Chapter Twenty Seven
Ketahuan
POV: Lisa
Yang membongkar semuanya bukan lift, bukan CCTV, bukan Om Bram, dan bukan salah satu dari empat belas skenario yang sudah kususun di kepalaku selama enam bulan.
Yang membongkar semuanya adalah kotak bekal.
Hari Senin, jam dua belas lewat, ruang kerja lantai dua puluh satu. Aku sedang menjelaskan sesuatu kepada Nadine sambil makan, dan Nadine sedang mendengarkan sambil melihat ke arah mejaku dengan ekspresi yang perlahan berubah.
“Bu Lisa.”
“Hm?”
“Itu kotaknya dua.”
Aku melihat ke mejaku.
Dua kotak bekal identik. Merek yang sama, ukuran yang sama, tutup yang sama, karena dibeli sekaligus di minimarket lantai dasar Verde Residence tiga minggu lalu oleh orang yang membeli semua hal sekaligus supaya tidak perlu kembali.
Satu di depanku. Satu di depan kursi kosong di sebelahku.
“Iya,” kataku.
“Ibu bawa dua?”
“Iya.”
“Ibu makan dua kotak?”
Dan di sinilah aku, yang bicara empat menit tanpa jeda di depan dewan direksi, yang mengisi tiga belas menit kosong ketika laptopku mati, yang punya tujuh ratus kalimat cadangan untuk situasi apa pun —
“Iya,” kataku.
Nadine memandangi dua kotak itu.
Lalu memandangiku.
Lalu, dengan sangat pelan, memandangi kursi kosong di sebelahku yang jasnya masih tergantung di sandaran.
“Oh,” katanya.
Butuh dua jam empat puluh menit.
Aku tahu durasinya karena Gege memberitahuku belakangan, dengan bangga, seolah-olah dia baru saja mengukur kecepatan angin.
Jam dua lewat, tim analis sudah tahu. Jam tiga, praktik strategi. Jam empat, seseorang dari praktik keuangan di lantai dua puluh dua bertanya kepada Gege apakah benar, dan Gege — menurut kesaksiannya sendiri — menjawab “aku nggak tau apa-apa” dengan wajah yang menurut deskripsinya “sangat meyakinkan” dan menurut deskripsi tiga saksi lain “seperti orang yang baru menang lotre”.
Jam setengah lima, dia berdiri di depan mejaku.
“Aku mau bilang satu hal.”
“Ge—”
“Satu hal doang. Terus aku pergi.”
Aku menutup laptopku.
“Aku tau dari bulan Agustus,” katanya.
“Aku tau kamu tau.”
“Enggak. Kamu pikir aku tau dari lift.” Dia menaruh gelas kopi di mejaku, yang adalah caranya menyerahkan sesuatu. “Aku tau dari bulan Agustus, tanggal empat belas, hari Kamis. Bukan dari lift, bukan dari kamu merah di pantry, bukan dari kerah blazer.”
“Terus dari apa?”
“Dari kopi.” Gege mengangkat dagu ke arah gelas di sisi kiri mejaku. “Sisi kiri. Selalu. Tiap hari sejak bulan Juni.”
Aku menatap gelas itu.
“Semua orang naruh kopi di sisi kanan, Lis. Semua orang. Karena semua orang naruh di sisi tangan dominannya sendiri, bukan tangan dominan orang lain.” Dia menyandarkan pinggul ke meja. “Aku merhatiin itu bulan Agustus dan aku duduk di meja aku selama sepuluh menit dan aku mikir: orang itu udah merhatiin tangan mana yang kamu pakai buat nulis. Dan dia udah ngelakuin itu tiap hari selama dua bulan tanpa sekali pun ngomong.”
Aku tidak menjawab.
“Terus aku mikir lagi,” katanya, “dan aku sadar dia nggak akan pernah bilang apa-apa. Nggak akan pernah. Sepuluh tahun juga nggak. Dan kamu bakal ngabisin dua tahun bikin teori tentang kenapa dia dingin.”
“Ge.”
“Makanya aku nggak ngomong apa-apa selama empat bulan,” katanya. “Karena itu bukan punya aku.”
Dia berdiri.
“Sekarang udah, jadi aku boleh ngomong: Lis, aku seneng banget.”
“Ge—”
“Aku seneng banget dan aku bakal ngeledek kamu selama tiga tahun.” Dia mengambil gelasnya sendiri. “Dua-duanya bener. Dua-duanya nggak bisa dinego.”
Nadine datang jam lima kurang sepuluh.
