← Gula Setengah Sendok

Chapter Four

Permen Jahe di Toples Tip

POV: Irvan


Aku bisa saja berbohong.

Itu yang kupikirkan sepanjang malam, berbaring di kasur kamarku yang sempit, menatap langit-langit sementara Ibu mendengkur pelan di kamar sebelah. Dr. Reza bertanya apa yang disukai Salsa selain kopi, dan aku bisa saja berbohong. Aku bisa bilang ia suka sushi, padahal Salsa tidak tahan bau ikan mentah. Aku bisa bilang ia suka restoran mewah dengan lilin di meja, padahal Salsa pernah bilang makan di tempat seperti itu membuatnya merasa sedang diwawancara kerja.

Aku bisa menyelamatkan diriku dari membayangkan mereka berdua.

Tapi dr. Reza menatapku dengan wajah yang tidak curiga sama sekali. Wajah laki-laki yang sudah setahun ditolak dan masih mau mencoba. Dan entah kenapa, aku tidak bisa berbohong pada wajah seperti itu.

“Mi kocok,” kataku waktu itu. “Yang di daerah Banceuy. Pakai kikil, nggak pakai seledri. Kuahnya minta yang panas banget.”

Dr. Reza mengedip. “Mi kocok?”

“Kebanyakan dokter capek sama makanan yang ribet, Pak,” kataku, sekali lagi berbohong dengan statistik. “Mi kocok itu makanan orang yang habis kerja keras.”

Ia mencatatnya di ponsel. Ia mengucapkan terima kasih tiga kali. Ia menjabat tanganku lagi sebelum pergi, dan aku membiarkannya, dan setelah pintu tertutup aku mencuci tangan di wastafel bar lebih lama dari yang perlu.

Mi kocok di Banceuy. Tempat aku membawa Salsa setiap kali ia lulus ujian. Tempat ia makan dua mangkuk sekaligus dan bilang itu pengganti makan siang yang terlewat tiga hari.

Aku baru saja memberikan tempat itu pada laki-laki lain.

Pukul dua pagi, aku masih menatap langit-langit. Pukul tiga, aku menyerah dan pergi ke dapur untuk minum, lalu ingat jatah minumku sudah habis, lalu berdiri di depan kulkas yang terbuka selama lima menit, membiarkan udara dinginnya menyentuh wajah, karena hanya itu yang boleh kudapat.


Rabu pagi, perutku tidak bersahabat.

Ini biasa terjadi sehari setelah cuci darah. Tubuhku seperti mesin tua yang baru diservis besar: secara teknis bekerja lebih baik, tapi semua bagiannya masih protes. Kepalaku sedikit melayang. Lidahku terasa logam. Dan rasa mual itu naik pelan-pelan dari ulu hati, merayap ke tenggorokan, seperti air pasang yang tidak mau surut.

Lima tahun dan aku masih belum terbiasa.

Aku menyeduh kopi untuk pelanggan pertama dengan napas pendek-pendek. Aku menelan ludah setiap tiga puluh detik. Aku memastikan wajahku tetap datar, karena Dodi dan Kirana tidak tahu. Tidak ada yang tahu, kecuali Ibu dan satu orang lagi. Mereka mengira hari Selasa dan Jumat aku pergi ke supplier biji kopi di Lembang, atau ke bank, atau entah ke mana. Mereka tidak pernah bertanya, dan aku berterima kasih untuk itu setiap hari.

Pukul enam tepat, lonceng berbunyi.

Salsa masuk. Jas dokter, cepol, satu helai rambut. Hari ini matanya terlihat lebih lelah dari biasanya, ada garis merah tipis di pinggir kelopak, tanda ia jaga malam dan belum tidur.

“Kopi susu,” katanya. “Gula setengah sendok.”

“Atas nama siapa, Kak?” tanya Dodi, spidol siap.

“Begadang.”

Dodi menulis BEGADANG dengan huruf kapital, lalu menambahkan gambar bulan sabit kecil di sampingnya, karena menurut Dodi setiap nama butuh ilustrasi.

Salsa membayar dengan uang pas, seperti biasa. Tapi hari ini, sebelum berbalik ke kursi dekat jendela, tangannya bergerak ke toples tip di samping mesin kasir. Toples kaca kecil bekas selai stroberi, yang biasanya berisi koin lima ratusan dan beberapa lembar dua ribu. Aku tidak melihat apa yang ia masukkan, karena saat itu aku sedang menunduk menekan tamper dan berusaha tidak muntah ke portafilter.

Ia pergi ke jendela. Aku membuat kopinya. Aku menulis Kamu jaga malam lagi di sleeve, lalu mencoretnya, dan sedikit berharap kali ini coretannya cukup tebal.

Dua puluh menit kemudian, Salsa pergi seperti biasa. Tidak menoleh.


Pukul tujuh, ketika kedai sedikit lengang, Dodi berjalan ke kasir untuk menghitung uang receh, dan berhenti dengan toples tip di tangan.

