← Gula Setengah Sendok

Chapter Seven

Hal yang Tidak Diketahui Orang Asing

POV: Irvan


Salsabila Harin adalah dokter spesialis penyakit dalam yang sedang menempuh pendidikan konsultan ginjal.

Itu yang kuulang-ulang dalam kepala sepanjang hari Sabtu, Minggu, dan Senin. Di antara pesanan latte dan americano, di antara menghitung kembalian dan membersihkan steam wand, di antara Dodi yang bercerita tentang mimpinya dikejar angsa latte art.

Ia sudah melihat ribuan lengan seperti lenganku. Ia mungkin sudah memeriksa ratusan fistula. Ia tahu persis apa artinya tali kebiruan berkelok di bagian dalam lengan bawah, dengan dua plester bulat dan bekas tusukan bertahun-tahun di sekitarnya.

Tidak ada satu orang pun di dunia ini yang lebih tahu artinya selain dia.

Dan ia memalingkan wajah.

Ia tidak bertanya. Ia tidak mengernyit. Ia tidak menatapku dengan iba atau ngeri atau marah. Ia meletakkan uang pas di meja kasir dan duduk di kursi dekat jendela, seperti setiap pagi.

Hari Minggu, ia datang lagi. Kopi susu. Gula setengah sendok. Atas nama: Hari Minggu. Duduk, minum, pergi.

Hari Senin, ia datang lagi. Atas nama: Masih Hujan, walaupun langit cerah. Duduk, minum, pergi.

Tidak ada yang berubah. Tidak ada satu pun.

Mungkin ia tidak benar-benar melihat. Mungkin mansetnya turun lebih sedikit dari yang kukira. Mungkin ia sedang menatap kardus cup yang jatuh, bukan lenganku. Mungkin ia melihat, tapi tidak peduli, karena bagi Salsa aku memang orang asing, dan dokter tidak berkomentar tentang kondisi orang asing di kedai kopi.

Atau mungkin ia melihat, dan ia peduli, dan ia memilih diam karena aku tidak pantas mendapatkan kepeduliannya.

Malam Senin, Nadia mengirim pesan.

Gimana?

Aku membalas: Gimana apanya.

Dia udah tahu?

Kayaknya nggak.

Kayaknya?

Lenganku kelihatan Sabtu. Dia lihat. Terus dia nggak ngomong apa-apa.

Tiga titik muncul di layar. Hilang. Muncul lagi. Hilang lagi. Lalu satu pesan pendek.

Van. Dokter ginjal lihat lengan pasien cuci darah, terus nggak ngomong apa-apa. Menurutmu itu artinya dia nggak tahu?

Aku tidak membalas. Aku meletakkan ponsel di bawah bantal dan menatap langit-langit sampai pukul dua.


Kamis pagi, Ibu mengetuk pintu kamarku pukul setengah lima.

“Van,” katanya dari balik pintu. “Bangun. Nasi kuningnya udah jadi.”

Aku tahu tanggal berapa hari ini. Aku tahu sejak seminggu lalu, sejak kalender di dinding dapur kedai berganti halaman dan Dodi menggambar tengkorak kecil di tanggal ujian tengah semesternya. Aku tidak menandai tanggalku. Aku tidak pernah menandainya lagi.

Hari ini aku tiga puluh lima tahun.

Ibu sudah duduk di meja makan ketika aku keluar kamar. Di depannya ada piring kecil berisi nasi kuning yang dibentuk kerucut mini, dengan sepotong telur dadar diiris tipis, sejumput serundeng, dan satu lilin putih kecil yang ditancapkan miring di puncak kerucut. Lilin itu belum dinyalakan.

Ibu membuat ini setiap tahun. Delapan tahun terakhir, aku tidak pernah meniup lilinnya.

“Duduk,” kata Ibu.

Aku duduk.

Ibu menyalakan lilin dengan korek api dapur. Apinya kecil, bergoyang karena angin dari celah jendela. Kami berdua menatapnya.

“Doa dulu,” kata Ibu.

Aku menunduk. Aku tidak tahu harus mendoakan apa.

