Chapter Twenty One
Yang Kusiapkan Sambil Menunggu
POV: Salsa
Aku berdiri di depan pintu kamarnya selama empat menit.
Aku tahu persis empat menit karena aku menatap jam tanganku sepanjang waktu itu. Jarum detik berputar empat kali. Di balik pintu, suara dr. Bambang terdengar pelan, tidak jelas kata per katanya, hanya nadanya: nada yang ia pakai ketika menyampaikan sesuatu yang penting, nada yang membuat residen-residennya berhenti mencatat dan mendongak.
Lalu suara itu berhenti.
Lalu hening.
Aku memegang map plastik biru di dada. Map itu tebal, hampir dua sentimeter, dengan pembatas warna-warni yang menyembul di pinggirnya seperti bulu burung. Aku menyusunnya tiga malam berturut-turut, di meja kamar kos, sampai pukul dua pagi, dengan kopi susu gula setengah sendok yang kubuat sendiri dan rasanya tidak pernah seenak buatannya.
Aku menyusunnya seperti sidang tesis. Karena aku tahu, untuk laki-laki ini, aku butuh lebih dari sidang tesis.
Pintu terbuka dari dalam. Dr. Bambang keluar.
Ia berhenti di depanku. Ia menatap map biru di dadaku, lalu menatap wajahku. Ia tidak berkata apa-apa. Ia melepas kacamata bundarnya, mengelapnya, memasangnya lagi.
Lalu ia menepuk bahuku dua kali dan berjalan pergi menyusuri koridor, jas dokternya berkibar sedikit, langkahnya pelan seperti biasa.
Aku masuk.
Ia sedang duduk di ranjang, punggung tegak, tidak bersandar. Selang oksigen masih di hidungnya. Tirai di antara ranjangnya dan ranjang kakek di sebelah masih tertutup, membuat bagian kamarnya terasa seperti ruangan kecil yang terpisah dari dunia.
Ia menatapku.
Ia sudah tahu. Aku melihatnya di wajahnya sebelum aku sempat membuka mulut. Ia sudah tahu sejak langkahku berhenti di depan pintu, mungkin sejak sebelum itu, mungkin sejak dr. Bambang melepas kacamatanya.
“Kamu,” katanya.
Bukan pertanyaan.
Aku menarik kursi plastik ke samping ranjang. Aku duduk. Aku meletakkan map biru di pangkuanku, dua tangan di atasnya.
“Iya,” kataku.
Ia tidak berteriak. Aku sudah menyiapkan diri untuk teriakan, karena kemarin malam ia mencabut selang oksigennya sendiri dan bilang aku tidak berhak. Aku menyiapkan diri untuk marah, untuk dingin, untuk diam yang panjang.
Ia hanya menatapku dengan mata yang merah, dan ketika ia bicara, suaranya sangat pelan.
“Nggak,” katanya.
“Van...”
“Nggak, Sa.” Ia menggeleng pelan. “Aku nggak akan ambil apa-apa lagi dari kamu.”
“Kamu belum dengar...”
“Delapan tahun.” Suaranya bergetar. “Delapan tahun kamu kasih. Spesialis kamu. Tabungan kamu. Jaga malam kamu. Baju baru kamu. Semua hal yang harusnya buat kamu sendiri, kamu kasih ke aku. Diam-diam. Dari jauh.” Ia menelan ludah. “Dan sekarang kamu mau kasih ginjal?”
“Satu ginjal.”
“Sa.”
“Aku punya dua. Biasanya orang punya dua.” Aku mencoba tersenyum. “Ibu bilang semua orang punya dua.”
Ia tidak tersenyum.
“Aku nggak akan ambil,” katanya. “Bahkan kalau aku harus cuci darah sampai lenganku habis. Bahkan kalau aku harus pakai kateter di leher. Aku nggak akan ambil apa-apa lagi dari kamu.”
Aku menatapnya.
Lalu aku membuka map biru di pangkuanku.
“Halaman satu,” kataku.
Ia menatap map itu. Lalu menatapku. “Sa. Itu apa?”
“Presentasi.”
“Presentasi apa?”
“Presentasi kenapa kamu nggak boleh nolak.” Aku membalik halaman pertama ke arahnya, supaya ia bisa membaca. Halaman itu bersampul, dicetak di printer ruang residen yang tintanya hampir habis, jadi huruf-hurufnya sedikit pucat di satu sisi. Judulnya ditulis dengan huruf besar:
DONOR GINJAL HIDUP: TINJAUAN RISIKO DAN MANFAAT (Atau: Kenapa Kamu Nggak Boleh Nolak) Disusun oleh: dr. Salsabila Harin, Sp.PD Pembimbing: Tidak Ada (Ini Ide Sendiri)
Ia menatap halaman itu sangat lama.
