Chapter Nine
Tangga Darurat
POV: Rey
Aku membaca ulang setiap deliverable sebelum dikirim. Bukan karena aku tidak percaya pada timku. Karena aku tidak percaya pada diriku sendiri jam tiga pagi.
Jumat, jam sebelas siang, aku membuka file final sebelum Bu Renata membukanya.
Bagian empat: relokasi gudang. L. Hartawan.
Bagian tujuh: alokasi kanal distribusi. R. Alvaro.
Aku menatap baris kedua selama lima detik, menghitung berapa lama waktu yang tersisa sebelum Lisa membuka file yang sama, dan sampai pada angka yang tidak menyenangkan.
Empat menit kemudian, suara kursi di sebelahku bergerak.
“Rey.”
“Hm.”
“Buka halaman tujuh.”
“Udah.”
Dia memutar laptopnya menghadapku, walaupun aku punya laptop sendiri dan sudah membuka file yang sama, karena dia adalah orang yang butuh benda fisik untuk menunjuk.
“Ini punya siapa?”
“Model-nya punya aku.”
“Aku nggak nanya model-nya.”
“Kamu nanya bagiannya punya siapa. Bagian itu isinya model.”
“Aku yang presentasi bagian itu ke Pak Wisnu.” Suaranya belum keras. Belum. “Empat menit. Tanpa slide. Dan kamu duduk di seberang meja dan liat aku ngelakuin itu.”
“Iya.”
“Terus kamu pasang nama kamu.”
“Iya.”
Aku tahu ada cara yang lebih baik untuk mengatakan ini. Aku tahu ada urutan kalimat yang, kalau disusun dengan benar, akan menyelesaikan seluruh masalah ini dalam empat puluh detik.
Aku tahu urutannya. Aku bisa melihatnya, tersusun rapi, sekitar dua puluh sentimeter di luar jangkauanku.
Yang keluar adalah, “Renata minta satu nama.”
“Aku tau Renata minta satu nama, Rey, aku ada di email yang sama—”
“Kalau gitu kamu tau ini bukan soal kamu.”
Itu keluar salah.
Aku mendengarnya keluar salah, mendengar bentuknya di udara sebelum kalimat itu selesai mendarat, dan tidak bisa menariknya kembali karena tidak ada mekanisme untuk itu.
Dia berdiri.
“Nggak di sini,” katanya.
Tangga darurat Meridian ada di ujung utara lantai dua puluh satu, di balik pintu berat yang tidak pernah dipakai siapa pun kecuali saat latihan evakuasi. Di dalamnya beton, besi, lampu neon yang salah satunya berkedip, dan gema.
Dia melewati pintu itu lebih dulu. Aku menyusul. Pintu menutup dengan bunyi yang terlalu keras.
Dan gemanya baru berhenti waktu dia sudah mulai bicara.
“Empat tahun,” katanya. “Empat tahun kamu motong aku di rapat, dan aku terima, karena oke, kamu efisien, kamu benar, aku ngomong kepanjangan, fine. Tapi ini beda. Ini bukan soal siapa yang lebih cepat. Ini aku ngerjain sesuatu dan kamu—”
“Aku ngerjain ulang model kamu.”
“Aku tau.”
“Kamis malam. Sampai jam tiga.”
“Aku tau, Rey!” Suaranya memantul ke atas, ke lima belas lantai kosong di atas kami. “Aku tau kamu ngerjain ulang, karena kamu selalu ngerjain ulang, karena kamu nggak pernah bilang apa-apa dan tiba-tiba semuanya udah beres dan aku harus berterima kasih atas sesuatu yang aku nggak pernah minta!”
Aku berdiri dua anak tangga di atasnya.
“Kamu mau aku minta izin?”
“Aku mau kamu ngomong.”
“Aku ngomong.”
“Kamu ngomong empat kata!”
“Empat kata cukup.”
“Buat kamu!” Dia naik satu anak tangga. “Buat kamu semuanya cukup. Kamu bisa hidup seumur hidup pakai dua ratus kata dan kamu pikir semua orang yang butuh lebih dari itu lagi buang-buang waktu—”
“Aku nggak pernah bilang gitu.”
