← Gula Setengah Sendok

Chapter Nineteen

Tabungan Nikah

POV: Salsa


Ia menutup telepon tanpa mengucapkan terima kasih pada Mbak Kirana.

Itu yang pertama kali kuperhatikan. Laki-laki yang delapan tahun lalu selalu mengucapkan terima kasih bahkan pada mesin ATM, menutup telepon dengan jempol yang gemetar, lalu meletakkan ponselnya di atas selimut, dan menatapku.

Tidak marah. Belum. Ia menatapku seperti seseorang yang baru saja menginjak anak tangga yang ternyata tidak ada.

“Sa,” katanya.

Aku menatap kaleng Khong Guan di pangkuanku. Gambar ibu yang menuang teh. Aku sudah menatap gambar itu ribuan kali di meja kamar kos, di malam-malam ketika aku tidak bisa tidur dan membuka kaleng ini hanya untuk menghitung isinya.

“Ruko itu punya Om Haris,” kataku. “Adiknya Mama.”


Om Haris punya tiga ruko di Bandung. Dua disewakan untuk toko emas di Pasar Baru. Yang ketiga, ruko dua lantai di depan RS Mitra Harapan, kosong hampir setahun karena Om Haris terlalu malas mengurus penyewa baru dan terlalu kaya untuk peduli.

Aku tahu ruko itu kosong karena aku melewatinya setiap hari. Di tahun ketiga, aku sudah menjadi residen penyakit dalam di RS Mitra Harapan. Aku berjalan dari kos ke gerbang rumah sakit setiap pagi, dan setiap pagi aku melewati ruko kosong dengan rolling door berkarat dan spanduk DISEWAKAN yang sudah pudar dimakan hujan.

Dan di tahun ketiga juga, aku masih punya satu sumber di RS Kartika.

“Sus Tini,” kataku. “Perawat HD di sana. Yang bilang kamu anak baik dan disiplin, yang bilang kamu dulu mau nikah terus batal. Aku temenan sama dia. Aku traktir dia bakso tiap bulan selama dua tahun.”

Ia menatapku tanpa berkedip.

“Bukan buat nanya-nanya,” kataku cepat. “Aku cuma... aku cuma mau tahu kamu masih datang. Masih duduk di kursi empat. Itu aja. Sus Tini nggak pernah cerita apa-apa yang rahasia. Dia cuma bilang, Mas Irvan sehat, Dok. Atau Mas Irvan agak bengkak minggu ini.” Aku menunduk. “Kadang aku pengin dia cerita lebih. Tapi aku nggak pernah nanya lebih.”

Di tahun ketiga, di bulan Februari, Sus Tini cerita sesuatu yang lain.

Mas Irvan berhenti kerja di Dago, Dok. Jadwal cuci darahnya bentrok terus. Katanya dia mau buka kedai sendiri. Tapi dia cari-cari tempat dari tahun lalu, nggak dapet-dapet. Sewa ruko mahal. Duitnya habis buat berobat.

Aku makan bakso itu sampai habis. Aku mengucapkan terima kasih pada Sus Tini. Lalu aku pulang, dan aku duduk di meja kamar kos, dan aku membuka aplikasi bank di ponselku.

Di daftar rekening, di bawah rekening gaji residen yang isinya cukup untuk makan dan bayar kos dan beli buku, ada rekening lain.

Tabungan Nikah Irvan-Salsa.


“Kamu nggak pernah nutup rekening itu,” kataku.

Di ranjang, ia memejamkan mata.

“Aku juga nggak,” kataku. “Aku nggak sanggup. Aku buka aplikasinya tiap bulan, lihat namanya, terus aku tutup lagi. Isinya nggak pernah berubah. Kamu nggak pernah ambil. Aku nggak pernah ambil.”

Tiga tahun kami mengisinya berdua. Setiap tanggal satu, setelah gajian, kami pergi ke ATM yang sama di depan minimarket dekat kos, dan kami bergantian memasukkan uang. Ia tiga ratus ribu, aku tiga ratus ribu. Kadang lebih, kalau ia dapat tip besar atau aku dapat honor jaga tambahan. Kami menyebutnya celengan gedung, karena katanya cukup untuk sewa gedung kecil, katering dua ratus porsi, dan kebaya yang dijahit Ibu.

