Chapter Twenty Three
Sebelum Operasi
POV: Irvan
Tanggal operasi ditetapkan dua puluh tiga hari kemudian.
Dua puluh tiga hari itu adalah dua puluh tiga hari paling sibuk dalam hidupku, dan sebagian besar kesibukannya bukan berasal dariku.
Ternyata, kalau kamu calon resipien transplantasi ginjal dari donor hidup, dan donormu adalah calon konsultan ginjal di rumah sakit yang sama, hidupmu berhenti menjadi milikmu sendiri.
Salsa membuat jadwal.
Jadwal itu ditempel di kulkas rumah Ibu dengan magnet berbentuk nanas, di pintu dapur Kedai Setengah dengan selotip, dan di layar ponselku sebagai wallpaper, menggantikan foto biji kopi Malabar yang Nadia kirim tiga bulan lalu. Jadwal itu berwarna-warni. Merah untuk cuci darah. Biru untuk pemeriksaan pra-transplantasi. Hijau untuk kontrol ke dr. Bambang. Kuning untuk “istirahat wajib, tidak boleh ke kedai, Dodi bisa.”
Kuning ada di hari Senin, Rabu, Kamis, Sabtu, dan Minggu.
“Sa,” kataku pada hari ketiga, menatap jadwal di kulkas. “Kapan aku boleh ke kedai?”
“Nggak ada di jadwal.”
“Itu kedai aku.”
“Itu dinding aku,” kata Salsa, menempelkan satu magnet lagi di sudut jadwal, dan sebelum aku sempat membalas, ia mencium pipiku sekali, cepat, dan berjalan keluar dapur Ibu.
Ibu, yang sedang mengulek sambal di meja, tidak mengangkat wajah. Tapi aku melihat bahunya berguncang.
Pemeriksaan pra-transplantasi ternyata sangat banyak.
Aku sudah menjalani sebagian, untuk daftar tunggu donor jenazah. Tapi sisanya masih menumpuk: pemeriksaan jantung, rontgen dada, pemeriksaan gigi, konsultasi psikolog, konsultasi ahli gizi, wawancara dengan komite etik, dan serangkaian tes darah yang membuat lengan kananku, lengan yang tidak dipakai untuk cuci darah, berbintik-bintik seperti peta kepulauan.
Salsa menemaniku ke semua pemeriksaan. Bukan sebagai dokter. Ia tidak boleh menjadi bagian dari tim medisku, karena ia donor, dan dr. Bambang menegaskan itu dengan suara pelan yang tidak bisa dibantah. Jadi ia datang sebagai keluarga pasien. Ia duduk di kursi tunggu dengan tas selempang di pangkuan, seperti keluarga pasien lain.
Ia gagal total.
“Dok,” kata Salsa pada dokter jantung yang sedang membaca hasil EKG-ku, dari kursi tunggu di pojok ruangan. “Itu gelombang T-nya agak tinggi di V2, ya? Udah dicek kaliumnya?”
Dokter jantung itu, seorang laki-laki muda yang ternyata residen junior dr. Reza, berhenti membaca dan menatap Salsa dengan wajah pucat.
“Sudah, Dok,” katanya. “Kaliumnya normal, Dok. Empat koma dua, Dok.”
“Oh, oke. Lanjut.”
Ia lanjut. Dengan tangan yang sedikit gemetar.
Di ruang tunggu rontgen, Salsa mengoreksi posisi pasien lain. Di ruang gigi, ia bertanya pada dokter gigi apakah sudah dipastikan tidak ada sumber infeksi di gusi bawah kiri. Di ruang psikolog, ketika psikolog bertanya padaku apa yang Mas rasakan tentang menerima ginjal dari orang yang Mas cintai, Salsa menjawab duluan dari kursi tunggu, “Bersalah, Bu. Dia pasti bilang bersalah. Tolong kasih dia sesi tambahan.”
Psikolog itu menatap Salsa. Lalu menatapku.
“Mbak,” kata psikolog itu dengan sangat sabar. “Mbak yang mau dikonseling atau Masnya?”
