
Lalu ia mengatakan sesuatu. Pelan. Aku tidak bisa mendengarnya dari bar. Aku hanya bisa melihat bibirnya bergerak, dan wajahnya yang lembut, sangat lembut, wajah yang ia gunakan untuk menyampaikan kabar yang tidak diinginkan pada keluarga pasien. Aku melihat ia meraih tangan dr. Reza di atas taplak putih Ibu, menggenggamnya sebentar, lalu melepasnya.
Aku melihat ia menggeleng. Sekali. Pelan.
Dr. Reza menunduk. Lalu mengangguk.
Lalu dr. Reza tersenyum. Senyum yang tidak bisa kubenci sepenuh hati, bahkan sekarang, bahkan di sini, bahkan dengan sisa-sisa balon pecah di sekitar kakinya.
Salsa pergi pukul delapan lewat dua puluh lima.
Ia membawa cup kopinya. Ia tidak menyentuh kue red velvet. Di pintu, ia berhenti dan menoleh pada Dodi, yang berdiri di samping kasir dengan mata merah dan hidung merah.
“Balon yang belum pecah,” kata Salsa, “jangan dibuang. Bawa ke bangsal anak lantai tiga besok. Anak-anak suka.”
Dodi mengangguk tanpa suara.
Salsa membuka pintu. Lonceng berbunyi.
Ia tidak menoleh ke bar.
Dr. Reza duduk di bangku kayu di depan kedai, di bawah lampu jalan, dengan sisa kue red velvet di piring kertas yang dibungkuskan Kirana.
Aku keluar membawa dua gelas teh hangat. Aku duduk di sampingnya. Aku tidak tahu kenapa. Mungkin karena tidak ada orang lain yang bisa duduk di sampingnya malam ini. Mungkin karena aku pantas duduk di sini lebih dari siapa pun.
Dr. Reza menerima tehnya. Ia tidak minum. Ia memutar gelas di antara dua telapak tangannya, persis seperti Salsa memutar cangkir.
“Dia nolak,” katanya.
“Iya, Pak.”
“Mas lihat?”
“Lihat, Pak.”
Ia tertawa kecil. “Balonnya. Ya Allah, balonnya. Saya beli yang paling mahal, Mas. Katanya tahan dua hari.”
“Kena AC, Pak.”
“Kena AC.” Ia mengangguk-angguk. “Dodi udah bilang. Saya yang ngeyel.”
Jalan di depan kami sepi. Gerbang rumah sakit di seberang terang benderang. Seorang perawat berlari kecil masuk dengan tas di bahu, terlambat shift malam.
“Dia baik banget, Mas,” kata dr. Reza. “Nolaknya baik banget. Saya sampai pengin nembak dia lagi, cuma biar ditolak kayak gitu lagi.”
Aku tidak menjawab.
“Katanya,” lanjut dr. Reza, menatap gerbang rumah sakit, “hatinya udah dipesan orang lain. Dari lama.”
Gelas teh di tanganku berhenti di tengah jalan menuju bibir.
“Saya tanya siapa,” kata dr. Reza. “Dia bilang, ‘Orangnya nggak tahu.’” Ia tertawa lagi, kali ini lebih pelan, lebih pahit. “Lucu ya, Mas. Setahun saya ngejar dia. Ternyata saingan saya orang yang bahkan nggak tahu dia lagi bersaing.”
Aku meletakkan gelas teh di bangku. Aku tidak bisa memegangnya lagi.
Dr. Reza menghabiskan tehnya dalam satu tegukan panjang. Lalu ia berdiri, merapikan kemejanya, dan menatapku dari atas dengan senyum yang tulus dan lelah.
“Mas,” katanya. “Satu pertanyaan.”
“Iya, Pak.”
“Americano gula tiga sendok itu,” kata dr. Reza, “bukan resep khusus, kan?”
Aku menatapnya.
Ia tertawa, untuk terakhir kali malam itu, dan menepuk bahuku dua kali. “Nggak apa-apa, Mas. Saya pantas. Besok saya tetap pesan. Saya udah ketagihan.”
Ia berjalan ke mobil listriknya, yang masih berisi tiga balon hati yang tidak sempat dibawa masuk. Ia membuka pintu, menatap balon-balon itu sebentar, lalu tertawa sendiri dan masuk ke mobil.
