← Gula Setengah Sendok

Chapter Thirty Two

Lamaran

POV: Irvan


Tiga hari aku menunggu balasan itu datang.

Tiga hari aku menatap pintu Kedai Setengah setiap kali lonceng berbunyi. Tiga hari aku memeriksa toples tip, laci kasir, saku celemek, bawah meja kasir, dan setiap sleeve yang kupasang, mencari sesuatu yang tidak tahu bentuknya. Tiga hari aku melirik Nadia setiap kali ia lewat di depan jendela, dan Nadia, setiap kali, melambaikan tangan dengan senyum yang membuatku ingin bersembunyi di gudang.

Salsa tetap datang pukul enam setiap pagi. Kopi susu. Gula setengah sendok. Atas nama, yang ditulis Dodi dengan huruf tiga dimensi: Pacar Yang Lagi Ngerencanain Sesuatu.

Ia tidak bilang apa-apa tentang balasan itu. Ia duduk di kursi dekat jendela, aku duduk di depannya, kami bicara tentang residennya dan menu baru dan rendang bertapa Mama. Lalu ia pergi visite, dan di pintu, ia menoleh dan tersenyum.

Senyum yang miring sedikit ke kiri.

Itu yang paling menakutkan.

“Kir,” kataku pada hari ketiga, di dapur. “Kamu tahu dia mau ngapain?”

Kirana sedang menghitung stok susu. Ia tidak mengangkat wajah. “Nggak, Mas.”

“Kir.”

“Saya beneran nggak tahu, Mas.” Kirana menulis angka di buku stok. “Bu Dokter sama Mbak Nadia nggak kasih tahu saya. Katanya saya nggak bisa dipercaya, karena saya terlalu sayang sama Mas.”

Aku menatapnya.

“Itu kata mereka,” kata Kirana, menutup buku stok. “Bukan kata saya.”


Hari Minggu pagi, pukul enam lewat lima, Nadia datang.

Bukan dengan karung goni. Dengan Gilang, yang memakai kemeja batik, dan sebuah kotak karton di tangan.

“Stok opname,” kata Nadia, meletakkan kotak itu di meja bar.

“Hari Minggu?”

“Biji kopiku harus dicek kelembapannya, Van. Ini musim hujan.” Nadia membuka kotak itu. Isinya biji kopi. Sangat sedikit biji kopi. Cukup untuk dua gelas. “Gilang, alat ukur kelembapan.”

Gilang mengeluarkan sesuatu dari saku kemeja batiknya dan menyerahkannya pada Nadia. Itu termometer dapur.

Nadia menatap termometer itu. Gilang menatap Nadia.

“Ini yang ada di laci,” kata Gilang.

Nadia menancapkan termometer dapur itu ke tumpukan biji kopi dengan wajah sangat serius, lalu menatapnya seperti ilmuwan yang menunggu hasil eksperimen.

Aku menatap mereka berdua. Lalu aku menatap jam dinding. Enam lewat tujuh. Salsa belum datang.

Salsa selalu datang pukul enam. Tidak pernah terlambat. Kecuali ada pasien darurat.

“Nad,” kataku pelan. “Dia di mana?”

“Siapa?”

“Nad.”

Nadia tidak menjawab. Ia menatap termometer dapur di tumpukan biji kopi. Gilang menatap jendela. Di kasir, Dodi menatap pintu dengan spidol di tangan dan wajah tegang, seperti penonton yang tahu adegan berikutnya.

Kirana di etalase croissant, dengan penjepit di tangan, menatapku dengan mata kalem yang hari ini terlihat sedikit iba.

Pukul enam lewat sembilan, lonceng berbunyi.


Salsa masuk.

Tanpa jas dokter. Kemeja biru muda dengan kancing ketiga yang berbeda warna. Rambutnya dicepol rapi. Helai rambut di pelipis kiri.

Dan di belakangnya, harus sedikit menunduk melewati lonceng di atas pintu, seorang laki-laki tinggi berambut putih dengan kemeja batik cokelat dan celana kain hitam yang disetrika dengan lipatan sangat tajam.

Pak Hendra Harin.

Papa Salsa.

Aku sedang memegang pitcher susu. Pitcher itu miring. Susu tumpah ke meja bar.

Pak Hendra berdiri di ambang pintu. Ia menatap kedai. Ia menatap lampu bohlam kuning di atas bar. Ia menatap papan menu dengan diagram alur strategi pegangan tangan yang belum dihapus Dodi. Ia menatap bingkai foto kecil di dinding, sleeve dengan dua tinta hijau.

Lalu ia menatapku.

