← Gula Setengah Sendok

Chapter Twenty

Harga Lima Tahun

POV: Irvan


Aku marah.

Aku tidak tahu harus marah pada siapa, jadi aku marah pada semuanya.

Aku marah pada Om Haris, yang tidak pernah kutemui, yang menyewakan ruko dengan harga sepertiga pasaran dan membuatku merasa beruntung selama lima tahun. Aku marah pada agen properti bermuka ramah yang meneleponku di bulan Februari itu, yang bilang ada ruko bagus, Mas, pemiliknya lagi butuh cepat, harganya miring. Aku marah pada Sus Tini, yang dulu selalu membawakanku teh manis setelah cuci darah dan ternyata makan bakso setiap bulan dengan perempuan yang paling ingin kuhindari.

Aku marah pada Kirana. Lima tahun, dan Kirana hanya butuh satu malam untuk berpindah pihak.

Aku marah pada diriku sendiri, yang tidak pernah bertanya kenapa ruko dua lantai di depan rumah sakit bisa semurah itu. Yang menandatangani kontrak dengan tangan gemetar karena terlalu senang. Yang pulang ke rumah malam itu dan bilang ke Ibu, Bu, akhirnya. Akhirnya ada yang bisa kubangun sendiri.

Sendiri.

Aku berbaring di ranjang kelas dua sepanjang siang itu, menatap langit-langit yang tidak punya noda Sulawesi, dan mengulang kata itu sampai kehilangan bentuknya.

Lima tahun aku bangun pukul lima. Lima tahun aku menakar air di gelas kecil sebelum menakar biji kopi. Lima tahun aku berdiri di balik bar dengan kaki yang bengkak di hari Kamis dan kepala yang melayang di hari Sabtu, dan aku bertahan karena satu hal: ini punyaku. Mesin cuci darah boleh mengambil ginjalku, boleh mengambil pernikahanku, boleh mengambil Selasa dan Jumat-ku. Tapi tidak boleh mengambil ini.

Dan ternyata, selama lima tahun itu, dinding yang kusandari dibayar dari celengan gedung dan jaga malam seorang residen penyakit dalam yang tidak pernah beli baju baru.

Aku tidak tahu soal baju baru itu. Salsa tidak bilang. Aku menebaknya, karena kemeja biru muda yang ia pakai di hari pertama masuk kedaiku adalah kemeja yang sama dengan yang ia pakai di wisuda dokternya delapan tahun lalu. Aku ingat, karena aku yang memilihkannya di Pasar Baru, dan aku ingat kancing ketiga dari atas warnanya sedikit berbeda karena pernah lepas dan diganti.

Kancing ketiga kemeja biru mudanya di hari pertama warnanya sedikit berbeda.

Aku baru menyadarinya sekarang.


Pukul tujuh malam, ia kembali.

Ia mengetuk pintu dua kali, pelan, lalu masuk tanpa menunggu jawaban. Ia membawa rantang plastik. Rantang Ibu, aku tahu dari tutupnya yang retak di satu sisi.

“Ibu nitip,” katanya. “Bubur. Nggak pakai garam.”

Ia meletakkan rantang di meja samping ranjang, di samping kaleng Khong Guan yang belum berpindah dari sana sejak pagi. Ia tidak duduk di kursi plastik. Ia berdiri di ujung ranjang, menjaga jarak, seperti orang yang tahu ia sedang tidak diinginkan.

“Kamu harus makan,” katanya. “Kalium kamu tadi siang udah normal. Tapi kamu belum makan dari kemarin.”

“Aku nggak lapar.”

“Van.”

“Aku nggak lapar, Sa.” Suaraku lebih keras dari yang kumaksud. Kakek di ranjang sebelah berhenti mendengkur, lalu mulai lagi. “Aku nggak butuh kamu ngecek kalium aku. Aku nggak butuh kamu ngatur makan aku. Aku nggak butuh kamu bayar ruko aku.”