Aku sedang bersiap untuk versi yang buruk. Aku sudah menyiapkan diriku untuk canggung, atau untuk sopan yang dingin, atau untuk salah satu dari enam skenario yang membuatku merasa seperti orang yang mengambil sesuatu dari orang lain.
Dia berdiri di sisi mejaku dengan map di tangan.
“Bu Lisa, ini validasi rute lima belas sampai sembilan belas. Sudah saya rekap.”
“Makasih, Nadine.”
“Sama-sama.” Dia menaruh mapnya. Lalu tidak pergi.
Ada satu detik.
“Bu.”
“Iya?”
“Saya nanya dia makan siang tiga kali,” katanya. “Bulan Juli, Agustus, sama bulan lalu.”
“Nadine—”
“Dia nolak tiga-tiganya, dan saya nggak keberatan, karena saya emang orang yang nanya sampai jelas.” Dia mengangkat bahu, dengan cara yang sangat ringan dan sangat dewasa. “Yang bulan lalu itu dia bilang ‘nggak’ terus ‘makasih’. Dua kata. Saya inget karena itu paling sopan dari tiga-tiganya.”
Aku tidak tahu harus mengatakan apa.
“Saya cuma mau bilang,” lanjutnya, “kalau ada yang ngomongin ini di dapur, saya nggak ikut. Itu aja.”
Dan dia pergi, dengan punggung tegak, ke mejanya sendiri.
Aku duduk di sana selama beberapa detik dan berpikir bahwa aku akan menulis penilaian setengah tahunan yang sangat bagus untuk anak itu, dan bahwa aku akan menulisnya sebelum ada yang meminta.
Rey masuk jam lima lewat.
Dia berjalan melewati ruang terbuka lantai dua puluh satu, seperti setiap hari selama empat tahun, dengan jas di lengan dan buku catatan abu-abu di tangan.
Empat puluh orang berpura-pura tidak melihat.
Empat puluh orang gagal total.
Dia duduk di kursinya. Membuka laptopnya. Mengetik tiga karakter.
Lalu berhenti.
“Ada apa,” katanya, tanpa mengangkat kepala.
“Nggak ada apa-apa.”
“Lis.”
“Kotaknya dua.”
Dia berhenti mengetik.
Aku menonton, dari jarak enam puluh sentimeter, orang paling irit ekspresi di gedung Meridian melakukan perhitungan lengkap dalam waktu kurang dari dua detik — kotak, meja, Nadine, jam dua belas, empat puluh orang di ruang terbuka.
“Oh,” katanya.
“Iya.”
“Berapa lama?”
“Dua jam empat puluh menit,” kataku. “Menurut Gege.”
Dia mengangguk sekali.
Lalu dia melakukan hal yang membuat empat puluh orang di ruang terbuka lantai dua puluh satu berhenti bernapas secara bersamaan:
Dia mengambil kotak bekal kedua dari mejaku, membukanya, dan mulai makan.
Di mejanya sendiri. Jam lima sore. Di depan semua orang.
Tanpa satu kata.
Seseorang di barisan belakang menjatuhkan sesuatu.
“Rey,” bisikku.
“Hm.”
“Kamu tau kamu barusan ngapain?”
“Aku laper.”
“Rey.”
Dia mengunyah. Menelan. Mengambil satu suap lagi.
“Kalau aku nggak makan,” katanya, “besok ada empat versi cerita. Kalau aku makan, cuma ada satu.”
Aku menatapnya.
“Itu,” kataku, “hal paling strategis yang pernah aku denger.”
“Iya.”
“Kamu nyiapin itu dari kapan?”
“Dari lift tadi.”
Bu Renata memanggil kami jam enam.
Ruangannya di sudut, kacanya menghadap arah yang salah untuk pemandangan. Dia menutup pintunya.
Aku sudah menyiapkan diriku sepanjang satu jam terakhir. Aku sudah menyusun tiga versi pembelaan, satu permintaan maaf, dan satu penawaran untuk keluar dari tim Helios kalau memang perlu.
“Duduk.”
Kami duduk.
Bu Renata membuka folder di depannya, membacanya selama beberapa detik, lalu menutupnya lagi.
“Rekomendasi final Helios masuk ke Pak Wisnu hari Kamis,” katanya.
Aku berkedip.
“Iya, Bu.”
“Halaman satu, temuan sembilan belas rute. Penanggung jawab R. Alvaro.” Dia melihat Rey. “Kamu efektif pindah ke praktik operasi satu November. Itu tiga hari setelah presentasi.”
“Iya, Bu.”
“Jadi saya butuh tahu satu hal, dan ini satu-satunya hal yang saya butuh tahu dari kalian berdua malam ini.”
