Chapter Twenty Two
Satu Malam
POV: Irvan
Taman di belakang RS Mitra Harapan punya kolam ikan kecil yang airnya keruh dan satu bangku semen yang retak di tengahnya.
Aku duduk di bangku itu sampai pukul sepuluh malam.
Aku tidak tahu bagaimana aku sampai di sana. Aku ingat koridor lantai tiga yang terlalu terang. Aku ingat lift yang berbau karbol. Aku ingat pintu kaca lobi belakang, dan udara malam Bandung yang dingin menampar wajahku, dan baju pasien tipis yang tidak cukup untuk menahan dingin itu. Lalu aku sudah di sini, di bangku retak, di samping kolam keruh, menatap tiga ekor ikan mas yang berenang lambat di bawah lampu taman.
Ikan-ikan itu berenang berputar-putar. Ke kiri, ke kanan, kembali ke tempat yang sama. Mereka tidak pernah pergi ke mana-mana, karena kolam itu tidak punya jalan keluar.
Aku nggak ke mana-mana.
Pukul sembilan, langkah kaki berat mendekat dari arah pos satpam. Senter menyorot wajahku.
“Mas Irvan?”
Pak Ujang. Seragam satpam, jaket hitam tebal di atasnya, kumis yang terlihat lebih tebal di bawah cahaya senter.
“Mas, pasien nggak boleh keluyuran malam-malam,” katanya. Lalu ia menatap wajahku lebih lama. Lalu ia mematikan senternya. “Tapi saya nggak lihat apa-apa.”
Ia melepas jaket hitamnya dan meletakkannya di bahuku. Jaket itu bau rokok kretek dan minyak angin. Lalu ia duduk di ujung bangku yang lain, di sisi retakan, dan tidak berkata apa-apa.
Kami duduk di sana. Tiga ikan mas berputar-putar. Seekor kodok berbunyi di semak dekat dinding.
“Pak,” kataku akhirnya.
“Hm.”
“Bapak pernah bikin keputusan yang salah, tapi Bapak kira itu benar? Bertahun-tahun?”
Pak Ujang menghela napas panjang. Panjang sekali, seperti kompresor ban di bengkel.
“Saya nikah sama istri saya tahun sembilan puluh sembilan, Mas,” katanya. “Tiga tahun pertama saya nggak pernah bilang saya sayang dia. Saya kira laki-laki nggak perlu bilang. Saya kira kalau saya kerja, bawa duit, benerin genteng bocor, itu udah cukup. Itu bukti.”
“Terus?”
“Terus suatu malam dia nangis di dapur. Saya tanya kenapa. Dia bilang, Kang, aku capek nebak.” Pak Ujang menatap kolam. “Tiga tahun dia nebak, Mas. Tiga tahun saya kira saya lagi ngasih dia sesuatu, padahal saya lagi nyuruh dia nebak.”
Aku tidak menjawab.
Pak Ujang berdiri, menepuk-nepuk celananya, dan menyalakan senternya lagi.
“Jaketnya bawa aja, Mas,” katanya. “Besok balikin ke pos.”
Ia berjalan pergi. Di tengah taman, ia berhenti dan menoleh.
“Mas,” katanya. “Bu Dokter masih di kamar Mas. Tadi saya lewat. Dia duduk di kursi, nggak pulang-pulang. Perawat jaga udah dua kali nyuruh dia pulang.”
Ia tidak ada ketika aku kembali ke kamar pukul sebelas.
Kursi plastik di samping ranjangku kosong. Tirai masih tertutup. Kakek di ranjang sebelah masih mendengkur dengan irama metronom.
Di atas selimut, di tempat aku meninggalkannya, ada map plastik biru. Map itu tertutup rapi, sudut-sudutnya sejajar dengan tepi kasur. Di atasnya, kaleng Khong Guan.
Dan di atas kaleng itu, sebungkus permen jahe.
Aku duduk di ranjang. Aku membuka map biru itu ke halaman lima. Lampu kecil di atas pintu kamar menyala kuning pucat, cukup terang untuk membaca.
7. Aku masih.
Tinta hijau. Tulisan bulat-bulat yang rapi. Dua kata, dan ruang kosong di sesudahnya.
Aku menatap ruang kosong itu sampai pukul tiga pagi.
Dr. Bambang mengizinkanku pulang pukul satu siang.
