← Balkonnya Masih Kebuka?

Chapter Seventeen

Bekasi

POV: Rey


Ada satu hal yang tidak pernah kuceritakan kepada siapa pun di Meridian, dan bukan karena rahasia. Karena tidak ada yang bertanya, dan karena aku tidak menawarkan.

Bapakku dulu sopir angkutan barang. Lalu dia punya dua truk. Lalu empat. Lalu delapan, lalu sebuah gudang kecil di pinggir Bekasi, lalu kantor dengan tiga meja dan satu mesin fotokopi yang dia banggakan selama bertahun-tahun seperti orang membanggakan anak.

Dan lalu tidak ada apa-apa, dalam waktu empat belas bulan, karena satu perusahaan yang lebih besar berhenti membayar dan tidak ada seorang pun yang bisa dia telepon.

Itu ceritanya. Sependek itu.

Yang jarang kupikirkan — dan yang tiba-tiba kupikirkan sepanjang hari Jumat itu, di lantai dua puluh satu, sambil mengetik validasi rute keempat belas — adalah bahwa Bapak menghabiskan seluruh empat belas bulan itu dengan bicara.

Menelepon. Menjelaskan. Duduk di ruang tunggu. Menyusun kalimat, mengulanginya, memperbaikinya. Dia orang yang paling banyak bicara yang pernah kukenal, dan dia bicara sampai habis, dan tidak ada satu pun kata itu yang menghentikan apa pun.

Aku umur tujuh belas waktu itu.

Dan aku menarik kesimpulan yang praktis, dan aku hidup dengan kesimpulan itu selama sebelas tahun, dan baru pada hari Jumat itu — di depan layar berisi kolom rute yang tidak selesai-selesai — aku mulai curiga bahwa kesimpulanku mungkin bukan kesimpulan.

Mungkin itu cuma cara supaya aku tidak perlu jadi seperti dia.


Bu Renata mengumumkannya jam empat sore, lewat email, ke enam orang.

Halaman 1 — Temuan Rekonsiliasi Rute (19). Penanggung jawab: R. Alvaro.

Aku membacanya dua kali.

Lalu aku menoleh ke kiri, ke meja yang menempel dengan mejaku, dan Lisa sedang membaca email yang sama dengan wajah yang sudah disiapkan sejak pagi.

“Selamat,” katanya.

“Lis.”

“Serius. Itu bagus.” Dia menutup emailnya dan membuka file lain, terlalu cepat. “Halaman satu itu yang dibaca direksi. Sisanya lampiran.”

“Kamu yang minta data Maret.”

“Dan kamu yang tau harus nyari apa di data Maret.” Dia mengetik. “Kita udah bahas ini di gudang, Rey.”

“Kita nggak bahas ini di gudang.”

“Kita bahas.”

“Kamu bilang kamu nggak mau mikirin itu malam itu,” kataku. “Itu aku.”

Jarinya berhenti di keyboard selama kira-kira satu detik.

“Ya udah,” katanya. “Berarti sekarang aku yang nggak mau mikirin.”

Dan dia kembali mengetik, dan aku duduk di sana dengan sesuatu yang tidak nyaman di dadaku, dan tidak punya satu pun cara untuk menamainya yang tidak terdengar seperti tuduhan.

Karena ini bukan kekalahan.

Kekalahan aku tahu bentuknya. Aku sudah kalah di banyak hal; kekalahan punya rasa yang bersih. Kamu kerja, orang lain kerja lebih baik, selesai.

Ini bukan itu.

Ini seperti menang pertandingan dan menemukan bahwa lawanmu duduk sejak babak kedua.


Sabtu pagi aku ke Bekasi.

Aku selalu ke Bekasi hari Sabtu. Itu bukan pengorbanan dan bukan rutinitas mulia; itu cuma satu-satunya hari di mana aku bisa sampai sebelum Bapak tidur siang, dan karena Ibu memasak lebih banyak kalau ada yang datang, dan karena kalau aku tidak datang dua minggu berturut-turut Ibu akan mulai bertanya lewat telepon dengan cara yang tidak bisa kuhindari.

Rumahnya kecil. Satu lantai, dua kamar, pagar besi yang catnya sudah kutunda selama dua tahun. Di ruang tamu ada foto delapan truk yang sudah lama tidak ada, dan Bapak tidak pernah mengizinkan foto itu diturunkan, dan aku tidak pernah menanyakan kenapa karena aku sudah tahu jawabannya.