“Mas,” katanya. “Ada yang nge-tip pakai permen.”

Aku sedang membersihkan grinder. “Permen?”

“Iya. Permen jahe.” Dodi mengeluarkan sesuatu dari toples dan mengangkatnya ke arah cahaya jendela, seperti ahli permata yang sedang memeriksa berlian palsu. Bungkus plastik bening, berisi permen kecil berwarna cokelat keemasan. “Satu biji, Mas. Ditaruh di atas koin. Ini pelanggan pelit atau pelanggan iseng?”

Tanganku berhenti di atas grinder.

Permen jahe. Merek yang sama. Bungkus bening dengan tulisan merah kecil di pinggirnya, permen yang dijual di warung-warung dekat kampus kedokteran, yang harganya lima ratus perak sebiji dan rasanya seperti jahe yang marah.

“Mas tahu nggak siapa yang taruh?” tanya Dodi. “Saya lihat CCTV aja, ya?”

“Nggak usah.”

“Tapi kalau ini pelanggan pelit, kita perlu tahu, Mas. Biar besok-besok saya kasih busa yang lebih tipis.”

“Dod. Nggak usah.”

Mungkin ada sesuatu di suaraku. Dodi menatapku sebentar, lalu meletakkan permen jahe itu di samping toples dan kembali menghitung koin tanpa bertanya lagi.

Aku kembali membersihkan grinder. Tanganku bergerak, tapi aku tidak tahu apa yang sedang dibersihkan.


Sembilan tahun lalu, jauh sebelum aku tahu apa-apa tentang ginjal, aku sering mual.

Mualnya datang dan pergi. Kadang di pagi hari, kadang setelah makan, kadang tanpa alasan. Aku menganggap itu maag. Barista dengan jam tidur berantakan dan delapan gelas kopi sehari, tentu saja punya maag. Semua orang di kedai Dago punya maag. Itu semacam syarat kerja.

Salsa yang pertama kali curiga.

“Kamu mual lagi?” tanyanya suatu malam, ketika aku menolak gorengan yang ia bawakan.

“Dikit.”

“Ini udah keempat kalinya minggu ini.”

“Kamu ngitung?”

“Aku calon dokter, Van. Aku ngitung semuanya.” Ia menyipitkan mata. “Kamu harus periksa.”

“Ini cuma maag.”

“Maag nggak bikin kaki bengkak.”

“Kaki aku nggak bengkak.”

Salsa menunduk, menekan jempolnya ke punggung kakiku di atas sandal, menahannya tiga detik, lalu mengangkat jarinya. Lekukan kecil tertinggal di kulitku, lama sekali sebelum perlahan rata kembali.

“Itu namanya edema,” katanya pelan. “Van, kamu harus periksa.”

Aku berjanji akan periksa. Aku tidak periksa. Aku takut. Aku tidak pernah bilang padanya bahwa aku takut, karena laki-laki di keluargaku tidak pernah bilang mereka takut, dan Bapak juga tidak pernah bilang ia takut, sampai suatu pagi ia jatuh di kamar mandi dan tidak pernah bangun lagi.

Salsa tidak memaksa. Salsa tidak pernah memaksa. Tapi besoknya, di saku jas koasnya, ada sebungkus permen jahe.

“Nenekku dulu kalau mual minum jahe,” katanya sambil menyodorkan satu. “Ini versi kantongnya. Rasanya kayak jahe yang lagi marah, tapi lumayan.”

Aku membuka bungkusnya dan memasukkannya ke mulut. Rasanya memang seperti jahe yang lagi marah. Pedas, menusuk, sampai mataku berair.

Tapi mualnya berkurang.

Sejak itu, setiap kali kami bertemu, selalu ada permen jahe di saku Salsa. Di saku jas koasnya. Di tas selempangnya. Di dasbor motorku, terselip di balik STNK. Di saku kemejaku, yang entah kapan ia selipkan. Aku pernah menemukan satu di dalam sepatuku, dan ketika aku protes, ia bilang ia lupa sudah menaruhnya di mana saja, jadi ia menaruh di semua tempat untuk jaga-jaga.

Setelah kami berpisah, aku masih menemukan permen-permen itu di tempat-tempat aneh selama berbulan-bulan. Di saku jaket musim hujan. Di laci meja kerja kedai. Di bawah jok motor.

Setiap kali menemukan satu, aku memakannya. Lalu aku duduk sendirian sampai rasa pedasnya hilang.

Permen terakhir kutemukan setahun setelah ia pergi, di dalam kantong kecil tas kerjaku yang hampir tidak pernah kubuka. Aku tidak memakannya. Aku menyimpannya di laci lemari, di bawah tumpukan kaus yang tidak pernah kupakai lagi.

Permen itu mungkin masih di sana. Sudah kedaluwarsa bertahun-tahun.


“Mas,” kata Kirana di sampingku. “Mas pucat.”

Aku mengerjap. Grinder di depanku sudah bersih, sangat bersih, mungkin lebih bersih dari waktu baru dibeli.

