← Gula Setengah Sendok

Chapter Twenty Eight

Pegangan Tangan Itu Susah

POV: Irvan


Percobaan pertama terjadi hari Rabu, di meja kasir Kedai Setengah, pukul enam lewat tiga.

Salsa membayar kopinya dengan uang pas. Ia meletakkan uang itu di meja kasir. Tangannya masih di atas uang itu, jari-jarinya terbuka, menunggu kembalian yang tidak ada.

Aku melihat kesempatan.

Aku melangkah dari balik mesin espresso ke meja kasir. Aku mengulurkan tangan, pelan, ke arah tangannya yang terbuka di atas uang pas.

“MAS!” Dodi menjerit tepat di telingaku. “MAS, SUSUNYA MELUAP!”

Aku menoleh. Steam wand mendesis. Susu di pitcher yang kutinggalkan meluap ke meja bar, putih, berbusa, mengalir ke lantai.

Ketika aku menoleh kembali, Salsa sudah berjalan ke kursi dekat jendela.


Percobaan kedua terjadi hari Kamis, di trotoar depan gerbang RS Mitra Harapan, pukul enam dua puluh.

Aku mengantarnya menyeberang jalan. Itu ide baruku, sejak hari Selasa. Setiap pagi, setelah ia menghabiskan kopinya, aku melepas celemek, menyerahkan bar pada Kirana, dan berjalan bersamanya ke gerbang rumah sakit. Dua puluh meter. Satu penyeberangan zebra. Satu menit, kalau lampu pejalan kaki hijau.

Aku sudah merencanakannya. Di tengah penyeberangan zebra, ketika lampu masih hijau dan tidak ada mobil, aku akan meraih tangannya. Supaya aman. Supaya tidak tertabrak. Alasan yang sangat masuk akal.

Kami berjalan. Kami sampai di tengah zebra. Aku mengulurkan tangan.

“Pagi, Bu Dokter! Pagi, Mas Irvan!”

Pak Ujang. Berdiri tegak di depan pos satpam, di ujung zebra, memberi hormat dengan tangan kanan di pelipis, seperti komandan upacara tujuh belasan.

Salsa, refleks, mengangkat tangan kanannya dan membalas hormat itu.

Tangan yang tadi akan kuraih sekarang menempel di pelipisnya.

Aku menurunkan tanganku. Salsa menurunkan tangannya. Pak Ujang menatap kami berdua dengan wajah yang sangat puas dengan dirinya sendiri, tidak sadar sama sekali apa yang baru saja ia gagalkan.


Percobaan ketiga, keempat, dan kelima terjadi selama akhir pekan, dan semuanya gagal dengan cara yang semakin tidak masuk akal.

Sabtu sore, di bioskop di Jalan Braga. Salsa memilih film tentang dokter bedah, dan ia menghabiskan dua jam mengkritik setiap adegan operasi dengan bisikan yang terlalu keras. Aku menunggu adegan sedih. Di adegan sedih, aku menurunkan tanganku dari sandaran kursi ke arah tangannya. Tanganku mendarat di kotak popcorn. Ia sedang meraih popcorn juga. Jari-jari kami bertemu di dalam kotak, di antara butir-butir jagung berlapis mentega, dan ia menarik tangannya sambil berbisik, maaf, kamu mau popcorn?, lalu menyodorkan seluruh kotak padaku.

Minggu siang, di rumah Ibu. Salsa datang membawa rantang dari Mama, berisi rendang tanpa garam yang rasanya, kata Salsa, kayak rendang yang lagi bertapa. Aku menunggunya di teras. Ketika ia membuka pagar, aku mengulurkan tangan untuk menyambutnya.

Ibu muncul dari belakangku dan menyerahkan rantang lain ke tangan Salsa, rantang kosong yang harus dibawa pulang. Sekarang Salsa memegang dua rantang, satu di setiap tangan, dan tidak ada tangan yang tersisa untukku.

Minggu malam, di Brio merah marun, dalam perjalanan pulang. Ia menyetir. Aku duduk di kursi penumpang. Tangannya di persneling, di antara kami. Aku memberanikan diri, meletakkan tanganku di atas tangannya di persneling.

Ia menginjak kopling, dan memindahkan gigi, dan tanganku ikut terseret dari gigi dua ke gigi tiga.

“Van,” katanya tanpa menoleh. “Tanganmu ngeganggu transmisi.”

Aku menarik tanganku.


Hari Senin, di dapur Kedai Setengah, aku menemukan papan.

Papan tulis menu, yang biasanya berisi Es Kopi Gula Aren dan Croissant Mentega dan, minggu ini, menu baru Jahe yang Udah Dimaafin, sudah dihapus seluruhnya dan diganti dengan sesuatu yang lain.

Sebuah diagram alur.

Kotak-kotak persegi, digambar dengan spidol hitam dan dihubungkan dengan panah-panah. Judulnya ditulis di bagian atas dengan huruf kapital besar, digarisbawahi dua kali:

PROPOSAL STRATEGI PEGANGAN TANGAN MAS IRVAN (Disusun oleh Tim Kedai Setengah)

Kotak pertama: Mulai.

