← Balkonnya Masih Kebuka?

Chapter Sixteen

Bu Lisa

POV: Lisa


Perjalanan pulang dari Cirebon memakan waktu empat jam empat puluh menit, dan aku bicara selama empat jam tiga puluh delapan menit dari waktu itu.

Bukan karena aku ingin. Karena diam terasa seperti menyerahkan sesuatu.

Aku bicara tentang sembilan belas rute. Tentang cara menyusun temuan itu supaya Pak Wisnu tidak merasa dipermalukan di depan direksinya sendiri. Tentang urutan halaman. Tentang apakah kami harus menaruhnya di halaman satu atau menyimpannya sampai halaman enam supaya ada bangunan.

Rey menjawab dua puluh sembilan kali. Aku menghitung, karena sekarang aku juga menghitung, karena ternyata itu menular.

Dan tidak satu kali pun dari dua puluh sembilan itu menyinggung kamar 204.

Aku tahu itu disengaja. Aku juga tahu — dan ini bagian yang membuatku ingin membuka pintu mobil di tengah tol — bahwa dia diam bukan karena menghindar. Dia diam karena dia sudah mengatakan hal yang perlu dia katakan jam enam pagi, dan orang seperti Rey Alvaro tidak mengulang.

Aku ambil empat bulan karena aku pikir aku bisa. Dan sekarang baru bulan pertama.

Aku memutar kalimat itu di kepalaku sekitar empat ratus kali antara Palimanan dan Cikampek, dan setiap kali aku sampai pada kesimpulan yang sama, yaitu bahwa aku tidak sanggup menanyakan lanjutannya.

Karena kalau aku tanya terus gimana, dia akan menjawab jujur.

Dia selalu menjawab jujur. Itu bagian paling berbahaya dari orang itu.

Kami sampai di Verde Residence jam setengah delapan malam. Dia mengangkat koperku dari bagasi tanpa bertanya. Kami naik lift bersama, empat belas lantai, dengan Om Bram yang untungnya sedang tidak bertugas.

Di depan pintu masing-masing, enam langkah terpisah, dia berhenti.

“Lis.”

“Hm.”

“Besok pagi Renata bakal manggil kita.”

“Aku tau.”

“Sembilan belas rute itu bakal jadi halaman satu.”

“Aku tau.”

Dia memasukkan kartunya. Pintunya berbunyi.

“Rey.”

Dia berhenti.

Dan aku berdiri di koridor lantai empat belas dengan koper di tangan dan sepuluh kalimat berbeda di kepalaku, dan yang keluar adalah yang paling pengecut dari semuanya.

“Selamat malam.”

“Selamat malam.”

Dua pintu tertutup, dalam jarak tiga detik.

Aku berdiri di ruang tamuku sendiri selama semenit penuh sebelum sadar aku masih memakai sepatu.


Bu Renata membaca temuan itu selama sebelas menit tanpa bicara.

Sebelas menit adalah waktu yang sangat lama untuk berada di dalam ruangan bersama Bu Renata Siregar tanpa ada yang bicara. Gege, yang duduk di kursi paling ujung karena dia yang menyusun lampirannya, terlihat seperti orang yang sedang menunggu hasil biopsi.

Akhirnya Bu Renata menutup mapnya.

“Sembilan belas rute,” katanya.

“Iya, Bu.”

“Dicatat dua kali. Selama sembilan bulan.”

“Iya, Bu.”

“Dan sistemnya nggak salah.”

“Sistemnya nggak salah,” kataku. “Yang salah adalah nggak ada yang ngasih tau dua tim di Cirebon bahwa rutenya udah dialihkan. Jadi dua-duanya nyatat, dua-duanya benar menurut prosedur masing-masing, dan angkanya masuk dua kali ke pusat.”

Bu Renata menyandarkan punggungnya.

“Kalian tahu apa artinya ini buat Pak Wisnu.”

“Laporan internal dia salah sembilan bulan,” kata Rey.

“Bukan itu.” Bu Renata melihatnya. “Artinya adalah dia sudah ambil tiga keputusan besar berdasarkan angka itu. Termasuk menutup dua lini yang, kalau angkanya benar, mungkin nggak perlu ditutup.”

