Chapter Two
Aku Nggak Siap
POV: Irvan
Kedai Setengah tidak pernah buka pagi di hari Selasa dan Jumat.
Papan kecil di pintu kaca menulisnya dengan huruf kapur yang dibuat Kirana: SELASA & JUMAT BUKA JAM 12.00. Barista-nya lagi isi ulang tenaga. Pelanggan tetap sudah hafal. Pelanggan baru biasanya menggedor pintu sebentar, membaca papan itu, lalu menyeberang ke kantin rumah sakit dengan wajah kecewa.
Selasa itu, tiga hari sejak Salsa pertama kali masuk ke kedaiku, aku bangun pukul lima seperti biasa. Aku tidak menyalakan mesin espresso. Aku tidak menuang air ke gelas kecil. Di hari cuci darah, jatah minumku dihitung ulang setelah mesin selesai bekerja.
Aku memakai kemeja lengan panjang abu-abu, yang paling longgar di lengan kiri, karena lengan kiri adalah yang akan ditusuk.
Di sana, di bagian dalam lengan bawah, ada fistula. Sambungan yang dibuat dokter bedah antara arteri dan vena, supaya darahku bisa dialirkan keluar ke mesin dengan cukup deras dan dikembalikan lagi setelah bersih. Bentuknya seperti tali menonjol di bawah kulit, berkelok, sedikit kebiruan. Kalau kutempelkan dua jari di atasnya, aku bisa merasakan getaran halus terus-menerus, seperti dengung kucing tidur.
Dokter menyebutnya thrill. Aku menyebutnya alasan aku tidak pernah memakai kaos di depan orang lain lagi sejak umur dua puluh tujuh.
Aku berjalan menyeberang jalan pukul enam empat puluh, ketika gerbang RS Mitra Harapan sudah ramai. Aku masuk lewat pintu samping, naik tangga ke lantai dua, dan setiap langkah di tangga itu kali ini terasa berbeda.
Lima tahun aku menaiki tangga yang sama. Lima tahun aku tidak pernah menoleh ke koridor-koridor lain di gedung ini.
Hari ini aku menoleh ke setiap koridor.
“Mas Irvan!” Sus Mira menyambutku di meja jaga unit hemodialisis, sudah dengan masker dan sarung tangan. “Duh, saya kangen. Kemarin-kemarin ke kedai Mas kok selalu penuh? Saya nggak sempat ngobrol.”
“Lagi rame, Sus.”
“Rame, ya? Rame karena ada pelanggan baru?” Sus Mira menaik-turunkan alisnya. “Pelanggan baru yang cantik? Yang pakai jas putih? Yang duduk di jendela?”
Aku tidak menjawab. Aku menyerahkan kartu, menimbang badan di timbangan dekat pintu. Enam puluh dua koma tujuh. Naik dua koma satu dari Jumat. Terlalu banyak. Aku tahu sebabnya: tiga pagi berturut-turut aku lupa memperhatikan gelas kecilku, karena pukul enam aku terlalu sibuk tidak menatap kursi dekat jendela.
Sus Mira membaca angkanya dan berhenti tersenyum. “Mas. Dua kilo?”
“Iya.”
“Mas Irvan.” Ia meletakkan tangannya di pinggang. Sus Mira hanya setinggi bahuku, tapi ketika ia meletakkan tangan di pinggang, aku selalu merasa seperti anak SD yang ketahuan tidak mengerjakan PR. “Mas sendiri yang paling disiplin di unit ini. Lima tahun saya pegang Mas, belum pernah Mas naik lebih dari satu koma lima. Ada apa?”
“Lagi capek aja, Sus.”
“Capek atau jatuh cinta?”
“Sus.”
“Saya cuma nanya. Orang jatuh cinta suka lupa minum, terus kalau ingat, minumnya kebanyakan.” Ia mencatat sesuatu di map. “Kursi tujuh ya, Mas. Seperti biasa.”
Kursi tujuh ada di dekat jendela besar yang menghadap jalan. Dari situ, kalau kepala dimiringkan sedikit, aku bisa melihat papan nama Kedai Setengah di seberang.
Aku duduk, menggulung lengan kemeja kiri sampai siku, dan meletakkan lenganku di sandaran.
Sus Mira membersihkan kulitku dengan kapas dingin. Lalu dua jarum masuk, satu untuk mengalirkan darah keluar, satu untuk mengembalikannya.
Mesin berdengung. Darahku mengalir lewat selang bening, merah gelap, menuju tabung penyaring yang bentuknya seperti senter tanpa lampu. Empat setengah jam ke depan, aku tidak akan ke mana-mana.