Waktu umur dua puluh lima, aku berdoa supaya kedaiku sendiri bisa buka sebelum umur tiga puluh. Waktu dua puluh enam, aku berdoa supaya Salsa tidak menyesal menikahiku. Waktu dua puluh tujuh, setahun setelah vonis, aku tidak berdoa apa-apa. Aku hanya duduk di depan nasi kuning Ibu dan menghitung.

Itu yang tidak pernah kukatakan pada siapa pun: sejak sakit, ulang tahun terasa seperti tagihan.

Aku pernah membaca di internet, pada malam-malam awal setelah vonis, tentang harapan hidup pasien cuci darah. Angka-angka itu sangat bervariasi, tergantung banyak faktor, seperti kata dokter jaga IGD dulu. Tapi aku tetap membacanya. Aku tetap menghitung. Dan setiap tahun, ketika Ibu menyalakan lilin di atas nasi kuning, aku merasa sedang melihat angka yang berkurang satu.

Delapan tahun. Aku sudah bertahan delapan tahun. Kata Sus Mira itu bagus. Kata dokter itu bagus. Kata semua orang itu bagus.

Tapi semua orang tidak tahu bahwa setiap tahun yang kudapat, aku dapat sendirian. Aku memilihnya sendirian. Aku membayar harganya sendirian. Dan aku sudah memutuskan, delapan tahun lalu di teras rumah ini, bahwa itu harga yang pantas.

“Van,” kata Ibu. “Lilinnya mau habis.”

Aku tidak meniupnya. Aku tidak pernah meniupnya.

Ibu menunggu sampai lilin itu padam sendiri, seperti setiap tahun. Lalu Ibu mencabutnya, menyendok nasi kuning ke piringku, dan berkata dengan suara yang terlalu riang, “Makan. Telurnya Ibu kasih kecap manis dikit.”

Aku makan. Telurnya enak. Aku tidak bisa merasakan apa-apa.


Pukul enam tepat, lonceng berbunyi.

Salsa masuk. Jas dokter, cepol, satu helai rambut.

Hari ini ia tidak memakai kemeja biru. Ia memakai kemeja putih dengan garis-garis tipis warna hijau, dan sesuatu di dadaku mengerut, lalu aku memaksanya mengendur.

“Kopi susu,” katanya. “Gula setengah sendok.”

“Atas nama siapa, Kak?” tanya Dodi.

“Kamis.”

Dodi menulis KAMIS dengan huruf kapital, lalu menggambar matahari kecil di sebelahnya. Salsa membayar. Uang pas.

Lalu ia tidak berjalan ke kursi dekat jendela.

Ia berdiri di depan meja kasir dan menunggu.

Dodi menatapnya. Lalu menatapku. Lalu menatapnya lagi. “Kak, nanti kopinya saya antar ke meja, kok.”

“Nggak apa-apa,” kata Salsa. “Saya tunggu di sini.”

Tanganku sedang menakar biji. Aku hampir menumpahkannya.

Aku menyeduh kopinya. Enam puluh lima derajat. Busa tipis. Gula setengah sendok diaduk sebelum susu. Aku memasang sleeve dan mengambil spidol, dan aku berdiri dengan spidol menggantung di atas karton cokelat, karena ia berdiri tepat di depanku dan akan melihat aku menulis.

Aku menulis tetap saja.

Kamu udah sarapan?

Lalu aku mencoretnya dua kali, cepat, sebelum aku sempat menyesal.

Aku menyerahkan cup itu. Bukan lewat Dodi. Langsung dari tanganku.

Salsa mengulurkan tangan untuk menerimanya. Jari-jarinya melingkari cup di bawah jari-jariku, dan untuk satu detik, kurang dari satu detik, ujung jari kami bersentuhan di atas karton cokelat yang hangat.

Jarinya dingin. Ia selalu punya jari yang dingin di pagi hari. Dulu ia sering menyelipkan tangannya ke saku jaketku untuk menghangatkannya, dan aku pura-pura protes.

Ia menarik cup itu ke dadanya. Ia menatapku.

Lebih dari dua detik. Lebih dari empat detik.

Lalu, dengan suara yang sangat pelan, cukup pelan sampai hanya aku dan Dodi yang bisa mendengar, ia berkata:

“Selamat ulang tahun, Van.”