Ia tidak bergerak.

“Lima tahun, Sa.” Aku bangkit duduk. Selang oksigen tertarik di hidungku, dan aku mencabutnya, dan aku tidak peduli. “Lima tahun kamu atur hidup aku dari jauh. Kamu pilihin tempat. Kamu pilihin harga. Kamu pilihin rumah sakit. Kamu traktir perawat aku bakso biar dapat laporan. Kamu...” Napasku pendek. Aku tidak berhenti. “Kamu kira hidup aku apa? Proyek? Pasien kamu?”

“Van, selangnya...”

“Jangan.” Aku mengangkat tangan. “Jangan jadi dokter sekarang.”

Ia menurunkan tangannya.

“Aku pergi biar kamu bebas,” kataku. “Biar kamu bisa jadi dokter anak. Biar kamu bisa nikah sama orang yang sehat. Biar kamu bisa punya rumah sama halaman buat nanem cabai. Aku pergi biar kamu nggak perlu ngabisin hidup buat aku.” Suaraku pecah di tengah. Aku memaksanya terus. “Dan kamu pakai semua kebebasan itu buat apa? Buat bayarin dinding kedai aku? Buat jaga malam dua kali lipat? Buat ganti spesialis?”

“Iya,” kata Salsa.

“Kamu nggak berhak, Sa.”

“Iya.”

“Kamu nggak berhak mutusin itu buat aku.”

Ia menatapku dari ujung ranjang.

“Kamu juga nggak,” katanya pelan.

Kamar sunyi.


Ia tidak membela diri.

Itu yang membuatku runtuh. Bukan kalimatnya. Bukan matanya. Tapi bahwa ia berdiri di ujung ranjang dan membiarkan semua kemarahanku jatuh menimpanya, dan ia tidak menangkisnya, tidak membalasnya, tidak mengingatkanku pada malam di teras rumah Ibu.

Ia tidak bilang, kamu yang bohong duluan. Ia tidak bilang, kamu yang bilang kamu nggak cinta aku. Ia tidak bilang, kamu yang nyuruh aku jangan datang lagi, dua kali, dengan kalimat yang sama.

Ia hanya bilang iya. Dan kamu juga nggak.

Aku menatapnya. Aku menatap kemeja hijau muda yang ia pakai hari ini. Kancing ketiganya sama warnanya. Kemeja ini baru, atau setidaknya lebih baru. Aku menatap rambutnya yang dicepol, helai yang lolos di pelipis kiri. Aku menatap lingkar gelap di bawah matanya, yang lebih gelap dari kemarin, dan kemarin lebih gelap dari hari pertama.

Delapan tahun lalu, aku menghancurkannya di teras. Ia tidak berteriak.

Enam minggu lalu, ia masuk ke kedaiku dan aku pura-pura tidak mengenalnya. Ia tidak marah.

Dua minggu lalu, aku makan siang dengan Nadia di kursinya. Pulpennya patah. Ia tidak datang untuk menuntut apa pun.

Seminggu lalu, aku bilang padanya untuk jangan datang lagi. Ia merapikan tumpukan sleeve dan meminta maaf pada Ibu karena tidak pamitan.

Delapan tahun, dan ia tidak pernah sekali pun marah padaku.

Dan aku, laki-laki yang membuatnya membakar seratus dua puluh undangan di kaleng cat, yang membuatnya menangis di kamar mandi kos sampai ibu kos mengira pipanya bocor, yang membuatnya bersembunyi di balik ambulans dan membaca coretan di bawah sinar matahari, aku sedang duduk di ranjang rumah sakit dan marah padanya karena ia mencintaiku terlalu banyak.

Aku menutup wajah dengan dua tangan.

Aku tidak menangis. Aku sudah tidak punya air mata lagi setelah kemarin. Aku hanya duduk di sana, wajah di telapak tangan, napas pendek-pendek, dan merasa sangat, sangat kecil.

Langkah kaki mendekat. Kursi plastik bergeser.