Ibu yang menjemput. Ibu datang dengan taksi dan rantang kosong dan wajah yang tidak bertanya apa-apa. Ia membereskan barang-barangku dari laci samping ranjang: kemeja abu-abu dengan spidol di saku, dompet, ponsel, sikat gigi dari kantin rumah sakit. Ia memegang kaleng Khong Guan dan map biru dengan dua tangan, sangat hati-hati, seperti memegang kue tart di pesta ulang tahun.
Salsa tidak datang.
Aku tidak bertanya. Ibu tidak menjelaskan. Di lift turun ke lobi, Ibu hanya berkata, “Neng Salsa jaga hari ini. Dari pagi sampai besok pagi.”
Aku mengangguk.
“Dia nitip pesan,” kata Ibu.
Aku menoleh.
“Pesannya,” kata Ibu, menatap angka lantai yang turun di atas pintu lift, “bilang ke Van, aku nggak nunggu jawaban. Aku cuma nunggu.”
Pintu lift terbuka di lobi. Ibu berjalan keluar duluan, memeluk kaleng Khong Guan.
Malam itu, di rumah, Ibu tidak memasak sayur asem.
Ibu memasak bubur. Bubur nasi putih, encer, tanpa garam, dengan sejumput bawang goreng di atasnya dan irisan telur dadar tipis. Makanan orang sakit. Makanan yang dulu Ibu masak waktu aku umur tujuh tahun dan kena tifus.
Kami makan di meja makan kecil dekat dapur. Aku di sisi kanan. Ibu di ujung. Kursi di sisi kiri, kursi yang dua minggu lalu diduduki Salsa, kosong.
Aku makan tiga suap. Lalu aku meletakkan sendok.
Ibu tidak menyuruhku makan lagi. Ibu meletakkan sendoknya juga, lalu menatapku dari ujung meja, lama sekali.
“Van,” kata Ibu. “Ibu mau ngomong. Kamu dengerin sampai habis. Jangan motong.”
“Iya, Bu.”
“Delapan tahun lalu, kamu pulang dari rumah sakit, kamu duduk di lantai ruang tamu, kamu bilang ke Ibu: Bu, aku nggak mau dia nikah sama mesin cuci darah. Ibu ingat?”
“Ingat, Bu.”
“Kamu bilang, Bu, dia harus bebas. Dia harus jadi dokter anak. Dia harus punya rumah sama halaman. Dia harus punya anak tiga. Dia harus ke Jepang waktu musim gugur.” Ibu menghitung dengan jari-jarinya yang kasar penuh bekas tusukan jarum. “Kamu bilang, kalau aku nggak pergi, dia nggak bakal pernah bebas.”
Aku tidak menjawab.
“Terus kamu pergi,” kata Ibu. “Kamu kasih dia kebebasan.”
Ibu meletakkan tangannya di atas meja, telapak menghadap ke bawah.
“Terus dia pakai kebebasannya buat apa, Van?”
Aku menatap tangan Ibu.
“Dia pakai buat ganti spesialis jadi ginjal,” kata Ibu. “Dia pakai buat traktir perawat kamu bakso tiap bulan, biar tahu kamu masih hidup. Dia pakai buat bayarin dinding kedai kamu. Dia pakai buat jaga malam dua kali lipat. Dia pakai buat ngumpet di balik ambulans.” Suara Ibu mulai pecah. Ibu tidak menariknya kembali. “Dia pakai buat tes darah, CT scan, wawancara komite etik, tiga bulan, sendirian, sambil bohong ke mamanya. Biar bisa ngasih kamu ginjal.”
Ibu menatapku.
“Kamu pergi supaya dia bebas,” kata Ibu. “Dia pakai kebebasannya buat balik ke kamu. Delapan tahun, Van. Delapan tahun dia jalan ke arah kamu, pelan-pelan, dari jauh, sementara kamu sibuk lari.”
Ibu menunjuk dadaku dengan telunjuk.
“Mau sampai kapan kamu nyuruh dia bebas?”
Aku tidak bisa menjawab. Aku menunduk di atas mangkuk bubur yang mulai dingin, dan dadaku sakit dengan cara yang tidak ada hubungannya dengan cairan atau kalium atau fistula.
Ibu berdiri. Ibu berjalan ke kamarnya. Aku mendengar pintu lemari jati dibuka, bunyi engsel tua yang berderit, lalu bunyi kain disibakkan.