Ruangan itu jadi sangat sunyi.

Gege, di ujung, menutup laptopnya dengan sangat pelan, seperti orang yang tidak ingin membangunkan sesuatu.

“Ini masuk halaman satu,” kata Bu Renata. “Dan halaman satu cuma punya satu nama.”

Aku sudah menyiapkan diriku untuk kalimat itu sejak Cirebon.

Aku sudah menyusun argumennya di kepalaku — bahwa aku yang meminta data Maret, bahwa aku yang mendesak Pak Deden, bahwa tanpa enam jam di gudang berdebu itu tidak akan ada satu pun dari ini. Semua benar. Semua bisa kuucapkan dalam empat puluh detik dan tidak ada satu orang pun di ruangan ini yang bisa membantahnya.

Aku membuka mulut.

Dan yang keluar adalah:

“Rey yang nemu duplikat Semarangnya bulan lalu, Bu.”

Ada jeda.

Aku merasakannya sebelum aku melihatnya — perubahan kecil di udara, jenis yang sama seperti waktu klien saling melirik. Gege mengangkat kepala. Bu Renata tidak bergerak sama sekali, yang bagi Bu Renata adalah gerakan besar.

Dan di sebelah kananku, dua kursi jauhnya, Rey Alvaro berhenti bernapas selama kira-kira setengah detik.

Aku tidak menoleh. Aku tidak berani.

“Hm,” kata Bu Renata.

Dia menulis sesuatu.

“Saya pikirkan,” katanya. “Keluar.”


Kami tidak membicarakannya sepanjang pagi.

Itu bukan kebetulan. Itu keputusan bersama yang tidak pernah diucapkan, dan sepanjang tiga jam berikutnya kami bekerja berdampingan di dua meja yang menempel dengan sopan santun dua orang asing di ruang tunggu bandara.

Dia menaruh kopi di sisi kiri mejaku jam sepuluh.

Aku mengucapkan terima kasih.

Dia bilang “hm”.

Jam setengah dua belas, tim analis masuk untuk rapat harian, tujuh orang, dengan Nadine membawa proyektor portabel dan Gege membawa energi yang sangat mencurigakan.

Aku berdiri di depan papan tulis, memegang gelas air, dan mulai membagi pekerjaan.

“Oke, jadi kita punya sembilan belas rute yang harus divalidasi ulang sebelum Rabu—”

“Bu Lisa.”

Aku berhenti.

Bukan karena panggilannya. Orang memanggilku “Bu Lisa” belasan kali sehari di gedung ini; itu bahasa standar Meridian, sopan, netral, sama sekali tidak berarti apa-apa.

Aku berhenti karena nadanya.

Karena Rey Alvaro, yang duduk di kursi keempat dari kiri dengan pulpen di tangan dan wajah sedatar dinding, baru saja mengucapkan dua kata itu dengan nada yang sepenuhnya, sepenuhnya salah.

Bukan sopan. Bukan netral.

Pelan. Setengah nada lebih rendah. Dengan jeda mikroskopis di antara “Bu” dan “Lisa” yang seharusnya tidak ada di sana.

Nada yang sama persis dengan nada di lorong hotel jam sepuluh malam.

Gelasku jatuh.

Bukan pecah — gelas Meridian dari plastik tebal, karena divisi umum sudah lama menyerah pada gelas kaca — tapi jatuh, memantul sekali di lantai, dan menggelinding ke arah kaki Nadine sambil menumpahkan air ke seluruh sisi kiri karpet ruang kerja.

Tujuh orang menonton gelas itu menggelinding.

“Aduh,” kata Nadine, dan menunduk mengambilnya.

“Maaf.” Suaraku keluar sangat tinggi. “Tangan aku licin.”

“Tangan Ibu kenapa licin?” tanya seorang analis, dengan ketulusan yang menyakitkan.

“Lotion,” kataku.

“Ibu pakai lotion jam setengah dua belas?”

“Iya.”

Gege menaruh dagunya di atas tangan dengan gerakan yang sangat lambat.

“Lanjut,” kataku, ke papan tulis. “Sembilan belas rute. Divalidasi. Sebelum Rabu.”

“Ibu belum bilang siapa yang ngerjain,” kata Nadine.

