Chapter Thirty Nine
Sekarang Aku Siap
POV: Irvan
Tangan Pak Hendra kering dan hangat dan sangat mantap.
Empat Rabu malam berturut-turut aku menggenggam tangan ini di kursi dekat jendela Kedai Setengah. Aku hafal teksturnya. Kapalan kecil di pangkal jari telunjuk, dari tiga puluh tahun memegang pulpen dan membaca peta saluran air. Cincin kawin perak yang sudah tipis di jari manis. Genggaman yang kuat, yang tidak pernah terburu-buru, yang tidak pernah gemetar.
Hari ini tanganku yang gemetar.
Aku tidak bisa menghentikannya. Aku sudah mencoba. Aku menarik napas empat hitungan, menahan tujuh, mengeluarkan delapan, seperti yang diajarkan Salsa. Tidak berhasil. Tanganku gemetar di genggaman Pak Hendra seperti pitcher susu di hari ia pertama datang ke kedai.
Pak Hendra tidak melepaskan genggamannya. Ia hanya menatapku dari seberang meja kecil bertaplak putih, dengan beskap cokelat tua dan bendo Sunda dan kacamata berbingkai perak, dan menggenggam tanganku sedikit lebih erat.
Penghulu berdeham. Seorang laki-laki enam puluhan dengan peci hitam dan suara yang tenang. Ia membuka map di depannya.
Di ruang tamu rumah Pak Hendra, tidak ada yang bersuara.
Aku bisa merasakan mereka semua di belakangku. Ibu di barisan depan, dengan noda bedak di bahu kerudungnya. Mama di sampingnya. Dodi, yang tangannya terlalu sibuk menyeka mata. Kirana, tenang. Pak Ujang di ambang pintu teras, sebagai penjaga keamanan acara. Dr. Reza, yang wajahnya sudah merah sebelum acara dimulai. Dr. Bambang, dengan topi kain bermotif bebek kuning terlipat di pangkuan.
Aku tidak menoleh. Aku tidak berani menoleh.
Di balik tirai putih tipis di ujung lorong, ada seseorang yang juga tidak bersuara.
Pak Hendra menarik napas.
“Ananda Irvan bin Darsono,” kata Pak Hendra.
Suaranya tenang. Datar. Suara yang sama dengan yang ia pakai di dapur kedai, di atas bangku plastik merah, ketika ia bilang kali ini, jangan pergi tanpa bilang alasannya.
“Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri kandung saya, Salsabila Harin binti Hendra Harin...”
Suaranya bergetar. Sangat sedikit. Hanya di nama itu. Lalu ia menariknya kembali.
“...dengan maskawin seperangkat alat salat dan uang tunai sebesar empat puluh tujuh juta tiga ratus ribu rupiah, dibayar tunai.”
Di balik tirai, aku mendengar sesuatu. Bunyi kecil. Seperti napas yang tertahan, lalu pecah.
Empat puluh tujuh juta tiga ratus ribu rupiah.
Tabungan nikah. Celengan gedung. Tiga ratus ribu dariku, tiga ratus ribu darinya, setiap tanggal satu di ATM depan minimarket dekat kosnya. Habis di tahun kedua, untuk dinding kedai yang kusebut punyaku sendiri.
Aku mengembalikannya. Delapan bulan, dari laba Kedai Setengah, sisih sedikit demi sedikit, ke rekening yang namanya masih sama. Tabungan Nikah Irvan-Salsa. Aku tidak bilang padanya. Aku hanya bilang pada Pak Hendra, di Rabu malam ketiga, setelah gagal tiga kali, dan Pak Hendra menatapku lama sekali lalu berkata, Itu maskawinnya. Bukan saya yang tentukan. Kamu.
Aku tidak tahu ia akan menyebutnya selengkap itu. Sampai ke tiga ratus ribunya.
Pak Hendra menghentak tanganku sekali. Pelan. Tanda.
Aku menarik napas.
“Saya terima nikah dan kawinnya Salsabila Harin binti Hendra Harin dengan maskawin tersebut, tunai.”
Satu napas.
Nama lengkap. Binti. Maskawin. Tunai.
Tidak ada gula setengah sendok.
Penghulu menoleh ke kiri, ke saksi pertama. Om Haris, dengan kemeja batik yang terlalu ketat di perut dan wajah orang yang akhirnya mengerti di mana untungnya investasi aneh keponakannya.
“Sah?”
“Sah,” kata Om Haris.
Penghulu menoleh ke kanan, ke saksi kedua. Gilang, dengan kemeja batik dan wajah datar.