Ia berbalik dan berjalan ke kursi dekat jendela.

Ia duduk, membelakangiku. Ia meniup kopinya tiga kali. Ia minum.

Seperti tidak terjadi apa-apa.


Aku tidak tahu berapa lama aku berdiri di sana.

Yang kutahu, tanganku masih terangkat setinggi meja kasir, seperti cup itu masih ada di genggamanku. Yang kutahu, aku tidak bisa merasakan kakiku. Yang kutahu, delapan tahun aku mengajari diri sendiri untuk tidak mendengar namaku di suaranya, dan ternyata aku tidak pernah belajar apa-apa.

Van.

Tidak ada yang memanggilku Van selain Ibu dan Nadia. Pelanggan memanggilku Mas. Dodi dan Kirana memanggilku Mas Irvan. Sus Mira memanggilku Mas Irvan dengan nada yang berbeda-beda tergantung berat badanku.

Delapan tahun, dan ia masih tahu tanggalnya.

Delapan tahun, dan ia memilih hari ini untuk menyebut namaku.

“Mas,” bisik Dodi di sampingku. Suaranya bergetar. “Mas.”

Aku tidak menjawab.

“Mas ulang tahun?”

Aku tidak menjawab.

“Mas ulang tahun hari ini?” Suara Dodi naik satu oktaf. “Mas ulang tahun dan nggak bilang kita?! Dan Bu Dokter tahu?! Dan Bu Dokter manggil Mas... manggil Mas Van?!”

“Dod,” kata Kirana dari etalase. Suaranya tenang seperti biasa, tapi aku melihat penjepit croissant di tangannya bergetar sedikit. “Pelan.”

“Pelan gimana, Kir?! Ini krisis!” Dodi mencengkeram lenganku. Lengan kanan, untungnya. “Mas! Kenapa Mas nggak bilang?! Kita nggak siapin apa-apa! Kita nggak punya kue! Kita nggak punya lilin! Kita nggak punya...”

Kirana sudah melepas celemek.

Ia berjalan ke kasir, membuka laci, mengambil selembar uang lima puluh ribu dari kas, lalu menuliskan sesuatu di buku catatan pengeluaran. Lalu ia berjalan ke pintu.

“Kir, mau ke mana?” tanya Dodi.

“Warung Bu Enok.”

“Ngapain?”

“Beli kue,” kata Kirana, dan pintu tertutup di belakangnya.


Salsa pergi pukul enam dua puluh, seperti biasa.

Ia tidak menoleh. Ia tidak berhenti. Lonceng berbunyi, pintu terbuka dan tertutup, dan ia sudah berjalan menyeberang jalan ke gerbang rumah sakit dengan langkah pendek-pendek yang terburu-buru.

Cup-nya ia bawa. Sleeve-nya, seperti biasa, tertinggal di meja.

Aku tidak mengambilnya. Aku tidak bisa bergerak dari balik bar. Pelanggan berdatangan, dan aku membuat kopi untuk mereka dengan tangan yang bekerja sendiri, sementara otakku terus memutar ulang satu detik itu: jari dingin di atas karton cokelat, dan dua suku kata yang diucapkan sangat pelan.

Pukul enam lewat empat puluh, Kirana kembali.

Ia membawa kantong plastik hitam. Di dalamnya ada bolu pandan bulat dari warung Bu Enok, ukuran kecil, dengan taburan meses warna-warni yang tidak rata. Dan dua lilin angka.

Kirana menancapkan lilin-lilin itu di atas bolu dengan wajah sangat serius, lalu menyalakannya dengan korek api dapur.

Dodi menatap lilin-lilin itu. “Kir.”

“Apa.”

“Itu lima tiga.”

Kirana menatap lilinnya. Angka 5 di kiri, angka 3 di kanan.

“Warung Bu Enok cuma punya dua angka itu,” kata Kirana datar.

“Tapi kebalik, Kir! Mas Irvan jadi lima puluh tiga tahun!”

“Kalau dibaca dari belakang, tiga puluh lima.”

“Siapa yang baca lilin dari belakang?!”

“Orang yang mencintai bosnya,” kata Kirana, dan ia menyodorkan bolu itu ke arahku.

Lalu, sebelum aku sempat menolak, Dodi mulai bernyanyi.