“Kamu bikin presentasi,” katanya.
“Tiga malam.”
“Buat aku.”
“Buat kamu. Aku tahu kamu bakal nolak. Aku tahu kamu bakal bilang aku nggak akan ambil apa-apa lagi dari kamu. Aku bahkan nulis kalimat itu di halaman empat, di bagian Antisipasi Keberatan Pasien.” Aku membalik halaman. “Halaman dua. Risiko donor hidup.”
“Sa...”
“Diam dulu. Aku presentasi.” Aku menunjuk grafik di halaman dua. Grafik batang, warna biru dan oranye, yang kubuat sendiri di laptop dengan data dari empat jurnal. “Risiko kematian donor saat operasi sangat rendah. Fungsi ginjal tunggal setelah donor biasanya turun sedikit, lalu stabil. Donor hidup bisa kerja normal, olahraga normal, hamil normal...”
Aku berhenti. Kata itu keluar sebelum kurencanakan.
Ia menatapku.
Aku membalik halaman dengan cepat. “Halaman tiga. Manfaat buat resipien.”
“Kamu mau hamil?”
“Halaman tiga, Van.”
“Sa.”
“Halaman tiga!” Pipiku panas. Aku menunjuk grafik garis di halaman tiga dengan jari yang sedikit gemetar. “Transplantasi ginjal dari donor hidup, dibanding tetap cuci darah, umumnya memberi harapan hidup lebih panjang dan kualitas hidup lebih baik. Nggak ada lagi jadwal Selasa sama Jumat. Nggak ada lagi gelas kecil di bawah meja kasir. Nggak ada lagi lengan yang ditusuk dua kali seminggu.”
Aku membalik halaman.
“Halaman empat,” kataku. “Antisipasi Keberatan Pasien.”
Halaman empat berbentuk tabel. Kolom kiri: Keberatan. Kolom kanan: Jawaban.
“Aku nggak akan ambil apa-apa lagi dari kamu.” → Ini bukan ngambil. Ini aku kasih. Beda. Silakan cek KBBI.
“Kamu harusnya kasih ke orang yang lebih pantas.” → Aku dokter ginjal. Aku yang tentuin siapa yang pantas. Kamu pantas.
“Kalau ginjalnya gagal di aku, kamu kehilangan dua kali.” → Risikonya ada. Aku udah hitung. Aku udah delapan tahun kehilangan kamu tiap hari. Ini nggak lebih buruk.
“Gimana kalau kamu nyesel?” → Aku udah tiga bulan dievaluasi psikolog. Hasilnya: tidak ada indikasi penyesalan. Psikolognya malah nanya kenapa aku nggak dari dulu.
Ia membaca tabel itu dari atas sampai bawah. Wajahnya berubah setiap baris. Aku melihat bibirnya bergetar di baris ketiga.
“Halaman lima,” kataku, membalik halaman.
Halaman lima hanya berisi satu judul besar: TUJUH ALASAN KAMU NGGAK BOLEH NOLAK.
“Satu,” kataku. “Golongan darah kita sama. Aku tahu dari dulu, waktu kamu donor darah di kampus dan aku ngintip kartunya. Waktu itu aku pikir itu romantis. Ternyata itu berguna.”
Ia menutup mata.
“Dua. Tipe jaringan kita cocok. Lebih cocok dari yang aku harapkan. dr. Bambang bilang ini kayak menang undian.”
“Tiga. Uji silang negatif. Itu artinya tubuh kamu nggak akan langsung nolak ginjal aku. Tubuh kamu bilang iya. Tinggal kepala kamu yang belum.”
“Empat. Aku udah lolos komite etik. Mereka wawancara aku dua jam. Mereka nanya, Dokter Salsabila, apakah Anda mendonorkan ginjal karena tekanan emosional? Aku bilang, Iya. Tekanan emosionalnya delapan tahun. Mereka ketawa. Terus mereka setujui.”
“Lima. Fistula kamu udah sempit sekali, dan bakal sempit lagi. Aku lihat sendiri angkanya di laporan bulanan unit HD. Aku calon konsultan ginjal, Van. Aku tahu ke mana arah grafik kamu.”
Ia membuka mata.