Empat puluh tujuh juta tiga ratus ribu rupiah.

Aku masih ingat angkanya. Aku tidak pernah lupa angka.


Aku menelepon Om Haris malam itu juga.

“Om,” kataku. “Ruko yang di depan Mitra Harapan. Masih kosong?”

“Masih, Sal. Kenapa? Kamu mau buka praktek?”

“Ada teman yang mau sewa. Buat kedai kopi.”

“Oh, bagus! Suruh dia telepon Om.”

“Om,” kataku. “Satu syarat. Om jangan bilang saya yang kasih tahu. Om bilang aja Om dapat nomornya dari agen. Terus Om sewain ke dia murah.”

Om Haris diam di seberang. “Murah berapa?”

Aku menyebut angka. Angka yang sudah kuhitung, berdasarkan cerita Sus Tini tentang tempat-tempat yang pernah ia tawar dan gagal. Angka yang cukup murah untuk laki-laki yang uangnya habis untuk berobat, tapi tidak terlalu murah sampai ia curiga.

Om Haris tertawa. “Sal. Itu sepertiga harga pasaran. Om rugi.”

“Selisihnya saya yang bayar.”

Om Haris berhenti tertawa.

“Kamu residen, Sal. Gaji residen berapa?”

“Saya punya tabungan, Om.”

“Tabungan apa?”

Aku menatap layar ponselku. Tiga kata di daftar rekening. Nama dua orang yang tidak jadi menikah.

“Tabungan investasi,” kataku.


“Om Haris sampai sekarang ngira aku investasi aneh,” kataku. “Tiap Lebaran dia nanya, Sal, investasi kedai kopimu itu untungnya di mana? Om lihat kamu bayar terus, nggak pernah terima apa-apa.”

Aku tertawa kecil. Ia tidak tertawa.

“Aku cuma bilang, Untungnya nanti, Om.” Aku mengusap tutup kaleng dengan ibu jari. “Om Haris geleng-geleng kepala. Katanya generasi sekarang aneh-aneh.”

“Berapa,” kata Irvan.

Suaranya datar. Sangat datar.

“Van...”

“Berapa, Sa. Selisihnya. Lima tahun.”

Aku menatapnya. Lalu, karena aku tidak pernah bisa berbohong padanya tentang angka, aku menjawab.

“Tabungan nikah habis di tahun kedua,” kataku. “Sisanya dari honor jaga malam.”

Ia memejamkan mata lagi.

Aku tidak bilang bahwa di tahun ketiga dan keempat residensi, aku mengambil jaga malam dua kali lebih banyak dari residen lain. Aku tidak bilang bahwa teman-temanku mengira aku ambisius, mengira aku sedang mengejar posisi chief resident. Aku tidak bilang bahwa aku tidak pernah liburan selama lima tahun, tidak pernah beli baju baru selain seragam, tidak pernah makan di tempat yang harganya lebih dari tiga puluh ribu kecuali ditraktir.

Aku tidak bilang semua itu, karena aku tahu wajahnya akan berubah seperti apa kalau aku mengatakannya. Dan aku tidak tahan melihat wajah itu.

“Kenapa,” katanya. Masih dengan mata terpejam.

“Karena kamu butuh tempat, Van.”

“Aku bisa cari sendiri.”

“Kamu udah cari setahun. Sus Tini bilang kamu udah setahun.”

“Aku bisa cari setahun lagi.”

“Dengan tubuh yang empat setengah jam dua kali seminggu disambung ke mesin?” Suaraku naik sedikit. Aku menariknya turun. “Dengan tabungan yang habis buat bayar obat yang nggak ditanggung BPJS? Dengan Ibu yang jahit sampai jam dua pagi buat bantu bayar listrik?”

Ia membuka mata. Ia menatapku.

“Kamu tahu soal Ibu juga?”

“Sus Tini,” kataku. “Ibu pernah datang nemenin kamu cuci darah, terus Ibu cerita ke Sus Tini sambil nunggu. Ibu cerita banyak. Ibu nggak tahu Sus Tini temenan sama aku.”


Aku tidak bilang bagian yang paling buruk.

