← Gula Setengah Sendok

Chapter Thirty Eight

Pagi Akad

POV: Salsa


Aku bangun pukul tiga pagi tanggal dua belas Juni, dan untuk pertama kalinya dalam sembilan tahun, aku tidak membuka buku catatan koas.

Buku itu ada di laci meja kamarku di rumah Papa. Sampul biru yang lusuh, halaman terakhir yang penuh angka hijau, dan satu garis mendatar di bawah angka terakhir. Aku membawanya dari kos kemarin sore, bersama kaleng Khong Guan yang isinya sudah kupindahkan ke kotak sepatu dan kalengnya sudah kulap sampai mengilat dan kukirim lewat ojek online pukul delapan malam, tanpa nama pengirim.

Aku tidak membuka laci itu. Aku berbaring di kasur kamarku, kamar yang sama sejak SMA, dengan poster tabel periodik yang sudah menguning di dinding dan stiker bintang glow-in-the-dark di langit-langit yang sudah tidak menyala lagi. Aku menatap stiker-stiker itu.

Sembilan tahun lalu, di kamar ini, aku juga bangun pukul tiga pagi. Lima hari sebelum dua belas Juni. Aku bangun karena tidak bisa tidur, karena kemarin malamnya aku menulis label nama di teras rumah Ibu dan laki-laki yang kucintai berdiri di ambang pintu dan bilang aku nggak siap.

Aku menatap stiker bintang yang tidak menyala.

Hari ini dua belas Juni.

Aku tidak menghitung apa-apa. Aku hanya berbaring dan bernapas, empat hitungan masuk, tujuh hitungan tahan, delapan hitungan keluar, teknik yang kuajarkan pada pasien yang panik sebelum tindakan. Ternyata teknik itu tidak bekerja pada pengantin.


Pukul empat, Mama mengetuk pintu.

Ia masuk dengan daster batik dan kerudung biru tua yang dipakai terbalik, dengan wajah yang sudah menangis sebelum subuh. Ia membawa segelas teh hangat dan buku resepnya.

Buku resep itu sudah tidak punya halaman belakang. Mama merobeknya di dapur saat lamaran, aku tahu, karena Papa yang cerita, dengan wajah datar dan suara pelan: Mamamu kasih halaman itu ke Irvan. Satu nama binatang masih ada. Buat jaga-jaga.

Mama duduk di tepi kasurku. Ia tidak menyodorkan teh itu. Ia hanya memegangnya, dua tangan, di pangkuan.

“Sal,” katanya.

“Ma.”

“Kamu tidur?”

“Nggak.”

“Mama juga nggak.” Mama menatap stiker bintang di langit-langit. “Papa juga nggak. Papa dari jam dua duduk di teras belakang. Di kursi yang sama.”

Aku menatap Mama.

Kursi di teras belakang. Kursi tempat Papa duduk dua jam sembilan tahun lalu, menemaniku membakar seratus dua puluh undangan di kaleng cat bekas. Tidak bertanya apa-apa.

“Papa nangis?” tanyaku.

“Papa nggak pernah nangis,” kata Mama. Ia menyeka matanya dengan ujung kerudung yang terbalik. “Tapi tadi Mama lihat, Papa ngelap kacamatanya lama banget.”


Pukul lima, rumah Papa sudah penuh.

Tim perias datang dari Cimahi, dua perempuan dengan koper besar berisi kuas dan bedak dan sanggul palsu. Ibu datang dengan taksi, membawa kebaya putih gading di dalam kain putih yang wangi kamper, dipeluk di dada seperti bayi. Mbak Nadia datang dengan Mas Gilang, yang langsung diangkat Mama menjadi penanggung jawab parkir karena polisi lalu lintas pasti bisa ngatur mobil di gang sempit. Mbak Kirana datang sendirian, dengan tas berisi peniti, benang, gunting kecil, plester, permen jahe, dan setengah lusin karet gelang cadangan, karena katanya, pasti ada yang lepas, Bu Dokter.

