← Gula Setengah Sendok

Chapter Thirty Seven

Kebaya yang Menunggu

POV: Irvan


Lamaran keluarga berlangsung dua minggu kemudian, di ruang tamu rumah orang tua Salsa, dan berlangsung selama tiga jam, dua jam di antaranya adalah Dodi.

Tidak ada yang meminta Dodi menjadi pembawa acara. Dodi mengangkat dirinya sendiri. Ia datang dengan kemeja batik pinjaman dari pamannya yang kebesaran dua nomor, sebuah map berisi susunan acara yang dicetak dan dilaminasi, dan sebuah mikrofon karaoke nirkabel yang ia bawa dari rumah dan yang tidak tersambung ke pengeras suara mana pun.

“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,” kata Dodi ke mikrofon yang tidak menyala, dengan suara yang cukup keras untuk tidak membutuhkan mikrofon. “Yang terhormat Bapak Hendra Harin dan Ibu, yang terhormat Ibu Ratna, yang terhormat para hadirin, yang terhormat Pak Ujang...”

“Dod,” bisikku.

“...yang terhormat Sus Mira, yang terhormat Mbak Kirana, yang terhormat Mbak Nadia dan Mas Gilang...”

“Dod.”

“...dan yang paling terhormat, calon pasangan kita hari ini, Mas Irvan dan Bu Dokter Salsabila.” Dodi menyeka matanya dengan ujung lengan kemeja batik yang kebesaran. “Mohon maaf, saya terharu.”

Ia terharu tiga kali dalam satu jam pertama. Ia membacakan sejarah singkat Kedai Setengah. Ia membacakan daftar nama-nama Bu Dokter dari papan menu, semuanya, dari Orang Asing sampai Pacar Yang Lagi Ngerencanain Sesuatu. Ia memutar video latte art angsa di ponselnya dan menyodorkannya ke wajah Pak Hendra.

Pak Hendra menonton video itu dengan wajah datar. Lalu ia menatapku.

“Ini angsa?” tanyanya.

“Hati, Pak,” kata Salsa dari sampingku. “Hati anatomis.”

Pak Hendra menatap putrinya. Lalu ia menatap video itu lagi. Lalu, untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, Pak Hendra tertawa. Pelan. Pendek. Tapi nyata.

Mama Salsa duduk di sofa di samping Pak Hendra dengan kerudung biru tua dan buku resep di pangkuan. Buku resep yang sudah sangat tua, sampulnya lepas di satu sisi, ditahan dengan karet gelang. Ia tidak membukanya selama acara. Ia hanya memegangnya, dua tangan di atas sampul, seperti memegang kitab suci.

Ketika acara selesai, ketika Ibu dan Mama sudah berpelukan dan menangis dan berpelukan lagi, ketika cincin sudah dipasang di jari manis kiri Salsa, cincin perak sederhana yang kubeli dari tabungan kedai bulan lalu dan Salsa tidak memarahiku kali ini, Mama Salsa memanggilku ke dapur.

Aku berdiri di depannya. Ia membuka buku resepnya ke halaman paling belakang.

Halaman itu penuh coretan. Nama-nama binatang, ditulis dengan pulpen biru, lalu dicoret satu per satu dengan pulpen merah. Aku bisa membaca beberapa di antaranya di bawah coretan. Aku tidak akan menyebutkannya.

Hanya satu nama yang tersisa tanpa coretan. Di baris paling bawah.

Mama Salsa menatap nama itu. Lalu ia merobek halaman itu dari buku resepnya. Pelan, hati-hati, sepanjang lipatan jilid. Ia melipatnya dua kali, menjadi kotak kecil, dan menyerahkannya padaku.

“Simpan,” katanya.

Aku menerima kertas itu.

“Satu masih tersisa,” kata Mama Salsa. “Kalau kamu macam-macam, saya tulis lagi semuanya. Dari awal. Dua puluh tiga.”

“Iya, Bu.”

“Mama,” kata Mama Salsa.

Aku menatapnya.

“Mulai hari ini,” katanya, “panggil saya Mama. Kayak Salsa.”

Ia berbalik ke kompor dan mulai mengaduk panci yang tidak perlu diaduk, punggungnya kaku, bahunya sedikit berguncang.

Aku menyimpan kertas itu di dompet. Di belakang KTP. Di samping sleeve ulang tahun dan sebungkus permen jahe yang sudah kedaluwarsa.


Pernikahan Nadia dan Gilang berlangsung sebulan setelahnya.

Salsa menjadi pagar ayu. Ia memakai kebaya hijau sage yang dipilih Nadia, karena kata Nadia, Sal, hijau sage itu warna orang yang tenang, dan aku butuh minimal satu orang tenang di pernikahanku. Salsa berdiri di barisan pagar ayu bersama adik Gilang dan sepupu Nadia yang berumur dua belas tahun, dan Kirana, yang dibujuk menjadi pagar ayu keempat dengan imbalan roti bakar srikaya selama sebulan.

