Chapter Twenty Eight
Selesai?
POV: Rey
Pak Wisnu tidak marah.
Itu yang paling kutakutkan selama tiga minggu, dan itu yang tidak terjadi, dan aku menghabiskan sisa hari itu untuk mengerti kenapa.
Kami masuk ke ruang rapat kantor pusat grupnya di lantai sembilan jam sepuluh pagi. Sembilan orang dari sisi klien, termasuk dua direktur yang belum pernah kami temui, termasuk seorang perempuan dari audit internal yang membawa map sendiri dan tidak tersenyum sekali pun.
Lisa berdiri.
Halaman satu adalah temuan sembilan belas rute, dengan namaku di bawahnya, dan dia menyampaikannya dalam waktu enam menit.
Enam menit untuk memberi tahu seorang lelaki berumur enam puluh dua tahun bahwa laporan internal grupnya salah selama sembilan bulan, bahwa dua lini yang dia tutup mungkin tidak perlu ditutup, dan bahwa kesalahannya bukan pada sistem melainkan pada kenyataan bahwa tidak ada satu orang pun yang memberi tahu dua tim di Cirebon bahwa rutenya sudah dialihkan.
Dan cara dia menyampaikannya begini: dia tidak sekali pun mengatakan salah.
Dia bilang tercatat dua kali. Dia bilang tidak tersambung. Dia bilang, di menit keempat, dengan seluruh ruangan sudah miliknya, ini yang terjadi kalau perusahaan tumbuh lebih cepat daripada percakapan di dalamnya.
Perempuan dari audit internal itu menulis kalimat tersebut.
Aku menontonnya dari kursi keempat di sisi kanan dan mengerti, untuk pertama kalinya dengan jelas, bahwa apa yang dia lakukan bukan versi lebih berisik dari apa yang kulakukan.
Itu keterampilan yang berbeda sepenuhnya.
Aku bisa menemukan sembilan belas rute. Aku menemukannya. Aku bisa duduk di gudang berdebu selama enam jam dan membalik buku besar sampai angkanya menyerah.
Tapi aku tidak bisa berdiri di depan sembilan orang dan membuat pemilik grup senilai empat koma dua triliun mengangguk pada kalimat yang isinya kamu salah selama sembilan bulan — dan tetap merasa dihormati waktu keluar dari ruangan.
Pak Wisnu mengeluarkan pulpennya di menit ketujuh.
Di menit ke tiga puluh empat, dia menutup dokumennya dan berkata, kepada dua direkturnya, tanpa menoleh ke arah kami:
“Panggil orang Cirebon. Dua-duanya. Minggu depan.”
Dan lalu, kepada Lisa:
“Terima kasih, Bu. Ini tidak enak didengar.”
“Saya tahu, Pak.”
“Bagus.” Dia berdiri. “Yang tidak enak didengar biasanya yang saya bayar.”
Kami keluar jam dua belas lewat.
Tim analis pergi duluan ke mobil. Gege tertinggal untuk mengurus sesuatu dengan resepsionis, karena Gege selalu punya sesuatu untuk diurus dengan resepsionis.
Aku dan Lisa berdiri di area parkir gedung itu, di bawah kanopi beton, dengan matahari Jakarta jam dua belas yang membuat semua orang berbicara lebih pelan.
“Kamis,” katanya.
“Hm.”
“Ini Kamis, Rey.”
Aku tahu itu.
Aku sudah tahu itu sejak Senin malam, sejak Bu Renata bertanya di ambang pintu ruangannya, sejak aku menjawab belum semuanya dan menyuruh perempuan ini menunggu tiga hari.
Aku sudah menyiapkan kalimatnya.
Aku menyiapkannya Senin malam, dan Selasa, dan Rabu jam dua pagi di unit 14A dengan seseorang tidur di sebelahku. Ada empat versi. Yang terpendek dua puluh dua kata, yang terpanjang seratus sepuluh, dan aku sudah memutuskan memakai yang terpendek karena aku selalu memakai yang terpendek.
Aku membuka mulut.
Dan yang keluar bukan salah satu dari empat versi itu.
“Aku umur tujuh belas waktu Bapak bangkrut.”
Lisa tidak mengatakan apa-apa.
“Empat belas bulan,” lanjutku. “Aku pernah cerita bagian itu. Bapak nelepon, jelasin, duduk di ruang tunggu, tiap hari, dan nggak ada yang berhenti.”
“Rey, aku—”
“Aku belum selesai.”
Dia menutup mulutnya.
