Chapter Fourteen
Empat Jam
POV: Rey
Kami berangkat jam lima pagi supaya bisa sampai di pusat distribusi Cirebon sebelum jam sembilan.
Aku menyetir. Itu tidak dibicarakan; aku hanya duduk di kursi kanan dan Lisa masuk ke kursi kiri dan tidak ada yang mengajukan pertanyaan.
Selama empat puluh menit pertama, dia bicara.
Tentang jalan tol yang kosong, tentang truk yang menyalip dari kiri, tentang teori pribadinya bahwa semua rest area di Indonesia dibangun oleh orang yang sama dan orang itu punya masalah dengan tikungan. Tentang Pak Wisnu. Tentang apakah menurutku Bu Renata pernah tertawa, betulan tertawa, di depan orang.
Aku menjawab tujuh kali. Total dua puluh dua kata. Aku menghitung karena aku selalu menghitung.
Di menit keempat puluh dua, dia berhenti di tengah kalimat tentang klasifikasi rest area.
Aku menunggu kalimat itu selesai.
Kalimat itu tidak selesai.
Aku melirik ke kiri dan menemukannya tertidur dengan mulut sedikit terbuka dan tangan masih memegang gelas kopi yang untungnya sudah kosong.
Aku mengambil gelas itu dari tangannya, pelan, dan menaruhnya di pemegang gelas.
Lalu aku menyetir dalam keheningan.
Dan menyadari, sekitar dua puluh kilometer kemudian, bahwa aku tidak menyukainya.
Ini adalah informasi baru dan sangat tidak nyaman. Aku sudah menghabiskan sebelas tahun membangun hidup yang tenang. Aku memilih apartemen yang sepi. Aku menolak makan siang. Aku bekerja paling baik di lantai kosong jam sebelas malam.
Dan sekarang mobil ini terlalu sunyi, dan aku ingin perempuan itu bangun dan melanjutkan teorinya tentang rest area.
Di kilometer seratus dua belas, kepalanya jatuh ke bahuku.
Aku tidak bergerak.
Aku tetap tidak bergerak selama satu jam empat belas menit berikutnya, dengan bahu kanan yang perlahan mati rasa dan tangan kanan yang tetap di setir dalam posisi yang tidak nyaman, karena mengubah posisi berarti membangunkannya.
Itu bukan pengorbanan. Aku mencatatnya sebagai keputusan yang efisien: ada satu orang di mobil ini yang perlu tidur, dan orang itu bukan aku.
Aku berbohong kepada diriku sendiri sepanjang jalan tol Palimanan dan mengetahuinya.
Ponselku bergetar di dudukan, jam tujuh lewat dua puluh.
IBU.
Aku melihat layar itu selama tiga detik.
Kamis. Salah satu dari tiga hari itu.
Aku menekan tombol di setir, dan suara ibuku masuk lewat speaker mobil sebelum aku sempat memikirkan konsekuensinya.
“Rey?”
“Ya, Bu.”
“Kamu di mana? Suaranya kayak di mobil.”
“Di jalan. Ada klien di Cirebon.”
“Cirebon? Jauh amat—”
“Bapak gimana, Bu?”
Jeda di ujung sana. Jenis jeda yang sudah kuhafal betul, yang berarti ibuku sedang memutuskan berapa banyak yang akan dia sampaikan.
“Tadi malem agak sesak.”
“Sesak gimana?”
“Ya sesak. Udah mendingan pagi ini.”
“Bu.”
“Rey, kamu lagi nyetir.”
“Habis berapa cairannya?”
“Rey.”
“Bu.”
Helaan napas. “Dokternya bilang mungkin ditambah jadi empat.”
Tanganku mengencang di setir.
Empat kali seminggu. Aku sudah menghitung angka itu enam bulan lalu, di kepalaku, di kolom yang sama, dan menyimpannya di tempat yang tidak kubuka.
Tiga koma dua juta per sesi di luar tanggungan. Kalikan empat. Kalikan empat minggu.
“Kapan?” tanyaku.
“Belum. Nanti dilihat lagi bulan depan.”
“Oke.”
“Rey, kamu jangan mikir yang aneh-aneh.”
“Nggak, Bu.”
“Kamu udah makan?”
“Udah.”
Itu bohong yang kedua.
“Ya udah. Hati-hati nyetirnya. Ada orang di mobil?”
Aku melihat ke kiri.
Dia masih di bahuku. Napasnya pelan dan teratur. Matanya tertutup.
“Nggak ada,” kataku.
Yang ketiga.
“Ya udah. Assalamualaikum.”
Sambungan terputus.
Aku menyetir selama tiga kilometer berikutnya tanpa satu pun pikiran yang bisa kususun ke dalam kalimat.
Lalu suara di sebelah kiriku berkata, sangat pelan:
“Empat apa?”
Aku tidak menoleh.
Aku tidak bisa, secara teknis, karena ada truk di depan dan dia masih di bahuku.
“Kamu bangun dari kapan?”
“‘Sesak gimana.‘”
Berarti hampir seluruhnya.
Aku menunggu pertanyaan berikutnya. Dia mengajukan enam pertanyaan per menit dalam kondisi normal; ini adalah situasi yang secara harfiah dirancang untuk membangkitkan seluruh persediaannya.
Satu kilometer.
Dua.
Dia tidak bertanya apa-apa.