“Masnya,” kata Salsa.
“Kalau gitu Mbak tunggu di luar, ya.”
Salsa tunggu di luar. Lima menit kemudian, ia mengetuk pintu dan bertanya apakah sesinya sudah selesai.
Hari kesebelas, Kirana menemuiku di dapur kedai.
Itu hari Rabu, hari kuning di jadwal. Aku tidak seharusnya di kedai. Aku datang tetap saja, pukul tiga sore, dengan alasan mengambil buku catatan resep yang tertinggal. Dodi menyambutku seperti tentara menyambut jenderal yang pulang dari perang, dan mencoba memelukku, dan aku harus mengingatkannya bahwa lengan kiriku masih diperban.
Kirana tidak menyambutku. Kirana menunggu sampai Dodi kembali ke kasir, lalu berjalan ke dapur dan berdiri di depanku dengan tangan kosong.
“Mas,” katanya. “Saya nggak akan minta maaf.”
Aku menatapnya.
“Soal sleeve,” kata Kirana. “Soal amplop tiap Sabtu malam. Soal pulpen hijau di laci. Soal saya ngusir pelanggan pas hujan.” Ia menatapku lurus dengan mata kalemnya. “Saya nggak nyesel. Kalau diulang, saya bakal lakuin lagi.”
“Kir...”
“Hari kedua Bu Dokter ketuk pintu belakang, Mas, saya lihat mukanya.” Kirana diam sebentar. “Saya nggak tahu ceritanya apa. Saya nggak tahu kalian siapa. Tapi saya lihat mukanya, dan saya lihat muka Mas tiap jam enam pagi, dan saya pikir, ini dua orang yang mukanya sama.”
Aku tidak bisa bicara.
“Jadi saya nggak minta maaf,” kata Kirana. “Tapi kalau Mas mau pecat saya, saya ngerti.”
Aku menatap Kirana. Perempuan dua puluh lima tahun yang lima tahun lalu datang melamar kerja dengan map berisi ijazah SMK dan surat rekomendasi dari kafe tempat ia magang, yang bilang saya nggak pinter ngobrol, Mas, tapi saya pinter merhatiin. Yang membuat papan kapur Barista-nya lagi isi ulang tenaga. Yang lima tahun tidak pernah sekali pun bertanya ke mana aku pergi di hari Selasa dan Jumat.
“Makasih, Kir,” kataku.
Kirana mengedip.
“Makasih,” ulangku. “Buat amplopnya.”
Kirana menatapku beberapa detik lagi. Lalu, untuk pertama kalinya dalam lima tahun, Kirana tersenyum lebar. Bukan senyum yang ditahan. Bukan sudut bibir yang bergerak sedikit. Senyum lebar, sampai matanya menyipit.
Lalu ia berbalik dan keluar dari dapur, dan dari kasir aku mendengar Dodi berteriak, Kir! Kamu kenapa senyum-senyum?! Kamu sakit?!
Hari kesembilan belas, Mama Salsa tahu.
Salsa memberitahunya sendiri, di ruang tamu rumah orang tuanya, dengan map biru yang sama yang ia gunakan untuk presentasi di kamar rawat. Aku tidak ada di sana. Aku menunggu di Kedai Setengah sambil menatap ponselku dan menggigit kuku jempol, kebiasaan yang sudah kuhentikan sejak umur sembilan belas.
Salsa menelepon pukul sembilan malam.
“Gimana?” tanyaku.
“Mama nangis,” kata Salsa. “Terus Mama ngamuk. Terus Mama nangis lagi. Terus Mama banting panci. Terus Papa ambil pancinya. Terus Mama nangis lagi.”
“Terus?”
“Terus Mama bilang mau ketemu kamu.”
Aku berhenti menggigit kuku.
“Malam sebelum operasi,” kata Salsa. “Mama mau datang ke rumah sakit.”