Bagian yang paling buruk adalah bahwa ruko itu, ruko dua lantai di depan RS Mitra Harapan, bukan cuma tempat yang murah. Ruko itu juga tempat yang dekat. Dekat dengan rumah sakit tempat aku bekerja. Dekat dengan unit hemodialisis lantai dua, yang lebih bagus dan lebih lengkap dari unit enam kursi di RS Kartika, dan yang punya slot kosong di Selasa dan Jumat pagi.

Aku tidak menyuruhnya pindah. Aku bersumpah aku tidak menyuruhnya pindah. Aku tidak bilang pada Sus Tini, aku tidak bilang pada siapa pun.

Tapi aku tahu, ketika aku menyebut angka pada Om Haris malam itu, bahwa laki-laki yang tidak kuat naik motor jauh-jauh setelah cuci darah, yang membuka kedai di depan rumah sakit yang lebih bagus, kemungkinan besar akan pindah ke rumah sakit itu.

Dan aku benar. Tiga bulan setelah Kedai Setengah buka, namanya muncul di papan jadwal unit hemodialisis RS Mitra Harapan. Kursi 7 – Tn. Irvan – Selasa/Jumat.

Aku melihatnya dari koridor, dari jarak sepuluh meter, dengan map pasien di dada. Lalu aku berjalan ke lift, dan aku tidak pernah lagi naik ke lantai dua kecuali ada konsul darurat, karena aku takut kalau aku terlalu sering lewat, ia akan melihatku.

Lima tahun aku bekerja di gedung yang sama dengannya. Lima tahun aku mengatur jadwal visite supaya tidak pernah berpapasan dengannya di tangga. Lima tahun aku melihat papan nama Kedai Setengah dari jendela ruang jaga lantai empat.

Aku tidak masuk ke kedainya sekali pun. Sampai enam minggu lalu.


Ponselku berdering di saku jas.

Aku melirik layarnya. Om Haris.

Aku mematikan deringnya. Ponsel berdering lagi. Om Haris. Aku tahu Om Haris. Om Haris akan menelepon sepuluh kali kalau aku tidak mengangkat.

“Angkat aja,” kata Irvan.

Aku mengangkatnya.

“Sal!” Suara Om Haris keras, terlalu keras, ia selalu bicara di telepon seperti sedang berteriak dari seberang sungai. “Sal, Om dapat telepon dari Mbak yang kerja di kedai kopi itu! Penyewa ruko Om masuk rumah sakit? Kok bisa? Terus kontraknya gimana? Bulan depan habis, lho! Mau diperpanjang?”

“Iya, Om. Diperpanjang.”

“Kamu masih mau bayar selisihnya?”

Aku melirik Irvan. Ia sedang menatap langit-langit, rahangnya mengeras.

“Iya, Om.”

“Sal, Om nggak ngerti investasi kamu ini.” Om Haris menghela napas panjang dan berisik, seperti kompresor. “Lima tahun, Sal. Lima tahun kamu bayar. Om udah tanya ke Tante, Tante juga nggak ngerti. Om udah tanya ke anak Om yang kuliah bisnis, dia juga nggak ngerti. Untungnya di mana, Sal?”

Aku menatap laki-laki di ranjang. Selang oksigen di hidungnya. Perban di lengan kirinya. Wajah pucat yang delapan tahun lalu menatapku di teras rumah Ibu dan bilang ia tidak cinta aku sebanyak yang kukira.

“Untungnya dia masih hidup, Om,” kataku.

Om Haris diam.

Lama sekali diamnya. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, Om Haris tidak punya kalimat.

“Oh,” kata Om Haris akhirnya. Pelan. Sangat pelan untuk ukuran Om Haris. “Oh. Gitu, Sal.”

“Iya, Om.”

“Ya udah. Om perpanjang. Om...” Om Haris berdeham. “Om kasih diskon, deh. Selisihnya Om tanggung setengah. Jangan bilang Tante.”

Ia menutup telepon.


Aku meletakkan ponsel di pangkuan, di atas kaleng Khong Guan.

Kamar sunyi. Kakek di ranjang sebelah berhenti mendengkur sebentar, lalu mulai lagi. Di luar jendela, matahari pukul sebelas membuat atap-atap ruko di seberang jalan berkilau, termasuk atap ruko dua lantai dengan papan nama kayu yang dicat tangan.