Aku tidak bisa bernapas.

Pak Hendra tidak berkata apa-apa. Ia berjalan ke meja kasir dengan langkah pelan, tenang, seperti orang yang tidak pernah terburu-buru seumur hidupnya. Salsa berjalan di sampingnya. Pacarku. Pacarku yang baru saja membawa ayahnya ke kedaiku pukul enam pagi di hari Minggu tanpa peringatan sama sekali.

Ia menatapku dengan senyum yang miring ke kiri.

Kamu bakal kubalas. Siap-siap.

Pak Hendra berhenti di depan kasir. Ia menatap Dodi, yang berdiri tegak seperti prajurit di depan jenderal, spidol gemetar di tangan.

“Selamat pagi, Pak,” kata Dodi dengan suara yang naik satu oktaf. “Selamat datang di Kedai Setengah. Mau pesan apa, Pak?”

Pak Hendra tidak menatap menu. Ia menatapku, di balik mesin espresso, dengan susu tumpah di depanku dan pitcher kosong di tangan.

“Yang biasa dipesan anak saya,” katanya.


Aku menumpahkan susu tiga kali.

Yang pertama, waktu aku menuang susu baru ke pitcher. Tanganku gemetar, dan susu mengalir ke samping, ke meja bar, ke lantai.

Yang kedua, waktu aku memanaskannya dengan steam wand. Aku memasukkan ujung steam wand terlalu dalam, dan susu meluap seperti gunung berapi.

Yang ketiga, waktu aku menuangnya ke espresso. Tanganku gemetar terlalu keras. Susu jatuh ke espresso dengan sudut yang salah, dan sebagian jatuh ke luar cup, ke tatakan, ke meja.

Dodi berdiri di sampingku sepanjang waktu itu dengan lap di tangan, mengelap setiap tumpahan secepat mungkin, sambil berbisik, Mas. Mas. Napas, Mas. Napas.

Kirana, dari etalase croissant, diam-diam menyiapkan pitcher susu cadangan dan meletakkannya di dekat tanganku tanpa berkata apa-apa.

Nadia dan Gilang berpura-pura mengukur kelembapan biji kopi dengan termometer dapur dan gagal total menyembunyikan wajah mereka.

Salsa berdiri di samping ayahnya di depan kasir, menatapku dengan dua tangan menutup mulut. Bahunya berguncang. Ia tidak menolongku sama sekali.

Akhirnya kopi itu jadi. Kopi susu, gula setengah sendok, diaduk sebelum susu masuk. Busanya tidak tipis. Busanya berantakan, tebal di satu sisi dan tidak ada di sisi lain. Latte art-nya tidak berbentuk apa-apa. Mungkin awan. Mungkin peta Sulawesi.

Aku memasang sleeve. Aku mengambil spidol. Lalu aku berhenti, karena aku tidak tahu harus menulis apa untuk ayah perempuan yang delapan tahun lalu kutinggalkan sehari sebelum akad.

Aku memasukkan spidol kembali ke saku.

Aku menyerahkan cup itu sendiri, dari tanganku, melewati meja kasir.

Pak Hendra menerimanya. Ia menatap latte art yang berbentuk peta Sulawesi. Ia menatap busa yang berantakan.

Lalu ia mengangkat cup itu ke dekat bibirnya.

Dan ia meniupnya.

Satu.

Dua.

Tiga.

Lalu ia menyesap.

Aku menatapnya. Aku tidak bisa berhenti menatapnya.

Nenekku dulu begitu. Tiup kopi tiga kali sebelum minum. Tiupan pertama buat panasnya. Tiupan kedua buat capeknya. Tiupan ketiga buat doa.

Nenek Salsa. Ibu dari laki-laki di depanku.

Pak Hendra menurunkan cup itu. Ia menatapku. Wajahnya tidak berubah, tenang, datar, wajah pegawai negeri dinas pengairan yang sudah tiga puluh tahun membaca peta saluran air dan tidak pernah terburu-buru.

“Kemanisan,” katanya.

“Maaf, Pak.”

“Kamu tuang gulanya sebelum espresso-nya selesai.”

Aku menatapnya. Salsa, di sampingnya, mengeluarkan suara kecil yang sangat mirip tawa yang ditahan.

“Larutnya nggak rata,” kata Pak Hendra.

“Iya, Pak.”

Pak Hendra menyesap lagi. Lalu ia meletakkan cup itu di meja kasir.

“Masih enak, sih,” katanya.

Lalu ia menatapku lurus.

“Kita bisa ngobrol?” tanyanya. “Berdua.”