“Kamu nggak perlu bilang, Rey, kamu nunjukin tiap hari—”
“Aku ngerjain ulang jam tiga pagi,” kataku, “biar kamu nggak salah di depan Wisnu.”
Dia berhenti.
“Nama itu aku pasang karena Renata minta satu nama dan modelnya punya aku. Kalau kamu mau, hapus. Aku nggak peduli.”
“Kamu peduli.”
“Iya. Aku peduli.” Aku menurunkan satu anak tangga. “Tapi aku lebih nggak mau kamu berdiri di depan orang itu dengan angka yang salah.”
Dia membuka mulut.
Aku melihat proses itu terjadi — melihat lima kalimat berbeda naik ke permukaan dan tidak satu pun yang berhasil keluar — dan menyadari, terlambat sekitar setengah detik, bahwa aku sedang menikmatinya.
“Kenapa kamu nggak bilang?” tanyanya akhirnya.
Dan di situlah aku membuat kesalahan.
“Karena kamu nggak pernah diem.”
Gema.
Neon berkedip.
Wajahnya berubah dengan cara yang sangat spesifik dan sangat cepat, dan aku — yang selama sebelas tahun menaruh sedikit kata di tempat yang benar, yang membangun seluruh diriku di atas prinsip bahwa presisi adalah bentuk sopan santun — berdiri di tangga darurat lantai dua puluh satu dan mengerti persis apa yang baru saja kulakukan.
Aku menaruh kata di tempat yang salah.
“Oke,” katanya pelan.
“Lis.”
“Nggak, oke. Fair.” Dia mengangguk beberapa kali, terlalu cepat, ke arah dinding. “Aku emang nggak pernah diem. Semua orang bilang gitu. Guru aku bilang gitu, mantan aku bilang gitu, mama aku bilang gitu tiap hari Minggu. Jadi—”
“Lisa.”
“—jadi bagus, satu lagi yang bilang, aku bakal—”
“Lisa.”
“—catat, aku bakal—”
Dia berhenti.
Bukan karena aku memanggil namanya untuk ketiga kalinya.
Karena aku sudah turun dua anak tangga dan sekarang berdiri satu anak tangga di bawahnya, yang berarti wajah kami sejajar, yang berarti tidak ada lagi jarak yang bisa dijelaskan sebagai kebetulan.
“Aku suka,” kataku.
Empat kata terpakai. Dua kata.
“Apa?”
“Aku suka kamu ngomong.”
Napasnya keluar pendek.
“Kamu barusan bilang—”
“Aku tau apa yang aku bilang.” Aku tidak menggerakkan tanganku. Belum. “Aku bilang itu karena kamu benar. Dan aku nggak suka waktu kamu benar dan aku nggak punya jawaban.”
“Itu bukan alasan.”
“Bukan,” kataku. “Itu penjelasan.”
Dan dia — yang tidak pernah kehabisan kata, yang mengisi tiga belas menit kosong di depan direksi klien ketika laptopnya mati, yang sudah bicara tanpa henti sejak umur empat tahun menurut kesaksian ibunya sendiri —
— tidak mengatakan apa-apa.
Dia cuma berdiri di sana, di anak tangga beton, dengan napas yang tidak rata dan mata yang tidak beralih, dan menunggu.
Aku mengerti bahwa itu adalah izin.
Dan bahwa aku tidak punya satu pun kata yang cukup untuk menjawabnya.
Jadi aku tidak memakai kata.
Tangan kiriku ke rahangnya. Tangan kananku ke pagar besi di belakangnya, karena kalau tidak, aku tidak yakin dengan apa yang akan dilakukan tangan itu.
Ciuman pertama itu tidak sabar.
Tidak ada satu pun bagian darinya yang lembut atau hati-hati atau menyerupai apa pun yang biasanya diasosiasikan orang denganku. Ini adalah sebelas tahun disiplin yang gagal dalam waktu kurang dari satu detik, dan aku merasakan seluruh sistemku — kolom-kolom di kepalaku, angka-angka, jadwal, tiga hari dalam seminggu, semua hal yang membuatku bisa berfungsi — tersapu bersih.