“Sa,” kata Irvan.

Aku menunggu.

“Lima tahun,” katanya. “Lima tahun aku bangga sama kedai itu. Aku bilang ke Ibu, aku bilang ke Nadia, aku bilang ke diriku sendiri tiap pagi: ini punyaku. Aku yang bangun ini. Sendirian. Pakai tanganku sendiri.” Suaranya bergetar. “Aku sakit, aku nggak bisa nikah, aku nggak bisa punya anak, aku nggak bisa apa-apa. Tapi seenggaknya kedai itu punyaku.”

Aku tidak menjawab.

“Ternyata nggak,” katanya.

“Itu punya kamu, Van.”

“Ruko itu dibayar pakai uang tabungan nikah kita. Dibayar pakai jaga malam kamu.”

“Ruko itu, iya.” Aku mencondongkan badan ke depan. “Tapi kedainya punya kamu. Mesin espresso yang kamu cicil dua tahun. Biji kopi yang kamu pilih sendiri dari kebunnya Mbak Nadia. Dodi yang kamu ajarin latte art walaupun jadinya angsa. Kirana yang kamu gaji di atas UMR walaupun kamu sendiri makan mi instan...”

“Aku nggak makan mi instan.”

“Minggu ini kamu makan mi instan.”

Ia diam.

“Pelanggan yang kamu hafal pesanannya,” lanjutku. “Pak Ujang. Sus Mira. Ibu-ibu yang suaminya di bangsal tiga. Itu semua kamu, Van. Bukan aku. Aku cuma bayar dinding.”

Aku menatap papan nama di seberang jalan.

“Itu uang kita, Van,” kataku. “Aku cuma memakainya untuk rumah yang kamu bangun sendirian.”

Ia memalingkan wajah ke dinding.

Lalu, dengan suara yang hampir tidak terdengar, ia berkata, “Aku butuh sendiri dulu, Sa.”

Aku tidak membantah.

Aku berdiri. Aku meletakkan kaleng Khong Guan di meja samping ranjang, di samping cup kopi Dodi yang tidak boleh diminum dengan sleeve bertuliskan CEPAT SEMBUH MAS IRVAN. Aku membetulkan selang oksigennya sekali, tanpa menyentuh wajahnya. Lalu aku berjalan ke pintu.

Ia tidak menoleh.


Koridor lantai tiga terang benderang. Troli obat lewat. Seorang keluarga pasien tertidur di kursi plastik dengan kepala bersandar di dinding, persis seperti aku semalam.

Aku berdiri di samping pintu kamarnya, bersandar di tembok yang dingin, dan menghitung napasku sendiri. Empat hitungan masuk. Tujuh hitungan tahan. Delapan hitungan keluar. Teknik yang kuajarkan pada pasien yang panik sebelum tindakan.

Ponselku bergetar di saku jas.

Bukan Om Haris. Bukan Mama. Nomor ekstensi rumah sakit, lantai satu.

Laboratorium Imunologi RSMH

Aku membuka pesannya.

Selamat siang dr. Salsabila. Hasil uji silang final (crossmatch) atas nama dr. Salsabila Harin sudah keluar dan dapat diambil di lab imunologi lantai 1. Terima kasih.

Aku menatap pesan itu lama sekali.

Tiga bulan aku menunggu pesan ini. Tiga bulan pemeriksaan darah, CT scan, tes urin dua puluh empat jam, konsultasi psikolog, wawancara dengan komite etik. Tiga bulan aku berbohong pada Mama bahwa aku sedang ikut penelitian. Tiga bulan aku menjalani semuanya diam-diam, karena aku tahu kalau ia tahu, ia akan lari lagi.

Aku menoleh ke pintu kamarnya. Pintu itu tertutup.

Di baliknya, laki-laki yang butuh sendiri sedang menatap dinding.

Aku memasukkan ponsel ke saku. Lalu aku berjalan ke lift, turun ke lantai satu, menuju laboratorium imunologi, dengan langkah pendek-pendek yang terburu-buru, seolah-olah aku selalu terlambat ke sesuatu.

Karena memang begitu. Aku sudah terlambat delapan tahun.