“Reyy!”

Bapak duduk di kursi rotan dekat pintu, dengan selang oksigen yang sudah tidak dia pedulikan lagi keberadaannya dan koran yang jelas belum dia baca.

“Pak.”

“Duduk. Duduk. Ibumu lagi goreng.”

“Bapak habis berapa tadi pagi?”

“Ah, kamu.” Dia melambaikan tangan. “Datang-datang nanya angka. Kamu itu kayak orang bank.”

“Habis berapa, Pak.”

“Habis semua.”

“Bohong.”

“Setengah.” Dia nyengir. “Tapi setengahnya besar.”

Bapak bicara selama empat puluh menit tanpa berhenti.

Tentang tetangga yang beli motor baru. Tentang harga cabai. Tentang seorang lelaki di ruang cuci darah yang menurut Bapak sombong karena selalu bawa bantal sendiri. Tentang pertandingan bola yang dia tonton setengahnya lalu ketiduran. Tentang bagaimana dulu, tahun sembilan puluh delapan, dia pernah menyetir dari Surabaya ke Jakarta dalam tiga belas jam dan itu rekor yang menurutnya belum ada yang pecahkan.

Aku menjawab tujuh belas kali.

Ini yang tidak pernah kuceritakan ke siapa pun: aku menyukainya.

Setiap hari Sabtu, selama dua tahun, aku duduk di kursi plastik di ruang tamu berukuran tiga kali empat dan mendengarkan seorang lelaki yang paru-parunya sudah tidak sanggup bicara panjang tetap bicara panjang, dan aku tidak pernah sekali pun menyuruhnya berhenti.

Aku baru menyadari pola itu — betul-betul menyadarinya, sebagai kalimat utuh di kepalaku — pada hari Sabtu itu, sekitar menit ketiga puluh, sambil memegang gelas teh yang sudah dingin.

Kamu nggak pernah diem.

Aku menaruh gelas itu.

Aku sudah mengatakan kalimat itu di tangga darurat, kepada seseorang, dengan nada yang membuatnya berhenti bicara di tengah kalimat untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya.

Dan aku mengucapkannya seolah-olah itu keluhan.


Pagar depan berbunyi jam setengah dua.

Ibu keluar duluan, karena Ibu selalu keluar duluan. Aku mendengar suaranya dari dapur — “Iya? Cari siapa, Mbak?” — dan lalu jeda, dan lalu nada yang berubah total, yang bahkan dari dua ruangan aku bisa kenali sebagai nada seorang perempuan yang baru saja menemukan sesuatu yang menarik.

Aku berdiri terlalu cepat.

Lisa berdiri di depan pagar dengan kaus, celana panjang, rambut diikat, dan satu kotak kue yang jelas dibeli di jalan karena kardusnya masih hangat.

“Hai,” katanya.

Aku tidak mengatakan apa-apa.

“Aku tau ini nggak sopan,” lanjutnya, sangat cepat, yang adalah caranya bicara kalau dia gugup dan tahu dia sedang gugup. “Aku tau. Aku bahkan udah nyiapin tiga alasan di jalan dan semuanya jelek. Yang paling bagus itu ‘aku kebetulan lewat’, dan Bekasi bukan tempat yang orang lewatin, jadi—”

“Kamu tau alamatnya dari mana?”

“Berkas tunjangan.”

“Itu rahasia.”

“Iya,” katanya. “Aku tau.”

Ibu, yang berdiri di antara kami dengan ekspresi seseorang yang sedang menonton pertunjukan terbaik dalam hidupnya, membuka pagar lebih lebar.

“Masuk, Mbak. Masuk. Namanya siapa?”

“Lisa, Bu.”

“Lisa.” Ibu mengulanginya dengan cara yang membuatku ingin masuk ke dalam tanah. “Rey, ini temen kantor kamu?”

Ada satu detik.

“Iya,” kataku.

Dan Lisa Hartawan, yang punya tujuh ratus kalimat untuk situasi apa pun, mengangguk satu kali dan tidak membantah.


Bapak menyukainya dalam waktu empat menit.