Panah ke kotak kedua: Apakah ada Pak Ujang dalam radius 20 meter?

Dua panah keluar dari kotak itu. Panah Ya menuju kotak bertuliskan Batalkan. Ulangi besok. Panah Tidak menuju kotak berikutnya: Apakah Bu Dokter sedang memegang sesuatu? (Rantang, popcorn, persneling, map pasien, cup kopi).

Dari sana, diagram itu bercabang ke tujuh arah. Ada kotak Apakah Mas Irvan sedang memegang pitcher susu? Ada kotak Apakah ada Dodi di sekitar? Jika ya, suruh Dodi ke gudang. Ada kotak Apakah sedang hujan? Jika ya, lanjut ke Skenario Payung (lihat lampiran B).

Di bagian paling bawah, setelah semua panah dan kotak dan cabang, ada satu kotak besar yang digambar dengan spidol merah, dilingkari tiga kali:

PEGANG AJA, MAS.

Dodi berdiri di samping papan itu dengan penunjuk laser yang aku tidak tahu ia dapat dari mana. Kirana berdiri di belakangnya, tangan dilipat di dada, wajah datar.

“Mas,” kata Dodi dengan sangat serius. “Kami udah analisis.”

“Kalian nggak kerja?”

“Ini kerja, Mas. Ini investasi masa depan kedai.” Dodi menyorotkan laser ke kotak pertama. “Kami udah catat semua kegagalan Mas minggu ini. Lima percobaan. Lima kegagalan. Faktor penghambat utama: Pak Ujang, Ibu, popcorn, transmisi manual, dan saya.” Ia menunduk sedikit. “Saya minta maaf soal susu meluap, Mas. Itu bukan sabotase. Saya beneran panik.”

“Kamu tahu dari mana soal popcorn?”

“Bu Dokter cerita ke Kirana.”

Aku menatap Kirana. Kirana menatap papan.

“Bu Dokter juga ngitung, Mas,” kata Kirana datar. “Dia bilang lima. Sama kayak hitungan kami.”

Aku tidak bisa menjawab.

“Lampiran B, Mas.” Dodi menyorotkan laser ke kertas yang ditempel di samping papan dengan selotip. “Skenario Payung. Probabilitas keberhasilan paling tinggi, menurut analisis Kirana. Kalau hujan, Bu Dokter pasti pakai payung. Payungnya pasti dipegang satu tangan. Tangan yang lain bebas. Mas tinggal...”

“Dod.”

“Mas tinggal pegang yang bebas.”

“Dod, aku tiga puluh lima tahun.”

“Saya tahu, Mas. Lilinnya lima puluh tiga.” Dodi menurunkan laser. “Tapi Mas, dengan segala hormat, Mas tiga puluh lima tahun yang nggak bisa pegang tangan cewek.”

Di belakangnya, Kirana mengeluarkan suara kecil. Sangat kecil. Yang sangat mirip tawa yang ditahan.


Selasa siang, Nadia datang mengantar biji kopi, bersama Gilang.

Ia membaca diagram alur di papan selama tiga menit penuh, dari atas sampai bawah, mengikuti setiap panah dengan jari. Lalu ia menatapku.

“Van,” katanya. “Kamu butuh diagram buat pegangan tangan?”

“Aku nggak minta. Dodi yang bikin.”

“Lima kali gagal?”

“Dodi juga yang ngitung.”

Nadia menatapku lama. Lalu ia menoleh pada Gilang, yang sedang mempelajari diagram itu dengan wajah seorang polisi yang sedang membaca peta rute kemacetan.

“Lang,” kata Nadia. “Kasih nasihat.”

Gilang tidak langsung menjawab. Ia mengetuk kotak Apakah ada Pak Ujang dalam radius 20 meter? dengan ujung jari.

“Mas Irvan,” katanya akhirnya. “Pegangan tangan tanpa izin itu secara prinsip pelanggaran.”

“Lang!”

“Tapi,” lanjut Gilang dengan suara datar yang sama, “dalam praktik lapangan, kalau pihak yang dipegang tersenyum, izin dianggap terbit secara otomatis.” Ia menatapku. “Mas cuma perlu cek senyumnya.”

Nadia menatap tunangannya dengan wajah tidak percaya.

“Kamu dapat itu dari mana?”

“Pengalaman pribadi,” kata Gilang. “Lampu merah Pasteur. Tahun lalu. Kamu senyum.”

Nadia membuka mulut, lalu menutupnya. Wajahnya merah. Lalu ia memukul lengan Gilang, dan Gilang tidak bergeming sedikit pun.


Selasa sore, hujan.

Bukan gerimis. Hujan Bandung yang serius, yang turun pukul empat dan tidak berhenti, yang membuat jalan di depan rumah sakit menjadi sungai kecil dan tukang parkir berteduh di bawah spanduk toko obat.

Aku tidak merencanakannya. Aku tidak ingat lampiran B. Aku hanya tahu bahwa Salsa selesai jaga poli pukul lima, dan setiap hari, sejak minggu lalu, aku menunggunya di gerbang rumah sakit untuk mengantarnya ke parkiran.

