← Balkonnya Masih Kebuka?

Chapter One

Unit Sebelah

POV: Lisa


Ada dua jenis keheningan di ruang rapat Meridian Partners, dan aku sudah hafal keduanya sejak tahun pertama.

Keheningan pertama adalah keheningan orang yang sedang berpikir. Itu keheningan yang bagus. Kertas dibalik, pulpen diketuk, ada yang berdehem. Keheningan kedua adalah keheningan orang yang baru saja mendengar sesuatu yang mengubah tahun mereka, dan sedang menghitung ulang seluruh hidupnya dalam diam.

Pagi itu jenis yang kedua.

Bu Renata Siregar menutup folder di depannya dengan gerakan yang terlalu tenang untuk isi kalimatnya. “Satu kursi. Engagement Manager, praktik strategi. Keputusan akhir bulan November.”

Empat belas orang di ruangan itu. Dua belas di antaranya sudah tahu mereka bukan siapa-siapa dalam kalimat itu.

“Kandidatnya dua,” lanjut Bu Renata. “Lisa Hartawan. Rey Alvaro.”

Aku merasakan seluruh ruangan bergerak setengah senti ke arahku. Bukan menoleh — di Meridian orang tidak menoleh, itu terlalu kasar. Mereka cuma memiringkan bahu.

Aku melirik ke seberang meja.

Rey Alvaro sedang menulis. Bukan pura-pura menulis. Betulan menulis, dengan pulpen, di buku catatan bersampul abu-abu yang sudah dia bawa sejak hari pertama masuk, dan yang menurut Gege isinya kemungkinan besar cuma daftar orang yang akan dia habisi. Dia tidak mengangkat wajah waktu namanya disebut. Tidak juga waktu namaku disebut.

Yang bergerak cuma tangannya. Berhenti satu ketukan, lalu lanjut menulis.

Oh, pikirku. Kamu dengar, kok.

“Pertanyaan?” tanya Bu Renata.

Aku punya sembilan. Aku menahan kesembilannya, yang bagiku setara dengan menahan napas di dalam air, dan itu tidak berlangsung lama.

“Satu, Bu.” Suaraku keluar sebelum sempat kusaring. “Penilaiannya berbasis engagement atau kumulatif? Karena kalau berbasis engagement, ada masalah alokasi. Saya di sektor consumer, Rey di infrastruktur. Ukuran deal-nya beda tiga kali lipat. Kalau yang dibandingkan angka absolut, itu bukan kompetisi, itu undian.”

Sudut mata Bu Renata bergerak sedikit. Bukan senyum. Bu Renata tidak tersenyum di dalam ruang rapat; itu terlalu banyak informasi.

“Bagus,” katanya. “Rey, kamu ada tambahan?”

Rey menutup pulpennya. “Nggak.”

“Nggak ada masalah dengan alokasinya?”

“Ada.” Dia meletakkan pulpen sejajar dengan tepi buku. “Tapi Lisa udah bilang.”

Dan itu saja. Dia tidak bilang saya setuju dengan Lisa, tidak bilang poin yang bagus, tidak menambahkan satu pun kalimat yang bisa dipakai orang untuk menilainya. Dia cuma menutup pulpen, meletakkannya lurus, dan berhenti bicara.

Aku membencinya dengan intensitas yang mengejutkan diriku sendiri.

Bukan karena dia menyerobot. Justru sebaliknya — dia menyerahkan seluruh argumen itu kepadaku, utuh, tanpa sidik jari. Dan entah bagaimana caranya, cara dia menyerahkannya membuatku terdengar seperti orang yang bicara terlalu banyak, dan membuat dia terdengar seperti orang yang tidak perlu.

Empat kata. Dia butuh empat kata untuk melakukan itu.


“Kamu ngeliatin dia.”

“Aku nggak ngeliatin dia.”

“Lis.” Gerald Tanuwijaya menyodorkan gelas kopi keempatnya hari itu ke arahku seperti orang menyodorkan bukti di pengadilan. “Kamu ngeliatin dia dari menit ke tujuh sampai menit ke dua puluh dua. Aku nyatet.”