Lalu Sus Mira datang. Lalu Sus Eka. Lalu Mbak Rina dari laboratorium, dengan senyum pemenang taruhan yang sudah dua kali menang. Lalu dua residen junior-ku, Rizky dan temannya, yang tidak diundang tapi datang membawa kue lapis dan wajah pucat seperti mau ujian.

Lalu terjadi perdebatan.

“Saya pagar ayu,” kata Mbak Nadia. “Salsa jadi pagar ayu di nikahan saya. Sekarang giliran saya.”

“Saya udah lima tahun kenal Bu Dokter di rumah sakit,” kata Sus Mira. “Saya yang lihat Mas Irvan di kursi tujuh. Saya berhak jadi pengiring.”

“Saya menang taruhan dua kali,” kata Mbak Rina.

“Itu nggak ada hubungannya, Mbak,” kata Sus Eka.

“Ada. Firasat saya yang bawa kita semua ke sini.”

“Saya yang nyimpen sleeve-nya,” kata Mbak Kirana pelan. Semua orang berhenti bicara dan menatapnya. “Enam minggu. Tiap Sabtu malam. Di pintu belakang.”

Hening.

Mama, yang berdiri di ambang pintu kamarku dengan daftar acara di tangan, menatap lima perempuan yang berdebat di depan kamar putrinya pukul lima pagi. Ia menatap daftar acaranya. Lalu ia mencoret sesuatu dengan pulpen merah.

“Pengiringnya lima,” kata Mama. “Semua.”

“Adatnya biasanya dua atau empat, Bu,” kata salah satu perias dengan ragu.

Mama menatap perias itu. Perias itu kembali ke kopernya.


Pukul enam, Mbak Kirana mengetuk pintu kamarku dan masuk membawa sesuatu.

Cup kopi karton. Ukuran medium. Uap tipis naik dari lubang tutupnya.

“Dari Mas Irvan,” katanya. “Dia bangun jam empat. Buka kedai sendirian. Bikin satu, terus telepon saya, suruh saya ambil, terus tutup lagi.”

Aku menerima cup itu dengan dua tangan. Hangat. Enam puluh lima derajat, aku tahu tanpa perlu termometer.

Sleeve cokelat terpasang di sekelilingnya.

Tinta hijau. Tulisan tangannya, yang sudah tidak lagi gemetar seperti di pagi pertama tanpa coretan. Hurufnya tegak, sedikit miring ke kanan, seperti tulisan laki-laki yang sudah berlatih ijab kabul empat Rabu malam berturut-turut dengan Papa.

Sampai ketemu di seberang meja.

Aku menatap kalimat itu.

Sampai ketemu di seberang. Kalimat yang kuucapkan di persimpangan lift lantai lima, dari atas brankar, dengan topi operasi biru dan gelang kuning bertuliskan TRANSPLANTASI – DONOR. Tanganku terulur. Jari-jari kami tidak bersentuhan.

Di seberang meja.

Meja penghulu.

Aku meniup kopiku. Satu. Dua. Tiga.

Tiupan ketiga, aku tahu untuk siapa.

Aku menyesap. Kopi susu. Gula setengah sendok. Diaduk sebelum susunya masuk. Busanya tipis.

Rasanya persis sama dengan pagi pertama aku masuk ke Kedai Setengah sebagai orang asing. Persis sama dengan sembilan tahun lalu di kedai Dago pukul sebelas malam. Persis sama.

Dan sama sekali berbeda.

“Bu Dokter,” kata Mbak Kirana pelan. “Jangan nangis dulu. Belum dirias.”


Kebaya itu pas.

Ibu yang memakaikannya. Bukan perias. Ibu bersikeras. Ibu berdiri di belakangku di depan cermin lemari kamarku, mengancingkan kancing-kancing kecil di punggung kebaya satu per satu, dengan jari-jari kecil yang kasar penuh bekas tusukan jarum. Ia mengancingkan dengan sangat pelan. Setiap kancing, ia berhenti sebentar, seperti menghitung.

Di depan cermin, aku melihat diriku.