Aku duduk di barisan tamu dan tidak bisa berhenti menatap pagar ayu ketiga dari kiri.

Gilang mengucapkan ijab kabul dalam satu napas, dengan suara datar yang sama yang ia pakai untuk menilang pengendara motor di Pasteur. Setelah selesai, ia menatap Nadia, dan wajahnya yang datar tiba-tiba retak, dan polisi lalu lintas yang tidak bergeming ketika dipukul tunangannya menangis di depan penghulu seperti anak kecil.

Nadia memukul lengannya. Gilang tidak bergeming. Tapi ia tetap menangis.


Persiapan pernikahan kami dimulai tujuh bulan sebelum dua belas Juni, dan berlangsung seperti operasi militer yang dipimpin empat jenderal yang tidak pernah setuju tentang apa pun.

Jenderal pertama: Mama Salsa. Bidang: tamu undangan, tata cara adat, dan apakah katering harus pakai daging kambing.

Jenderal kedua: Ibu. Bidang: kebaya, makanan, dan apakah daging kambing aman untuk pasien transplantasi.

Jenderal ketiga: Salsa. Bidang: jadwal. Semuanya. Jadwal fitting, jadwal rapat, jadwal cetak undangan, jadwal kontrolku ke dr. Bambang yang tidak boleh bentrok dengan apa pun. Jadwal itu berwarna-warni dan ditempel di kulkas Ibu, di pintu dapur kedai, dan di layar ponselku sebagai wallpaper, menggantikan grafik kreatinin.

Jenderal keempat, yang tidak diangkat oleh siapa pun: Dodi.

Dodi membeli papan klip dari toko alat tulis. Ia membeli peluit. Ia membeli dua walkie-talkie mainan dari pasar loak yang hanya bisa menjangkau jarak lima meter. Ia memberi dirinya gelar Koordinator Lapangan Pernikahan Setengah Sendok, menuliskannya di kartu nama yang ia cetak sendiri di fotokopian depan kampus, dan membagikannya pada semua orang yang masuk ke Kedai Setengah, termasuk kurir paket dan petugas PLN.

Rapat persiapan diadakan setiap Minggu malam di Kedai Setengah, setelah kedai tutup.

Rapat pertama membahas tempat. Berlangsung empat puluh menit. Akad di rumah orang tua Salsa, sesuai adat. Resepsi sederhana di Kedai Setengah, karena Salsa bilang, aku mau resepsiku di tempat yang aku datengin tiap pagi. Kedai akan tutup satu hari penuh. Hari pertama Kedai Setengah tutup selain Selasa dan Jumat pagi, dalam lima tahun lebih.

Rapat kedua membahas katering. Berlangsung tiga jam.

“Sayur asem harus ada,” kata Ibu. “Itu makanan keluarga.”

“Sayur asem itu makanan sehari-hari, Bu Ratna,” kata Mama. “Ini pernikahan. Harus ada rendang. Harus ada kambing guling.”

“Kambing guling banyak lemaknya, Bu. Van pasien transplantasi.”

“Van boleh makan kambing guling sedikit, Bu. Salsa udah tanya dr. Bambang.”

“Saya nggak tanya dr. Bambang soal kambing guling, Ma,” kata Salsa.

“Kamu tanya. Mama denger kamu di telepon.”

“Itu soal kolesterol, Ma, bukan soal kambing guling.”

“Kambing guling itu kolesterol, Sal.”

Pak Ujang, yang entah bagaimana diundang ke rapat ketiga dan seterusnya, mengangkat tangan.

“Gorengan,” katanya.

Semua orang menatapnya.

“Gorengan,” ulang Pak Ujang dengan wajah sangat serius. “Bakwan, tahu isi, pisang goreng, tempe mendoan. Satu stand. Saya yang jaga.” Ia menepuk dadanya. “Itu bentuk penghormatan pada taruhan yang membawa kita semua ke sini.”

Hening.

“Saya setuju,” kata Mbak Rina dari laboratorium, yang juga entah bagaimana sudah ada di rapat sejak rapat kedua.

“Saya juga,” kata Sus Mira.

Mama dan Ibu saling menatap. Lalu, untuk pertama kalinya dalam tiga jam, mereka setuju tentang sesuatu.

“Stand gorengan,” kata Mama, menulis di buku catatannya.

“Tapi sayur asem tetap ada,” kata Ibu.

“Dua panci,” kata Salsa, sebelum Mama bisa membantah. “Satu pakai garam. Satu nggak.”

Mama menatap putrinya. Ibu menatap Salsa. Lalu keduanya menatapku.

