← Gula Setengah Sendok

Chapter Forty

Rumah Kecil, Dapur Gosong

POV: Salsa


Jawabannya: aku.

Aku yang bikin kopinya. Pagi pertama sebagai istri. Aku sudah memutuskannya sejak di teras belakang rumah Papa, di depan kaleng cat bekas, sebelum ia menciumku untuk kedua kalinya. Ia sudah membuatkanku kopi selama sembilan tahun, kalau dihitung dengan semua kopi yang disiramkan ke pohon jambu setiap ulang tahunku. Sekarang giliranku.

Masalahnya, rumah kecil kami tidak punya mesin espresso.

Rumah kecil kami punya kompor dua tungku yang apinya hanya menyala di sisi kiri. Rak piring yang masih kosong separuh. Kulkas satu pintu hadiah dari Om Haris. Dan teko aluminium yang penyok di beberapa tempat, hadiah dari Mang Ade, yang kuletakkan di atas kompor semalam dengan perasaan seperti meletakkan pusaka keluarga.

Pukul lima lewat lima belas, aku bangun.

Ia masih tidur. Telentang, satu tangan di atas perut kanan bawah, di atas ginjalku, seperti setiap malam sejak operasi. Napasnya pelan dan teratur. Aku menatapnya sebentar. Lalu, karena kebiasaan, aku meletakkan dua jari di pergelangan tangan kirinya, yang terkulai di atas selimut.

Tujuh puluh dua.

Aku menarik jariku pelan-pelan, turun dari kasur, dan berjalan ke dapur dengan kaki telanjang.


Kopi tubruk ternyata lebih sulit dari yang kubayangkan.

Aku sudah melihat Mang Ade membuatnya ratusan kali, dari sembilan tahun lalu sampai tahun lalu. Bubuk kopi tiga sendok. Air mendidih dari teko. Diaduk. Gula.

Aku tidak tahu berapa lama air harus mendidih. Aku tidak tahu apakah bubuknya harus diaduk sebelum atau sesudah air masuk. Aku tidak tahu kenapa ampas kopiku tidak mau tenggelam dan malah mengapung di permukaan seperti lumpur di sawah.

Aku menuang air dari teko Mang Ade terlalu cepat. Air panas memercik ke punggung tanganku. Aku menjerit kecil, menahan suara supaya tidak membangunkannya.

Aku mengaduk. Ampasnya berputar seperti pusaran air.

Lalu gula. Aku mengambil sendok kecil, mencelupkannya ke toples gula, dan menakar setengah sendok dengan sangat hati-hati, dengan ketelitian yang sama yang kupakai untuk menakar dosis obat anak di masa koas.

Aku berhenti.

Aku menatap gelas di depanku. Gelas kaca biasa, berisi kopi tubruk dengan ampas mengapung.

Gula setengah sendok itu takaranku. Bukan takarannya.

Delapan tahun, sembilan tahun, ia menakar setengah sendok untukku. Aku tidak pernah tahu takarannya sendiri. Ia tidak pernah minum kopi di depanku, karena ia tidak boleh minum, karena jatah cairannya habis di gelas kecil di bawah meja kasir. Di warung Mang Ade, Mang Ade yang menakar. Tiga sendok. Tanpa bertanya.

Aku tidak tahu ia suka gula berapa.

Aku berdiri di dapur kecil pukul lima lewat tiga puluh pagi, di hari pertama pernikahanku, dengan sendok gula di tangan, dan aku menyadari bahwa ada satu hal di dunia ini tentang laki-laki itu yang tidak kuketahui.

Aku menuang setengah sendok. Lalu, setelah ragu, setengah sendok lagi.

Satu sendok. Tengah-tengah antara takaranku dan takaran Mang Ade.


Ia bangun pukul lima empat puluh, karena bau kopi gosong.

Kopinya tidak gosong. Kopinya kubiarkan di atas kompor yang masih menyala, karena aku pikir kopi tubruk harus tetap panas, dan ternyata itu bukan cara kerja kopi tubruk. Ampasnya mengerak di dasar teko Mang Ade. Baunya memenuhi rumah kecil kami seperti asap kebakaran lahan.

Ia berdiri di ambang pintu dapur dengan kaus tidur dan rambut berantakan. Ia menatap teko Mang Ade di atas kompor. Ia menatap gelas di meja dapur. Ia menatapku, dengan daster batik hadiah Ibu dan rambut setengah dicepol dan punggung tangan yang memerah karena kecipratan air panas.