Kebaya putih gading. Payet melati kecil-kecil, ribuan, di sepanjang tepi leher dan ujung lengan, berkilau seperti embun di bawah lampu kamar. Di pinggang, jahitan baru yang dikecilkan Ibu dua sentimeter dalam satu malam. Aku bisa melihat bedanya kalau aku menatap sangat dekat. Payet di bagian itu sedikit lebih baru, sedikit lebih berkilau, karena diambil dari kaleng sisa yang Ibu simpan sembilan tahun.

Sembilan tahun lalu, aku berdiri di depan cermin lemari jati Ibu dengan kebaya yang sama. Fitting terakhir. Dua minggu sebelum akad. Aku tidak bisa berkata apa-apa. Ibu menangis duluan.

Sembilan tahun lalu, lima hari kemudian, aku membakar seratus dua puluh undangan di kaleng cat bekas.

Delapan tahun lalu, aku duduk di tangga darurat RS Kartika dan tidak bisa bernapas.

Setahun lebih sedikit lalu, aku berdiri di depan pintu Kedai Setengah pukul enam pagi dengan jas dokter dan cepol rambut dan satu helai yang lolos, dan aku memesan kopi susu gula setengah sendok, dan aku menatap laki-laki di balik mesin espresso seperti menatap orang asing.

Aku harus menatapnya seperti orang asing. Kalau tidak, aku akan menangis di depan kasir, dan ia akan lari.

Ibu mengancingkan kancing terakhir.

Lalu Ibu berdiri di belakangku, menatap bayangan kami berdua di cermin. Ibu dengan kerudung cokelat dan mata merah. Aku dengan kebaya putih gading yang dijahit dengan tangannya, payet demi payet, selama tiga bulan sembilan tahun lalu, dan disimpan selama sembilan tahun setelahnya.

“Neng,” kata Ibu.

“Bu.”

“Ibu udah nggak nyimpen barang orang lagi.”

Aku menatap Ibu di cermin.

“Kebayanya udah diambil,” kata Ibu. Suaranya pecah. “Sama yang punya.”

Aku berbalik dan memeluk Ibu, kebaya putih gading dan semua payetnya, dan perias dari Cimahi menjerit kecil dari ambang pintu karena bedaknya belum kering, Bu, nanti nempel di kerudung Ibu, dan aku tidak peduli, dan Ibu tidak peduli, dan bedak itu menempel di kerudung cokelat Ibu, dan Ibu memakai kerudung itu sampai akhir acara tanpa membersihkannya.


Pukul tujuh lewat tiga puluh, perias mencoba membetulkan rambutku untuk ketiga kalinya.

Rambutku sudah disanggul. Sanggul modern, tidak terlalu tinggi, dihiasi melati segar yang dirangkai Mama sendiri sejak subuh. Rapi. Simetris. Sempurna.

Kecuali satu helai.

Satu helai yang lolos di pelipis kiri. Perias sudah menyemprotnya dengan hairspray dua kali dan menyelipkannya ke dalam sanggul dengan jepit kecil tiga kali. Setiap kali, helai itu lolos lagi. Seperti punya kemauan sendiri.

“Bu, sebentar,” kata perias dengan wajah frustrasi, mengangkat jepit kecil keempat. “Saya coba lagi.”

“Biarin,” kataku.

Perias itu berhenti. “Bu?”

“Biarin, Mbak.” Aku menatap helai rambut itu di cermin. Satu helai, gelap, melengkung sedikit di pelipis kiri, jatuh di atas pipi. “Dia suka yang itu.”

Perias itu menatapku. Lalu menatap Mbak Kirana di sudut kamar. Mbak Kirana mengangguk, sangat kecil.

Perias itu menurunkan jepitnya.


Pukul delapan kurang sepuluh, Papa mengetuk pintu.

Ia berdiri di ambang pintu dengan beskap cokelat tua dan kain batik dan bendo Sunda di kepala. Kacamata berbingkai perak. Wajah datar seorang pegawai dinas pengairan yang sudah tiga puluh tahun membaca peta saluran air.

Ia menatapku.

