← Balkonnya Masih Kebuka?

Chapter Eight

Pantry

POV: Lisa


Setelah Pak Wisnu, Helios berubah bentuk.

Klien yang datang sembilan hari lebih cepat adalah klien yang sudah memutuskan sesuatu, dan yang dia putuskan — ini disampaikan Bu Renata pada Kamis pagi dengan ekspresi yang tidak memberikan petunjuk apa pun — adalah bahwa dia ingin rekomendasi penuh dalam enam minggu, bukan sebelas.

“Timeline dipotong lima minggu,” kata Bu Renata. “Scope tetap.”

“Bu—” mulaiku.

“Saya tahu.”

“Bu, itu bukan pemotongan timeline, itu—”

“Saya tahu, Lisa.” Bu Renata menutup laptopnya. “Dan saya sudah bilang ke dia. Dan dia bilang: kalau nggak sanggup, dia panggil firma lain.”

Diam.

“Sanggup,” kata Rey.

Semua orang menoleh.

Bu Renata mengangkat satu alis. “Kamu ngomong duluan hari ini. Ada apa?”

“Nggak ada apa-apa, Bu.”

“Rey.”

“Enam minggu cukup,” katanya, “kalau tim analisisnya nggak dibagi dua.”

Ruangan itu jadi sangat sunyi dengan cara yang berbeda.

Karena semua orang di sana tahu apa artinya. Tim analisis dibagi dua supaya dua kandidat punya jalur yang bisa dinilai terpisah. Menggabungkannya berarti mereka bekerja dari satu set angka, satu model, satu ruangan — dan berarti tidak ada lagi cara bersih untuk mengukur siapa yang menghasilkan apa.

Rey Alvaro baru saja mengusulkan untuk menghapus papan skor.

Aku menatapnya dari seberang meja dan tidak bisa membaca apa pun di wajah itu.

“Lisa?” tanya Bu Renata.

Ada dua jawaban. Aku tahu keduanya. Yang satu melindungi kesempatanku. Yang satu menyelamatkan proyekku.

“Setuju, Bu.”

Bu Renata memandangi mereka berdua selama tiga detik penuh, dengan ekspresi seseorang yang sedang menyimpan informasi untuk dipakai nanti.

“Bagus,” katanya. “Berarti kalian berdua nggak punya alasan lagi.”


Yang terjadi setelah itu adalah dua minggu yang, kalau ditulis di lembar waktu, akan terlihat seperti pelanggaran ketenagakerjaan.

Jam tujuh pagi sampai jam sebelas malam. Kadang lebih. Satu ruang kerja, dua meja yang didorong menempel, satu papan tulis yang tidak pernah bersih. Aku menemukan bahwa bekerja berdampingan dengan Rey Alvaro adalah pengalaman yang sangat berbeda dari melawannya, dan bahwa perbedaannya bukan pada kualitas — dia tetap dia — melainkan pada apa yang terjadi dengan seluruh energi yang selama ini kuhabiskan untuk mengantisipasi serangan.

Energi itu sekarang tidak punya tempat.

Jadi energi itu pergi ke tempat lain.

Ke arah kesadaran, misalnya, bahwa dia menggulung lengan kemejanya setiap hari sekitar jam tujuh malam, dan bahwa aku mulai memperhatikan jam berapa itu terjadi.

Ke arah kesadaran bahwa dia menaruh kopiku di sisi kiri meja, selalu, karena tangan kiriku yang menganggur.

Ke arah kesadaran bahwa dua minggu ini kami belum sekali pun ke balkon, karena kami berdua pulang jam setengah dua belas dan langsung tidur, dan bahwa aku merindukan sekat beton itu dengan intensitas yang benar-benar tidak masuk akal untuk sebuah benda.


Hari Senin minggu kedua, jam sebelas malam, mereka bertengkar selama empat puluh menit tentang satu asumsi.

Asumsinya tidak penting. Itu bagian yang kemudian kuakui kepada diriku sendiri: tingkat perputaran stok di gerai kecil, satu angka, yang selisihnya kalau salah pun tidak akan mengubah rekomendasi akhir.

Tapi mereka bertengkar juga.

“Satu koma empat,” kataku, di depan papan tulis, dengan spidol yang tutupnya sudah hilang sejak hari Kamis.

“Satu koma satu.”

“Berdasarkan apa?”

“Berdasarkan tiga tahun data.”

“Berdasarkan tiga tahun data yang di dalamnya ada pandemi, Rey.”

Dia menyandar ke kursinya. Lengan kemejanya sudah digulung sejak empat jam yang lalu.

“Kamu mau buang dua tahun data,” katanya, “karena nggak cocok.”

“Aku mau buang dua tahun data karena dua tahun itu bukan dunia yang sama.”

“Itu yang semua orang bilang tentang data yang nggak cocok.”

Aku menunjuknya dengan spidol. “Kamu tau apa yang menyebalkan dari kamu?”

