← Balkonnya Masih Kebuka?

Chapter Ten

Semalem

POV: Lisa


Aku menyusun rencanaku di kamar mandi, jam enam pagi, sambil menyikat gigi.

Rencana itu punya tiga bagian dan kuulangi kepada cermin sampai terdengar meyakinkan.

Bagian satu: bersikap normal.

Bagian dua: kalau Rey menyinggung, katakan bahwa itu tidak ada apa-apanya. Adrenalin. Dua orang yang bertengkar di ruang tertutup. Terjadi di semua firma. Statistik.

Bagian tiga: jangan berpikir tentang pagar besi.

Aku berkumur, meletakkan sikat gigiku, dan langsung memikirkan pagar besi.

“Bagus,” katanya kepada cermin. “Bagus sekali.”


Yang tidak kuperhitungkan adalah bahwa Rey Alvaro sudah berada di ruang kerja jam tujuh kurang seperempat, dan bahwa dia terlihat persis seperti biasanya.

Itu menghancurkan seluruh bagian satu.

Karena bersikap normal hanya berfungsi kalau ada yang bisa dilawan. Kalau lawanmu sudah normal duluan, kamu cuma jadi orang aneh yang berusaha keras.

“Pagi,” kataku.

“Pagi.”

Aku duduk. Menyalakan laptop. Menunggu.

Kopi diletakkan di sisi kiri mejaku, seperti biasa.

Aku menatap gelas itu selama tiga detik lebih lama dari yang seharusnya, lalu membuka file, dan menemukan bahwa halaman tujuh sekarang bertuliskan:

R. Alvaro / L. Hartawan

Aku memutar kursiku.

“Kamu beneran nulis dua nama.”

“Iya.”

“Renata bakal marah.”

“Udah.”

“Udah marah?”

“Jam enam empat puluh.” Dia mengetik. “Dia bilang dia minta satu nama.”

“Terus kamu bilang apa?”

“Aku bilang nggak ada satu nama.”

Aku membuka mulut, dan menutupnya lagi, dan memutar kursiku kembali menghadap layar dengan gerakan yang kuharap terlihat acuh tak acuh.

Di layar, kursorku berkedip di dalam sel kosong selama empat menit.


Kami bertahan sampai jam sebelas.

Aku akan mengakui belakangan bahwa itu adalah pencapaian yang cukup mengesankan, mengingat kami duduk di dua meja yang menempel di ruangan yang sama, dan mengingat bahwa setiap kali dia menggeser lengannya, seluruh sistem sarafku mengirimkan laporan situasi yang tidak diminta.

Jam sebelas, tim analis keluar untuk rapat harian.

Pintu menutup.

Ruangan kosong.

Dan aku — yang sudah menyimpan seluruh bagian dua di ujung lidahku sejak jam enam pagi — akhirnya melepaskannya.

“Semalem itu nggak ada apa-apa.”

Dia tidak berhenti mengetik.

“Oke.”

“Serius. Itu cuma—” Aku memutar tanganku di udara, yang biasanya membantu, dan hari ini tidak. “Kita bertengkar. Ruangannya sempit. Ada gema. Secara biologis itu wajar.”

“Oke.”

“Aku baca tentang ini. Ada penelitiannya. Ketegangan fisiologis yang salah diatribusikan—”

“Oke.”

“Kamu bisa nggak jangan ngomong ‘oke’ terus?”

Dia berhenti mengetik.

Dia memutar kursinya, pelan, sampai menghadapku sepenuhnya, dan menyandarkan lengannya ke sandaran.

“Bibir kamu masih inget, kok.”

Aku merasakan panas naik dari leherku ke kupingku dengan kecepatan yang benar-benar memalukan.

“Itu—” Suaraku keluar satu oktaf lebih tinggi. Aku menurunkannya. “Itu nggak sopan.”

“Kamu yang mulai bahas.”

“Aku mulai bahas buat nutup.”

“Nggak ketutup.”

“Rey.”

“Hm.”

“Kamu nikmatin ini.”

Ada jeda yang sangat pendek.

“Iya,” katanya.

Dan kembali mengetik.


Aku tidak bekerja selama sisa siang itu.

Aku terlihat bekerja. Ada file yang terbuka, ada baris yang tergulir, ada suara papan ketik. Tapi aku tahu perbedaan antara bekerja dan melakukan gerakan bekerja, dan yang terjadi hari itu adalah yang kedua.

Yang kulakukan sebenarnya adalah menghitung.

Bukan angka gudang. Aku menghitung berapa kali Rey Alvaro sudah membuatku kehilangan kata sejak aku pindah ke unit 14A.