“Sa,” katanya.

“Jangan ngomong apa-apa,” kataku. “Duduk.”

Ia duduk di kursi meja makan kecil kami, yang baru dua buah karena kursi ketiga dan keempat belum dikirim.

Aku meletakkan gelas kopi tubruk di depannya. Ampasnya masih mengapung sebagian.

Ia menatap gelas itu.

Lalu ia mengangkatnya. Ia meniupnya. Satu. Dua. Tiga.

Ia menyesap.

Aku menatap wajahnya. Aku menunggu. Aku menatapnya seperti menatap hasil lab dengan nilai kritis.

Ia menurunkan gelas itu.

“Enak,” katanya.

“Bohong.”

Ia menatapku. Lalu ia tersenyum. Senyum yang miring sedikit, senyum laki-laki di warung Mang Ade sembilan tahun lalu yang mencoba mempertahankan wajah netral di depan kopi tubruk yang terlalu manis.

“Kali ini,” katanya, “dikit bohong.”

Aku tertawa. Aku tertawa sampai harus duduk di kursi kedua, satu-satunya kursi lain di dapur kecil kami.

“Gulanya berapa?” tanyanya.

“Satu sendok.”

Ia diam sebentar. Ia menatap gelasnya.

“Kenapa satu?”

“Karena aku nggak tahu kamu suka berapa.” Suaraku tiba-tiba pelan. “Sembilan tahun, Van. Aku nggak pernah tahu kamu suka gula berapa.”

Ia menatapku lama. Lalu ia meletakkan gelas itu, mengulurkan tangan melewati meja makan kecil, dan meraih tanganku. Tangan yang memerah karena kecipratan air panas.

“Setengah,” katanya.

Aku menatapnya.

“Setengah sendok,” katanya. “Dari dulu. Sejak kamu marahin aku soal busa. Aku coba punya kamu sekali, di kedai Dago, waktu kamu ke toilet. Habis itu aku nggak pernah ganti.”

Aku tidak bisa bicara.

“Aku nggak pernah bilang,” katanya. “Nggak ada yang nanya.”


Ternyata aku tidak bisa masak.

Itu yang kami temukan di minggu pertama pernikahan, dan itu mengejutkan semua orang kecuali Mama. Mama hanya bilang di telepon, Mama udah bilang dari kamu SMA, Sal. Kamu bisa pasang kateter jam tiga pagi, tapi kamu nggak bisa goreng telur tanpa bikin alarm kebakaran bunyi.

Rumah kecil kami tidak punya alarm kebakaran. Kalau punya, alarm itu akan berbunyi setiap hari.

Hari kedua, aku membuat telur dadar. Hitam di satu sisi, mentah di sisi lain. Ia memakannya sampai habis dan bilang teksturnya menarik.

Hari ketiga, nasi goreng. Terlalu asin. Sangat terlalu asin. Ia memakannya dua suap, lalu minum tiga gelas air, lalu bilang untung aku sekarang wajib minum tiga liter.

Hari keempat, aku menangis di depan wajan karena tumis kangkung yang kubuat berubah menjadi sesuatu yang mirip rumput laut basi.

Hari kelima, aku membuat sayur asem.

Tanpa garam.

Ia mencicipinya dari panci. Ia berhenti. Ia mencicipi lagi. Ia menatapku dengan wajah yang tidak bisa kubaca.

“Sa,” katanya. “Ini enak.”

“Bohong.”

“Bukan. Ini beneran enak.” Ia mencicipi lagi. “Ini rasanya kayak sayur asem Ibu. Yang panci kecil.”

Aku menatap panci itu. Lalu aku tertawa, tawa yang setengah malu, setengah sesuatu yang lain.

“Delapan tahun aku belajar masak tanpa garam,” kataku. “Buat pasien ginjal. Aku latihan di dapur kos. Aku hafal resep sayur asem rendah kalium, bubur tanpa garam, tumis sayur rebus dua kali. Aku nggak pernah belajar masak pakai garam.”

Ia menatapku.

“Aku cuma bisa masak buat kamu yang dulu,” kataku. “Nggak bisa masak buat kamu yang sekarang.”

Ia tidak menjawab. Ia mengambil mangkuk, menyendok sayur asem tanpa garam dari panci, dan duduk di kursi meja makan. Ia makan semuanya. Lalu ia menyendok lagi.

“Nggak apa-apa,” katanya dengan mulut penuh. “Aku yang dulu sama aku yang sekarang sama-sama suka sayur asem.”