Dan aku berdiri di area parkir gedung kantor klien di bawah kanopi beton jam dua belas lewat sepuluh, dengan jas di lengan, dan melakukan hal yang belum pernah kulakukan seumur hidupku kepada siapa pun.
Aku bicara.
“Yang nggak pernah aku ceritain ke siapa-siapa itu bukan bagian bangkrutnya,” kataku. “Semua orang bangkrut. Itu cerita biasa.
“Yang nggak pernah aku ceritain adalah bagian setelahnya. Kami pindah tiga kali dalam dua tahun. Tiga. Yang pertama dari rumah yang ada halamannya ke kontrakan. Yang kedua dari kontrakan ke kontrakan yang lebih kecil. Yang ketiga ke rumah yang sekarang, yang kamu udah liat, yang dua kamar.
“Dan tiap kali pindah, Ibu bongkar semuanya. Semua kardus. Semua. Dalam dua hari selesai, semua barang keluar, gorden dipasang, foto digantung. Ibu bilang kalau nggak dibongkar artinya kita nggak tinggal, dan kalau kita nggak tinggal nanti anak-anak nggak punya rumah.
“Aku enggak.
“Aku nggak pernah bongkar koper aku sejak umur tujuh belas. Nggak sekali pun. Di kontrakan pertama, di kontrakan kedua, di kos waktu kuliah, di dua apartemen sebelum Verde. Aku ambil apa yang aku butuh dari dalam koper tiap pagi dan aku masukin lagi.
“Bukan karena praktis. Aku tau itu nggak praktis, itu jauh lebih repot.
“Karena kalau kamu bongkar, kamu ngaku kamu bakal tinggal. Dan kalau kamu ngaku kamu bakal tinggal, terus tempatnya diambil, itu jauh lebih sakit daripada kalau kamu emang nggak pernah bongkar dari awal.”
Aku berhenti sebentar.
Ada mobil yang keluar dari parkiran. Ada suara Gege di kejauhan, di lobi, tertawa pada sesuatu.
“Aku ngelakuin hal yang sama sama semua,” kataku. “Sama kerjaan. Sama orang. Aku ngomong dikit karena kalimat itu mahal, iya, itu bener, tapi itu bukan seluruhnya. Aku ngomong dikit karena kalau aku ngomong banyak, orang jadi tau ada apa di dalem, dan kalau orang tau ada apa di dalem, mereka bisa ngambil.
“Delapan bulan aku tinggal di 14B dan aku nggak punya kursi kedua. Kamu bilang itu kayak orang transit. Kamu bener. Aku emang transit. Aku transit sejak umur tujuh belas.
“Terus kamu pindah ke 14A.”
Aku melihat ke arahnya untuk pertama kalinya sejak mulai bicara.
“Dan aku nggak ngerti apa yang terjadi selama enam bulan. Aku beneran nggak ngerti. Aku ngitung semuanya — jarak, jam, berapa lama kamu ngomong tiap malam, sebelas senti di lift, dua puluh senti di depan layar — aku ngitung semuanya karena itu satu-satunya cara aku bisa nangkep sesuatu yang aku nggak ngerti.
“Waktu kamu teriak di ruang kerja bulan lalu, aku nggak jawab.
“Kamu pikir aku nggak jawab karena aku nggak mau nerima bantuan kamu. Sebagian iya. Tapi bukan itu yang bikin aku diem tiga detik.
“Aku diem karena kalau aku jawab, artinya aku bakal tinggal. Dan aku nggak pernah tinggal di mana pun sejak umur tujuh belas, Lis, dan aku nggak tau caranya, dan aku takut.”
Suaraku berhenti bekerja dengan benar di kata terakhir.
Aku menunggu sampai bisa dipakai lagi.
“Aku narik kandidasi aku karena angkanya nutup di dua posisi dan cuma satu yang diperebutkan,” lanjutku. “Itu bener dan itu bukan bohong. Tapi itu bukan alasan utamanya.
“Alasan utamanya adalah kalau aku ngambil kursi itu, aku bakal ngabisin sisa hidup aku nggak tau bagian mana yang aku kerjain dan bagian mana yang kamu lepas. Dan aku bisa hidup sama banyak hal, tapi aku nggak bisa hidup sama satu angka yang nggak bisa aku verifikasi.
“Dan alasan di bawah alasan itu—”
Aku berhenti.
Ini bagian yang tidak ada di empat versi mana pun. Ini bagian yang baru kutemukan sekitar dua belas detik yang lalu, sambil berdiri di sini, sambil mendengar suaraku sendiri.