“Nggak apa-apa.”

“Mas mual?”

Aku menoleh terlalu cepat. Kirana menatapku dengan mata kalemnya, yang selalu melihat lebih banyak dari yang ia katakan. Ia memegang segelas air hangat.

“Muka Mas kayak almarhum kakek saya waktu habis makan durian,” katanya. “Minum dulu.”

“Saya nggak haus.”

“Mas.”

“Kirana, beneran. Saya nggak haus.”

Kirana tidak memaksa. Ia meletakkan gelas air hangat itu di meja bar, di samping permen jahe yang tadi diletakkan Dodi, lalu kembali ke etalase croissant.

Aku menatap permen itu.

Bisa saja kebetulan. Permen jahe dijual di mana-mana. Ada ribuan orang di Bandung yang suka permen jahe. Bisa saja ada pelanggan lain yang meninggalkannya di toples tip. Bisa saja Salsa tidak memasukkan apa-apa ke toples itu, dan tangannya tadi hanya meraih dompet, dan aku salah lihat karena sedang mual dan setengah buta.

Bisa saja ia memasukkannya karena ia memang membawa permen jahe ke mana-mana. Kebiasaan lama. Kebiasaan yang tidak ada hubungannya denganku.

Bisa saja.

Aku membuka bungkusnya dan memasukkan permen itu ke mulut.

Rasanya seperti jahe yang lagi marah. Pedas, menusuk, sampai mataku berair.

Mualnya berkurang.

Aku berdiri di balik mesin espresso dengan mata berair, dan Dodi, yang kebetulan menoleh, menjerit kecil.

“Mas! Mas nangis?!”

“Pedas, Dod.”

“Itu permen dari pelanggan pelit, Mas! Kenapa dimakan?!” Dodi berlari ke arahku dengan panik, seperti aku baru menelan racun. “Mas, kalau itu permen dikasih jampi-jampi gimana? Kalau itu pelet?”

“Pelet?”

“Pelet, Mas! Saya pernah nonton di YouTube, ada cewek yang ngasih cowok permen, terus cowoknya jadi bucin tujuh turunan!”

“Dod,” kata Kirana dari etalase, tanpa menoleh. “Kalau permen bisa bikin bucin, kamu udah dikasih permen sama Bu Dokter dari minggu lalu.”

Dodi terdiam. Lalu wajahnya berubah, dari panik menjadi penuh harapan. “Kira-kira, kalau besok saya taruh permen di toples tip, Bu Dokter bakal makan nggak, ya?”

“Nggak,” kataku dan Kirana bersamaan.


Sisa pagi berjalan lebih ringan. Mualku turun ke level yang bisa ditoleransi. Aku membuat empat puluh gelas kopi tanpa salah satu pun, dan Kirana tidak perlu membetulkan apa-apa.

Pukul delapan lewat sedikit, ketika rombongan keluarga pasien mulai berdatangan, aku sedang menuang susu ke latte ketika lonceng berbunyi dan suara yang sangat kukenal menembus kebisingan kedai.

“Van! Ibu bawain kue lapis dari Bu RT!”

Ibu.

Ibu jarang datang ke kedai di pagi hari. Biasanya ia datang sore, membawa makanan yang ia masak sendiri dan memaksaku makan di depan matanya, karena ia tidak percaya aku makan dengan benar. Tapi hari ini Ibu berdiri di ambang pintu dengan kerudung cokelat dan daster batik, memegang nampan plastik berisi kue lapis yang ditutup plastik wrap, dan tersenyum lebar pada Dodi.

“Dodi! Udah sarapan? Ini Ibu bawain...”

Ibu berhenti bicara.

Matanya bergerak, bukan ke arahku, tapi ke jendela besar. Ke kursi dekat jendela.

Aku ikut menoleh, dan jantungku turun ke lantai.

Salsa masih di sana.

Ia tidak pergi pukul enam dua puluh seperti biasa. Aku tidak sadar. Aku terlalu sibuk dengan mualku, dengan permen jahe, dengan Dodi dan peletnya, sampai aku tidak melihat bahwa hari ini, untuk pertama kalinya, Salsa tidak pergi. Ia masih duduk membelakangi bar, menunduk di atas sebuah map pasien, cup kopinya sudah kosong, sleeve-nya masih terpasang.

Ibu menatap punggung itu. Cepol rambut itu. Helai rambut yang lolos di pelipis kiri.

Delapan tahun. Ibu memeluk kotak undangan krem itu delapan tahun, entah di mana.

Nampan di tangan Ibu miring.

Lalu jatuh.

Kue lapis Bu RT berhamburan di lantai kedai, warna hijau dan putih dan merah muda, berlapis-lapis, menggelinding ke bawah meja, dan suara nampan plastik yang menghantam ubin bergema ke seluruh ruangan seperti tepuk tangan yang salah waktu.

Semua orang menoleh.

Termasuk perempuan di kursi dekat jendela.