Ia menatap kebaya putih gading. Payet melati. Sanggul dengan rangkaian melati dari Mama. Helai rambut di pelipis kiri.

Papa tidak berkata apa-apa.

Ia melepas kacamatanya. Ia mengelapnya dengan ujung kain beskap. Pelan. Sangat pelan. Lebih lama dari dr. Bambang. Lebih lama dari yang pernah kulihat siapa pun mengelap kacamata.

Ia memasangnya kembali.

“Sudah,” katanya.

Hanya itu. Satu kata. Suaranya serak.

Lalu ia mengulurkan lengan kanannya padaku. Lengan yang sembilan tahun lalu tidak bergerak dari kursi di teras belakang selama dua jam, menemaniku membakar undangan. Lengan yang tidak pernah bertanya apa-apa.

Aku meletakkan tanganku di lengan itu.

Papa menggandengku keluar kamar.


Ruang tamu rumah Papa sudah diubah. Sofa-sofa dipinggirkan. Karpet merah digelar. Di tengah ruangan, meja kecil dengan taplak putih, dan di baliknya, penghulu dengan peci hitam dan map berisi berkas. Kursi-kursi untuk saksi. Kursi untuk wali.

Kursi untuk pengantin laki-laki.

Antara lorong menuju kamarku dan ruang tamu, ada tirai. Tirai kain putih tipis yang dipasang Mama sejak kemarin, karena adat. Pengantin perempuan menunggu di balik tirai sampai ijab kabul selesai.

Papa berhenti di balik tirai itu. Ia melepaskan lenganku pelan.

“Tunggu di sini,” katanya. “Papa ke depan.”

Ia menyibakkan tirai dan berjalan ke ruang tamu, ke kursi wali.

Aku berdiri di balik tirai.

Lima pengiring di belakangku. Mbak Nadia, Sus Mira, Sus Eka, Mbak Rina, Mbak Kirana. Tidak ada satu pun dari mereka yang bicara. Aku mendengar Sus Mira menahan isak. Aku mendengar Mbak Nadia menarik napas panjang, sangat panjang, seperti orang yang mau menyelam.

Aku mendengar suara-suara dari ruang tamu. Penghulu yang berdeham. Bunyi kursi bergeser. Dodi yang berbisik ke walkie-talkie mainan, posisi siap, ganti, dan Pak Ujang yang menjawab dari teras tanpa walkie-talkie, siap, Dod, ganti.

Aku tidak boleh mengintip. Itu adat. Mama sudah bilang tiga kali.

Aku mengintip.

Tirai putih tipis itu punya celah kecil di tepinya, di tempat kain tidak menempel sempurna di tiang. Aku mendekatkan mataku ke celah itu, dengan kebaya putih gading dan sanggul melati dan bedak yang sudah kering, seperti mahasiswa koas yang mengintip kartu donor darah pacarnya di kampus, seperti dokter jaga yang bersembunyi di balik ambulans tua di parkiran RS Kartika.

Aku melihatnya.

Ia duduk di kursi pengantin laki-laki, di depan meja penghulu. Beskap putih gading yang senada dengan kebayaku. Kain batik sidomukti. Bendo Sunda. Punggungnya tegak. Wajahnya dari samping, pucat, tegang, rahangnya terkatup.

Papa duduk di depannya, di kursi wali. Penghulu di samping.

Papa mengulurkan tangan kanannya.

Ia menyambut tangan Papa.

Dan dari celah tirai, dari jarak lima meter, aku melihat tangannya. Tangan kanannya di genggaman Papa. Tangan yang delapan tahun menakar dua ratus mililiter air di gelas kecil di bawah meja kasir. Tangan yang menulis Apa kabar, Sa lalu mencoretnya dua kali. Tangan yang menggenggam tanganku dari sisi kanan ranjang kamar 513 selama dua jam.

Tangannya gemetar.

Aku menunduk. Aku menatap tanganku sendiri, di depan dadaku, memegang ujung kebaya putih gading.

Tanganku gemetar juga.

Persis sama.