“Nggak.”

“Kamu selalu ngomong kayak lagi baca prakiraan cuaca. Padahal kamu marah.”

Jeda satu detik.

“Aku nggak marah.”

“Kamu marah. Kamu naruh gelas kamu terlalu pelan tadi. Orang yang nggak marah naruh gelas biasa aja.”

Dan untuk sepersekian detik — aku tidak akan bisa membuktikannya kepada siapa pun, tapi aku melihatnya — sudut mulut Rey Alvaro bergerak.

Naik.

Satu milimeter, lalu hilang.

“Satu koma dua lima,” katanya.

“Satu koma tiga.”

“Satu koma dua lima, dan kamu boleh nulis catatan kaki.”

Aku menuliskan satu koma dua lima di papan, dengan huruf yang lebih besar dari yang diperlukan, dan menuliskan catatan kaki yang panjangnya tiga baris, dan dia membiarkannya, dan tidak ada satu pun dari kami yang menyebut bahwa kami baru saja menghabiskan empat puluh menit dari enam minggu yang sangat terbatas untuk selisih nol koma nol lima.

Jam dua belas kurang, di lift, kami berdiri dengan jarak yang sopan.

“Besok pagi,” kataku, “aku ambil bagian gudang.”

“Oke.”

“Kamu nggak protes?”

“Nggak.”

“Kenapa?”

Dia melihat ke pintu lift.

“Karena kamu lebih bagus di situ.”

Pintu terbuka. Dia keluar duluan.

Aku berdiri di dalam lift sampai pintunya menutup lagi dan lift itu naik ke lantai lain bersamaku di dalamnya, dan aku harus turun lagi dari lantai dua puluh empat, dan aku tidak menceritakan bagian itu kepada siapa pun.


Hari Rabu minggu kedua, jam sembilan malam, kafeteria sudah tutup dan yang tersisa cuma pantry lantai dua puluh satu.

Pantry Meridian dibangun oleh orang yang jelas tidak pernah membayangkan dua orang di dalamnya secara bersamaan. Panjangnya tiga meter, lebarnya satu koma dua, dengan lemari gantung di satu sisi dan meja counter di sisi lain, dan celah di tengah yang cukup untuk satu orang dewasa dan tidak lebih.

Aku di dalam, mencari gula.

Dia masuk untuk mengambil air.

“Permisi,” katanya.

“Sebentar.”

“Lis.”

“Sebentar, aku lagi nyari—” Aku berjinjit ke lemari atas. “Kenapa gulanya ditaruh di atas? Siapa yang naruh gula di rak paling atas? Ini kantor konsultan, harusnya ada yang bisa mikirin ergonomi—”

Dan dia lewat.

Cara lewatnya adalah cara yang secara teknis benar dan secara moral tidak: satu tangan ke pinggangku, memutar tubuhku setengah, supaya dia bisa melewati celah satu koma dua meter itu.

Itu gerakan yang wajar. Orang melakukannya di dapur setiap hari. Berlangsung setengah detik.

Kecuali bahwa dia tidak melewatinya.

Dia berhenti di tengah gerakan, denganku sudah berputar setengah, punggungku sekarang menempel ke pintu lemari bawah, dan tangannya masih di pinggangku.

Tidak ke mana-mana.

Aku menurunkan tumitku perlahan sampai kakiku rata di lantai.

Gula ada di tanganku. Aku tidak sadar aku masih memegangnya.

“Permisi doang bisa,” kataku.

“Bisa.”

Dia tidak melepas.

Ada suara mesin es dari sudut. Ada dengung lampu. Di suatu tempat di lantai ini ada satu tim yang masih bekerja dan seorang petugas kebersihan yang akan lewat entah kapan.

Jarak antara wajah kami sekitar dua puluh sentimeter.

Aku mendongak. Dia menunduk. Tidak ada yang bergerak lebih dari itu, dan itu justru yang membuat detik-detik berikutnya terasa lebih panjang dari semua yang sudah terjadi selama sebulan ini — karena kami berdua tahu persis berapa jarak yang tersisa, dan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menghabiskannya, dan siapa yang harus bergerak duluan.

Satu.

Dua.

Tiga.

Napasku keluar tidak rata dan aku benci itu.

Empat.

Ibu jarinya bergerak. Setengah sentimeter, di atas kain blusku, di pinggangku. Bukan disengaja — aku cukup yakin itu bukan disengaja, dan itu jauh lebih buruk.

Lima.

“Rey.”

“Iya.”

“Kamu—”

Enam.

Tujuh.

Lift berdenting.

Suaranya datang dari lorong, tiga puluh meter jauhnya, pelan, dan sama sekali tidak berbahaya.

Dia melepaskan tangannya.

Bukan dengan panik. Dia melepaskannya dengan cara yang sama seperti dia melakukan segalanya — tanpa terburu-buru, seakan-akan dia memang sudah berencana melepasnya di detik ke tujuh — mengambil botol airnya dari counter, dan melewatiku dengan jarak yang, kali ini, sepenuhnya sopan.