Balkon, malam pertama. Rapat, empat menit. Sekat, malam kedua. Kerah blazer. Pantry. Tangga darurat.

Enam.

Enam kali, dalam kurang dari dua bulan, seseorang telah melakukan hal yang tidak pernah berhasil dilakukan siapa pun sejak aku berumur empat tahun.

Dan aku belum sekali pun berhasil membalasnya.

Itu yang menggangguku. Bukan ciumannya. Ciumannya bisa kurasionalkan, kalau diberi waktu dan mungkin sebuah grafik.

Yang menggangguku adalah skor.

Jam empat sore, aku menutup laptopku.

“Rey.”

“Hm.”

“Kamu naksir aku.”

Dia mengetik satu baris lagi, lalu berhenti.

“Aku udah bilang itu di balkon.”

“Iya. Dan aku nggak bales.”

“Aku tau.”

“Aku diem tiga hari.”

“Aku tau.”

Aku berdiri.

Aku melakukannya pelan, karena aku sudah memikirkan bagian ini selama empat jam dan tahu bahwa kecepatan akan merusaknya. Aku berjalan mengelilingi kedua meja yang menempel itu, berhenti di sisi kursinya, dan menunggu sampai dia mendongak.

“Aku bales sekarang,” kataku.

Ruangan itu sangat sunyi.

Dan aku — yang sudah menyiapkan tiga versi kalimat ini, yang sudah membuang dua di antaranya — memilih versi yang paling pendek, karena untuk sekali ini aku ingin bicara dengan bahasa lawanku.

“Kalau kamu mau aku berhenti,” kataku, “bilang sekarang.”

Dia tidak bergerak.

Aku menunggu.

Satu detik. Dua. Tiga.

Aku sudah bekerja dengannya selama empat tahun. Aku sudah melihat orang ini menjawab pertanyaan direksi dalam waktu kurang dari satu detik. Aku sudah melihatnya menyanggah partner senior tanpa berkedip. Aku sudah melihatnya, kemarin, membalas seluruh tuduhanku di tangga darurat dengan kecepatan orang yang membaca dari kertas.

Rey Alvaro selalu punya jawaban.

Empat detik.

Lima.

Rahangnya bergerak. Sedikit. Sekali.

Enam.

Dan aku merasakan sesuatu yang sangat hangat dan sangat berbahaya mekar di dadaku, karena aku baru saja mengerti bahwa keheningan orang ini bukan pertahanan.

Keheningan orang ini adalah pengakuan.

“Oke,” kataku pelan.

Aku mengambil tasku dari sandaran kursiku sendiri, menyampirkannya ke bahu, dan berjalan ke pintu.

Di ambang pintu aku berhenti.

“Satu,” katanya.

“Apa?”

“Nggak apa-apa.” Aku membuka pintu. “Aku lagi ngitung.”


Aku menahan diri sampai lift.

Di dalam lift, sendirian, dengan pintu yang menutup dan dua puluh satu lantai untuk turun, aku menekan kedua tanganku ke wajahku dan mengeluarkan suara yang tidak bisa dipertanggungjawabkan oleh orang dewasa berumur dua puluh tujuh tahun.

Lalu aku menurunkan tanganku, menegakkan punggungku, dan menatap pantulan diriku di pintu logam.

“Satu,” kataku kepada pantulan itu.

Pantulan itu terlihat sangat senang, dan aku memutuskan untuk membencinya nanti saja.

Lift berhenti di lantai empat belas — bukan lobi, karena aku salah menekan tombol, karena tentu saja — dan seorang bapak dari praktik pajak masuk dan berdiri di sudut.

“Bu Lisa,” katanya sopan.

“Pak.”

“Ibu kelihatan seneng.”

“Proyeknya lancar, Pak.”

“Alhamdulillah.”

Aku menatap lurus ke pintu selama tujuh lantai berikutnya dan tidak mengatakan apa-apa lagi, yang bagi siapa pun yang mengenalku akan menjadi peringatan dini paling jelas dalam sejarah lantai dua puluh satu.

Malam itu, di balkon unit 14A, aku berdiri dengan segelas air dan menatap sekat beton setinggi dada.

Lampu di 14B menyala.

Pintu gesernya tidak terbuka.

Aku berdiri di sana selama dua puluh menit, dan menyadari — dengan jenis kejujuran yang cuma muncul jam sebelas malam — bahwa aku sedang menunggu.

Bukan menunggu dia keluar.

Menunggu diriku sendiri memutuskan apa yang akan kulakukan kalau dia keluar.

Aku masuk sebelum sempat tahu jawabannya.