Suara Dodi adalah suara yang dibuat untuk bernyanyi di kamar mandi dan tidak boleh keluar dari sana. Ia menyanyikan Selamat Ulang Tahun dengan nada yang setengah langkah terlalu tinggi dan tempo yang terlalu cepat. Kirana bernyanyi juga, pelan, datar, tapi tepat nada. Lalu sepasang keluarga pasien di meja dekat pintu ikut bernyanyi, karena orang Indonesia tidak bisa mendengar lagu ulang tahun tanpa ikut bernyanyi. Lalu lonceng berbunyi dan Pak Ujang masuk, menyadari apa yang sedang terjadi dalam setengah detik, dan bernyanyi paling keras dengan suara bariton yang membuat jendela bergetar.

Sus Mira masuk tepat di bait terakhir, sweater ungu, rambut keriting diikat tinggi. Ia melihat bolu pandan dengan lilin lima puluh tiga, melihat wajahku, lalu ikut bernyanyi tanpa bertanya.

Tiup lilinnya, tiup lilinnya, tiup lilinnya sekarang juga...

Mereka semua menatapku.

Delapan tahun aku tidak meniup lilin ulang tahun.

Api kecil di atas angka lima dan angka tiga bergoyang. Di bawahnya, bolu pandan murah dari warung Bu Enok, dengan meses yang tidak rata dan sedikit penyok di satu sisi karena Kirana berlari terlalu cepat.

Aku menunduk.

Aku tidak tahu harus mendoakan apa. Aku masih tidak tahu.

Lalu, tanpa izinku, wajah itu muncul di kepalaku. Jari dingin di atas karton cokelat. Selamat ulang tahun, Van.

Aku meniup lilinnya.

Pak Ujang bersorak. Dodi bertepuk tangan seperti penonton konser. Sus Mira menyeka sudut matanya dengan ujung sweater ungu dan berkata, “Ya Allah, saya kira Mas Irvan nggak punya ulang tahun. Saya kira Mas Irvan lahir langsung umur tiga puluh, udah pakai celemek.”

Semua orang tertawa. Aku juga tertawa.

Aku tidak sadar mataku basah sampai Kirana menyodorkan selembar tisu tanpa berkata apa-apa.


Pukul sembilan malam, kedai sepi.

Dodi sudah pulang, membawa sisa bolu pandan dibungkus kertas roti untuk ibunya. Pak Ujang sudah mengumumkan di grup WhatsApp satpam bahwa Mas Irvan Kedai Setengah ternyata manusia biasa yang punya ulang tahun, dan grup itu meledak dengan stiker kue dan emoji menangis. Sus Mira sudah mengirimiku pesan: Selamat ultah Mas. Berat badan dijaga. Hati juga.

Aku membalik papan di pintu jadi CLOSED. Kirana sedang menghitung kas di meja kasir.

Ketika ia selesai, ia menutup laci, mengunci, lalu tidak langsung pulang. Ia merogoh saku celemeknya dan mengeluarkan sesuatu.

Sleeve cokelat. Terlipat dua.

“Saya simpan dari pagi,” kata Kirana. “Dari meja jendela.”

Aku menatapnya.

“Saya pikir,” lanjut Kirana pelan, “Mas perlu bacanya pas kedai udah sepi.”

Ia meletakkan sleeve itu di meja bar, di depanku. Lalu ia mengambil tasnya, mengucapkan selamat ulang tahun sekali lagi, Mas, dan pergi lewat pintu belakang.

Aku sendirian.

Sleeve itu terlipat di bawah lampu bar. Karton cokelat, sudah sedikit lembek karena seharian di saku celemek. Aku membukanya pelan-pelan.

Di bagian atas, tulisanku. Kamu udah sarapan? Dua garis hitam tebal di atasnya.

Dan di bawahnya, di ruang kosong yang tersisa, ada tulisan lain.

Tulisan tangan yang bulat-bulat dan rapi, terlalu rapi untuk tulisan seorang dokter. Tulisan yang dulu memenuhi kartu ucapan, catatan di kulkas kos, label nama di lima ratus undangan krem.

Tinta hijau.

Gula setengah sendok. Dari dulu.