Aku tidak berkata apa-apa. Aku hanya mengangguk, dan menuliskannya di papan menu kedai di bawah judul Keputusan Rapat Kedua yang ditulis Dodi dengan huruf tiga dimensi.

Sayur asem: 2 panci.


Kebaya dikeluarkan dari lemari jati di bulan April.

Fitting pertama dilakukan di rumah Ibu, di kamar Ibu, di depan cermin lemari yang sama dengan sembilan tahun lalu. Aku tidak boleh masuk. Itu aturan Mama, yang ternyata juga aturan Ibu, yang ternyata juga aturan Nadia dan Kirana dan Sus Mira, yang entah bagaimana semuanya hadir di rumah Ibu pada hari Minggu siang itu.

Jadi aku duduk di kursi rotan di ruang tamu, di bawah foto lamaran yang tidak pernah diturunkan, dan mendengarkan dari balik pintu kamar Ibu yang tertutup.

Aku mendengar bunyi lemari jati dibuka. Bunyi engsel tua yang berderit.

Aku mendengar bunyi kain disibakkan. Bunyi kain putih pembungkus dibuka, lipatan demi lipatan, pelan. Bau kamper merembes keluar dari celah bawah pintu.

Lalu sunyi.

Sunyi yang panjang. Sangat panjang. Aku menghitung sampai empat puluh dua.

Lalu aku mendengar Ibu menangis.

Lalu Mama menangis.

Lalu Nadia, yang suaranya paling keras, menangis sambil berkata ya Allah, ya Allah, ini payetnya dijahit satu-satu? dan Ibu menjawab di antara isak iya, Nad, satu-satu, tiga bulan.

Lalu Sus Mira menangis.

Aku tidak mendengar Kirana. Kirana tidak pernah menangis keras. Tapi lima menit kemudian, pintu kamar terbuka sedikit dan Kirana keluar dengan mata merah dan wajah datar, berjalan ke dapur, mengambil segelas air, dan meminumnya dalam satu tegukan panjang sambil menatap dinding.

“Kir,” kataku. “Gimana?”

Kirana meletakkan gelas di meja dapur. Ia menatapku.

“Pas, Mas,” katanya.

“Pas?”

“Hampir pas. Di pinggang agak longgar dua senti.” Kirana mengambil gelas kedua dan mengisinya lagi. “Bu Dokter kurusan dari delapan tahun lalu, kata Ibu.”

Aku tidak menjawab.

“Ibu bilang bisa dikecilin satu malam,” kata Kirana. “Ibu bilang Ibu masih punya sisa payet melati di kaleng. Dari dulu. Ibu nggak pernah buang.”

Kirana meminum gelas keduanya. Lalu ia menatap pintu kamar Ibu yang setengah terbuka.

“Mas,” katanya pelan.

“Hm?”

“Bu Dokter nggak nangis.”

Aku menatap Kirana.

“Semua orang nangis,” kata Kirana. “Ibu, Mama, Mbak Nadia, Sus Mira. Saya juga.” Ia menunjuk matanya sendiri yang merah, tanpa malu. “Bu Dokter nggak. Dia cuma berdiri di depan cermin. Diem. Lihatin dirinya sendiri. Lama banget.” Kirana diam sebentar. “Terus dia senyum. Senyum yang... saya nggak tahu, Mas. Saya belum pernah lihat orang senyum kayak gitu.”

Dari dalam kamar Ibu, terdengar suara Salsa. Pelan. Hampir tidak terdengar dari ruang tamu.

“Bu,” katanya. “Makasih udah disimpen.”

Dan Ibu, yang sudah berhenti menangis, mulai menangis lagi.


Bulan Mei, Pak Hendra datang ke Kedai Setengah setiap Rabu malam setelah kedai tutup.

Untuk latihan.

“Lagi,” kata Pak Hendra, duduk di kursi dekat jendela dengan wajah datar seorang pegawai dinas pengairan yang sedang memeriksa saluran irigasi. Ia memegang tangan kananku di atas meja, dengan genggaman yang kuat, seperti wali nikah sungguhan di depan penghulu. “Dari awal.”

Aku menarik napas.

“Saya terima nikahnya Salsabila...”

“Salah.”

“Pak?”

“Nama lengkap. Binti. Maharnya. Tunai.” Pak Hendra tidak melepaskan tanganku. “Kalau salah satu kata, penghulu suruh ulang. Kalau ulang tiga kali, satu kampung ketawa. Saya nggak mau anak saya diketawain satu kampung.”

Aku menarik napas lagi.

“Saya terima nikahnya Salsabila Harin binti Hendra Harin dengan maskawin...”

Aku berhenti. Aku lupa jumlahnya. Aku tidak lupa jumlahnya. Aku tahu jumlahnya. Tapi Pak Hendra menatapku dari seberang meja dengan mata di balik kacamata berbingkai perak, tangannya menggenggam tanganku, dan otakku kosong seperti layar komputer yang mati listrik.