Pukul lima lewat lima, aku berdiri di bawah atap pos satpam, memegang payung kedai warna hitam. Pak Ujang sudah pulang. Satpam shift sore tidak mengenalku dan tidak memberi hormat.

Pukul lima lewat sepuluh, ia keluar dari lobi.

Ia memakai jas dokter di atas kemeja hijau muda. Ia membawa payung lipat hijau tua, yang ia beli setelah payung lamanya patah di malam croissant. Ia membuka payung itu di bawah atap lobi, lalu melihatku di pos satpam, lalu berjalan ke arahku dengan langkah pendek-pendek.

“Kamu nunggu di sini dari tadi?”

“Dari jam lima.”

“Kamu pasien transplantasi, Van. Nggak boleh kehujanan.”

“Aku di bawah atap.”

“Kakimu basah.”

Aku menunduk. Kakiku memang basah. Tempias hujan masuk dari samping.

Salsa menghela napas panjang, napas dokter yang sedang kehilangan kesabaran pada pasien keras kepala. Lalu ia melangkah ke sampingku dan mengangkat payung hijau tuanya tinggi-tinggi, menutupi kami berdua.

Payung itu kecil. Payung lipat untuk satu orang. Untuk menutupi kami berdua, ia harus berdiri sangat dekat. Bahunya menempel di lenganku.

“Payung kamu tutup aja,” katanya. “Kita pakai satu.”

Aku menutup payung hitam kedai.

Kami berjalan keluar dari bawah atap pos satpam, ke trotoar, ke arah parkiran rumah sakit di sisi timur gedung. Hujan menghantam payung hijau tua di atas kepala kami, keras, seperti ribuan jari mengetuk minta masuk. Air mengalir di trotoar, membasahi sepatu kami berdua.

Tangan kanannya memegang gagang payung. Tinggi, karena aku lebih tinggi darinya dan ia harus mengangkatnya supaya tidak menabrak kepalaku.

Tangan kirinya bebas. Berayun di samping tubuhnya. Di antara kami. Dua puluh sentimeter dari tangan kananku.

Mungkin kurang.

Aku tidak memikirkan diagram alur. Aku tidak memikirkan Pak Ujang dalam radius dua puluh meter. Aku tidak memikirkan apa pun.

Aku hanya meraih tangannya.

Jari-jariku menemukan jari-jarinya di bawah hujan. Dingin, basah. Tangannya selalu dingin. Aku menyelipkan jari-jariku di antara jari-jarinya, pelan, satu per satu, sampai telapak tangan kami bertemu.

Salsa berhenti berjalan.

Kami berdiri di trotoar di depan rumah sakit, di bawah payung hijau tua yang terlalu kecil, dengan hujan menghantam dari atas dan air mengalir di kaki. Ia tidak menoleh padaku. Ia menatap lurus ke depan, ke arah parkiran.

Aku menatap wajahnya dari samping.

Mas cuma perlu cek senyumnya.

Sudut bibirnya bergerak.

Lalu, pelan, jari-jarinya menutup. Menggenggam tanganku balik. Erat.

Kami berjalan lagi.

Parkiran rumah sakit dua ratus meter dari gerbang. Kami berjalan dua ratus meter itu dengan sangat pelan. Lebih pelan dari langkah pendek-pendeknya yang biasa. Lebih pelan dari langkahku yang masih hati-hati karena luka operasi. Kami berjalan seperti orang yang sedang berusaha tidak sampai.

Kami sampai di Brio merah marun.

Ia tidak melepaskan tanganku. Aku juga tidak.

Kami berdiri di samping mobil, di bawah payung, dengan hujan yang tidak berhenti. Ia butuh dua tangan untuk membuka kunci dan melipat payung dan masuk ke mobil. Ia hanya punya satu tangan bebas, karena tangan yang satu lagi sedang kugenggam.

Ia tidak bergerak untuk membuka kunci.

“Van,” katanya pelan.

“Hm.”

“Aku harus nyetir.”

“Iya.”

“Aku butuh dua tangan buat nyetir.”

“Iya.”

Ia tidak melepaskan tanganku. Aku juga tidak.

Kami berdiri di sana sampai hujan mulai reda, sampai langit di barat berubah dari abu-abu ke jingga pucat, sampai satpam shift sore lewat dengan senter dan menatap kami dengan wajah bingung dan memutuskan untuk tidak bertanya.

Akhirnya ia melepaskan tanganku. Pelan, jari demi jari, seperti seseorang yang melepas sesuatu dengan sangat terpaksa. Ia membuka kunci mobil. Ia melipat payung. Ia masuk ke kursi pengemudi.

Lalu ia menurunkan jendela.

Ia menatapku dari balik jendela. Rambutnya basah di beberapa tempat, helai yang lolos di pelipis kiri menempel di pipinya. Wajahnya merah. Bukan karena dingin.

“Besok jam enam,” katanya. “Aku mau ngomong sesuatu.”