“Sah?”
“Sah,” kata Gilang. Wajahnya tetap datar. Tapi aku melihat telinganya memerah.
Penghulu menatap ruangan.
“SAH!”
Itu suara Pak Ujang. Dari ambang pintu teras. Bariton yang membuat jendela ruang tamu bergetar. Disusul Dodi, yang tidak bersuara karena terlalu sibuk menangis, tapi mengangkat dua tangan ke udara seperti suporter sepak bola. Disusul Sus Mira, Sus Eka, Mbak Rina. Disusul dr. Reza, yang berdiri dari kursinya dan bertepuk tangan dengan wajah merah dan mata basah.
Disusul Ibu.
Ibu tidak bertepuk tangan. Ibu tidak berteriak. Ibu hanya menutup wajahnya dengan dua tangan, di kursi barisan depan, dan bahunya berguncang. Mama memeluknya dari samping. Dua ibu, satu dengan kerudung cokelat bernoda bedak, satu dengan kerudung biru tua, berpelukan di barisan depan dan menangis bersama.
Pak Hendra tidak melepaskan tanganku. Ia menatapku dari seberang meja. Lalu, sangat pelan, ia melepas kacamatanya, dan tidak mengelapnya. Ia hanya memegangnya di tangan kiri, dan menatapku tanpa kacamata, dengan mata yang merah.
“Sudah,” katanya. Untuk kedua kalinya hari itu.
Doa dibacakan. Aku tidak mendengar doanya. Aku mendengar jantungku sendiri, keras di telinga, dan aku mendengar langkah kaki di lorong.
Langkah kaki pelan. Bukan langkah pendek-pendek yang terburu-buru. Langkah yang sangat pelan, sangat hati-hati, seperti seseorang yang berjalan dengan kain panjang dan kebaya dan takut menginjak ujungnya.
Tirai putih tipis tersibak.
Ia keluar.
Aku sudah melihatnya dengan jas dokter yang kusut dan cepol miring. Aku sudah melihatnya basah kuyup di malam hujan dengan payung patah. Aku sudah melihatnya dengan baju pasien biru kotak-kotak dan rambut terurai dan tiang infus. Aku sudah melihatnya tertawa di warung Mang Ade dan menangis di depan kasir dan tertidur di kursi plastik dengan dua jari di pergelangan tanganku.
Aku belum pernah melihatnya seperti ini.
Kebaya putih gading. Payet melati di sepanjang tepi leher dan ujung lengan, ribuan, berkilau di bawah lampu ruang tamu seperti embun. Kain batik sidomukti, senada dengan beskapku. Sanggul yang rapi, dihiasi rangkaian melati segar. Wajah yang dirias tipis, tapi aku masih bisa melihat lingkar samar di bawah matanya, karena ia tidak tidur, karena aku juga tidak tidur.
Dan satu helai rambut, lolos di pelipis kiri. Jatuh di atas pipinya.
Ia tidak membetulkannya.
Lima perempuan berjalan di belakangnya. Nadia, Sus Mira, Sus Eka, Mbak Rina, Kirana. Mereka semua menangis kecuali Kirana. Kirana hanya tersenyum. Senyum lebar, yang menyipitkan mata.
Salsa berjalan ke meja penghulu. Ia berhenti di sampingku. Ia duduk di kursi di sebelahku, pelan, merapikan kain batik di pangkuannya.
Lalu ia menoleh padaku.
Aku tidak bisa bicara.
Delapan tahun, sembilan tahun, aku mencoba membayangkan hari ini. Di malam-malam setelah cuci darah, ketika tubuhku terlalu lelah untuk tidur. Di kursi tujuh, menatap noda Sulawesi di langit-langit. Aku membayangkan Salsa di kebaya ini, di samping laki-laki lain. Laki-laki sehat, dengan dua ginjal yang bekerja, dengan lengan mulus tanpa fistula. Aku membayangkannya bahagia. Aku membayangkannya dan merasa itu harga yang pantas.
Aku tidak pernah membayangkan aku yang duduk di sini.
“Van,” bisiknya.
Aku tidak bisa menjawab.
“Kamu nangis,” bisiknya.
Aku tidak sadar. Aku mengangkat tangan dan menyentuh pipiku. Basah.
Salsa tersenyum. Ia mengangkat tangannya, tangan yang dingin, dan menyeka pipiku dengan ibu jari. Pelan. Di depan penghulu, di depan Pak Hendra yang masih memegang kacamatanya, di depan seluruh ruangan yang menahan napas.
“Kamu juga,” kataku.