Ibu kembali membawa dua benda.
Yang pertama, bungkusan kain putih panjang, dilipat rapi, wangi kamper. Ibu meletakkannya di atas meja makan dan membuka lipatannya pelan-pelan, satu per satu, seperti membuka perban.
Di dalamnya, kebaya putih gading.
Delapan tahun aku tidak melihatnya. Aku pernah melihatnya sekali, di hari fitting terakhir, di depan cermin lemari Ibu, dipakai seorang perempuan yang tidak bisa berkata apa-apa. Payetnya kecil-kecil, ribuan, dipasang satu per satu dengan tangan, membentuk pola bunga melati di sepanjang tepi leher dan ujung lengan. Di bawah lampu dapur yang kuning, payet-payet itu berkilau pelan, seperti embun.
Kainnya tidak menguning. Tidak ada satu pun lubang ngengat.
“Tiap Lebaran,” kata Ibu pelan. “Ganti kamper. Ganti kain. Ibu jemur di dalam kamar, nggak boleh kena matahari langsung.”
Benda kedua yang Ibu bawa adalah kotak kardus.
Kotak kardus biasa, bekas kotak air mineral gelas. Sudut-sudutnya sudah lembek. Di sisinya, ada tulisan spidol hitam yang pudar: UNDANGAN – BELUM DIKASIH NAMA.
Ibu meletakkan kotak itu di samping kebaya.
Aku menatapnya.
Kotak itu. Kotak yang ditinggalkan di teras malam itu. Kotak yang hilang keesokan paginya, ketika aku keluar rumah. Aku tidak pernah bertanya ke mana. Aku tidak sanggup bertanya.
Ibu membuka tutupnya.
Undangan krem dengan pita hijau sage, ratusan, bertumpuk. Di bagian atas, sejumlah undangan yang sudah diberi label nama, ditumpuk terpisah, sejajar, sudut ketemu sudut. Persis seperti yang disusun Salsa sebelum ia berdiri dan berjalan ke gerbang.
Label paling atas, dengan tinta hijau, tulisan bulat-bulat yang rapi:
Rudi & Keluarga.
Pakai I.
Dan di atas tumpukan itu, tergeletak persis di tempat Salsa meletakkannya delapan tahun lalu, ada pulpen tinta hijau.
Aku tidak tahu berapa lama aku menatap pulpen itu.
Ibu duduk kembali di kursinya. Ibu tidak berkata apa-apa lagi. Ia sudah mengatakan semuanya.
Aku mengulurkan tangan dan mengambil pulpen itu.
Plastiknya sudah sedikit kusam. Tutupnya masih terpasang rapat. Aku membuka tutupnya dan menekan ujungnya ke bagian dalam tutup kotak kardus, di tempat yang kosong.
Tidak ada tinta yang keluar. Delapan tahun. Tentu saja tidak.
Aku menggoyangnya. Aku meniup ujungnya. Aku menekannya lagi, lebih keras, membuat garis-garis kecil berulang-ulang di karton, seperti orang yang mencoba menyalakan korek api basah.
Garis pertama tidak berwarna. Garis kedua tidak berwarna. Garis ketiga, samar, sangat samar, sedikit hijau.
Garis keempat hijau.
Aku menatap garis hijau itu di bagian dalam tutup kotak undangan.
“Bu,” kataku. Suaraku serak. “Jam berapa sekarang?”
Ibu melirik jam dinding di atas pintu dapur. “Setengah dua belas.”
“Neng Salsa jaga sampai jam berapa?”
“Sampai besok pagi. Jam tujuh.”
Aku menatap pulpen di tanganku. Lalu aku menatap kebaya di atas meja, payet-payet melati yang berkilau pelan di bawah lampu dapur.
“Bu,” kataku. “Bisa tolong telepon Sus Mira?”
Ibu menatapku. Lalu, pelan, sangat pelan, senyum Ibu muncul. Senyum yang bukan senyum paling sulit. Senyum yang sudah delapan tahun tidak kulihat.
“Ibu udah telepon tadi sore,” kata Ibu. “Sebelum kamu bangun dari tidur siang.”
“Ibu bilang apa?”