“Kamu nyatet?”

“Aku selalu nyatet.” Gege menyeruput. “Ini kantor konsultan. Kalau nggak ada yang dicatat, kita ngapain di sini.”

Kami berdiri di lorong lantai dua puluh satu, di depan jendela yang menghadap ke arah barat, tempat semua orang Meridian pergi kalau mau bicara tentang hal yang tidak boleh dibicarakan di ruang rapat. Di luar, Jakarta sedang melakukan hal yang selalu dilakukan Jakarta jam empat sore: berdiri diam sambil membunyikan klakson.

“Aku cuma,” kataku, “penasaran gimana caranya orang bisa hidup dengan kosakata dua puluh kata.”

“Dua puluh kebanyakan. Dia pernah nyelesain seluruh rapat status pakai delapan.”

“Itu bukan efisiensi, itu penyakit.”

“Itu strategi.” Gege mengangkat alis. “Kamu ngomong empat ratus kata, dia ngomong empat. Yang diinget orang yang mana?”

Aku membuka mulut. Menutupnya lagi.

Itu, kalau boleh jujur — dan aku lebih suka tidak jujur soal ini — adalah masalahku sejak awal. Bukan bahwa Rey lebih pintar. Dia tidak lebih pintar. Aku sudah membaca deck-nya, dua tahun penuh deck-nya, dan tidak ada satu pun yang membuatku merasa kalah pikiran.

Yang membuatku kalah adalah ruang kosong di sekitar kalimatnya. Aku mengisi ruang. Dia membiarkannya menganga, dan orang-orang jatuh ke dalamnya.

“Ge.”

“Hm?”

“Berapa orang yang bilang aku dapet kandidasi ini gara-gara nama belakang?”

Gege berhenti menyeruput.

Itu jawabannya, sebenarnya. Aku tidak butuh angka. Aku cuma perlu melihat berapa lama dia butuh untuk memutuskan apakah akan berbohong.

“Empat,” katanya akhirnya. “Yang aku denger langsung. Yang beneran mikir, mungkin sembilan.”

“Sembilan dari empat belas.”

“Lis—”

“Nggak, itu bagus. Itu data.” Aku mengangguk ke arah jendela. “Data lebih enak daripada firasat.”

“Kamu nggak keliatan kayak orang yang lagi seneng dapet data.”

Yang tidak kukatakan, karena tidak ada gunanya dikatakan, adalah bahwa aku sudah menghitung sembilan itu sejak tahun pertama. Sembilan orang yang, setiap kali aku menyelesaikan sesuatu, akan menyimpan penjelasan cadangan di kantong belakang. Aku tidak bisa menghapus penjelasan cadangan itu dengan kerja bagus. Kerja bagus justru memberi makan penjelasan itu: ya iyalah, dia dapat engagement yang bagus.

Satu-satunya cara mematikannya adalah menang melawan seseorang yang tidak bisa dijelaskan dengan cara apa pun kecuali kerja.

Dan seluruh lantai dua puluh satu tahu bahwa Rey Alvaro masuk Meridian lewat seleksi terbuka, tanpa referensi, dari kampus yang tidak ada di daftar prioritas rekrutmen, dan bahwa dia mengalahkan seratus delapan puluh pelamar untuk melakukannya.

Itu sebabnya kandidasi ini penting.

Bukan kursinya.

“Ngomong-ngomong,” kata Gege, terlalu santai, yang berarti dia sudah menunggu untuk mengatakan ini sejak tadi. “Kamu jadi pindah ke unit yang disediain firma?”

“Malam ini. Kontrakanku habis, dan aku nggak punya energi buat cari tempat sambil ngurus ini.” Aku menunjuk ke arah ruang rapat dengan daguku. “Verde Residence. Lantai empat belas.”

Gege tidak menjawab.

Aku menoleh. “Apa.”

“Nggak apa-apa.”

“Ge.”