“Aku tahu,” katanya. “Dari tadi.”
Setelah penandatanganan berkas, setelah tukar cincin, setelah sungkem pada Pak Hendra dan Mama dan Ibu yang membuat seluruh ruangan menangis lagi, setelah foto bersama yang diatur Dodi dengan peluit dan papan klip dan suara yang serak, setelah semua orang mulai berdiri dan bergerak ke meja makanan, aku menatapnya.
Kami masih duduk di kursi di depan meja penghulu yang sudah kosong. Penghulu sudah pergi. Saksi sudah berdiri. Ruangan riuh dengan suara orang makan dan tertawa dan Pak Ujang yang menjelaskan kepada Om Haris dengan sangat rinci tentang sejarah papan taruhan.
Tidak ada yang memperhatikan kami. Untuk pertama kalinya hari itu.
“Sa,” kataku.
Ia menoleh.
Aku meraih tangannya. Tangan kirinya, dengan cincin perak sederhana di jari manis, di samping cincin emas yang baru saja kupasang. Aku menggenggamnya di atas kain batik sidomukti di pangkuannya.
“Dulu,” kataku, “di teras rumah Ibu. Lima hari sebelum dua belas Juni. Kamu lagi nulis label nama. Rudi pakai I.”
Ia menatapku.
“Aku berdiri di ambang pintu,” kataku. “Aku bilang aku nggak siap.”
Ia tidak menjawab. Matanya basah lagi.
“Aku bohong,” kataku. “Aku siap. Aku siap dari pertama kali kamu marahin aku soal busa yang terlalu tebal. Aku cuma takut. Aku pikir takut sama nggak siap itu sama.”
Aku menarik napas.
“Nggak sama, Sa.”
Aku menggenggam tangannya lebih erat.
“Dulu aku bilang aku nggak siap,” kataku. “Sekarang aku siap.”
Salsa menatapku. Air matanya jatuh, satu, ke kain batik di pangkuannya.
“Dan aku nggak ke mana-mana,” kataku. “Aku udah bilang di kedai. Aku bilang lagi di sini. Di depan penghulu, walaupun penghulunya udah pulang.” Aku tersenyum. Senyumku pasti terlihat jelek, karena aku juga sedang menangis. “Aku nggak ke mana-mana, Sa. Seumur hidup.”
Salsa tertawa. Tawa yang pecah di tengah, basah, berantakan.
“Aku tahu,” katanya.
“Aku tahu kamu tahu.”
“Aku juga nggak ke mana-mana.”
“Aku tahu.”
Kami duduk di sana, dua orang yang baru menikah, di depan meja penghulu yang kosong, berpegangan tangan dan menangis dan tertawa, sementara di belakang kami, Pak Ujang mulai mengedarkan kertas lipat bertuliskan TARUHAN RESMI POS SATPAM RSMH – JILID 3.
Kami menghilang lima menit kemudian.
Salsa yang menarik tanganku. Ia berdiri, mengangkat ujung kain batiknya dengan satu tangan, dan menarikku dengan tangan lain, melewati lorong, melewati dapur di mana Uni Ros dan dua tetangga sedang menata piring rendang, melewati pintu belakang.
Ke teras belakang.
Teras belakang rumah Pak Hendra kecil. Lantai semen, atap seng, satu kursi kayu tua di pojok. Halaman kecil di depannya, dengan rumput yang dipangkas rapi dan pot-pot tanaman cabai Mama berderet di sepanjang pagar.
Dan di sudut halaman, di dekat keran air, sebuah kaleng cat bekas.
Kaleng itu berkarat di pinggir. Cat putih yang dulu mengisinya sudah lama hilang, digantikan bekas-bekas jelaga hitam di bagian dalam. Ada sisa daun kering di dasarnya, daun yang dibakar minggu lalu, mungkin.
Salsa berhenti di depan kaleng itu. Ia tidak melepaskan tanganku.
“Di sini,” katanya pelan.
Aku menatap kaleng itu.
Seratus dua puluh undangan. Krem, pita hijau sage, label nama dengan tinta hijau. Satu lembar setiap kali api mengecil. Dua jam. Pak Hendra di kursi kayu tua di pojok, tidak bertanya apa-apa.
“Papa masih pakai buat bakar daun,” kata Salsa. “Aku pernah minta dibuang. Papa bilang, nanti, Sal. Kalau udah waktunya.”
Aku menoleh ke kursi kayu tua di pojok teras. Kosong.
“Kayaknya Papa nunggu hari ini,” kata Salsa.
Aku tidak bisa menjawab.