Malam sebelum operasi, kami dirawat di kamar bersebelahan di lantai lima. Kamar 512 dan 513. Dinding di antaranya tipis, cukup tipis sampai aku bisa mendengar Salsa memarahi perawat jaga karena infusnya dipasang di vena yang menurutnya “kurang strategis.”
Gelang pasien kami berwarna sama. Kuning, dengan tulisan hitam: TRANSPLANTASI – DONOR di gelangnya, TRANSPLANTASI – RESIPIEN di gelangku.
Salsa memotret kedua gelang itu bersebelahan, tangannya di atas tanganku, dan menjadikannya status WhatsApp dengan keterangan pasangan setengah sendok. Aku memprotes. Ia bilang itu edukasi publik tentang donor organ.
Pukul tujuh, geng perawat datang.
Sus Mira, Sus Eka, dua orang laboratorium, dan Pak Ujang, berdiri di depan pintu kamar 512 membawa spanduk kain sepanjang satu meter. Spanduk itu dicat tangan dengan cat poster warna merah muda, hurufnya miring-miring, dan ada gambar dua cangkir kopi berbentuk hati di kedua ujungnya.
SEMOGA LANCAR, PASANGAN SETENGAH SENDOK!
“Dodi yang gambar cangkirnya,” kata Sus Mira. “Kirana yang tulis hurufnya. Pak Ujang yang beli cat.”
“Catnya mahal, Mas,” kata Pak Ujang. “Saya pakai uang taruhan.”
“Taruhannya udah ditutup, Pak.”
“Ditutup, Mas. Tapi saldonya masih ada.” Pak Ujang mengangkat bahu. “Gorengan seminggu, dikali lima orang, dikali enam minggu. Cukup buat cat poster sama dua liter es teh.”
Mereka menempel spanduk itu di dinding di antara pintu 512 dan 513, dengan selotip, persis di bawah papan bertuliskan HARAP TENANG – AREA PERAWATAN. Perawat jaga lantai lima menatap spanduk itu dengan wajah lelah, lalu menatap Sus Mira, lalu memutuskan tidak bertanya.
Pukul delapan, Mama Salsa datang.
Aku sedang duduk di ranjang kamar 512 ketika pintu terbuka. Seorang perempuan berumur enam puluhan berdiri di ambang pintu. Pendek, berkacamata, berkerudung biru tua. Wajahnya mirip Salsa di bagian mata, mata yang bisa menatap lebih dari empat detik tanpa berkedip.
Di belakangnya, seorang laki-laki tinggi berambut putih dengan kemeja batik. Pak Hendra Harin. Papa Salsa. Ia tidak masuk. Ia berdiri di koridor, menatapku dari balik bahu istrinya, dengan wajah yang tidak bisa kubaca.
Mama Salsa masuk.
Ia berjalan sampai ke samping ranjangku. Ia berdiri di sana, menatapku dari atas. Aku mencoba bangkit dari ranjang, karena Ibu akan menjewer telingaku kalau aku menyambut orang tua sambil berbaring. Mama Salsa mengangkat satu tangan.
“Duduk,” katanya.
Aku duduk.
Ia menatapku lama sekali. Aku tidak berani menghitung berapa detik.
“Kamu tahu,” kata Mama Salsa, “delapan tahun lalu saya banting panci tiga hari?”
“Saya tahu, Bu.”
“Kamu tahu delapan tahun lalu saya mau datang ke rumah kamu, terus Salsa larang?”
“Saya tahu, Bu.”
“Kamu tahu saya masih punya daftar nama-nama binatang yang mau saya sebut kalau ketemu kamu?”
Aku menelan ludah. “Saya... nggak tahu, Bu.”
“Ada dua puluh tiga,” kata Mama Salsa. “Saya tulis di buku resep. Halaman belakang.”
Dari koridor, aku mendengar suara kecil. Pak Hendra, menahan sesuatu yang mungkin batuk dan mungkin tawa.
Mama Salsa menarik napas panjang. Lalu ia melepas kacamatanya, mengelapnya dengan ujung kerudung, dan memasangnya lagi. Gerakan yang membuatku teringat dr. Bambang.