“Ibu bilang, Sus, tolong besok pagi pastiin Neng Salsa lewat depan Kedai Setengah jam enam. Nggak usah bilang kenapa.” Ibu mengangkat bahu. “Sus Mira bilang siap. Terus Sus Mira bilang ke Pak Ujang. Terus Pak Ujang bilang ke grup satpam. Terus grup satpam bilang ke Sus Eka. Terus Sus Eka...”
“Bu.”
“Ibu nggak tahu, Van, Ibu nggak ngerti grup-grupan.” Ibu berdiri dan mulai melipat kembali kebaya putih gading itu ke dalam kain putih, sangat hati-hati. “Pokoknya besok jam enam, kayaknya setengah rumah sakit bakal lewat depan kedai kamu.”
Pukul empat lima puluh pagi, aku membuka rolling door Kedai Setengah sendirian.
Dodi dan Kirana tidak tahu aku sudah pulang. Aku tidak memberi tahu mereka. Aku menyalakan lampu. Lampu bohlam kuning di atas bar yang tidak pernah kumatikan lagi sejak malam uji menu. Aku menyalakan mesin espresso. Aku menunggu mesinnya panas.
Aku tidak menuang air ke gelas kecil di bawah meja kasir. Hari ini bukan untukku.
Pukul lima tiga puluh, langit di luar jendela berubah dari hitam ke biru tua.
Pukul lima empat puluh lima, aku melihat mereka.
Di seberang jalan, di samping gerobak bubur ayam yang baru buka, ada sekelompok orang yang berdiri terlalu rapat dan terlalu diam untuk ukuran orang yang sedang antre bubur. Sus Mira dengan sweater ungu. Sus Eka dengan rambut dikuncir. Dua orang dari laboratorium yang wajahnya kukenal dari papan taruhan. Pak Ujang, berdiri paling depan dengan tangan di belakang punggung, seperti komandan upacara.
Dan di belakang gerobak bubur, setengah tersembunyi, dua kepala yang sangat kukenal. Kepala dengan rambut basah yang disisir rapi. Kepala dengan ikat rambut hitam yang kalem.
Dodi dan Kirana.
Tentu saja.
Pukul lima lima puluh delapan, aku menggiling biji kopi.
Pukul lima lima puluh sembilan, aku menekan tamper, memasang portafilter. Espresso mengalir pelan, cokelat gelap ke cokelat keemasan.
Gula setengah sendok. Kuaduk sebelum susu masuk. Susu kupanaskan sampai enam puluh lima derajat. Busanya kutipiskan.
Lalu aku mengambil sleeve. Aku mengambil pulpen hijau dari saku kemeja, pulpen yang delapan tahun tergeletak di atas kotak undangan, dan aku menulis.
Pelan. Tidak terburu-buru. Tidak panik.
Aku tidak mencoretnya.
Pukul enam tepat, lonceng berbunyi.
Ia masuk dengan jas dokter yang kusut, bekas jaga semalam. Rambutnya dicepol asal. Bukan satu helai yang lolos, tapi banyak. Lingkar hitam di bawah matanya, lebih gelap dari yang pernah kulihat. Ia memegang ponsel di satu tangan, seolah-olah baru saja membaca pesan yang membuatnya menyeberang jalan tanpa berpikir.
Ia berhenti di ambang pintu.
Ia menatap kedai yang kosong. Menatap lampu bohlam kuning di atas bar. Menatap aku, di balik mesin espresso, dengan kemeja abu-abu dan perban yang masih menempel di lengan kiri di balik manset.
Ia tidak bergerak.
Aku berjalan ke meja kasir dengan cup di tangan. Aku meletakkannya di atas meja, di depannya.
Ia menatap cup itu. Ia menatap sleeve-nya.
Ia tidak perlu mengangkatnya ke arah cahaya jendela. Tidak ada coretan.
Hanya tulisan tanganku, dengan tinta hijau yang sedikit pudar di beberapa huruf karena pulpennya sudah terlalu tua, tapi terbaca jelas, setiap hurufnya:
Iya. Setengah sendok, kan?
Aku melihat matanya bergerak. Dari kiri ke kanan. Sekali. Lalu sekali lagi. Lalu sekali lagi.
Lalu ia mengangkat wajahnya.
Dokter penyakit dalam paling galak di RS Mitra Harapan, perempuan yang bilang menangis itu seperti bersin dan lebih baik dilakukan sendiri, berdiri di depan kasir Kedai Setengah pukul enam pagi, memegang cup kopi susu dengan dua tangan, dan menangis.