Kami bicara di dapur.

Pak Hendra yang memilih tempatnya. Katanya, ia ingin lihat dapur kedai. Katanya, orang bisa dinilai dari dapurnya, bukan dari ruang tamunya. Ia berdiri di tengah dapur Kedai Setengah yang sempit, di antara meja kerja stainless dan kulkas dua pintu dan rak berisi karung biji kopi, dan menatap sekeliling dengan mata seorang insinyur pengairan yang sedang memeriksa bendungan.

Ia menatap bangku plastik merah tempat Dodi tidur siang. Ia menatap kalender di dinding, dengan tengkorak kecil di tanggal ujian Dodi dan lingkaran merah di tanggal kontrol dokterku. Ia menatap jadwal warna-warni Salsa yang ditempel di pintu kulkas dengan selotip.

Lalu ia duduk di bangku plastik merah. Laki-laki enam puluh tiga tahun, tinggi, dengan kemeja batik cokelat, duduk di bangku plastik merah yang terlalu rendah untuknya, dengan lutut hampir menyentuh dada.

Aku berdiri di depannya. Aku tidak tahu harus duduk di mana. Aku tidak berani duduk.

“Duduk,” kata Pak Hendra.

Tidak ada tempat duduk lain. Aku duduk di lantai. Bersila. Di depan bangku plastik merah, seperti murid di depan guru mengaji.

Pak Hendra menatapku duduk di lantai. Ia tidak menyuruhku berdiri.

“Delapan tahun lalu,” katanya, “anak saya bakar seratus dua puluh undangan di kaleng cat bekas. Di halaman belakang rumah. Dua jam.”

“Saya tahu, Pak.”

“Saya duduk di teras belakang. Dua jam. Saya nggak nanya apa-apa.” Pak Hendra melipat tangan di atas lututnya. “Istri saya banting panci tiga hari. Istri saya mau datang ke rumah kamu. Anak saya larang. Saya nggak nanya apa-apa.”

Aku menunduk.

“Setahun kemudian,” kata Pak Hendra, “anak saya ganti spesialis. Dari anak ke penyakit dalam. Dia mau jadi dokter anak dari SMA. Dia beli stiker bintang buat pasien kecil, satu kotak, waktu masih koas. Stiker itu masih di laci kamarnya sampai sekarang.” Ia diam sebentar. “Saya nggak nanya apa-apa.”

“Pak...”

“Lima tahun kemudian, anak saya nggak pernah beli baju baru. Ambil jaga malam dua kali lipat. Nggak pernah liburan. Om-nya bilang dia investasi aneh di ruko.” Pak Hendra menatapku. “Saya nggak nanya apa-apa.”

Ia melepaskan lipatan tangannya.

“Saya kerja di dinas pengairan tiga puluh tahun, Irvan,” katanya. “Saya ngerti saluran. Kalau ada air yang ngalir ke satu arah terus-terusan, bertahun-tahun, nggak pernah berhenti, nggak pernah belok, itu artinya di ujung sana ada sesuatu yang narik. Saya nggak perlu tahu itu apa. Saya cuma perlu lihat arah airnya.”

Aku tidak bisa menjawab.

“Saya tahu dari lama,” kata Pak Hendra. “Bukan detailnya. Bukan soal ginjal. Tapi saya tahu anak saya nggak lagi patah hati. Anak saya lagi nunggu. Dan orang cuma nunggu sesuatu yang dia yakin bakal datang.”

Ia menatapku lama sekali. Matanya, di balik kacamata tipis berbingkai perak, bukan mata yang marah. Bukan mata yang memaafkan juga. Mata seorang ayah yang sudah delapan tahun duduk di teras belakang dan tidak bertanya apa-apa.

“Saya nggak marah sama kamu karena kamu pergi,” katanya. “Saya ngerti kenapa kamu pergi. Kalau saya di posisi kamu, umur dua puluh enam, divonis gitu, mungkin saya juga pergi.”

Aku mengangkat wajah.

“Saya marah,” kata Pak Hendra pelan, “karena kamu nggak bilang.”


Aku tidak tahu berapa lama kami diam.

Dari balik pintu dapur, aku mendengar suara Dodi berbisik keras, Kir, udah berapa menit?, dan suara Kirana menjawab, Diam, Dod, dan suara Nadia yang berkata, Sssttt!, dan suara Gilang yang berkata, Itu termometernya jatuh.

“Pak,” kataku akhirnya. Suaraku serak. “Saya mau minta izin.”

Pak Hendra menunggu.