Di ambang pintu dia berhenti.

“Gulanya,” katanya, “bukan yang itu.”

Aku melihat ke tanganku.

Garam.

“Kamu—” Suaraku keluar seperti kertas robek. Aku membersihkan tenggorokan. “Kamu tau dari tadi?”

“Iya.”

Dia pergi.


Gege masuk ke pantry lima detik kemudian.

Ini bukan kebetulan yang dramatis; Gege selalu masuk ke pantry sekitar jam sembilan karena Gege punya kebiasaan makan mi instan pada jam yang menurut ilmu gizi tidak dapat dipertahankan.

Dia melihatku.

Dia berhenti.

“Kamu merah,” katanya.

“Nggak.”

“Lis, kamu itu merah dari leher sampe kuping. Aku bisa liat dari lorong.”

“Itu microwave.”

Gege melihat ke arah microwave, yang mati, dan pintunya tertutup, dan yang jelas tidak dinyalakan dalam waktu dekat.

Lalu dia melihatku lagi.

Lalu dia melihat botol air yang hilang dari counter.

Lalu dia melihat ke arah lorong, ke arah punggung seseorang yang sedang berjalan menjauh dengan sangat tenang.

“Oke,” kata Gege pelan.

“Jangan.”

“Aku nggak ngomong apa-apa.”

“Ge.”

“Aku cuma bikin mi.”

Dia membuka lemari, mengambil cup mi, mengisinya dengan air panas, dan melakukan seluruh proses itu dengan ekspresi seseorang yang sedang menyimpan sebuah berita di brankas dan menghafal kombinasinya.

Aku berdiri di sana, memegang garam.

“Ge.”

“Hm.”

“Kalau kamu ngomong ke siapa pun—”

“Lisa.” Gege menutup cup mi-nya dan menatapku, dan untuk sekali ini sama sekali tidak bercanda. “Aku nggak akan ngomong ke siapa pun. Tapi kamu harus ngomong ke seseorang. Sebaiknya dia.”

“Nggak ada yang perlu diomongin.”

“Ada.”

“Kita lagi rebutan satu kursi.”

“Iya.”

“Dan November ini salah satu dari kita bakal kalah.”

“Iya.” Gege mengambil garpu. “Dan kalau kamu nggak ngomong sekarang, yang kalah nanti bukan satu.”

Dia keluar.

Aku berdiri di pantry selebar satu koma dua meter selama dua menit penuh, dengan punggung ke lemari yang sama, dan dengan tubuh yang masih mengingat sesuatu yang sudah tidak ada.

Lalu aku mengembalikan garam ke rak paling atas — ke tempat yang salah, dengan sengaja, karena aku sedang marah kepada rak — dan kembali ke ruang kerja, dan duduk di meja yang menempel dengan mejanya.

Dia sudah di sana. Sudah bekerja. Wajahnya tidak melakukan apa pun.

“Baris empat belas,” katanya, tanpa mengangkat kepala.

“Kenapa baris empat belas?”

“Kamu bakal nanya nanti. Aku duluin.”

Dan aku, untuk pertama kalinya dalam lima tahun karierku, tidak bisa membaca satu baris pun dari layar di depanku selama empat puluh menit berikutnya.

Jam sebelas lewat dua puluh, ponselku bergetar.

Email. Bu Renata. Dikirim ke dua orang.

Karena tim analisis digabung, saya tidak lagi punya cara membedakan output kalian dari struktur tim.

Mulai minggu depan, setiap deliverable yang masuk ke saya harus mencantumkan siapa yang menyusun bagian apa. Satu nama per bagian. Bukan dua.

Kalian yang mengusulkan ini. Silakan diurus sendiri.

Aku membacanya dua kali.

Di sebelahku, layar ponselnya menyala di atas meja, menampilkan email yang sama, dan dia tidak menyentuhnya sama sekali.

“Kamu udah baca?” tanyaku.

“Belum.”

“Bohong.”

“Belum aku buka.”

“Kamu bisa liat dari sini.”

“Iya.”

Aku menaruh ponselku menghadap ke bawah.

Satu nama per bagian. Bukan dua.

Empat puluh menit yang kami habiskan untuk selisih nol koma nol lima itu ada di bagian mana, dan atas nama siapa?

Papan tulis di belakang kami penuh dengan tulisan tangan dua orang yang sudah tidak bisa dipisahkan lagi, dan aku memandanginya dengan perasaan seseorang yang baru saja menyadari bahwa dia ikut membakar sesuatu yang nanti harus dia bagi.

“Rey.”

“Hm.”

“Ini bakal jadi masalah.”

Dia mengetik tiga karakter, menghapusnya, dan mengetik lagi.

“Iya,” katanya.

Dan itu semua yang dia katakan.