Bukan tangisan pelan. Tangisan yang pecah. Tangisan yang membuat bahunya berguncang dan cup di tangannya bergetar, tangisan yang sudah delapan tahun ditahan di kamar mandi kos dan di tangga darurat dan di balik ambulans dan di bawah lampu gerbang rumah sakit.
Aku berjalan memutari meja kasir.
Aku mengangkat papan kayu penghalang, keluar dari balik bar, dan berdiri di depannya. Tidak ada meja di antara kami. Tidak ada mesin kasir. Tidak ada coretan.
Aku mengangkat tangan dan menyelipkan helai rambut yang lolos di pelipis kirinya ke belakang telinga.
Helai itu langsung lolos lagi.
Lalu aku menunduk, dan aku mencium keningnya.
Pelan. Lama. Bibirku di dahinya, di antara alis, di tempat yang dulu sering ia kerutkan ketika ia memarahiku karena busanya terlalu tebal.
Ia berhenti menangis sebentar. Hanya sebentar. Lalu ia menangis lagi, lebih keras, dan kali ini ia membenamkan wajahnya di dadaku, cup kopi masih di tangannya, terjepit di antara kami.
Di seberang jalan, seseorang bersorak.
Lalu orang lain. Lalu lebih banyak lagi. Suara bariton Pak Ujang yang membuat jendela bergetar. Jeritan Sus Mira. Tepuk tangan dari dua orang laboratorium yang wajahnya ada di papan taruhan. Dan dari belakang gerobak bubur, suara Dodi, menangis seperti anak kecil, berteriak sesuatu yang tidak bisa kumengerti, sementara Kirana memegangi kerah bajunya supaya ia tidak berlari menyeberang jalan di depan angkot.
Tukang bubur ayam berhenti menyendok bubur dan ikut bertepuk tangan, tanpa tahu apa yang sedang ia rayakan.
Salsa tertawa di dadaku. Tawa basah, berantakan, di antara isak.
“Ini kerjaan Ibu, ya?” gumamnya ke kemejaku.
“Kerjaan Ibu,” kataku. “Sus Mira. Pak Ujang. Grup satpam.”
“Setengah rumah sakit lihat.”
“Iya.”
“Aku nggak bakal bisa visite dengan tenang lagi seumur hidup.”
“Iya.”
Ia mendongak. Wajahnya basah, matanya merah, hidungnya merah, dan ia adalah hal paling cantik yang pernah kulihat seumur hidupku, dan kali ini aku tidak membenci diriku karena berpikir begitu.
“Van,” katanya. “Iya itu artinya apa? Iya buat apa?”
Aku menatapnya.
“Buat semuanya,” kataku.
- 1 Pesanan Jam Enam
- 2 Aku Nggak Siap
- 3 Tiup Tiga Kali
- 4 Permen Jahe di Toples Tip
- 5 Croissant Terakhir
- 6 Gula Tiga Sendok
- 7 Hal yang Tidak Diketahui Orang Asing
- 8 Van
- 9 Pasar Hari Minggu
- 10 Menu Baru
- 11 Masa Depan yang Pantas
- 12 Sandiwara Makan Siang
- 13 Kejutan untuk dr. Salsa
- 14 Kalimat yang Sama
- 15 Kursi Kosong Jam Enam
- 16 Yang Berlari Menyeberang
- 17 Tahun Kedua
- 18 Kaleng Biskuit
- 19 Tabungan Nikah
- 20 Harga Lima Tahun
- 21 Yang Kusiapkan Sambil Menunggu
- 22 Satu Malam reading
- 23 Sebelum Operasi
- 24 Tangan yang Masih Menggenggam
- 25 Sekarang Aku yang Jaga
- 26 Pulang
- 27 Kencan Pertama yang Kedua
- 28 Pegangan Tangan Itu Susah
- 29 Nembak Ulang
- 30 Resmi (Lagi)
- 31 Sandiwara yang Ketahuan
- 32 Lamaran
- 33 Angka yang Naik
- 34 Di Depan Pintu
- 35 Malam yang Sama
- 36 Nilai Kembali Normal
- 37 Kebaya yang Menunggu
- 38 Pagi Akad
- 39 Sekarang Aku Siap
- 40 Rumah Kecil, Dapur Gosong
- 41 Epilog: Gelas Penuh