“Enam,” kataku. Suaraku mulai goyah. Aku menahannya. “Aku udah bilang ke Mama aku tiga bulan ini ikut penelitian. Kalau kamu nolak, aku harus bohong lagi ke Mama, bilang penelitiannya dibatalkan. Dan itu dosa kamu.”
Ada suara kecil dari tenggorokannya. Separuh tawa. Separuh sesuatu yang lain.
Aku menatap halaman lima. Ada alasan ketujuh di sana, di baris paling bawah. Aku menulisnya terakhir, pukul dua pagi kemarin, lalu menghapusnya, lalu menulisnya lagi.
Aku menutup map itu.
“Kenapa sekarang?” tanyanya. “Kenapa kamu masuk ke kedai aku enam minggu lalu? Kenapa nggak lima tahun lalu? Kenapa nggak tahun kemarin?”
Aku meletakkan map di atas selimut, di samping kakinya.
“Tiga bulan lalu,” kataku, “aku ngecek laporan bulanan unit HD lantai dua. Itu bagian dari tugas pendidikan konsultanku. Tiap bulan aku baca angka-angka pasien. Aku selalu lompatin satu nama. Lima tahun aku lompatin nama kamu, karena aku takut kalau aku baca, aku nggak bisa berhenti.”
Aku menatap tanganku sendiri.
“Bulan itu aku nggak sengaja baca. Ada catatan dari pemeriksaan USG akses. Tanda awal stenosis. Pantau ketat.”
Ia diam.
“Aku tahu artinya, Van. Aku tahu artinya lima tahun ke depan kamu. Akses demi akses. Tindakan demi tindakan. Sampai nggak ada akses lagi.” Aku menarik napas. “Malam itu aku ke ruangan dr. Bambang. Aku cerita semuanya. Dari teras rumah Ibu sampai ambulans di RS Kartika sampai ruko Om Haris. Aku bilang aku mau dievaluasi jadi donor.”
“Dan dr. Bambang setuju?”
“dr. Bambang lepas kacamatanya, terus ngelap lama banget. Lebih lama dari yang pernah aku lihat.” Aku tersenyum kecil. “Terus dia bilang, Evaluasi donor boleh dimulai kapan saja. Tapi pada akhirnya, Sa, dia yang harus bilang iya. Kamu siap dengar dia bilang tidak?”
“Terus kamu bilang apa?”
“Aku bilang nggak siap.” Aku menatapnya. “Makanya aku masuk ke kedai kamu.”
Ia menatapku tanpa berkedip.
“Aku pikir,” kataku pelan, “kalau aku datang tiap pagi, kalau aku duduk di kursi jendela, kalau aku biarin kamu nulis di sleeve tanpa nanya apa-apa, mungkin pelan-pelan kamu berhenti lari. Mungkin pelan-pelan kamu inget gimana rasanya ada orang yang nggak pergi. Mungkin, kalau hari ini datang, kamu udah cukup capek lari buat bilang iya.”
Aku tertawa, basah. “Ternyata kamu nyewa sahabat kamu buat sandiwara makan siang.”
“Aku nggak nyewa Nadia.”
“Kamu bayar dia pakai roti bakar srikaya.”
Ia tidak membantah.
Lalu aku mengatakannya. Alasan ketujuh. Yang tidak ada di map. Yang kutulis dan kuhapus dan kutulis lagi.
“Van,” kataku. “Kamu tahu nggak, kenapa aku masih minum kopi susu setelah aku pindah ke Mitra Harapan?”
Ia menggeleng pelan.
“Di RS Kartika, aku minum teh tawar. Setahun penuh. Teh tawar nggak punya takaran gula. Teh tawar nggak punya kenangan.” Aku menatap jendela, ke papan nama kayu di seberang jalan. “Terus di hari ke-392, aku duduk di tangga darurat RS Kartika, dan aku sadar sesuatu. Aku sadar aku nggak lagi patah hati. Aku lagi nunggu.”
“Nunggu apa?”
“Nunggu kamu capek.” Aku menyeka mata dengan punggung tangan. “Nunggu kamu sadar bahwa orang yang bilang aku nggak cinta kamu sambil gemetar itu nggak bisa ngebohongin calon dokter. Nunggu kamu berhenti jadi pahlawan yang ngorbanin diri sendirian. Malam itu aku pulang, aku bikin kopi susu gula setengah sendok sendiri di dapur kos, dan aku mulai belajar.”
“Belajar apa?”