Ibu mulai datang setiap hari di minggu kedua.

Tidak pernah dengan alasan. Selalu kebetulan. Kebetulan lewat, mau ke warung Bu Enok. Kebetulan masak kebanyakan. Kebetulan pohon jambu air berbuah dan sayang kalau dibuang. Ibu datang pukul sebelas pagi, ketika aku di rumah sakit dan ia di kedai, dan meninggalkan rantang plastik tiga susun di atas meja dapur kami. Ibu punya kunci cadangan. Kami tidak pernah memberikannya. Ibu tidak pernah menjelaskan dari mana ia mendapatkannya.

Isi rantang selalu sama. Susun pertama nasi. Susun kedua lauk, dengan garam. Susun ketiga lauk yang sama, tanpa garam, dengan secarik kertas di atasnya: Buat Neng, biar nggak lupa caranya.

Minggu ketiga, Mama juga mulai datang. Kebetulan juga. Kebetulan lewat, mau ke dokter gigi. Kebetulan masak rendang kebanyakan.

Hari Selasa di minggu ketiga, Ibu dan Mama kebetulan datang pada saat yang sama. Pukul sebelas pagi, di depan pagar rumah kecil kami, masing-masing dengan rantang di tangan.

Aku tahu karena Bu Enok, pemilik warung di ujung gang, menelepon Ibu sore harinya untuk menanyakan siapa ibu-ibu berkerudung biru yang tadi berdebat soal kambing guling di depan rumah anak Bu Ratna, dan Ibu menceritakannya padaku malam itu lewat telepon, sambil tertawa.


Kami bertengkar untuk pertama kalinya di minggu keempat.

Soal handuk.

Ia punya kebiasaan meletakkan handuk basah di atas kasur setelah mandi. Bukan di gantungan. Bukan di kursi. Di atas kasur. Di sisi kasurku.

Aku menemukannya tiga kali dalam seminggu. Pada kali ketiga, aku berdiri di ambang pintu kamar, memegang handuk basah dengan dua jari seperti memegang sampel cairan pleura, dan menatapnya.

“Van.”

Ia sedang memakai kaus di depan lemari. Ia menoleh. Ia melihat handuk di tanganku.

“Oh,” katanya.

“Ini ketiga kalinya.”

“Maaf.”

“Kasurnya basah. Sisi aku.”

“Maaf, Sa. Aku lupa.”

“Kamu bisa ingat delapan tahun takaran gula aku, tapi nggak bisa ingat gantungan handuk?”

Ia menatapku. Aku menatapnya. Aku menunggu ia membela diri, menunggu ia bilang itu cuma handuk, menunggu pertengkaran pertama pasangan suami istri yang selama ini hanya kubaca di forum residen.

Ia tidak membela diri.

Ia berjalan ke arahku. Ia mengambil handuk basah itu dari tanganku, pelan. Ia menggantungnya di gantungan di balik pintu, dengan sangat hati-hati, seperti menggantung bingkai foto di dinding kedai.

Lalu ia menatapku.

“Kamu juga punya kebiasaan,” katanya.

“Apa?”

“Kamu ngitung nadi aku tiap malam.”

Aku membeku.

“Jam dua,” katanya. “Kadang jam tiga. Kamu kira aku tidur. Aku nggak tidur. Aku ngerasain dua jari kamu di pergelangan tanganku. Kamu ngitung sampai enam puluh, terus kamu narik tangan pelan-pelan, terus kamu tidur lagi.”

Aku tidak bisa menjawab.

“Aku nggak keberatan,” katanya. “Aku cuma mau bilang, aku tahu.” Ia tersenyum kecil. “Kita impas. Aku taruh handuk di kasur. Kamu ngitung nadi orang tidur.”

“Itu beda.”

“Nggak beda.”

“Handuk itu kebiasaan jelek. Ngitung nadi itu...”

“Itu apa?”

Aku menatapnya. Laki-laki yang tujuh puluh dua denyut per menit di bawah dua jariku setiap malam pukul dua.

“Itu caraku bilang kamu masih di sini,” kataku pelan.

Ia diam. Lalu ia menarikku ke dadanya, dan aku menempelkan telingaku di sana, di kiri, di atas jantung. Tujuh puluh dua. Mungkin lebih. Aku tidak menghitung kali ini.

“Aku masih di sini,” katanya ke rambutku. “Kamu nggak perlu ngitung.”

“Aku tahu.”

“Tapi kamu tetap mau ngitung.”

“Iya.”