“Alasan di bawah alasan itu adalah aku takut kamu bakal bangun suatu pagi dan sadar kamu udah ngasih terlalu banyak, dan pergi. Dan kalau kamu pergi karena aku ngambil terlalu banyak, itu aku yang salah. Tapi kalau aku nggak ngambil apa-apa dari kamu, dan kamu tetep pergi—”
Suaraku berhenti lagi.
“—setidaknya aku belum bongkar koper.”
Aku selesai.
Aku tidak tahu berapa lama. Aku tidak menghitungnya, yang mungkin adalah hal paling aneh dari seluruh hari itu; aku menghitung segalanya dan aku tidak menghitung yang ini.
Gege memberitahuku belakangan, karena Gege selalu mencatat.
Sebelas menit empat puluh detik.
Lisa berdiri di bawah kanopi beton itu dengan map di tangan dan tidak bergerak sama sekali selama beberapa detik.
Lalu dia berkata:
“Selesai?”
Satu kata.
Nadanya bukan nadaku di rapat pertama. Bukan sarkasme, bukan senjata, bukan tangan yang menarik kursi tepat sebelum kamu duduk.
Dia mengucapkannya dengan cara orang yang sedang membuka pintu dan menahannya.
Dan aku — yang sudah mengeluarkan lebih banyak kata dalam sebelas menit terakhir daripada dalam sebelas tahun sebelumnya, yang paru-parunya terasa seperti habis berlari, yang tidak punya satu pun kalimat tersisa yang sudah disiapkan —
“Belum,” kataku.
Dia menunggu.
“Aku sayang sama kamu,” kataku.
Dan itu keluar dengan sangat buruk. Tidak ada satu pun bagian darinya yang tersusun. Suaraku pecah di tengah, dan aku mengucapkannya di area parkir yang bau bensin, di bawah kanopi beton, jam dua belas lewat dua puluh dua, dengan tiga orang dari tim analis berdiri sepuluh meter jauhnya yang jelas-jelas sudah berhenti berpura-pura tidak mendengar.
Enam minggu terlambat.
“Aku tau,” katanya.
“Kamu nggak tau.”
“Aku tau, Rey.”
“Kamu—”
“Aku tau dari kopi di sisi kiri,” katanya, dan suaranya juga sudah tidak stabil. “Aku tau dari kotak bekal yang kedua. Aku tau dari rekonsiliasi yang kamu cetak dua. Aku tau dari paku di dinding.”
Dia melangkah satu kali.
“Aku tau semuanya, dan aku tetep pengin denger, dan sekarang aku udah denger, dan sekarang aku nggak akan pernah ngasih kamu berhenti.”
Kami pulang ke kantor jam satu.
Di dalam mobil, di tol dalam kota, dengan tiga orang tim analis di kursi belakang yang semuanya menatap ponsel masing-masing dengan intensitas yang sangat mencurigakan, Gege berbalik dari kursi depan.
“Sebelas menit empat puluh,” katanya.
“Ge,” kataku.
“Aku nggak ngomong apa-apa. Aku cuma nyebut angka.”
“Ge.”
“Sebelas menit empat puluh detik.” Dia berbalik menghadap depan lagi, dan menyeruput kopi yang bukan miliknya. “Empat tahun aku kenal kamu, Rey. Rekor sebelumnya empat puluh detik, itu waktu kamu jelasin kenapa proyeksi Sentosa salah.”
“Empat puluh dua,” kataku.
“Apa?”
“Empat puluh dua detik,” kataku. “Aku ngitung.”
Dan di kursi sebelahku, seseorang tertawa — betulan tertawa, sampai harus menutup wajahnya dengan map — dan tidak berhenti selama hampir satu kilometer.
- 1 Unit Sebelah
- 2 Empat Menit
- 3 Sekat
- 4 Jemuran
- 5 Terlalu Dekat
- 6 Kode
- 7 Kerah
- 8 Pantry
- 9 Tangga Darurat
- 10 Semalem
- 11 Aturan
- 12 Di Bawah Meja
- 13 Delapan Lantai
- 14 Empat Jam
- 15 Dua Kamar
- 16 Bu Lisa
- 17 Bekasi
- 18 Lewat Sekat
- 19 Dua Bagian Kosong
- 20 Meninggikan Suara
- 21 Pintu Depan
- 22 Dua Gelas
- 23 Kain di Sekat
- 24 Mundur
- 25 Jam Satu Pagi
- 26 Pagi
- 27 Ketahuan
- 28 Selesai? reading
- 29 Berkali-Kali
- 30 Kening
- 31 Nol
- 32 Kuncinya