← Gula Setengah Sendok

Chapter Thirty Four

Di Depan Pintu

POV: Irvan


Tas ransel hitam itu lebih ringan dari yang kuingat.

Aku meletakkannya di atas kasur dan membuka resletingnya. Resleting itu tersangkut di bagian yang karatan, dan aku harus menariknya pelan, sangat pelan, supaya tidak berbunyi. Di dalamnya masih ada sisa-sisa tiga tahun di RS Kartika: selimut tipis warna abu-abu yang sudah berbulu, buku tulis bergaris yang separuh halamannya berisi catatan berat badan dan tekanan darah dengan tulisan tanganku, dan botol minum plastik kecil dengan garis spidol hitam di dindingnya.

Dua ratus mililiter.

Aku mengeluarkan botol itu dan menatapnya lama. Lalu aku meletakkannya di kasur.

Aku mulai mengisi tas.


Aku tidak berencana. Itu yang ingin kukatakan, kalau ada yang bertanya. Aku tidak merencanakan ini sejak di rumah sakit, atau sejak dr. Bambang bilang membaik dan bukan aman, atau sejak aku melihat map biru bergetar di tangan Salsa dari celah pintu kamar 512.

Tapi itu tidak benar. Kepalaku sudah merencanakannya. Kepalaku merencanakannya dengan cara yang sama seperti delapan tahun lalu, di parkiran rumah sakit, dengan undangan krem di dasbor motor. Pelan-pelan, satu langkah demi satu langkah, dengan logika yang terasa sangat masuk akal pukul dua pagi.

Satu. Rejeksi akut ringan. Membaik. Untuk sekarang.

Dua. Kalau terjadi lagi, dan tidak membaik, ginjal itu gagal. Ginjal Salsa. Satu ginjal yang ia berikan, yang ia pertahankan tiga bulan melewati tes darah dan CT scan dan wawancara komite etik dan kebohongan pada Mama. Gagal di dalam tubuhku.

Tiga. Kalau ginjal itu gagal, aku kembali ke kursi tujuh. Selasa dan Jumat. Dua jarum. Gelas kecil di bawah meja kasir. Akses demi akses.

Empat. Dan Salsa, dengan satu ginjal tersisa, akan duduk di samping kursi tujuh setiap Selasa dan Jumat. Ia akan menatap ginjalnya sendiri mati di tubuh orang lain. Ia akan menyalahkan dirinya. Ia akan bilang aku calon dokter ginjal, harusnya aku tahu, persis seperti ia menyalahkan dirinya soal permen jahe selama tujuh tahun.

Lima. Kalau aku pergi sekarang, sebelum itu terjadi, sebelum ginjalnya gagal, sebelum ia harus menyaksikannya...

Logika itu berhenti di sana. Di nomor lima. Aku tidak bisa menyelesaikannya, karena aku tahu ke mana arahnya, dan aku tahu bentuknya, dan bentuknya persis sama dengan delapan tahun lalu.

Tapi tanganku tetap mengisi tas.

Dua kaus. Satu celana. Kemeja abu-abu lengan panjang, yang sudah dua bulan tidak kupakai. Sikat gigi. Charger ponsel.

Obat-obatanku. Semuanya. Kotak plastik dengan sekat-sekat untuk setiap hari dalam seminggu, yang dibelikan Salsa dari apotek rumah sakit dan diberi label dengan tinta hijau. Senin pagi. Senin malam. Selasa pagi. Aku memasukkannya ke saku depan tas, hati-hati, supaya tidak terbalik. Aku tidak akan meninggalkan obatnya. Aku tidak sebodoh itu. Aku tidak sedang mencoba berhenti hidup.

Aku hanya mencoba berhenti menjadi beban.

Ke mana, aku tidak tahu. Kebun keluarga Nadia di Pangalengan, mungkin. Nadia pernah bilang ada rumah kosong di sana, rumah mandor lama di tengah kebun kopi. Atau Jakarta. Atau kota lain yang punya rumah sakit dengan unit transplantasi, supaya aku masih bisa kontrol. Aku akan memikirkannya besok. Di jalan.

Pukul tiga kurang sepuluh, tas itu sudah penuh.

Aku menutup resletingnya. Ia tersangkut lagi di bagian karatan. Aku menariknya, pelan, dan resleting itu berbunyi krek yang terdengar sangat keras di kamar yang sunyi.