“Semuanya.” Aku menghitung dengan jari. “Gimana ngatur cairan pasien HD. Gimana masak tanpa garam. Gimana baca hasil lab kalium. Gimana ngerawat fistula. Gimana nemenin orang di ruang tunggu empat setengah jam. Gimana ngadepin pasien yang marah karena sakitnya, yang ngusir keluarganya, yang bilang jangan buang hidup kamu buat aku.”
Aku menatapnya.
“Delapan tahun aku latihan jadi istri pasien ginjal, Van,” kataku. “Jangan bikin latihannya sia-sia.”
Ia memejamkan mata. Air mata keluar dari sudut matanya, mengalir ke pelipis, ke bantal.
Aku meraih tangannya. Tangan kanan, yang tidak diperban. Dua jari di atas nadi.
Seratus delapan.
“Kamu bisa usir aku lagi,” kataku. “Kamu bisa bilang aku nggak siap lagi. Kamu bisa sewa sahabat kamu buat sandiwara lagi, bisa pindah kos lagi, bisa ganti rumah sakit lagi. Kamu udah pernah ngelakuin semuanya, Van. Aku tahu kamu bisa.”
Aku menggenggam tangannya lebih erat.
“Tapi aku nggak ke mana-mana.”
Ia tidak menjawab.
Ia membuka mata dan menatapku lama sekali. Wajahnya basah. Bibirnya terbuka sedikit, seperti seseorang yang punya terlalu banyak kalimat di tenggorokan dan tidak tahu harus memilih yang mana.
Lalu, pelan, ia melepaskan tangannya dari genggamanku.
Ia mencabut selang oksigen dari hidungnya, kali ini dengan hati-hati, dan meletakkannya di atas bantal. Ia menurunkan kakinya dari ranjang, ke lantai yang dingin. Ia berdiri. Ia limbung sedikit, dan aku setengah bangkit dari kursi untuk menangkapnya, dan ia mengangkat tangan.
Bukan untuk mengusir. Hanya untuk menahan.
Ia berdiri sendiri. Ia menarik napas, sekali, dalam, sampai bahunya naik.
Lalu ia berjalan melewatiku. Melewati kaleng Khong Guan di meja samping ranjang. Melewati map biru di atas selimut. Melewati tirai, melewati ranjang kakek yang mendengkur, melewati pintu.
Ia tidak menoleh.
Pintu menutup pelan di belakangnya.
Aku duduk di kursi plastik, di samping ranjang yang kosong, dengan tangan masih terulur ke tempat tangannya tadi berada. Map biru tergeletak di atas selimut yang masih hangat.
Aku mengambil map itu dan membukanya ke halaman lima.
TUJUH ALASAN KAMU NGGAK BOLEH NOLAK.
Di baris ketujuh, dengan tinta hijau, tulisan yang kutulis pukul dua pagi, kuhapus, lalu kutulis lagi:
7. Aku masih.
Aku tidak menulis kata ketiganya.
Aku tidak perlu. Ia sudah tahu.
- 1 Pesanan Jam Enam
- 2 Aku Nggak Siap
- 3 Tiup Tiga Kali
- 4 Permen Jahe di Toples Tip
- 5 Croissant Terakhir
- 6 Gula Tiga Sendok
- 7 Hal yang Tidak Diketahui Orang Asing
- 8 Van
- 9 Pasar Hari Minggu
- 10 Menu Baru
- 11 Masa Depan yang Pantas
- 12 Sandiwara Makan Siang
- 13 Kejutan untuk dr. Salsa
- 14 Kalimat yang Sama
- 15 Kursi Kosong Jam Enam
- 16 Yang Berlari Menyeberang
- 17 Tahun Kedua
- 18 Kaleng Biskuit
- 19 Tabungan Nikah
- 20 Harga Lima Tahun
- 21 Yang Kusiapkan Sambil Menunggu reading
- 22 Satu Malam
- 23 Sebelum Operasi
- 24 Tangan yang Masih Menggenggam
- 25 Sekarang Aku yang Jaga
- 26 Pulang
- 27 Kencan Pertama yang Kedua
- 28 Pegangan Tangan Itu Susah
- 29 Nembak Ulang
- 30 Resmi (Lagi)
- 31 Sandiwara yang Ketahuan
- 32 Lamaran
- 33 Angka yang Naik
- 34 Di Depan Pintu
- 35 Malam yang Sama
- 36 Nilai Kembali Normal
- 37 Kebaya yang Menunggu
- 38 Pagi Akad
- 39 Sekarang Aku Siap
- 40 Rumah Kecil, Dapur Gosong
- 41 Epilog: Gelas Penuh