Dia juga tidak mengangkat kepalanya dari bahuku.
Yang dia lakukan, di kilometer ketiga, adalah memindahkan tangannya — pelan, tanpa komentar — dan meletakkannya di atas tanganku yang di tuas persneling.
Tidak menggenggam. Cuma meletakkannya di sana.
Aku menatap jalan.
“Kamu nggak nanya,” kataku akhirnya.
“Nggak.”
“Kenapa?”
“Karena kamu nggak bakal jawab,” katanya, “dan kalau aku maksa, kamu bakal bohong lagi, dan aku nggak mau kamu bohong tiga kali dalam satu pagi.”
Aku merasakan sesuatu di dadaku yang tidak kupunya nama untuknya.
“Aku bohong dua kali.”
“Kamu bilang kamu udah makan.”
“Itu yang kedua.”
“Yang ketiga,” katanya, “kamu bilang nggak ada orang di mobil.”
Truk di depan menyalakan lampu sein.
Aku menyalip.
Aku menyadari tanganku masih di sana empat puluh kilometer kemudian.
Bukan tangannya di tanganku — itu sudah lepas, sekitar dua puluh menit lalu, waktu dia duduk tegak dan mulai membaca dokumen di pangkuannya sambil menggumam.
Tanganku sendiri.
Di pahanya.
Aku tidak punya ingatan sama sekali tentang bagaimana itu terjadi. Tidak ada keputusan. Tidak ada momen. Cuma satu titik di jalan tol antara Palimanan dan Cirebon di mana tangan kananku turun dari tuas persneling ke tempat yang paling dekat, dan tinggal di sana, dan tidak ada satu pun dari kami yang menyinggungnya.
Dia terus membaca.
Dia menggumamkan angka. Dia mencoret sesuatu. Sekali dia berkata “ini salah” kepada dokumen itu dengan nada tuduhan.
Dan sepanjang itu dia tidak menyebutkan tangan yang ada di pahanya, tidak memindahkannya, tidak melakukan apa pun kecuali — sekitar sekali setiap sepuluh menit — sedikit mengubah posisi duduknya dengan cara yang tidak menyingkirkan tangan itu.
Aku menyetir dengan satu tangan selama lima puluh menit terakhir perjalanan itu dan mengerti, dengan sangat jelas, bahwa aturan nomor empat adalah kebohongan.
Bukan kebohongannya.
Kebohonganku sendiri.
Aku sudah menerima empat bulan pada hari Minggu itu dengan sangat cepat, dan aku tahu persis kenapa: karena empat bulan terdengar seperti sesuatu yang bisa kutanggung, dan karena aku sudah terlatih sejak umur tujuh belas untuk mengambil apa pun yang ditawarkan tanpa menawar.
Sekarang, di kilometer dua ratus enam, aku mengerti bahwa aku baru saja menandatangani sesuatu yang tidak akan sanggup kubayar.
Kami sampai di Cirebon jam delapan lewat lima puluh.
Aku memarkir mobil, mematikan mesin, dan menarik tanganku kembali ke setir.
Dia menutup dokumennya.
“Rey.”
“Hm.”
“Berapa?”
Dia tidak menjelaskan pertanyaannya. Dia tidak perlu.
Aku melihat lurus ke depan, ke gerbang pusat distribusi, ke satpam yang berjalan ke arah kami dengan papan jalan.
“Tiga koma dua,” kataku. “Per sesi. Di luar tanggungan.”
“Kali tiga.”
“Sekarang tiga.”
“Dan bulan depan?”
Satpam itu mengetuk kaca.
Aku menurunkan jendela, menyerahkan kartu identitasku, menjawab dua pertanyaan, dan menunggu palang terbuka.
Lalu aku menaikkan jendelaku lagi, memasukkan gigi satu, dan berkata — sambil melihat ke depan, karena itu satu-satunya cara aku sanggup:
“Empat.”
Dia tidak mengatakan apa-apa.
Tapi aku melihat, dari sudut mataku, tangan perempuan itu mengepal di atas dokumen di pangkuannya, dan tetap mengepal sepanjang jalan masuk ke gedung.
Dan aku, yang telah menghabiskan sebelas tahun memastikan tidak ada satu orang pun di dunia ini yang perlu ikut menanggung angka-angka di kepalaku, menyadari bahwa aku baru saja menyerahkan salah satunya.
Dengan sukarela.
Kepada orang yang, pada bulan November, harus kukalahkan.
- 1 Unit Sebelah
- 2 Empat Menit
- 3 Sekat
- 4 Jemuran
- 5 Terlalu Dekat
- 6 Kode
- 7 Kerah
- 8 Pantry
- 9 Tangga Darurat
- 10 Semalem
- 11 Aturan
- 12 Di Bawah Meja
- 13 Delapan Lantai
- 14 Empat Jam reading
- 15 Dua Kamar
- 16 Bu Lisa
- 17 Bekasi
- 18 Lewat Sekat
- 19 Dua Bagian Kosong
- 20 Meninggikan Suara
- 21 Pintu Depan
- 22 Dua Gelas
- 23 Kain di Sekat
- 24 Mundur
- 25 Jam Satu Pagi
- 26 Pagi
- 27 Ketahuan
- 28 Selesai?
- 29 Berkali-Kali
- 30 Kening
- 31 Nol
- 32 Kuncinya