“Ya udah,” katanya. “Itung aja. Aku taruh handuk di gantungan.”


Malam itu hujan.

Hujan Bandung yang serius, yang turun pukul delapan dan tidak berhenti. Kami mematikan lampu neon di kamar dan menyalakan lampu bohlam kuning di meja samping kasur. Lampu yang ia beli dari toko lampu di Jalan Otista, ukuran kecil, warna yang sama persis dengan lampu di atas bar Kedai Setengah.

Aku duduk di tepi kasur. Ia duduk di belakangku, dengan sisir plastik hitam dari Mama.

Ia melepas cepolku. Rambutku jatuh sampai punggung.

Ia menyisirnya. Pelan. Dari atas sampai ujung. Lagi. Lagi. Sampai tidak ada lagi yang kusut. Ia menyisir dua helai uban di dekat pelipis kiri dengan sama hati-hatinya seperti helai-helai yang lain, dan tidak bilang apa-apa tentang uban itu.

Lalu ia mencoba mencepolnya.

Cepol itu miring ke kanan. Terlalu tinggi di satu sisi. Ada enam helai yang lolos. Karet gelangnya melilit di tempat yang salah, membuat benjolan kecil di samping cepol.

Cepol paling jelek seumur hidupku. Lagi.

Aku tidak membetulkannya.

Aku berbalik menghadapnya. Di bawah lampu bohlam kuning, wajahnya terlihat lebih hangat dari kenyataannya, seperti semua yang ada di bawah lampu itu. Di luar, hujan menghantam atap seng rumah kecil kami, keras, seperti ribuan jari mengetuk minta masuk.

Ia mengangkat tangan dan menyelipkan helai rambut di pelipis kiriku ke belakang telinga.

Helai itu langsung lolos lagi.

Ia tersenyum. Lalu ia meraih lampu bohlam kuning di meja samping kasur, dan mematikannya.


Tiga bulan setelah pernikahan, aku membuka kaleng Khong Guan di atas meja dapur, dan kaleng itu sudah setengah penuh.

Sleeve-sleeve cokelat, bertumpuk, tidak diikat karet gelang, tidak diberi tanggal. Setiap pagi, ia menulis satu kalimat di sleeve kopiku. Di rumah, di hari Minggu, dengan teko Mang Ade. Di kedai, di hari-hari lain, dengan mesin espresso. Ia menulis, dan ia tidak mencoretnya. Lalu aku menulis jawabannya di bawah, dengan pulpen hijau. Lalu salah satu dari kami memasukkannya ke kaleng.

Aku mengambil sleeve paling atas. Kemarin pagi.

Kamu cantik kalau lagi ngomel soal handuk.

Di bawahnya, tulisanku: Handuknya di kasur lagi, Van.

Aku mengambil sleeve di bawahnya.

Hari ini aku minum 3,4 liter. Lebih 400. Bilang dr. Bambang aku murid teladan.

Di bawahnya: Murid teladan nggak ngabisin martabak Dodi diam-diam di dapur kedai.

Aku tertawa sendirian di dapur kecil kami.

Lalu aku berhenti, karena aku menyadari sesuatu.

Aku tidak menghitung hari lagi. Buku catatan koas dengan sampul biru lusuh itu tergeletak di laci meja kamar rumah Papa, dengan garis mendatar di bawah Hari ke-2.904, dan aku tidak pernah membukanya lagi sejak pagi akad.

Tapi aku menghitung sesuatu.

Aku menatap kaleng Khong Guan yang setengah penuh. Satu sleeve setiap pagi. Satu kalimat dari dia, satu kalimat dariku.

Aku tidak menghitung hari lagi.

Kaleng itu yang menghitung pagi untukku.

Aku menutup kaleng itu. Lalu, tiba-tiba, perutku terasa aneh. Mual yang pelan, naik dari ulu hati, merayap ke tenggorokan, seperti air pasang yang tidak mau surut.

Aku menekan perutku dengan telapak tangan. Mungkin kopi tubruk tadi pagi. Mungkin aku belum sarapan. Mungkin aku kebanyakan jaga malam minggu ini.

Aku membuka laci dapur. Di dalamnya, entah sejak kapan, ada sebungkus permen jahe. Bungkus bening, tulisan merah kecil di pinggir. Baru. Belum kedaluwarsa.

Aku tidak tahu siapa yang menaruhnya di sana.

Aku membuka bungkusnya dan memasukkannya ke mulut. Rasanya seperti jahe yang lagi marah.

Mualnya berkurang.