Aku menatap perempuan di depanku. Kebaya putih gading. Payet melati. Helai rambut yang lolos. Berdiri di depan kaleng cat bekas tempat ia membakar seratus dua puluh undangan sembilan tahun lalu, dengan cincin di jari manisnya dan tanganku di tangannya.
Delapan tahun, sembilan tahun, aku memegang tangannya, mencium keningnya, menempelkan punggung tanganku di pipinya. Ia menempelkan telinganya di dadaku. Kami berpegangan di bawah payung hijau di tengah hujan.
Tapi aku belum pernah menciumnya.
Tidak sejak sembilan tahun lalu. Tidak sekali pun, sejak ia masuk ke kedaiku sebagai orang asing. Aku tidak berani. Ia tidak meminta. Kami menunggu, tanpa pernah mengatakannya, seperti dua orang yang tahu ada satu hal yang harus disimpan untuk tempat yang benar.
Aku melepaskan tangannya. Aku mengangkat kedua tanganku dan meletakkannya di wajahnya. Pelan. Ibu jari di pipinya, di atas helai rambut yang lolos.
Salsa memejamkan mata.
Aku menunduk.
Dan di teras belakang rumah Pak Hendra, di depan kaleng cat bekas yang berkarat, di bawah atap seng dan langit Bandung yang cerah pukul sepuluh pagi, aku mencium istriku untuk pertama kalinya.
Pelan. Lama. Bibirnya hangat, tidak dingin seperti tangannya. Ia berbau melati dan bedak dan sabun bayi, dan sedikit kopi susu gula setengah sendok dari cup yang ia minum pukul enam pagi.
Ketika aku menjauh, ia tidak membuka mata. Ia berdiri di sana, dengan wajah di tanganku, dengan mata terpejam, dan tersenyum.
“Van,” katanya, masih dengan mata terpejam.
“Hm?”
“Sembilan tahun.”
“Iya.”
“Lama banget.”
“Iya, Sa.”
Ia membuka mata. Ia menatapku.
“Lagi,” katanya.
Dari balik pintu dapur, terdengar bunyi gedebuk. Bunyi seseorang yang jatuh karena terlalu dekat menempelkan telinga di pintu. Lalu suara Dodi, berbisik keras, Kir, Kir, saya nggak lihat, saya nggak lihat apa-apa, dan suara Kirana, kamu lihat, Dod, kamu jatuh karena lihat.
Salsa tertawa. Ia membenamkan wajahnya di dadaku, di beskap putih gading jahitan Ibu, dan tertawa sampai sanggulnya bergeser.
Aku menciumnya lagi. Di keningnya. Di tempat yang dulu sering ia kerutkan ketika memarahiku karena busa yang terlalu tebal.
Resepsi di Kedai Setengah berlangsung dari pukul satu siang sampai pukul sembilan malam, dan kedai itu belum pernah sepenuh itu dalam lima tahun lebih.
Stand gorengan Pak Ujang di depan pintu, dengan antrean sampai ke gerbang rumah sakit. Sayur asem dua panci di meja bar, satu dengan garam, satu tanpa. Rendang Mama. Kambing guling yang akhirnya disetujui dengan catatan untuk tamu, bukan untuk pengantin laki-laki.
Mang Ade datang. Delapan puluh tahun, peci putih yang menguning, dituntun cucunya dari mobil angkot sewaan. Ia berdiri di ambang pintu Kedai Setengah, menatap kami berdua di kursi dekat jendela, Salsa dengan kebaya putih gading dan aku dengan beskap.
“Akhirnya,” katanya. Suaranya serak dan tipis. “Mamang kira Mamang keburu mati.”
Ia membawa kado. Teko aluminium dari warungnya, yang sudah penyok di beberapa tempat. Teko yang sama dengan yang ia pakai menuang kopi tubruk sembilan tahun lalu, di meja dengan taplak plastik kotak-kotak merah.
“Mamang udah tua,” katanya. “Warungnya mau ditutup. Tekonya buat kalian. Bikin kopi yang nggak enak, kayak punya Mamang.”
Salsa menangis. Aku juga.
Sus Tini datang, dari RS Kartika. Perempuan lima puluhan dengan seragam perawat yang sudah pudar, karena ia datang langsung setelah shift. Ia memelukku lama, lalu memeluk Salsa lebih lama. Ia membawa kado berupa voucher bakso langganan selama setahun di warung bakso dekat RS Kartika.
“Buat gantiin yang dulu,” katanya pada Salsa sambil mengedip. “Dua tahun Dokter traktir saya. Sekarang giliran saya.”