Biasanya, empat setengah jam itu kupakai untuk tidur, atau membaca laporan penjualan di ponsel, atau menatap papan nama kedaiku dan merencanakan menu baru.
Hari ini, aku hanya menatap pintu kaca unit hemodialisis.
Dan karena aku tidak punya tempat lain untuk lari, ingatan itu datang.
Delapan tahun lalu, aku dua puluh enam tahun dan berpikir tubuhku akan bertahan selamanya.
Aku bekerja sebagai barista kepala di kedai kopi yang cukup terkenal di Dago, menabung untuk membuka kedai sendiri. Aku tidur empat jam sehari dan menganggap itu prestasi. Aku minum kopi delapan gelas sehari dan menganggap itu riset. Tekanan darahku tinggi sejak umur dua puluh, dan aku menganggap itu keturunan, karena Bapak juga begitu, dan Bapak meninggal waktu aku sebelas tahun karena stroke, dan aku tidak pernah benar-benar memeriksakan diri karena aku takut jawabannya.
Lalu aku bertemu Salsa, dan semua hal yang dulu kuanggap prestasi tiba-tiba terlihat bodoh.
Ia mahasiswa koas yang datang ke kedai kopi tempatku bekerja pukul sebelas malam, setelah jaga, dengan mata merah dan rambut dicepol asal. Ia memesan kopi susu dengan gula setengah sendok dan menjelaskan, tanpa ditanya, bahwa gula satu sendok membuatnya merasa bersalah dan tanpa gula membuatnya merasa hidup ini tidak adil. Ia meniup kopinya tiga kali sebelum minum. Ia memarahiku karena busanya terlalu tebal.
Tiga tahun kemudian, aku melamarnya di kedai yang sama, dengan cincin yang kubeli dari tabungan kedai. Ia menangis, lalu memarahiku karena memakai uang tabungan kedai.
Lalu kami membuka rekening bersama. Tabungan Nikah Irvan-Salsa. Kami isi berdua setiap bulan.
Lalu kami menentukan tanggal: dua belas Juni.
Lalu kami mencetak undangan. Lima ratus lembar. Warna krem dengan pita hijau sage, karena Salsa bilang hijau sage itu “warna orang yang tenang”, dan ia ingin pernikahannya terlihat tenang walaupun ia sendiri tidak tenang sama sekali.
Seminggu sebelum dua belas Juni, aku pingsan di kedai.
Aku ingat rasa mual yang sudah berminggu-minggu kuabaikan. Aku ingat bengkak di pergelangan kaki yang kupikir karena terlalu lama berdiri. Aku ingat napas yang terasa pendek ketika menaiki tangga. Aku ingat lantai kedai yang tiba-tiba miring.
Lalu aku ingat dokter jaga IGD, seorang laki-laki dengan kacamata tebal dan suara sangat lembut, yang duduk di samping ranjangku sambil memegang hasil lab.
“Mas Irvan,” katanya, “fungsi ginjal Mas tinggal kurang dari sepuluh persen.”
Aku tidak mengerti. Aku dua puluh enam tahun.
“Ini sudah stadium lima,” lanjutnya. “Gagal ginjal kronis. Kemungkinan besar karena hipertensi yang tidak terkontrol selama bertahun-tahun. Mas harus mulai cuci darah. Secepatnya.”
“Sampai kapan, Dok?”
Ia diam sebentar. Aku masih ingat diam itu. Diam yang lebih jujur dari kalimat apa pun.
“Seumur hidup, Mas. Kecuali Mas mendapat transplantasi ginjal.”
Aku bertanya dua hal lagi. Berapa biayanya. Dan apakah orang yang cuci darah bisa hidup normal.
Ia menjawab yang pertama dengan angka yang membuatku ingin tertawa. Ia menjawab yang kedua dengan kalimat yang sopan dan hati-hati, tentang jadwal yang tetap, pembatasan cairan, pembatasan makanan, kelelahan, risiko infeksi, harapan hidup yang sangat bervariasi tergantung banyak faktor.
Aku pulang dari rumah sakit sendirian. Aku belum memberi tahu siapa-siapa. Aku duduk di motor di parkiran selama dua jam, menatap undangan krem dengan pita hijau sage yang kuselipkan di dasbor untuk dibagikan ke teman-teman kedai besok.
Irvan & Salsabila. Sabtu, 12 Juni.
Salsa baru lulus internsip. Ia akan mendaftar program spesialis tahun depan. Ia selalu bilang ia ingin mengambil spesialis anak, karena anak-anak itu “pasien paling jujur di dunia”. Ia ingin punya tiga anak. Ia ingin tinggal di rumah dengan halaman kecil supaya bisa menanam cabai.