Dia menarikku lebih dekat dengan kedua tangan di kerah jasku.
Punggungnya membentur pagar. Ada bunyi logam. Tidak ada yang peduli.
Aku mendengar diriku sendiri mengeluarkan suara yang belum pernah kudengar sebelumnya, dan menyadari dengan ngeri yang sangat jauh dan sangat tidak relevan bahwa suara itu berasal dari diriku.
Kami berhenti karena harus. Karena paru-paru.
Keningku di keningnya. Napas kami berantakan, dan gema tangga darurat mengembalikannya kepada kami dua kali lipat.
“Ini nggak nyelesaiin apa-apa,” katanya.
Suaranya serak.
“Aku nggak nyoba nyelesaiin apa-apa,” kataku.
Dan menciumnya lagi.
Yang kedua lebih lambat. Yang kedua adalah keputusan, bukan kecelakaan, dan itu jauh lebih berbahaya — karena keputusan bisa diulang.
Tanganku akhirnya melepas pagar.
Pintu di lantai atas berbunyi.
Cuma itu. Satu bunyi, jauh, mungkin lantai dua puluh tiga, mungkin bukan siapa-siapa.
Kami terpisah dengan kecepatan yang, kalau dilihat orang lain, akan sangat lucu.
Dia mundur dua anak tangga. Merapikan rambut yang tidak berantakan. Aku membetulkan jasku dan menemukan bahwa tanganku tidak sepenuhnya stabil, yang merupakan informasi baru dan sangat tidak kuinginkan.
“Aku turun,” katanya.
“Iya.”
“Kamu naik.”
“Iya.”
“Rey.”
“Hm.”
Dia berhenti dengan tangan di pegangan.
“Hapus nama kamu dari halaman tujuh.”
“Nggak.”
“Rey—”
“Aku tulis dua nama,” kataku. “Renata boleh marah.”
Dia menatapku.
Lalu dia turun, cepat, tanpa menoleh, dan pintu di bawah menutup dengan bunyi yang sama kerasnya seperti tadi.
Aku berdiri di tangga darurat selama satu menit empat puluh detik.
Lalu aku naik, membuka pintu, dan keluar ke lantai yang salah.
Lantai dua puluh dua. Praktik keuangan. Tidak ada satu pun orang yang kukenal, dan tiga orang menoleh ke arahku dengan sopan.
Aku berjalan ke lift seperti orang yang memang berniat ke sana, menekan tombol, turun satu lantai, dan tidak memikirkan apa pun selama seluruh perjalanan itu kecuali satu hal:
bahwa dua puluh detik sebelumnya, di lantai bawah, dia juga keluar di pintu yang salah — lantai dua puluh, praktik teknologi — dan berdiri di sana selama beberapa detik sebelum berbalik.
Aku tahu itu karena aku melihat bayangannya lewat celah pintu tangga.
Dan karena, untuk alasan yang tidak kumengerti sama sekali, aku berhenti untuk melihat.
- 1 Unit Sebelah
- 2 Empat Menit
- 3 Sekat
- 4 Jemuran
- 5 Terlalu Dekat
- 6 Kode
- 7 Kerah
- 8 Pantry
- 9 Tangga Darurat reading
- 10 Semalem
- 11 Aturan
- 12 Di Bawah Meja
- 13 Delapan Lantai
- 14 Empat Jam
- 15 Dua Kamar
- 16 Bu Lisa
- 17 Bekasi
- 18 Lewat Sekat
- 19 Dua Bagian Kosong
- 20 Meninggikan Suara
- 21 Pintu Depan
- 22 Dua Gelas
- 23 Kain di Sekat
- 24 Mundur
- 25 Jam Satu Pagi
- 26 Pagi
- 27 Ketahuan
- 28 Selesai?
- 29 Berkali-Kali
- 30 Kening
- 31 Nol
- 32 Kuncinya