Om Haris datang dengan tantenya, dan membawa amplop tebal yang ia serahkan pada Salsa dengan wajah orang yang akhirnya paham sesuatu.
“Investasinya untung juga akhirnya, Sal,” katanya. “Sewa rukonya Om turunin lagi. Kado nikah.”
Dr. Bambang datang terakhir, setelah praktik sore. Ia berdiri di depan kami dengan kemeja batik dan kacamata bundar, dan topi bebek kuning yang ternyata ia pakai sepanjang resepsi karena cucunya bilang Kakek harus pakai topi bebek di nikahan pasien Kakek.
Ia menatap kami berdua lama.
“Mas Irvan,” katanya. “Saya punya satu hal yang mau saya bilang. Tiga puluh tahun saya nunggu bilang ini ke pasien.”
Kedai menjadi sedikit lebih sunyi.
Dr. Bambang melepas kacamatanya. Ia mengelapnya dengan ujung kemeja batik. Pelan. Ia memasangnya kembali.
“Sah,” katanya.
Lalu ia tertawa, tawa pelan yang tidak terburu-buru, dan berjalan ke stand gorengan Pak Ujang.
Dr. Reza menangis paling keras.
Ia duduk di meja pojok, meja yang dulu ditempati Gilang dengan koran terbalik, dengan americano tiga sendok gula di tangan, dan menangis tanpa berhenti selama dua jam.
“Dok,” kata Dodi, menyodorkan tisu kotak ketiga. “Dokter kenapa?”
“Saya bahagia, Dod,” isak dr. Reza. “Saya bahagia banget. Saya nggak tahu kenapa saya sebahagia ini buat orang yang ngasih saya diabetes tiap pagi.”
Pukul sebelas malam, kami pulang ke rumah kecil di gang dekat rumah Ibu.
Rumah dua kamar yang kami sewa sebulan lalu, dengan halaman kecil di depan yang cukup untuk enam pot cabai dan satu bibit pohon jambu air yang kucangkok dari halaman belakang Ibu. Pohon yang delapan tahun kusiram dengan kopi susu gula setengah sendok setiap ulang tahunnya.
Salsa berdiri di dapur kecil, masih dengan kebaya putih gading yang payetnya berkilau di bawah lampu neon yang belum diganti. Sanggulnya sudah setengah lepas. Melati-melatinya sudah layu. Helai rambut di pelipis kiri masih lolos.
Ia menatap kaleng Khong Guan di atas meja dapur. Kaleng kosong yang ia kirim semalam. Aku membawanya ke sini tadi pagi, sebelum ke rumah Pak Hendra.
Lalu ia menatapku, berdiri di ambang pintu dapur dengan beskap yang sudah tidak rapi lagi.
“Van,” bisiknya.
“Hm?”
Ia tersenyum. Senyum yang miring sedikit ke kiri.
“Besok jam enam,” katanya, “siapa yang bikin kopinya?”
- 1 Pesanan Jam Enam
- 2 Aku Nggak Siap
- 3 Tiup Tiga Kali
- 4 Permen Jahe di Toples Tip
- 5 Croissant Terakhir
- 6 Gula Tiga Sendok
- 7 Hal yang Tidak Diketahui Orang Asing
- 8 Van
- 9 Pasar Hari Minggu
- 10 Menu Baru
- 11 Masa Depan yang Pantas
- 12 Sandiwara Makan Siang
- 13 Kejutan untuk dr. Salsa
- 14 Kalimat yang Sama
- 15 Kursi Kosong Jam Enam
- 16 Yang Berlari Menyeberang
- 17 Tahun Kedua
- 18 Kaleng Biskuit
- 19 Tabungan Nikah
- 20 Harga Lima Tahun
- 21 Yang Kusiapkan Sambil Menunggu
- 22 Satu Malam
- 23 Sebelum Operasi
- 24 Tangan yang Masih Menggenggam
- 25 Sekarang Aku yang Jaga
- 26 Pulang
- 27 Kencan Pertama yang Kedua
- 28 Pegangan Tangan Itu Susah
- 29 Nembak Ulang
- 30 Resmi (Lagi)
- 31 Sandiwara yang Ketahuan
- 32 Lamaran
- 33 Angka yang Naik
- 34 Di Depan Pintu
- 35 Malam yang Sama
- 36 Nilai Kembali Normal
- 37 Kebaya yang Menunggu
- 38 Pagi Akad
- 39 Sekarang Aku Siap reading
- 40 Rumah Kecil, Dapur Gosong
- 41 Epilog: Gelas Penuh