Aku menghitung semua itu di parkiran rumah sakit, satu per satu, dan aku mencoba menaruh mesin cuci darah di setiap gambarnya.
Mesin itu tidak muat di mana pun.
Malam itu, lima hari sebelum akad, Salsa datang ke rumahku seperti biasa.
Ia membawa kotak kardus berisi sisa undangan yang belum diberi label nama. Ia duduk di teras rumah Ibu, menyalakan lampu, dan mulai menulis nama tamu dengan pulpen tinta hijau yang dibelinya khusus supaya serasi dengan pita.
“Van,” katanya tanpa mendongak. “Teman kedaimu yang rambutnya kayak brokoli itu namanya siapa? Rudi atau Rudy pakai Y?”
Aku berdiri di ambang pintu. Aku sudah berlatih kalimatnya sepanjang jalan pulang. Aku sudah memutuskan. Aku tidak akan memberi tahu alasannya, karena aku tahu Salsa. Kalau ia tahu alasannya, ia tidak akan pergi. Ia akan tinggal. Ia akan mengubah semua rencananya, membuang semua mimpinya satu per satu, dan menaruh mesin cuci darah di tengah hidupnya, lalu tersenyum dan bilang semuanya baik-baik saja.
Dan setiap hari, selama sisa hidupnya, ia akan membayar harga untuk sesuatu yang bukan salahnya.
Aku tidak mau ia membayar apa pun untukku.
“Sa,” kataku.
“Hm?” Ia masih menulis. “Rudi pakai I, ya? Aku tulis pakai I.”
“Sa. Aku mau ngomong.”
Mungkin ada sesuatu di suaraku. Ia berhenti menulis. Ia mendongak, dan wajahnya di bawah lampu teras masih penuh senyum yang baru saja ia pakai untuk menertawakan rambut Rudi.
“Kenapa, Van?”
Aku membuka mulut. Kalimat yang sudah kulatih selama dua jam itu ternyata cuma tiga kata.
“Aku nggak siap.”
Senyumnya tidak langsung hilang. Senyum itu tetap di sana beberapa detik, seperti lampu yang belum sadar listriknya sudah dimatikan.
“Nggak siap apa?”
“Nikah.”
“Van.” Ia tertawa kecil. “Semua orang juga nggak siap. Aku juga nggak siap. Mama bilang orang yang ngaku siap nikah itu bohong...”
“Aku nggak mau nikah, Sa.”
Kali ini senyumnya hilang.
Aku melihatnya hilang. Aku melihat bagaimana mata Salsa berubah, dari bingung ke takut, dari takut ke sesuatu yang lebih buruk: ia mulai mencari kesalahan di dirinya sendiri. Aku melihat ia membuka mulut, menutupnya, lalu membuka lagi.
“Aku salah apa?”
Itu pertanyaan yang paling kutakutkan. Aku sudah tahu ia akan menanyakannya, dan aku sudah tahu jawabannya akan menghancurkan sesuatu dalam dirinya yang tidak akan pernah bisa kuperbaiki.
“Nggak ada,” kataku.
“Kalau aku nggak salah apa-apa, kenapa?”
“Aku cuma nggak siap.”
“Van, akadnya lima hari lagi.”
“Aku tahu.”
“Undangannya udah disebar. Katering udah dibayar. Papa udah...” Suaranya pecah, lalu ia menariknya kembali dengan paksa. Salsa tidak pernah suka menangis di depan orang. Ia bilang menangis itu seperti bersin, lebih baik dilakukan sendiri. “Van, lihat aku. Kamu sakit? Kamu kenapa? Kamu ada masalah? Kita bisa omongin.”
Ia sangat dekat dengan jawabannya. Ia selalu begitu. Salsa selalu tahu kalau aku sakit, bahkan sebelum aku tahu sendiri. Ia yang dulu memaksaku minum obat tekanan darah, dan aku yang diam-diam berhenti meminumnya karena merasa baik-baik saja.
Kalau aku diam sedikit lagi, ia akan tahu.
“Aku nggak sakit,” kataku. “Aku cuma nggak cinta kamu sebanyak yang kamu kira.”
Aku tidak tahu dari mana kalimat itu datang. Itu bukan kalimat yang kulatih. Itu kalimat yang muncul karena aku panik, dan karena aku tahu itu satu-satunya kalimat yang akan membuat Salsa berhenti bertanya.
Kalimat itu berhasil.