“Iya. Benar. Terima kasih.” Aku menulis sesuatu di papan yang, waktu kubaca lagi tiga detik kemudian, ternyata bukan kata.

Di kursi keempat dari kiri, Rey mencatat sesuatu di buku abu-abunya dan tidak mengangkat wajah sekali pun.


Rapat selesai jam dua belas lewat sepuluh.

Enam orang keluar. Satu tidak.

“Ge, aku sibuk.”

“Kamu nggak sibuk. Kamu lagi mandangin papan tulis yang tulisannya ‘validsai’.”

Aku menghapusnya dengan telapak tangan.

“Lis.”

“Jangan.”

“Aku belum ngomong apa-apa.”

“Kamu naruh dagu di tangan. Kamu cuma naruh dagu di tangan kalau kamu udah nyimpulin sesuatu.”

Gege menarik kursi dan duduk menghadap sandaran, yang adalah caranya duduk kalau dia berniat lama.

“Aku mau nanya satu hal,” katanya. “Satu doang. Dan kamu boleh bohong, dan aku nggak akan maksa, dan setelah itu aku nggak akan bahas lagi sampai kamu yang mulai.”

“Ge—”

“Tadi pagi di ruang Renata.” Dia menatapku. “Kamu punya argumen buat halaman satu itu. Aku tau kamu punya, karena aku yang nyusun lampirannya dan aku liat kamu nulis tiga poin di margin jam enam pagi.”

Aku tidak menjawab.

“Terus kamu kasih ke dia.”

“Karena dia yang nemu duplikatnya.”

“Iya. Betul. Dan kamu yang nemu sembilan belasnya.” Gege memiringkan kepala. “Lis, itu bukan halaman satu punya dia. Itu halaman satu punya kalian berdua, dan kamu tau persis Renata cuma mau satu nama, dan kamu ngasih namanya sebelum ada yang minta.”

Ruang kerja itu kosong. Papan tulis di belakangku penuh tulisan tangan dua orang yang sudah tidak bisa kupisahkan lagi kalau harus.

“Pertanyaannya apa?” tanyaku.

Gege diam sebentar.

“Kamu tau sesuatu tentang dia,” katanya, “yang bikin kamu ngerasa dia lebih butuh ini daripada kamu.”

Itu bukan pertanyaan.

Dan aku, yang belum pernah dalam lima tahun berbohong ke Gerald Tanuwijaya tentang apa pun yang penting, berdiri di depan papan tulis dan berbohong.

“Nggak.”

Gege memandangiku cukup lama.

Lalu dia berdiri, mendorong kursinya kembali ke tempatnya, dan berjalan ke pintu.

“Oke,” katanya.

Di ambang pintu dia berhenti.

“Lis.”

“Hm.”

“Aku nggak tau apa yang kamu tau.” Dia tidak menoleh. “Tapi apa pun itu — hati-hati. Karena kasihan itu rasanya mirip banget sama sayang, dan yang satu bikin orang bertahan, dan yang satu bikin orang malu.”

Dia pergi.

Aku berdiri sendirian di ruangan itu dengan telapak tangan yang masih kotor spidol, dan menyadari bahwa aku sudah menghabiskan dua puluh empat jam terakhir untuk mengerjakan satu hitungan di kepalaku yang belum berani kuselesaikan.

Sembilan belas rute di halaman satu.

Kursi Engagement Manager di bulan November.

Dan tiga koma dua juta per sesi, empat kali seminggu, mulai bulan depan.

Aku duduk di kursiku, membuka laptop, dan membuka file presentasiku sendiri.

Bukan untuk mengerjakannya.

Untuk melihat berapa banyak yang bisa dilepas tanpa ada yang sadar.

Aku menutup file itu setelah dua menit, dengan tangan yang tidak sepenuhnya stabil, dan meyakinkan diriku bahwa aku cuma sedang memeriksa struktur.

Sore itu, di layar seberang mejaku, Rey Alvaro mengetik selama tiga jam tanpa berhenti dan tidak sekali pun menaruh kopi di sisi kiri mejaku.

Aku memperhatikannya.

Dan aku tidak tahu apakah itu karena dia sedang sibuk, atau karena dia sudah mulai menghitung hal yang sama denganku.