“Saya mau melamar Salsa,” kataku. “Lagi. Kali ini... kali ini sampai akad. Saya nggak akan pergi lagi, Pak. Apa pun yang terjadi. Saya janji.”

Pak Hendra tidak langsung menjawab. Ia menatapku, duduk bersila di lantai dapur kedai, dengan susu tumpah di celemek dan tangan yang masih sedikit gemetar.

“Satu syarat,” katanya.

“Apa pun, Pak.”

Pak Hendra mencondongkan badan ke depan dari bangku plastik merah. Lututnya hampir menyentuh dagunya.

“Kali ini,” katanya, “jangan pergi tanpa bilang alasannya.”

Aku menatapnya.

“Kalau suatu hari kamu takut,” lanjut Pak Hendra, “kalau ginjalnya bermasalah, kalau kamu sakit lagi, kalau kamu ngerasa kamu jadi beban, kalau kamu mikir lebih baik anak saya bebas, kamu bilang. Ke dia. Ke saya. Ke ibumu. Ke siapa aja. Kamu boleh takut. Kamu boleh mikir mau pergi. Tapi kamu bilang.” Ia mengetuk lututnya dengan jari. “Air yang ngalir diam-diam itu bikin bendungan jebol, Irvan. Air yang ngalir kelihatan, bisa diatur salurannya.”

“Iya, Pak.”

“Janji?”

“Janji, Pak.”

Pak Hendra menatapku beberapa detik lagi. Lalu ia berdiri dari bangku plastik merah, pelan, dengan suara lutut yang berbunyi krek. Ia merapikan kemeja batiknya.

“Lamarannya,” katanya, “atur sama istri saya. Saya cuma setuju.”

“Iya, Pak.”

“Istri saya masih punya sepuluh nama binatang di buku resep. Kemarin malam baru dicoret tiga lagi.” Pak Hendra berjalan ke pintu dapur. “Jadi hati-hati.”

Ia membuka pintu dapur. Di baliknya, Dodi, Kirana, Nadia, dan Gilang berdiri sangat dekat dengan pintu, dalam posisi yang jelas-jelas baru saja menempelkan telinga di kayunya. Mereka membeku. Gilang memegang termometer dapur.

Pak Hendra menatap mereka berempat. Lalu ia melewati mereka tanpa berkata apa-apa, berjalan ke meja kasir, mengambil cup kopi susunya yang masih setengah, dan meminumnya sampai habis.

Salsa berdiri di samping kasir. Ia menatap ayahnya. Lalu menatapku, yang baru keluar dari dapur dengan celemek bernoda susu dan wajah yang tidak tahu harus berekspresi apa.

“Pa?” tanya Salsa.

Pak Hendra meletakkan cup kosong di meja kasir.

“Kemanisan,” katanya. “Tapi boleh.”


Lamaran keluarga diatur untuk tiga minggu kemudian. Mama Salsa yang menentukan tanggalnya. Ibu yang menentukan menunya. Nadia yang menentukan siapa pagar ayunya. Dodi yang menentukan bahwa ia akan menjadi pembawa acara, dan tidak ada yang berhasil membujuknya untuk tidak.

Aku tidak menentukan apa-apa. Aku hanya menghitung hari.

Bukan menghitung apa yang akan diambil. Menghitung apa yang akan datang.

Itu cara menghitung yang baru. Aku belum terbiasa.

Seminggu sebelum lamaran, aku kontrol rutin ke dr. Bambang. Tiga bulan pascatransplantasi. Kontrol biasa. Tes darah biasa. Aku sudah melakukannya dua kali seminggu di bulan pertama, sekali seminggu di bulan kedua, dan sekarang dua minggu sekali. Hasilnya selalu bagus. Kreatinin stabil. Kadar obat imunosupresan pas. Dr. Bambang selalu mengangguk, menulis sesuatu di statusku, dan bilang bagus, Mas, lanjut.

Pagi itu, di ruang poli ginjal lantai satu, dr. Bambang membaca hasil lab-ku di layar komputer.

Ia tidak mengangguk.

Ia membacanya lagi. Ia menggulir layar ke atas, ke hasil dua minggu lalu, lalu ke bawah lagi, ke hasil hari ini.

Ia menatap layar itu terlalu lama.

Lalu ia melepas kacamatanya. Ia mengelapnya dengan ujung jas dokter, pelan, sangat pelan. Lebih lama dari biasanya. Lebih lama dari hari ketika ia bilang Untuk sekarang. Lebih lama dari hari ketika ia bilang ada calon donor hidup yang cocok.

Ia memasang kacamatanya kembali.

“Mas Irvan,” katanya. “Kreatininnya naik.”