“Lagi,” kata Pak Hendra.

Di balik bar, Dodi, yang seharusnya sudah pulang, berdiri dengan walkie-talkie mainan di tangan dan berbisik ke dalamnya, Kirana, Kirana, ini Dodi, Mas Irvan gagal lagi, ganti, dan dari dapur, lima meter jauhnya, terdengar suara Kirana yang menjawab tanpa walkie-talkie, Dod, aku bisa denger kamu tanpa itu.

Kami berlatih empat Rabu malam berturut-turut.

Rabu pertama, aku gagal sebelas kali.

Rabu kedua, tujuh kali.

Rabu ketiga, tiga kali. Kali ketiga gagal karena aku menyebut gula setengah sendok di tempat seharusnya aku menyebut maskawin, dan Pak Hendra menatapku sangat lama, lalu melepas tanganku, lalu menutup wajahnya dengan dua tangan. Bahunya berguncang. Aku tidak tahu apakah ia tertawa atau menangis. Dodi di balik bar menjatuhkan walkie-talkie-nya.

Rabu keempat, aku tidak gagal sama sekali.

Satu napas. Nama lengkap. Binti. Maskawin. Tunai.

Pak Hendra menatapku setelah aku selesai. Ia tidak berkata bagus. Ia tidak berkata sah. Ia hanya mengangguk sekali, sangat kecil, seperti di koridor lantai lima sebelum operasi, lalu melepaskan tanganku dan berdiri.

Di ambang pintu kedai, ia berhenti.

“Irvan,” katanya.

“Iya, Pak.”

“Saluran aman?”

Aku menatapnya. Aku ingat bangku plastik merah di dapur. Air yang mengalir diam-diam. Bendungan yang jebol.

“Aman, Pak,” kataku. “Kalau ada yang tersumbat, saya bilang.”

Pak Hendra mengangguk. Lalu ia keluar, dan lonceng berbunyi.


Tanggal sebelas Juni, malam, pukul sembilan, aku duduk di kamarku di rumah Ibu dengan baju akad tergantung di pintu lemari.

Beskap putih gading, jahitan Ibu. Kain batik sidomukti. Bendo Sunda warna senada. Ibu menjahit beskap itu dalam dua bulan, di antara pesanan jahitan pelanggan, dengan kacamata baca melorot di hidung dan lampu belajar yang ia pinjam dari kamarku. Kainnya senada dengan kebaya di lemari jati. Ibu membeli kainnya dari toko yang sama dengan sembilan tahun lalu, di Pasar Baru, dan pemilik toko yang sudah tua ternyata masih ingat Ibu, dan masih ingat kebaya itu, dan memberikan kainnya dengan harga separuh.

Aku tidak bisa tidur. Tentu saja aku tidak bisa tidur.

Pukul sembilan lewat dua puluh, Ibu mengetuk pintu kamarku.

“Van,” katanya. “Ada kiriman.”

“Kiriman apa?”

“Nggak tahu. Ojek online yang antar. Katanya nggak ada nama pengirim.”

Ibu masuk membawa sesuatu yang dibungkus kertas cokelat dan diikat tali rafia. Bentuknya bundar. Besar. Sedikit penyok di pinggir.

Ibu meletakkannya di atas kasurku, lalu keluar tanpa bertanya apa-apa. Tapi di ambang pintu, Ibu menoleh, dan aku melihat sudut bibirnya bergerak.

Aku membuka tali rafia. Aku membuka kertas cokelat.

Kaleng Khong Guan.

Kaleng yang sama. Yang besar, yang bundar, yang gambar tutupnya keluarga sedang duduk di meja makan dengan seorang ibu menuang teh. Catnya mengelupas di pinggir, di tempat yang sama. Penyok kecil di sisi kiri, dari tahun-tahun dibawa ke mana-mana.

Aku membuka tutupnya.

Kosong.

Tidak ada sleeve. Tidak ada karet gelang. Tidak ada secarik kertas dengan tanggal dalam tinta hijau. Semua yang dulu ada di dalamnya, sleeve-sleeve cokelat yang dicoret, sleeve pertama, sleeve ulang tahun, permen jahe, sudah dikeluarkan. Entah ke mana. Ke kotak lain, mungkin. Ke laci meja kamar kos dekat kampus kedokteran, di samping delapan bungkus permen jahe yang tidak pernah dimakan.

Kaleng itu kosong. Bersih. Dilap sampai catnya yang tersisa mengilat.

Di dasar kaleng, ada secarik kertas. Kertas kecil, robekan dari buku catatan koas, aku tahu dari garis-garisnya yang biru pucat dan pinggirnya yang bergerigi.

Tinta hijau. Tulisan bulat-bulat yang rapi.

Mulai besok, isi yang baru.

Tidak ada nama.

Tidak perlu.