Lalu tangan di punggungku. Hanya diletakkan di sana. Tidak menepuk, tidak mengusap. Hanya diletakkan, hangat, di antara tulang belikatku, seperti seseorang yang meletakkan tangannya di dinding untuk memastikan dinding itu masih berdiri.

“Makan buburnya, Van,” kata Salsa. “Nanti kita berantem lagi.”


Nadia datang keesokan harinya, pukul sepuluh pagi, dengan Gilang di belakangnya.

Nadia tidak memakai kaus band. Ia memakai kemeja putih yang sama dengan yang ia pakai di hari pertama sandiwara makan siang, dan aku tidak tahu apakah itu disengaja. Ia berdiri di ambang pintu, menatapku di ranjang, menatap kaleng Khong Guan di meja samping, menatap selang oksigen yang sudah dipasang kembali di hidungku oleh perawat yang sangat kesal.

Lalu Nadia menangis.

Bukan tangisan Nadia yang biasa, yang keras dan berantakan dan selesai dalam dua menit. Tangisan yang pelan, di ambang pintu, dengan tangan menutup mulut.

“Van,” katanya. “Maafin aku.”

“Nad, ini bukan salah kamu.”

“Salah aku!” Nadia masuk, menarik kursi plastik, dan duduk dengan keras. “Aku yang setuju. Aku yang nyuapin kamu nasi kuning. Aku yang ketawa kenceng-kenceng di kursi dia. Aku yang...” Ia terisak. “Aku yang ngerapiin kerah kamu, Van. Kerah kamu nggak miring. Aku sengaja.”

“Aku yang minta, Nad.”

“Kamu minta, aku harusnya nolak! Aku sahabat kamu! Sahabat itu harusnya nolak ide tolol!”

“Kamu udah bilang itu ide tolol.”

“Aku bilang, tapi aku tetap lakuin!” Nadia memukul lenganku. Lengan kanan. Lalu ia tersentak dan menatap lenganku dengan ngeri. “Ya Allah. Ya Allah, maaf. Kamu pasien. Aku mukul pasien.”

Gilang berdiri di samping kursi Nadia, tangan di belakang punggung, wajah datar seperti biasa.

“Bukan salah kamu, Nad,” kata Gilang. “Salah saya.”

Nadia menoleh. “Kok salah kamu?”

“Saya yang ngizinin. Kamu nanya saya malam itu. Saya bilang boleh, asal nggak pegangan.” Gilang menatapku. “Saya polisi, Mas. Saya harusnya tahu itu pelanggaran. Pura-pura pacaran di depan perempuan yang lagi patah hati itu sama kayak nerobos lampu merah di depan sekolah.”

“Itu nggak sama, Lang,” kata Nadia.

“Sama. Dua-duanya bahaya buat pejalan kaki.”

“Pejalan kaki apa?”

“Hatinya dr. Salsa, Nad. Itu pejalan kaki.”

Nadia menatap tunangannya dengan mulut terbuka. Aku juga.

“Lagian,” lanjut Gilang dengan suara yang sama datarnya, “saya duduk di pojok empat hari. Saya lihat semuanya. Saya bisa aja berdiri dan bilang udah, cukup. Saya nggak berdiri. Saya cuma pesan air putih.” Ia menunduk sedikit. “Itu kelalaian dalam tugas.”

“Kamu nggak lagi tugas, Lang!”

“Saya selalu tugas kalau soal kamu.”

Nadia membuka mulut, lalu menutupnya. Wajahnya merah. Lalu ia memukul lengan Gilang, keras, dan Gilang tidak bergeming sedikit pun, seperti tiang lampu lalu lintas.

“Yang paling salah aku,” kata Nadia.

“Saya.”

“Aku!”

“Kalau berdasarkan berat pelanggaran...”

“Kalian berdua berhenti,” kataku.

Mereka berhenti. Mereka menatapku.