Aku membeku. Aku menatap dinding yang memisahkan kamarku dari kamar Ibu.

Tidak ada suara. Tidak ada lampu yang menyala di celah bawah pintu kamar Ibu, ketika aku mengintip dari ambang pintu kamarku. Pintu itu tertutup. Gelap.

Aku mengangkat tas itu ke bahu.


Lorong rumah Ibu pendek. Empat langkah dari kamarku ke ruang tamu. Aku sudah berjalan di lorong ini ribuan kali, dari umur enam tahun sampai tiga puluh lima. Aku tahu setiap ubin yang goyang, setiap papan yang berderit.

Aku melangkahinya semua.

Ruang tamu gelap. Hanya lampu jalan dari jendela depan yang masuk, membentuk kotak pucat di lantai. Kursi rotan dengan bantalan batik. Lemari kaca berisi piring Lebaran. Mesin jahit tua di pojok, dengan kain setengah jadi di bawah jarumnya.

Dan di dinding, di atas lemari kaca, foto-foto berbingkai.

Bapak dan Ibu di hari pernikahan, hitam putih. Aku umur enam tahun dengan ikan cupang. Aku umur dua puluh dengan toga kebesaran.

Dan foto keempat. Halaman depan, pohon jambu air, sembilan tahun lalu. Laki-laki dengan tangan di pinggang perempuan berkebaya merah muda, yang tertawa dengan mata tertutup karena Ibu tidak bisa berhenti mengoceh soal lipstiknya.

Aku berhenti di depan foto itu.

Di bawah cahaya lampu jalan, wajah perempuan di foto itu tidak terlalu jelas. Tapi aku tidak perlu melihatnya dengan jelas. Aku sudah melihatnya setiap pagi pukul enam selama tiga bulan terakhir. Aku tahu persis bagaimana ia tertawa dengan mata tertutup.

Aku memalingkan wajah dan berjalan ke pintu depan.


Pintu depan rumah Ibu terbuat dari kayu jati tua, dicat cokelat tua yang sudah mengelupas di bagian bawah. Ada dua kunci: kunci putar di gagang, dan grendel besi di atas, yang hanya dipasang malam hari. Di samping pintu, di dinding, ada gantungan kunci berbentuk ikan, tempat Ibu menggantung kunci motor dan kunci pagar.

Aku berdiri di depan pintu itu.

Tas di bahu. Tangan kanan di grendel besi.

Delapan tahun lalu, aku tidak berdiri di depan pintu ini. Delapan tahun lalu, Salsa yang berjalan keluar, melewati pintu ini, melewati teras, melewati pagar, tanpa menoleh. Aku yang berdiri di ambang pintu dan menatap punggungnya.

Malam ini, aku yang akan berjalan keluar.

Tanganku menarik grendel itu. Pelan. Grendel besi bergeser satu sentimeter, dua sentimeter.

Lalu berhenti.

Tanganku berhenti. Aku tidak memberitahunya untuk berhenti. Ia berhenti sendiri, seperti tangan yang dulu menulis Apa kabar, Sa lalu tidak mau membuang sleeve itu.

Aku berdiri di sana. Tangan di grendel. Napas pendek.

Dan semua itu datang.


Kaleng Khong Guan.

Gambar ibu yang menuang teh di tutupnya. Sleeve-sleeve cokelat di dalamnya, diikat karet gelang per minggu, setiap ikatan diberi secarik kertas dengan tanggal dalam tinta hijau. Salsa mengangkatnya satu per satu ke arah jendela kamar rawat, membaca coretanku di bawah cahaya pagi.

Orang yang lagi kehausan, Van, nggak protes airnya keluar dari keran yang bocor.

Tabungan nikah. Empat puluh tujuh juta tiga ratus ribu. Habis di tahun kedua, untuk dinding kedai yang kusebut punyaku sendiri. Sisanya dari jaga malam. Lima tahun tidak beli baju baru.

Itu uang kita, Van. Aku cuma memakainya untuk rumah yang kamu bangun sendirian.

Tangga darurat RS Kartika. Anak tangga ketiga. Perempuan dua puluh lima tahun yang duduk di sana dan tidak bisa bernapas, karena ia baru saja membaca berkas rekam medis yang menjelaskan kenapa laki-laki yang ia cintai bilang ia tidak cinta.