Salsa berhenti bertanya. Ia tidak menangis. Ia tidak berteriak. Ia menatapku lama sekali, dengan mata yang sedang mencari sesuatu di wajahku dan tidak menemukannya.
Lalu ia mengangguk, sangat pelan.
Ia meletakkan pulpen hijau di atas kotak undangan. Ia merapikan undangan yang sudah diberi nama, menumpuknya sejajar, sudut ketemu sudut, karena Salsa selalu merapikan barang ketika tidak tahu harus melakukan apa dengan tangannya.
Lalu ia berdiri, mengambil tasnya, dan berjalan melewatiku ke gerbang.
Di gerbang, ia berhenti. Ia tidak menoleh.
“Bilang ke Ibu,” katanya, “aku minta maaf nggak pamitan.”
Ia pergi.
Ibu keluar dari dalam rumah lima menit kemudian, dengan wajah yang sudah tahu sesuatu terjadi tapi belum tahu apa. Ia melihat kotak undangan di teras, pulpen hijau di atasnya, lalu melihatku yang masih berdiri di ambang pintu.
“Van,” kata Ibu pelan. “Salsa ke mana?”
Aku memberi tahu Ibu semuanya malam itu. Hasil lab, cuci darah, angka biaya, kalimat dokter jaga yang sopan dan hati-hati. Ibu menangis di lantai ruang tamu, dan aku memeluknya, dan di sela tangisnya Ibu bertanya kenapa aku tidak bilang ke Salsa.
Aku tidak bisa menjawab. Aku cuma bilang, “Ibu, tolong jangan bilang ke Salsa. Tolong.”
Ibu menepati janjinya selama delapan tahun.
Kotak undangan itu tetap di teras sampai pagi. Pagi harinya, ketika aku keluar, kotak itu sudah tidak ada. Ibu menyimpannya entah di mana. Aku tidak pernah bertanya.
“Mas Irvan? Mas?”
Aku membuka mata. Sus Mira berdiri di samping kursi tujuh, memeriksa tekanan darah di layar mesin.
“Mas melamun lama banget,” katanya. “Tensinya agak naik. Mas pusing?”
“Nggak, Sus.”
“Mas yakin? Muka Mas kayak orang habis baca surat putus.”
Aku menatap langit-langit unit. Lampu neon yang sama selama lima tahun, dan satu noda bekas bocor di plafon yang bentuknya seperti pulau Sulawesi.
“Sus,” kataku. “dr. Salsa yang kemarin Sus omongin. Dia udah lama kerja di sini?”
Sus Mira berhenti menulis. Matanya menyipit di atas masker, seperti detektif yang mencium bau kasus.
“Kenapa, Mas? Mas naksir?”
“Cuma nanya.”
“Hmm.” Sus Mira mengetuk-ngetuk pulpen ke dagunya. “Kalau nggak salah, dia residen penyakit dalam di sini dari... lima tahun lalu? Enam? Pokoknya udah lama. Sp.PD-nya juga dari sini. Terus sekarang lanjut subspesialis ginjal. Konsultan ginjal-hipertensi.” Ia mengucapkan kata konsultan dengan nada kagum. “Jarang perempuan yang mau ambil ginjal, Mas. Capek. Pasiennya kronis semua, nggak sembuh-sembuh. Kebanyakan dokter perempuan pilih kulit, atau anak.”
Anak.
Ia ingin mengambil spesialis anak. Pasien paling jujur di dunia.
“Kenapa dia ambil ginjal?” tanyaku sebelum bisa menahan diri.
Sus Mira mengangkat bahu. “Nggak tahu, Mas. Saya nggak sedekat itu sama dokter senior. Tapi katanya dia jarang ke lantai dua. Dia lebih banyak di bangsal sama poli.” Ia menyipitkan mata lagi. “Mas beneran nggak naksir?”
“Nggak, Sus.”
“Bohong.”
“Sus.”
“Ya udah, ya udah. Tapi Mas, kalau naksir, Mas harus antre. Dr. Reza dari kardiologi udah ngejar dia dari setahun lalu. Ganteng, Mas. Tinggi. Pakai mobil listrik.” Ia menepuk bahuku dengan iba. “Mas kalah di mobil.”
“Saya nggak ikut lomba, Sus.”
“Bagus. Mas fokus aja ke berat badan. Dua kilo itu kebanyakan.”
Sus Mira pergi ke kursi lain. Aku menatap langit-langit dan mencoba tidak memikirkan apa pun.
Lima tahun. Enam tahun.