Dia melipat tangannya.
“Siapa yang berdiri di depan ruangan hari Kamis?”
Ada hening.
Aku menunggu selama dua detik penuh untuk sesuatu yang lain — untuk pertanyaan tentang kebijakan hubungan antar-karyawan, untuk formulir pengungkapan, untuk satu kalimat tentang bagaimana ini terlihat.
Tidak datang.
“Bu,” kataku, “Ibu nggak mau nanya soal—”
“Soal apa?” Bu Renata mengangkat alis. “Kalian dua orang dewasa yang tidak ada hubungan pelaporan langsung, dan kalian sudah kerja di satu tim selama enam bulan dan hasilnya adalah temuan terbesar di engagement ini. Formulir pengungkapannya ada di intranet, isi besok, selesai.”
Dia mengetuk foldernya dengan satu jari.
“Yang saya urus adalah hari Kamis. Karena hari Kamis ada pemilik grup senilai empat koma dua triliun yang harus diberi tahu bahwa laporan internalnya salah selama sembilan bulan, dan saya butuh satu orang yang bisa menyampaikan itu tanpa membuat dia merasa dipermalukan di depan direksinya sendiri.”
Bu Renata melihatku.
Lalu melihat Rey.
“Dan saya sudah tahu jawabannya,” katanya. “Saya cuma mau lihat siapa yang bilang duluan.”
Rey membuka mulut.
“Lisa,” katanya.
Aku menoleh.
“Bu,” kataku, “halaman satu itu bagiannya.”
“Iya,” kata Rey. “Dan kamu yang pegang ruangan.”
Dan aku duduk di kursi di ruang Bu Renata Siregar jam enam sore dan menyadari bahwa kalimat itu — persis kalimat itu, empat kata, kamu pegang ruangan — sudah diucapkan orang ini kepadaku sebelumnya, di lantai dua puluh satu, di pagi hari waktu kerah blazer biruku terlipat.
Bu Renata menutup foldernya.
“Bagus,” katanya. “Keluar.”
Di ambang pintu, dia memanggil sekali lagi.
“Rey.”
“Bu.”
“Kamu sudah bilang ke dia soal alasan kamu narik kandidasi?”
Ada jeda yang sangat pendek.
“Belum semuanya, Bu.”
“Hm.” Bu Renata sudah kembali ke layarnya. “Empat minggu lagi keputusannya. Sebaiknya sebelum itu.”
Pintunya menutup di belakang kami.
Kami berdiri di lorong lantai dua puluh satu, di depan jendela yang menghadap barat, tempat semua orang Meridian pergi kalau mau bicara tentang hal yang tidak boleh dibicarakan di ruang rapat.
“Belum semuanya?” kataku.
“Hm.”
“Rey.”
“Kamis dulu,” katanya. “Habis Kamis aku ceritain.”
“Kamu nggak bisa ngomong ‘belum semuanya’ terus nyuruh aku nunggu tiga hari!”
“Bisa.”
“Itu jahat!”
“Iya,” katanya, dan berjalan ke lift.
Aku berdiri di depan jendela itu selama beberapa detik lagi, dengan Jakarta jam enam sore di luar melakukan hal yang selalu dilakukan Jakarta jam enam sore, dan menyadari dua hal.
Yang pertama, bahwa aku sudah dua kali dalam hidup ini merasakan seluruh isi dadaku berpindah tempat karena satu kalimat pendek dari orang itu, dan dua-duanya terjadi di gedung ini.
Yang kedua, bahwa selama enam bulan aku menganggap Rey Alvaro tidak pernah menyembunyikan apa pun karena dia selalu menjawab jujur.
Ternyata itu dua hal yang sama sekali berbeda.
- 1 Unit Sebelah
- 2 Empat Menit
- 3 Sekat
- 4 Jemuran
- 5 Terlalu Dekat
- 6 Kode
- 7 Kerah
- 8 Pantry
- 9 Tangga Darurat
- 10 Semalem
- 11 Aturan
- 12 Di Bawah Meja
- 13 Delapan Lantai
- 14 Empat Jam
- 15 Dua Kamar
- 16 Bu Lisa
- 17 Bekasi
- 18 Lewat Sekat
- 19 Dua Bagian Kosong
- 20 Meninggikan Suara
- 21 Pintu Depan
- 22 Dua Gelas
- 23 Kain di Sekat
- 24 Mundur
- 25 Jam Satu Pagi
- 26 Pagi
- 27 Ketahuan reading
- 28 Selesai?
- 29 Berkali-Kali
- 30 Kening
- 31 Nol
- 32 Kuncinya