“Anak saya,” kata Mama Salsa, “besok pagi mau kasih satu ginjalnya ke kamu.”
“Iya, Bu.”
“Satu ginjal, Irvan. Yang saya kasih dari dalam perut saya sendiri tiga puluh dua tahun lalu.”
Aku tidak bisa menjawab.
Mama Salsa menunduk. Ia meraih tangan kananku, tangan yang tidak diperban, dan menggenggamnya dengan dua tangan. Tangannya kecil dan dingin, seperti tangan Salsa di pagi hari.
“Kamu utang satu ginjal sama anak saya,” katanya pelan. “Bayarnya pakai seumur hidup.”
Ia melepaskan tanganku, berbalik, dan berjalan ke pintu. Di ambang pintu, ia berhenti di samping suaminya.
“Dua puluh tiga nama binatang itu,” kata Mama Salsa tanpa menoleh, “masih saya simpan. Buat jaga-jaga.”
Ia pergi. Pak Hendra menatapku sebentar dari koridor. Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya mengangguk sekali, sangat kecil, lalu mengikuti istrinya.
Pukul sepuluh malam, perawat jaga lantai lima mematikan lampu koridor utama.
Aku tidak bisa tidur. Aku turun dari ranjang, menarik tiang infus, dan berjalan keluar kamar. Di ujung koridor, di dekat jendela besar yang menghadap lampu-lampu kota Bandung, ada ruang tunggu kecil dengan tiga kursi sofa biru yang busanya sudah tipis.
Salsa sudah ada di sana. Duduk di sofa tengah, kaki ditekuk ke atas, dengan tiang infusnya sendiri di samping. Ia memakai baju pasien yang sama denganku, biru muda bermotif kotak-kotak kecil. Rambutnya terurai.
Ia menoleh ketika mendengar roda tiang infusku berderit.
“Nggak bisa tidur?” tanyanya.
“Nggak.”
“Aku juga.”
Aku duduk di sofa sebelahnya. Tiang infus kami berdiri bersebelahan seperti dua penjaga.
Kami menatap lampu-lampu kota. Di kejauhan, lampu-lampu di kaki bukit Dago berkelip seperti bintang yang jatuh terlalu rendah.
“Van,” kata Salsa. “Kamu ngapain tiap ulang tahun aku? Delapan tahun ini?”
Aku diam sebentar.
“Jam sebelas malam,” kataku. “Aku bikin kopi susu. Gula setengah sendok.”
“Kamu minum?”
“Nggak boleh. Jatahku habis.” Aku menatap jendela. “Aku bawa ke halaman belakang rumah Ibu. Aku siram ke pohon jambu air.”
Salsa menoleh menatapku.
“Pohon jambu air yang di depan, yang di foto lamaran?” tanyanya.
“Bukan. Yang di belakang. Yang kecil.” Aku tersenyum sedikit. “Ibu bilang pohon itu tiap Desember berbuahnya paling manis. Ibu nggak pernah tahu kenapa.”
Salsa tertawa. Tawa pelan, yang pecah di tengah. Ia menyeka matanya dengan ujung lengan baju pasien.
“Kamu sendiri?” tanyaku. “Tiap ulang tahun aku?”
“Aku beli permen jahe,” kata Salsa. “Sebungkus. Aku taruh di meja kamar kos, di samping buku catatan koas. Terus aku nulis angka hari di halaman belakang.” Ia menatap lampu kota. “Delapan bungkus. Aku belum makan satu pun. Semuanya masih di laci.”
“Udah kedaluwarsa.”
“Iya. Kayak punya kamu yang di bawah tumpukan kaus.”
Aku menoleh. “Kamu tahu soal itu?”
“Ibu,” kata Salsa. “Waktu kamu di ICU. Ibu cerita banyak.”
Kami diam lagi. Lampu kota berkelip. Seorang perawat lewat di ujung koridor, melihat kami, lalu memutuskan pura-pura tidak melihat.
Salsa menyandarkan kepalanya di bahuku. Rambutnya yang terurai jatuh di lenganku. Masih wangi sabun bayi.