“Nggak apa-apa.” Dia menghabiskan kopinya dalam satu tegukan yang jelas-jelas menyakitkan, lalu menepuk bahuku dengan ekspresi orang yang sedang melepas prajurit ke medan perang. “Semoga sukses ya, Lis. Beneran. Dari hati.”


Pindahanku berlangsung sampai jam sembilan malam dan melibatkan sebelas kardus, satu tanaman yang mungkin sudah mati sejak bulan lalu tapi belum ada yang berani memastikan, dan satu percakapan telepon dengan ibuku yang seharusnya berlangsung lima menit dan berlangsung empat puluh.

“Jadi kamu tinggal di apartemen yang dibayarin kantor,” kata Mama, dengan nada orang yang sedang mengumpulkan bahan untuk arisan hari Sabtu.

“Iya, Ma.”

“Tetangganya siapa?”

“Aku baru sampai empat jam yang lalu.”

“Empat jam itu cukup buat kenalan, Lis. Mama dulu—”

“Ma, aku masih punya enam kardus.”

“Ya sudah. Tapi nanti kabarin kalau tetangganya—”

“Ma.”

Aku menutup telepon, meletakkannya di atas meja pantry yang belum kulap, dan memandangi unit baruku.

Unit 14A. Tiga puluh delapan meter persegi kehidupan sementara: dapur yang menempel ke ruang tamu, satu kamar, satu kamar mandi, dan pintu kaca geser yang menghadap ke balkon selebar dua langkah.

Dindingnya putih dengan cara yang tidak berkomitmen. Ada satu lubang paku bekas penghuni sebelumnya di dinding ruang tamu, tepat di ketinggian mata, dan aku sudah memandanginya tiga kali malam itu sambil menduga-duga apa yang pernah digantung di sana.

Aku belum membuka pintu kaca itu sejak sampai.

Sekarang aku membukanya.

Udara Jakarta jam sembilan malam masuk — hangat, sedikit berat, membawa bau aspal yang baru berhenti dipanaskan. Dari lantai empat belas, kota itu kelihatan seperti sesuatu yang bisa diatur. Aku selalu suka ketinggian karena alasan itu. Semua yang di bawah jadi masalah orang lain.

Aku menyandarkan lengan ke sekat balkon.

Sekatnya beton, setinggi dada, memisahkan balkon 14A dari balkon 14B. Rendah, sebenarnya. Terlalu rendah untuk apa pun. Aku sempat berpikir bahwa arsitek gedung ini jelas tidak pernah membayangkan orang yang benar-benar ingin melihat ke sebelah.

Lalu pintu kaca di sebelah terbuka.

Aku tidak bergerak. Ada bagian di otakku yang, dalam waktu kurang dari setengah detik, sudah menghitung semua kemungkinan dan menolak sembilan puluh sembilan persen di antaranya sebagai terlalu absurd untuk terjadi pada hari yang sama.

Yang satu persen keluar ke balkon, membawa gelas, dan berhenti.

Rey Alvaro tanpa jas terlihat seperti orang yang berbeda dan sekaligus persis sama. Kemeja abu-abu, lengan digulung sampai siku, rambut yang jelas sudah tidak diurus sejak sore. Dia melihatku. Wajahnya tidak melakukan apa pun.

Jarak antara kami satu setengah meter.

“Kamu,” kataku.

“Aku.”

“Kamu tinggal di sini.”

“Delapan bulan.”

Delapan bulan. Aku membuka mulut, menutupnya, membukanya lagi. Ada semacam kemacetan di tenggorokanku, terlalu banyak kalimat yang berebut lewat satu pintu sempit, dan yang akhirnya lolos adalah yang paling tidak kuinginkan.

“Kamu ngikutin aku?”

Diam satu ketukan.

Dia memiringkan gelasnya sedikit, memutar isinya, dan meletakkannya di atas sekat beton di antara kami. Pelan. Seperti orang meletakkan bidak.

“Kalau iya,” katanya, “kamu mau apa?”