Map biru. Halaman lima. 7. Aku masih.

Pak Ujang di bangku semen yang retak, di samping kolam ikan keruh.

Kang, aku capek nebak.

Ibu di meja makan, menunjuk dadaku dengan telunjuk.

Mau sampai kapan kamu nyuruh dia bebas?

Pak Hendra di bangku plastik merah, lutut hampir menyentuh dagu.

Kali ini, jangan pergi tanpa bilang alasannya.

Aku melepaskan tanganku dari grendel.

Aku meletakkan telapak tangan itu di perutku. Kanan bawah. Di atas kaus tidur, di atas bekas luka operasi yang memudar, di atas titik kecil bekas jarum biopsi.

Di bawah telapak tanganku, ada ginjalnya. Bekerja. Membaik. Untuk sekarang.

Separuh kamu tinggal di aku.

Aku memikirkan apa yang akan terjadi kalau aku membuka pintu ini.

Salsa akan datang ke Kedai Setengah besok pukul enam. Kursi di depan kursi dekat jendela akan kosong. Kirana akan menyeduh kopinya. Dodi akan menulis namanya di cup. Ia akan menunggu dua puluh menit. Lalu ia akan pergi visite.

Lalu ia akan menelepon. Aku tidak akan mengangkat.

Lalu ia akan datang ke rumah Ibu. Ibu akan menangis di teras.

Lalu ia akan tahu.

Dan ia akan mulai menghitung lagi. Hari ke-1. Di halaman terakhir buku catatan yang baru. Dengan pulpen hijau.

Ia akan mencariku. Aku tahu ia akan mencariku. Ia akan menemukanku, karena ia selalu menemukanku. Lewat Sus Tini. Lewat perawat unit transplantasi di kota mana pun aku kontrol. Lewat Nadia, yang tidak akan bisa berbohong padanya setelah makan siang di Warung Padang Uni Ros. Ia akan menemukanku, dan ia akan berdiri di balik ambulans, atau di gerbang rumah sakit, atau di depan pintu rumah mandor di tengah kebun kopi Pangalengan.

Dan ia tidak akan masuk. Karena ia tahu aku akan lari lagi.

Ia akan menunggu. Delapan tahun lagi, mungkin. Sambil menjaga ginjalnya di tubuhku dari jauh. Sambil membayar sesuatu, entah apa, diam-diam. Sambil tidak beli baju baru.

Aku tidak sedang membebaskannya.

Aku sedang menghukumnya lagi. Dengan cara yang sama. Untuk kesalahan yang tidak pernah ia buat.


Aku tidak tahu berapa lama aku berdiri di sana.

Lampu jalan di luar jendela berkedip sekali. Jam dinding di dapur berdetak. Di kejauhan, ada suara motor lewat di jalan besar.

Lalu, dari teras, sesuatu jatuh.

PRANG.

Suara pot tanah liat menghantam ubin. Keras. Sangat keras di tengah kesunyian pukul tiga pagi.

Aku melompat mundur dari pintu. Tas di bahuku menghantam lemari kaca. Piring-piring Lebaran di dalamnya berdenting. Jantungku memukul tulang rusuk seperti palu, dan aku hampir menjerit, hampir, suaranya sudah sampai di tenggorokan, dan aku menelannya dengan sangat terpaksa sampai mataku berair.

Dari balik jendela depan, di bawah cahaya lampu jalan, seekor kucing belang oranye berlari melintasi halaman dengan ekor tegak. Ia melompat ke atas pagar besi rendah, menoleh ke arah jendela, menatapku dengan mata kuning yang berkilat.

Lalu ia mengeong. Satu kali. Panjang. Dengan nada yang sangat mirip protes.

Lalu ia melompat ke sisi lain pagar dan hilang.

Kucing Bu RT. Si Oyen. Yang setiap malam berburu cicak di pot-pot tanaman Ibu, dan yang sudah tiga kali memecahkan pot lidah mertua.

Aku berdiri di tengah ruang tamu dengan tas di bahu, dada naik turun, tangan masih menekan dada, menatap pagar kosong tempat si Oyen baru saja menghilang.

Lalu aku tertawa.