Mobilnya pergi tanpa suara.
Aku duduk sendirian di bangku kayu, di bawah lampu jalan, dan kalimat itu tidak mau pergi dari kepalaku.
Hatinya udah dipesan orang lain. Dari lama.
Orangnya nggak tahu.
Selasa pagi, di kursi tujuh, Sus Mira tidak lagi bisa menahan diri.
Ia menusukkan jarum ke fistulaku dengan sedikit lebih bersemangat dari biasanya. Ia menempelkan plester. Ia memeriksa mesin. Lalu ia menarik kursi plastik dan duduk di sampingku, sesuatu yang belum pernah ia lakukan dalam lima tahun.
“Mas,” katanya. “Saya mau ngomong sebagai teman. Bukan sebagai perawat.”
“Iya, Sus.”
“Gosipnya udah ke mana-mana, Mas.” Sus Mira menurunkan suaranya. “Mas Irvan Kedai Setengah mau tunangan sama Mbak supplier kopi. Yang rambut pendek. Yang suapin Mas nasi kuning. Katanya cincinnya udah dipakai.”
“Itu cincin tunangannya sendiri, Sus. Sama orang lain.”
“Saya tahu, Mas. Saya nggak bego. Tunangannya yang pakai kacamata item di pojok, kan? Yang pesan air putih?” Sus Mira menggeleng. “Tapi orang lain nggak tahu. Pak Ujang udah nyebar ke semua grup. Sus Eka udah nyebar ke bangsal tiga. Dan kemarin sore, gosipnya sampai ke ruang jaga dokter penyakit dalam.”
Aku diam. Mesin cuci darah berdengung di sampingku.
“Saya lagi antar berkas ke sana,” kata Sus Mira pelan. “Ada tiga residen lagi ngobrol. Salah satunya cerita soal Mas Irvan yang mau tunangan. Ketawa-ketawa. Nggak tahu apa-apa.” Sus Mira berhenti. “dr. Salsa duduk di meja pojok, Mas. Lagi nulis status pasien.”
Aku menatap lampu neon di langit-langit.
“Dia nggak ngomong apa-apa, Mas. Nggak noleh. Nggak berhenti nulis.” Sus Mira menarik napas. “Terus pulpennya patah.”
Mesin cuci darah berdengung. Darahku mengalir lewat selang bening, keluar, lalu masuk lagi.
“Pulpennya warna hijau, Mas,” kata Sus Mira. “Patah jadi dua.”
- 1 Pesanan Jam Enam
- 2 Aku Nggak Siap
- 3 Tiup Tiga Kali
- 4 Permen Jahe di Toples Tip
- 5 Croissant Terakhir
- 6 Gula Tiga Sendok
- 7 Hal yang Tidak Diketahui Orang Asing
- 8 Van
- 9 Pasar Hari Minggu
- 10 Menu Baru
- 11 Masa Depan yang Pantas
- 12 Sandiwara Makan Siang
- 13 Kejutan untuk dr. Salsa reading
- 14 Kalimat yang Sama
- 15 Kursi Kosong Jam Enam
- 16 Yang Berlari Menyeberang
- 17 Tahun Kedua
- 18 Kaleng Biskuit
- 19 Tabungan Nikah
- 20 Harga Lima Tahun
- 21 Yang Kusiapkan Sambil Menunggu
- 22 Satu Malam
- 23 Sebelum Operasi
- 24 Tangan yang Masih Menggenggam
- 25 Sekarang Aku yang Jaga
- 26 Pulang
- 27 Kencan Pertama yang Kedua
- 28 Pegangan Tangan Itu Susah
- 29 Nembak Ulang
- 30 Resmi (Lagi)
- 31 Sandiwara yang Ketahuan
- 32 Lamaran
- 33 Angka yang Naik
- 34 Di Depan Pintu
- 35 Malam yang Sama
- 36 Nilai Kembali Normal
- 37 Kebaya yang Menunggu
- 38 Pagi Akad
- 39 Sekarang Aku Siap
- 40 Rumah Kecil, Dapur Gosong
- 41 Epilog: Gelas Penuh