Aku punya, secara harfiah, tujuh ratus kalimat untuk situasi apa pun. Itu keahlianku. Itu yang membuatku dibayar. Aku pernah menjawab CEO yang marah dalam bahasa Inggris di menit ketiga belas jet lag dan menang.

Sekarang tidak ada satu pun yang datang.

Dia menunggu. Dia tidak tersenyum. Itu bagian terburuknya — kalau dia tersenyum, aku punya sesuatu untuk diserang. Tapi wajahnya benar-benar tenang, sabar, seperti orang yang sudah tahu jawabannya dan bersedia menunggu sampai aku menemukannya sendiri.

“Aku mau kamu pindah,” kataku akhirnya.

“Nggak.”

“Aku duluan yang nanya.”

“Aku duluan yang tinggal.”

“Itu bukan argumen.”

“Itu tanggal kontrak.”

“Kamu tau ini gimana keliatannya?” Aku melambaikan tangan ke ruang di antara kami, ke seluruh geometri absurd malam itu. “Bu Renata ngumumin dua kandidat jam sembilan pagi, dan jam sembilan malam dua kandidat itu punya balkon yang nempel. Itu bukan kebetulan, itu naskah.”

“Itu HRD.”

“Apa?”

“Firma nyewa enam unit di lantai ini.” Dia mengangkat dagunya ke arah koridor. “Diisi urut nomor. 14A kosong bulan lalu. Kamu masuk daftar bulan lalu.”

Aku membuka mulut. Menutupnya.

Itu penjelasan yang sangat masuk akal dan sangat membosankan, dan aku mendapati diriku kecewa, yang merupakan reaksi yang tidak kurencanakan dan tidak kusukai.

“Kamu udah ngecek,” kataku.

“Aku ngecek waktu liat nama kamu di daftar penghuni.”

“Kapan?”

“Tiga hari lalu.”

Tiga hari.

Tiga hari di mana Rey Alvaro sudah tahu bahwa aku akan pindah ke sebelahnya, dan duduk di rapat pagi ini, dan tidak mengatakan apa-apa, dan membiarkanku menemukannya sendiri malam ini di balkon dengan rambut basah dan sebelas kardus.

“Kamu nggak bilang apa-apa.”

“Nggak.”

“Kenapa?”

Dia mengambil gelasnya lagi.

“Aku pengin liat muka kamu,” katanya. “Selamat pindahan, Lisa.”

Dan dia masuk.

Pintu kaca 14B tertutup dengan bunyi yang terlalu sopan. Aku berdiri sendirian di balkonku, di depan sekat setinggi dada, dengan kalimat balasan keempat sampai kesebelas akhirnya berdatangan semua sekaligus, terlambat, tidak berguna, menumpuk di tenggorokanku seperti antrean tol.

“Aku belum selesai,” kataku ke pintu kaca yang sudah tertutup.

Tidak ada jawaban.

Tentu saja tidak ada.


Aku tidur jam tiga.

Bukan karena kardus — kardus selesai jam sebelas. Bukan juga karena promosi, walaupun aku sempat menghabiskan empat puluh menit menyusun ulang rencana enam bulanku di kepala, tiga kali, dengan hasil yang sama setiap kali.

Aku tidak tidur karena ada garis cahaya tipis yang jatuh ke lantai balkonku dari arah kanan.

Jam satu, masih ada.

Jam dua, masih ada.

Jam setengah tiga aku bangun, berjalan ke pintu kaca, dan berdiri di sana lebih lama dari yang bisa kubenarkan kepada diriku sendiri, memandangi persegi panjang cahaya kuning di lantai beton yang berasal dari unit sebelah.

Dia juga nggak tidur.

Pikiran itu datang tanpa diundang, dan bersama pikiran itu datang sesuatu yang jauh lebih tidak nyaman: rasa lega.

Aku menutup tirai dengan gerakan yang lebih keras dari perlu, kembali ke ranjang, dan menghabiskan dua puluh menit terakhir sebelum tidur untuk meyakinkan diriku bahwa besok aku akan menang rapat pagi.

Di lantai balkon, garis cahaya itu bertahan sampai jam empat.