Pelan. Sangat pelan, supaya tidak membangunkan Ibu. Tawa kecil yang keluar dari hidung dan tidak bisa dihentikan. Tawa orang yang baru saja hampir menjerit karena kucing, pukul tiga pagi, dengan tas berisi obat dan kaus dan selimut tipis dari RS Kartika, di depan pintu yang tidak jadi ia buka.

Aku tertawa sampai harus duduk di kursi rotan.

Lalu aku berhenti tertawa. Dan aku duduk di sana, di kursi rotan dengan bantalan batik, di bawah foto lamaran yang tidak pernah diturunkan, dengan tas ransel hitam di pangkuan.

Dan aku menangis.


Aku membuka resleting tas itu.

Pelan. Ia tersangkut di bagian karatan. Aku menariknya, dan ia berbunyi krek, dan aku tidak peduli lagi apakah bunyinya membangunkan seseorang.

Aku mengeluarkan semuanya. Dua kaus. Satu celana. Kemeja abu-abu lengan panjang. Sikat gigi. Charger ponsel. Kotak obat dengan sekat-sekat dan label tinta hijau.

Selimut tipis dari RS Kartika. Buku tulis berisi catatan berat badan. Botol minum kecil dengan garis spidol.

Aku menjajarkan semuanya di atas meja tamu. Satu per satu. Sejajar. Sudut ketemu sudut.

Aku tidak tahu harus melakukan apa dengan tanganku. Jadi aku merapikan.

Lalu aku membawa semuanya kembali ke kamar. Kaus ke lemari. Celana ke lemari. Kemeja abu-abu lengan panjang ke gantungan paling belakang, di balik kaus hitam lengan pendek. Sikat gigi ke kamar mandi. Charger ke stopkontak. Kotak obat ke meja di samping kasur, di tempat yang bisa kulihat pukul delapan pagi ketika alarm Dodi berbunyi.

Selimut tipis dan buku tulis dan botol minum kecil, aku masukkan kembali ke tas ransel hitam. Lalu aku memasukkan tas itu ke rak paling bawah lemari, di belakang tumpukan kaus lama.

Lalu aku berhenti. Aku mengeluarkan tas itu lagi.

Aku mengeluarkan botol minum kecil dari dalamnya. Botol plastik dengan garis spidol hitam. Dua ratus mililiter.

Aku membawanya ke dapur. Aku membuka tempat sampah di bawah wastafel.

Aku menatap botol itu lama sekali.

Lalu aku membuangnya.


Pukul tiga lewat empat puluh, aku berbaring kembali di kasur.

Langit-langit kamarku sama. Retakan kecil di sudut dekat jendela, bentuknya seperti petir. Aku sudah menatapnya sejak SMA.

Aku meletakkan telapak tangan di perut kanan bawah. Di atas ginjalnya.

Aku nggak ke mana-mana.

Aku tidak mengucapkannya. Aku hanya memikirkannya, sangat jelas, kata demi kata, seperti menulis di sleeve dengan pulpen hijau tanpa mencoretnya.

Aku nggak ke mana-mana, Sa.

Ponselku di bawah bantal. Aku mengeluarkannya. Pesan terakhir darinya, pukul dua lewat sebelas.

Ya udah. Tidur yang nyenyak. Besok jam enam.

Aku mengetik balasan. Lalu menghapusnya. Lalu mengetik lagi. Lalu menghapusnya lagi. Aku tidak tahu harus menulis apa pukul tiga pagi pada perempuan yang hampir kutinggalkan untuk kedua kalinya, dan yang tidak tahu.

Aku meletakkan ponsel di atas dada dan menatap langit-langit.

Besok, aku harus bilang padanya. Pak Hendra sudah membuatku berjanji. Kamu boleh takut. Kamu boleh mikir mau pergi. Tapi kamu bilang.

Aku hampir pergi. Aku harus bilang.

Aku tidak tahu caranya. Tapi aku harus.

Di luar jendela, langit masih hitam. Lampu jalan berkedip. Di kejauhan, si Oyen mengeong sekali lagi dari atap rumah tetangga, panjang, dengan nada protes.

Aku memejamkan mata.

Aku tidak tahu bahwa di sisi lain kota, di ruang jaga lantai empat RS Mitra Harapan, ada seseorang yang juga belum tidur.