Aku tertawa. Aku tidak tahu dari mana tawa itu datang. Tawa kecil, serak, yang membuat selang oksigen bergeser di hidungku. Tapi tawa itu nyata, bukan tawa fotokopi yang kertasnya nyangkut, bukan tawa orang yang ditendang tulang keringnya di bawah meja.

Nadia menatapku tertawa. Matanya basah lagi, tapi kali ini ia tersenyum.

“Dia udah tahu, Nad,” kataku. “Soal sandiwaranya. Dia udah tahu dari awal.”

“Hah?”

“Dia dokter. Katanya dia bisa diagnosis sandiwara yang tunangannya ikut nonton sambil pesan air putih empat kali.”

Nadia menoleh pelan ke arah Gilang. Gilang menatap jendela dengan sangat serius.

“Lang,” kata Nadia.

“Hm.”

“Kamu ketahuan.”

“Saya menyamar dengan sangat baik.”

“Kamu pakai kacamata item di dalam ruangan, Lang. Siang-siang.”

“Itu bagian dari penyamaran.”

“Korannya kebalik!”

Gilang tidak menjawab. Tapi aku melihat telinganya memerah, untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya.


Sore harinya, dr. Bambang datang sendirian.

Ia mengetuk pintu, masuk, dan menatap kakek di ranjang sebelah, yang sedang tidur. Lalu ia menarik tirai di antara ranjang kami, perlahan, dan menarik kursi plastik ke samping ranjangku.

Ia duduk. Itu tanda buruk. Atau mungkin bukan.

“Mas Irvan,” katanya. “Kondisi Mas sudah stabil. Besok siang Mas boleh pulang. Jadwal cuci darah kembali normal hari Jumat.”

“Makasih, Dok.”

“Saya mau bicara soal yang kemarin itu. Soal transplantasi.”

Aku menatap tirai.

“Mas ingat, beberapa hari setelah kita bicara soal stenosis, Mas tanda tangan persetujuan pemeriksaan kandidat transplantasi,” kata dr. Bambang. “Untuk daftar tunggu donor jenazah. Pemeriksaan darah, tipe jaringan, antibodi. Mas ingat?”

Aku ingat. Aku menandatanganinya di meja perawat unit hemodialisis, pada suatu Jumat, dengan pikiran yang ada di tempat lain. Di sleeve bertuliskan Masih Apa?. Aku menandatanganinya karena dr. Bambang memintaku, dan karena daftar tunggu donor jenazah di Indonesia sangat panjang, dan karena menandatangani sesuatu yang tidak akan pernah terjadi tidak terasa seperti menandatangani apa-apa.

“Ingat, Dok.”

“Sampel darah Mas dari pemeriksaan itu,” kata dr. Bambang, “sudah kami pakai untuk uji silang. Dengan seorang calon donor hidup.”

Aku menoleh.

Dr. Bambang melepas kacamata bundarnya. Ia mengelapnya dengan ujung jas dokter, pelan, sangat pelan, lebih lama dari biasanya. Lalu ia memasangnya kembali.

“Ada calon donor hidup yang cocok, Mas,” katanya. “Golongan darah sesuai. Tipe jaringan kompatibel. Uji silang negatif. Pemeriksaannya sudah lengkap, termasuk evaluasi komite etik dan psikolog. Semuanya selesai.”

Aku tidak bisa bernapas.

“Calon donornya,” lanjut dr. Bambang, “minta saya yang menyampaikan ini ke Mas lebih dulu.”

“Siapa, Dok?”

Dr. Bambang tidak menjawab. Ia hanya menatapku dengan mata pelan di balik kacamata bundar, mata seorang dokter tua yang sudah menyampaikan ribuan kabar, baik dan buruk, dan tahu persis kapan sebuah nama tidak perlu diucapkan.

Di balik tirai, di koridor, aku mendengar langkah kaki. Pendek-pendek. Terburu-buru.

Langkah itu berhenti di depan pintu kamar.

Dan tidak masuk.