Chapter Twenty One
Pintu Depan
POV: Lisa
Aku sampai di unit 14A jam sepuluh lewat dua puluh dan langsung melakukan hal yang paling tidak berguna yang bisa dilakukan manusia dalam keadaan seperti itu, yaitu membereskan.
Aku mencuci dua gelas yang sudah bersih. Aku melipat baju yang sudah terlipat. Aku memindahkan tanaman yang mungkin sudah mati dari sudut kiri ke sudut kanan dan berdiri memandanginya selama satu menit sebelum memindahkannya kembali.
Ini yang kupikirkan selama itu, dan urutannya jujur:
Pertama, bahwa aku baru saja mengucapkan hal itu keras-keras di ruang kerja lantai dua puluh satu dengan volume yang kemungkinan besar terdengar sampai lorong.
Kedua, bahwa dia tidak membalasnya.
Ketiga — dan ini yang membuatku berhenti di tengah ruangan sambil memegang tanaman — bahwa aku tidak marah karena dia tidak membalasnya.
Aku marah karena dia bertanya apakah aku pikir dia akan menerima.
Karena pertanyaan itu punya jawaban, dan jawabannya adalah tidak, dan dia tahu jawabannya sebelum bertanya, dan dia bertanya juga.
Aku menaruh tanaman itu. Aku duduk di lantai dengan punggung ke sofa.
Dan aku menyadari bahwa aku sudah menghabiskan enam bulan mengagumi cara orang itu menggunakan sedikit kata dengan presisi bedah, dan bahwa malam ini dia baru saja menunjukkan kepadaku sisi lain dari benda yang sama.
Kalau kamu cuma punya lima kata, dan kamu memilih yang salah, kamu tidak punya cadangan.
Ketukan itu datang jam sebelas kurang sepuluh.
Bukan di pintu kaca balkon.
Di pintu depan.
Aku duduk di lantai dan tidak bergerak selama tiga ketukan.
Lalu aku berdiri, dan berjalan ke pintu, dan membukanya tanpa memeriksa siapa, karena tidak ada orang lain di lantai empat belas yang mengetuk seperti itu — dua kali, jeda, sekali — dan karena aku sudah mengenali pola itu sejak entah kapan tanpa pernah sadar bahwa aku mengenalinya.
Dia berdiri di koridor dengan kemeja yang lengannya masih digulung dan wajah orang yang sudah berdiri di sana selama beberapa menit sebelum mengetuk.
“Balkonnya masih kebuka?” kataku.
Aku tidak tahu kenapa aku mengucapkannya. Itu keluar sendiri, dan begitu keluar aku langsung tahu itu salah, karena kalimat itu milik versi kami yang lain — versi jam sebelas malam, versi sekat beton, versi yang tidak pernah membawa apa pun dari balkon ke kantor.
Dia melihat ke arah pintu balkonku, yang terbuka, dan tirainya bergerak sedikit.
“Aku nggak mau lewat balkon lagi,” katanya.
“Kenapa?”
“Karena kita nggak lagi di balkon.”
Dan itu — kalimat itu, dari orang itu, di koridor lantai empat belas jam sebelas kurang sepuluh — adalah pertama kalinya dalam enam bulan Rey Alvaro mengakui keras-keras bahwa dua versi kami adalah dua hal yang berbeda.
Aku membuka pintu lebih lebar.
Dia tidak masuk.
“Aku salah ngomong,” katanya.
“Iya.”
“Aku nggak—”
“Rey, kamu boleh masuk atau kamu boleh pulang, tapi kamu nggak boleh minta maaf di koridor sambil megang gagang pintu.”
Dia masuk.
Kami bertengkar selama satu jam empat puluh menit.
Aku tahu durasinya karena aku melihat jam microwave waktu kami mulai dan melihatnya lagi waktu kami berhenti, dan karena di antara dua titik itu aku mengucapkan lebih banyak kata daripada yang pernah kuucapkan kepada siapa pun dalam satu kesempatan seumur hidupku.
“—dan yang bikin aku gila bukan kamu nolak, oke, aku udah nyiapin diri buat kamu nolak—”
“Aku nggak nolak.”
“Kamu nanya apa aku pikir kamu bakal terima—”
“Iya.”
“Itu nolak, Rey! Itu nolak dengan tambahan bikin aku ngerasa bodoh karena udah nawarin!”
“Aku tau.”
“Berhenti bilang ‘aku tau’!”
“Aku—” Dia berhenti. Menarik napas. “Oke.”
Kami berdiri di dapur unit 14A yang lebarnya satu koma dua meter, karena entah bagaimana pertengkaran ini bergerak dari ruang tamu ke dapur seperti semua pertengkaran di apartemen kecil, dan aku memegang gelas air yang tidak kuminum sama sekali.
“Aku nggak butuh kamu ngalah,” katanya.
“Aku tau.”
“Kamu nggak tau.” Suaranya masih pelan, tapi ada sesuatu di bawahnya. “Kamu pikir aku nolak karena gengsi.”
“Ya emang!”
“Bukan.”
“Rey, seluruh hidup kamu itu gengsi. Kamu tinggal di apartemen yang nggak ada kursi keduanya karena kamu nggak mau ada yang dateng—”
“Aku nolak,” katanya, “karena kamu satu-satunya hal di hidup aku yang nggak ada angkanya.”
Aku berhenti.
“Semua ada angkanya,” lanjutnya. “Tiga hari seminggu. Tiga koma dua per sesi. Band gaji, tunjangan, tanggal cuci darah, tanggal transfer. Aku punya kolom buat semuanya dan aku hitung tiap hari sejak dua tahun lalu dan aku nggak keberatan, karena itu kerjaan aku.”