Ia ada di gedung ini selama aku ada di gedung ini. Aku duduk di kursi tujuh, dua kali seminggu, selama lima tahun, dan ia berjalan di koridor-koridor di bawah kakiku, di bangsal-bangsal lantai tiga dan empat, di poli lantai satu.
Ia tidak tahu. Ia pasti tidak tahu. Kalau ia tahu, ia tidak akan masuk ke kedaiku dan menatapku seperti orang asing. Kalau ia tahu, ia akan marah, atau menangis, atau menuntut penjelasan.
Atau mungkin ia memang tahu, dan ia memilih menatapku seperti orang asing karena itulah yang pantas kudapatkan.
Aku nggak cinta kamu sebanyak yang kamu kira.
Aku pernah mengucapkan kalimat itu pada perempuan yang mencintaiku lebih dari apa pun. Aku pantas ditatap seperti orang asing selama sisa hidupku.
Pukul sebelas lewat sepuluh, Sus Mira mencabut jarum dari lenganku dan menekan bekas tusukannya dengan kasa. Aku menahan kasa itu sendiri, dengan dua jari, selama sepuluh menit, sampai darahnya berhenti.
Aku berdiri pelan. Kepala sedikit ringan, seperti biasa. Kaki terasa seperti terbuat dari kapas basah, seperti biasa. Aku menimbang badan lagi. Enam puluh koma enam. Dua kilo yang tadi pagi berlebih sudah ditarik mesin dari tubuhku.
“Hati-hati, Mas,” kata Sus Mira. “Minumnya dijaga. Jatuh cintanya juga.”
“Sus.”
“Saya cuma ngingetin.”
Aku menurunkan lengan kemeja sampai pergelangan, mengancingkan manset, dan berjalan ke pintu kaca unit hemodialisis.
Dari pintu kaca itu, kalau menoleh ke kanan, aku bisa melihat koridor panjang lantai dua yang menuju lift dan tangga darurat. Lima tahun aku tidak pernah menoleh ke kanan. Aku selalu belok kiri, ke tangga samping, lalu turun dan keluar secepat mungkin.
Hari ini aku menoleh ke kanan.
Koridor itu ramai. Keluarga pasien yang menunggu di kursi plastik, perawat yang mendorong troli obat, petugas kebersihan dengan pel. Cahaya siang masuk dari jendela di ujung koridor dan membuat lantainya terlihat terlalu terang.
Di ujung koridor, dekat lift, ada sosok berjas putih yang berjalan cepat menjauh. Map di dada, langkah pendek-pendek yang terburu-buru, seolah-olah ia selalu terlambat ke sesuatu. Rambut gelap dicepol asal di belakang kepala.
Dan satu helai rambut lolos di pelipis kiri.
Lift terbuka. Sosok berjas putih itu masuk tanpa menoleh.
Pintu lift tertutup.
Aku berdiri di ambang pintu kaca, tangan kanan masih menekan bekas jarum di lengan kiri di balik kemeja, dan aku baru sadar aku menahan napas lagi.
Katanya dia jarang ke lantai dua.
- 1 Pesanan Jam Enam
- 2 Aku Nggak Siap reading
- 3 Tiup Tiga Kali
- 4 Permen Jahe di Toples Tip
- 5 Croissant Terakhir
- 6 Gula Tiga Sendok
- 7 Hal yang Tidak Diketahui Orang Asing
- 8 Van
- 9 Pasar Hari Minggu
- 10 Menu Baru
- 11 Masa Depan yang Pantas
- 12 Sandiwara Makan Siang
- 13 Kejutan untuk dr. Salsa
- 14 Kalimat yang Sama
- 15 Kursi Kosong Jam Enam
- 16 Yang Berlari Menyeberang
- 17 Tahun Kedua
- 18 Kaleng Biskuit
- 19 Tabungan Nikah
- 20 Harga Lima Tahun
- 21 Yang Kusiapkan Sambil Menunggu
- 22 Satu Malam
- 23 Sebelum Operasi
- 24 Tangan yang Masih Menggenggam
- 25 Sekarang Aku yang Jaga
- 26 Pulang
- 27 Kencan Pertama yang Kedua
- 28 Pegangan Tangan Itu Susah
- 29 Nembak Ulang
- 30 Resmi (Lagi)
- 31 Sandiwara yang Ketahuan
- 32 Lamaran
- 33 Angka yang Naik
- 34 Di Depan Pintu
- 35 Malam yang Sama
- 36 Nilai Kembali Normal
- 37 Kebaya yang Menunggu
- 38 Pagi Akad
- 39 Sekarang Aku Siap
- 40 Rumah Kecil, Dapur Gosong
- 41 Epilog: Gelas Penuh