“Van,” katanya pelan. “Kamu takut?”
“Iya.”
“Aku juga.”
“Kamu dokter ginjal.”
“Justru itu,” kata Salsa. “Aku tahu semua yang bisa salah.”
Aku mencari tangannya di antara kami, di atas sofa biru yang busanya tipis. Aku menemukannya. Jari-jarinya dingin.
Kami duduk di sana sampai pukul dua belas, sampai perawat jaga datang dengan wajah sangat tegas dan menyuruh kami kembali ke kamar masing-masing karena puasa sebelum operasi sudah dimulai dan pasien transplantasi bukan pasangan yang lagi kencan di taman.
Pukul enam pagi, dua brankar didorong keluar dari kamar 512 dan 513 bersamaan.
Spanduk SEMOGA LANCAR, PASANGAN SETENGAH SENDOK! masih menempel di dinding di antara pintu-pintu kami. Pak Ujang berdiri di bawahnya dengan seragam satpam yang baru disetrika, memberi hormat ketika brankar kami lewat. Ibu berdiri di sampingnya, memeluk kaleng Khong Guan. Mama Salsa berdiri di samping Ibu, dan untuk pertama kalinya, aku melihat kedua ibu itu berpegangan tangan.
Di ujung koridor, ada persimpangan. Lift ke kiri, menuju ruang operasi satu. Lift ke kanan, menuju ruang operasi dua. Donor dan resipien dioperasi di ruangan yang bersebelahan, oleh dua tim yang berbeda.
Brankar kami berhenti di persimpangan itu.
Aku menoleh. Salsa berbaring di brankarnya dengan topi operasi biru di kepala, rambutnya tersembunyi semua, tidak ada satu helai pun yang lolos. Wajahnya pucat. Matanya menatapku.
Perawat di brankarnya mulai mendorong ke arah kiri.
Salsa mengangkat tangannya. Tangan yang dingin, dengan gelang kuning bertuliskan TRANSPLANTASI – DONOR, terulur ke arahku dari atas brankar yang mulai menjauh.
“Van,” katanya.
Aku mengangkat tanganku juga. Jari-jari kami tidak bersentuhan. Brankarnya sudah terlalu jauh.
“Sampai ketemu di seberang,” kata Salsa.
Lalu pintu lift di sebelah kiri terbuka, dan ia hilang di baliknya.
- 1 Pesanan Jam Enam
- 2 Aku Nggak Siap
- 3 Tiup Tiga Kali
- 4 Permen Jahe di Toples Tip
- 5 Croissant Terakhir
- 6 Gula Tiga Sendok
- 7 Hal yang Tidak Diketahui Orang Asing
- 8 Van
- 9 Pasar Hari Minggu
- 10 Menu Baru
- 11 Masa Depan yang Pantas
- 12 Sandiwara Makan Siang
- 13 Kejutan untuk dr. Salsa
- 14 Kalimat yang Sama
- 15 Kursi Kosong Jam Enam
- 16 Yang Berlari Menyeberang
- 17 Tahun Kedua
- 18 Kaleng Biskuit
- 19 Tabungan Nikah
- 20 Harga Lima Tahun
- 21 Yang Kusiapkan Sambil Menunggu
- 22 Satu Malam
- 23 Sebelum Operasi reading
- 24 Tangan yang Masih Menggenggam
- 25 Sekarang Aku yang Jaga
- 26 Pulang
- 27 Kencan Pertama yang Kedua
- 28 Pegangan Tangan Itu Susah
- 29 Nembak Ulang
- 30 Resmi (Lagi)
- 31 Sandiwara yang Ketahuan
- 32 Lamaran
- 33 Angka yang Naik
- 34 Di Depan Pintu
- 35 Malam yang Sama
- 36 Nilai Kembali Normal
- 37 Kebaya yang Menunggu
- 38 Pagi Akad
- 39 Sekarang Aku Siap
- 40 Rumah Kecil, Dapur Gosong
- 41 Epilog: Gelas Penuh