Dia meletakkan tangannya di meja pantry.
“Terus kamu pindah ke 14A.”
Aku tidak bisa bicara.
“Dan enam bulan,” katanya, “kamu satu-satunya bagian dari hari aku yang nggak masuk kolom mana pun. Nggak ada hitungannya. Nggak ada gunanya. Kamu cuma ngomong empat ratus kata per menit di seberang sekat tentang rest area, dan itu satu-satunya jam di hari aku yang nggak dipakai buat apa-apa.”
Napasku keluar tidak rata.
“Terus kamu ngosongin dua bagian,” katanya, “dan sekarang kamu punya angka juga.”
Ada beberapa detik di mana tidak ada yang mengatakan apa pun.
Kulkas berdengung. Di lorong luar, lift berdenting.
“Itu bukan alasan,” kataku akhirnya.
“Bukan,” katanya. “Itu penjelasan.”
Dan aku — yang sudah mendengar kalimat itu dari orang ini tiga kali sebelumnya, di rapat pertama, di tangga darurat, di balkon — merasakan sesuatu di dadaku pecah pelan, karena kali ini dia mengucapkannya dengan suara yang sepenuhnya tidak stabil.
“Kalau aku menang bulan November,” kataku, “kamu bakal gimana?”
“Aku bakal ngucapin selamat.”
“Terus?”
“Terus aku cari cara lain.”
“Terus?”
Dia tidak menjawab.
“Terus kamu bakal pulang ke 14B,” kataku, “dan kamu bakal ngitung ulang sesuatu di kepala kamu, dan kamu nggak akan pernah nyinggung ini lagi seumur hidup kamu. Iya, kan.”
Hening.
“Iya,” katanya.
“Dan itu yang aku nggak sanggup, Rey.” Suaraku pecah di tengah dan aku membiarkannya. “Bukan kamu kalah. Aku nggak peduli siapa yang menang, aku beneran nggak peduli, dan itu hal paling aneh yang pernah aku sadarin tentang diri aku sendiri. Yang aku nggak sanggup itu kamu bakal nanggung sendiri lagi dan nggak bilang apa-apa dan aku harus nonton.”
“Lis.”
“Karena itu yang kamu lakuin. Tiap kali. Kamu ngerjain ulang model aku jam tiga pagi dan nggak bilang. Kamu bikin rekonsiliasi semalaman dan cetak dua dan nggak bilang. Kamu bawa dua kotak bekal selama empat hari dan nggak bilang—”
“Aku bilang sekarang.”
Aku berhenti.
Dia berdiri di dapur selebar satu koma dua meter, dengan punggung ke lemari, dan mengucapkan kalimat berikutnya dengan susunan yang jelas sudah dia buang dan susun ulang beberapa kali di kepalanya selama satu jam terakhir.
“Aku nggak mau kamu ngalah,” katanya. “Aku juga nggak mau kamu pergi. Aku nggak tau gimana caranya minta dua-duanya sekaligus, dan aku nggak punya cukup kata buat itu, dan itu masalah aku, bukan masalah kamu.”
Gelas air di tanganku sudah tidak ada. Aku tidak ingat menaruhnya.
“Rey.”
“Hm.”
“Itu enam puluh empat kata.”
“Aku tau.”
“Kamu ngitung?”
“Aku selalu ngitung,” katanya.
Dan aku melangkah satu kali, dan dia tidak mundur, dan aku menutup jarak satu koma dua meter itu untuk terakhir kalinya malam itu.
Pintu depan unit 14A tidak ditutup sampai jam dua belas lewat sepuluh, waktu salah satu dari kami akhirnya ingat bahwa pintu itu masih setengah terbuka dan bahwa Om Bram berpatroli di lantai empat belas setiap jam dua belas.
Yang menutupnya bukan aku.
Aku bangun jam empat pagi.
Bukan karena mimpi. Bukan karena suara.
Karena tanganku bergerak ke sisi kiri ranjang dan menemukan bahwa sisi kiri ranjang dingin.
Aku berbaring dengan mata terbuka di gelap selama beberapa detik sebelum melihat: pintu kaca balkon terbuka, dan ada bentuk seseorang berdiri di sana, membelakangi, dengan siku di sekat beton.
Dia berdiri di sana entah sudah berapa lama.
Aku tidak memanggilnya.
Aku berbaring miring dan menonton punggung itu di balkonku sendiri jam empat pagi, dengan langit Jakarta yang mulai berubah dari hitam ke abu-abu, dan merasakan sesuatu yang sangat tenang dan sangat mengerikan mengendap di dadaku.
Karena aku sudah cukup lama mengenal orang itu.
Aku tahu apa artinya kalau Rey Alvaro berdiri diam di suatu tempat selama lebih dari sepuluh menit.
Artinya dia sedang menghitung sesuatu.
Dan artinya dia sudah hampir selesai.
- 1 Unit Sebelah
- 2 Empat Menit
- 3 Sekat
- 4 Jemuran
- 5 Terlalu Dekat
- 6 Kode
- 7 Kerah
- 8 Pantry
- 9 Tangga Darurat
- 10 Semalem
- 11 Aturan
- 12 Di Bawah Meja
- 13 Delapan Lantai
- 14 Empat Jam
- 15 Dua Kamar
- 16 Bu Lisa
- 17 Bekasi
- 18 Lewat Sekat
- 19 Dua Bagian Kosong
- 20 Meninggikan Suara
- 21 Pintu Depan reading
- 22 Dua Gelas
- 23 Kain di Sekat
- 24 Mundur
- 25 Jam Satu Pagi
- 26 Pagi
- 27 Ketahuan
- 28 Selesai?
- 29 Berkali-Kali
- 30 Kening
- 31 Nol
- 32 Kuncinya