Aku tidak terkejut. Yang mengejutkan adalah arah sebaliknya: bahwa Lisa duduk di kursi plastik di ruang tamu berukuran tiga kali empat dan mendengarkan seorang lelaki asing bercerita tentang harga cabai dan rekor Surabaya–Jakarta selama satu setengah jam, dan bertanya di tempat yang tepat, dan tertawa di tempat yang tepat, dan tidak sekali pun melirik ponselnya.

“Tiga belas jam?” katanya. “Dari Surabaya?”

“Tiga belas jam.”

“Pak, itu nggak mungkin.”

“Lho—”

“Saya pernah Semarang–Jakarta dan itu udah delapan setengah.”

“Itu karena kamu berhenti.”

“Semua orang berhenti, Pak!”

“Saya nggak.” Bapak menepuk sandaran kursinya. “Ini anak saya juga nggak percaya. Sepuluh tahun dia nggak percaya.”

“Karena nggak masuk akal, Pak,” kataku dari dapur.

“Dengar itu.” Bapak menunjukku dengan dagu. “Dari kecil begitu. Ngomongnya sedikit, tapi yang sedikit itu nyebelin.”

Lisa tertawa.

Dan aku berdiri di dapur rumah orang tuaku dengan dua gelas teh di tangan dan mendengar suara itu memantul di ruangan yang sudah dua tahun tidak pernah kemasukan suara asing, dan harus berdiri diam selama beberapa detik sampai tanganku cukup stabil untuk membawa gelasnya keluar.


Kami pulang jam setengah lima.

Di halaman depan, dekat mobil, Ibu memeluk Lisa seperti orang yang sudah memutuskan sesuatu dan tidak berniat berkonsultasi denganku, dan menitipkan satu rantang yang tidak boleh ditolak.

Lalu pagar tertutup.

Lalu kami berdua berdiri di jalan kecil berpaving itu, di antara mobil dan pagar, dengan langit Bekasi yang berubah warna dan suara anak-anak dari gang sebelah.

“Rey.”

“Hm.”

“Aku minta maaf.”

“Kenapa?”

“Karena datang tanpa bilang. Karena ambil alamat dari berkas yang bukan hakku. Karena—” Dia berhenti. “Karena aku tau kamu nggak akan pernah ngajak aku, dan aku tetep dateng.”

Aku membuka pintu mobil dan tidak masuk.

“Kamu nggak minta maaf soal itu,” kataku.

“Apa?”

“Kamu minta maaf soal halaman satu.”

Dia tidak menjawab.

Dan itu, di jalan berpaving di Bekasi jam setengah lima sore, adalah satu-satunya konfirmasi yang kubutuhkan — dan aku merasakan sesuatu yang panas naik ke dadaku, sesuatu yang bentuknya seperti marah tapi bukan marah, dan aku membuka mulut untuk mengatakan hal yang sudah tersusun rapi dan sangat tajam dan sangat siap.

Lalu dia memelukku.

Dari belakang, karena aku sudah setengah berbalik ke arah pintu mobil. Kedua lengannya melingkar di dadaku dan keningnya di antara tulang belikatku dan dia tidak mengatakan satu kata pun.

Kalimat yang sudah tersusun rapi itu hilang.

Semuanya. Setiap katanya. Sebelas tahun disiplin menyusun kalimat di tempat yang benar, dan yang tersisa di kepalaku adalah suara Bapak menepuk sandaran kursi dan suara perempuan ini tertawa di ruangan yang sudah dua tahun sunyi.

Aku berdiri di sana dengan tangan di gagang pintu mobil selama entah berapa lama.

“Aku nggak butuh dikasihani,” kataku akhirnya.

Suaraku keluar salah. Terlalu rendah, terlalu pelan, sama sekali tidak seperti kalimat yang seharusnya.

“Aku tau,” katanya, ke punggungku.

“Lisa.”

“Aku tau, Rey.”

Dan dia tidak melepaskan, dan aku tidak menyuruhnya melepaskan, dan kami berdiri seperti itu di jalan kecil berpaving di Bekasi sampai lampu jalan menyala.

Di perjalanan pulang dia tidur lagi, dua puluh menit setelah tol.

Dan aku menyetir dalam keheningan yang untuk pertama kalinya tidak mengganggu, dengan satu kesadaran yang sangat jelas dan sangat tidak menyenangkan menetap di kepalaku:

Dia sekarang tahu berapa harganya kalau aku kalah.

Dan orang yang tahu harga sesuatu tidak akan pernah bisa bertaruh dengan jujur lagi.