← Balkonnya Masih Kebuka?

Chapter Twenty Five

Jam Satu Pagi

POV: Lisa


Aku membuka dashboard panel promosi setiap pagi jam tujuh kurang tiga.

Aku tidak bangga soal itu. Itu kebiasaan yang dimulai bulan Juni dan tidak pernah kuhentikan, dan alasannya bukan strategi — aku memeriksanya karena aku memeriksa semua yang bisa diperiksa, karena membiarkan sebuah halaman tidak terbuka terasa seperti membiarkan pintu tidak dikunci.

Rabu pagi, jam tujuh kurang tiga, aku membukanya seperti biasa.

Dua baris. Dua nama. Dua kolom status.

HARTAWAN, LISA — Aktif ALVARO, REY — Ditarik (kandidat)

Aku membacanya dan tidak mengerti.

Itu bagian yang paling jujur yang bisa kuceritakan: aku betul-betul tidak mengerti selama kira-kira empat detik. Otakku mencari penjelasan teknis. Kesalahan sistem. Kolom yang salah tampil. Dashboard yang belum di-refresh sejak fase sebelumnya.

Aku menekan tombol muat ulang.

Baris itu tidak berubah.

Aku mengeklik namanya. Ada halaman detail: tanggal pengajuan, waktu, dan satu kolom di bawah bertuliskan Alasan yang isinya kosong.

Selasa, 23.41.

Aku duduk di depan layar itu di ruang kerja lantai dua puluh satu jam tujuh pagi dengan mantel yang belum kulepas dan menghitung mundur.

Selasa jam sebelas lewat empat puluh satu, aku ada di unit 14A, tidak tidur, memandangi langit-langit.

Sembilan meter. Satu dinding.


Dia masuk jam tujuh kurang satu.

“Pagi.”

Aku menutup laptopku.

“Pagi,” kataku.

Dan itu saja. Kami bekerja sembilan jam berdampingan di dua meja yang menempel, dan dia menaruh kopi di sisi kiri mejaku jam sepuluh, dan aku mengucapkan terima kasih, dan tidak ada satu pun dari kami yang menyebutkan apa pun.

Aku mau menjelaskan kenapa aku diam sepanjang hari itu, karena kalau tidak, aku terdengar seperti pengecut.

Aku diam karena aku tahu persis apa yang akan terjadi kalau aku bertanya di kantor.

Dia akan menjawab jujur — dia selalu menjawab jujur — dan jawabannya akan pendek dan benar dan lengkap, dan aku akan menerimanya, dan urusannya selesai dalam empat puluh detik. Itu yang dia lakukan. Dia menyelesaikan hal dalam empat puluh detik.

Dan aku sudah menghabiskan enam bulan menonton orang itu menyelesaikan hal dalam empat puluh detik, dan aku tidak akan membiarkan yang satu ini selesai secepat itu.

Jadi aku menunggu.

Aku menunggu sampai jam sembilan malam ketika dia pulang. Aku menunggu sampai jam sebelas ketika lampu di 14B masih menyala. Aku menunggu sampai jam dua belas lewat, dan jam setengah satu, dan aku duduk di lantai ruang tamu unit 14A dengan punggung ke sofa dan tirai yang masih tertutup sejak Sabtu.

Jam satu kurang lima, aku berdiri.


Dua kali, jeda, sekali.

Aku mengetuk polanya sendiri, di pintu depan unit 14B, jam satu pagi.

Dia membuka pintu dalam waktu enam detik, yang berarti dia belum tidur, yang berarti dia mungkin sudah berdiri di dekat pintu itu entah sejak kapan.

“Lis—”

“Kamu narik kandidasi kamu.”

Dia tidak menjawab.

“Selasa. Jam sebelas lewat empat puluh satu.” Suaraku keluar sangat tenang dan itu menakutkanku sendiri. “Aku ada sembilan meter dari kamu waktu kamu ngirimnya.”

“Masuk.”

“Aku nggak mau masuk.”

“Lisa, ini jam satu dan Om Bram patroli—”

“BIARIN OM BRAM DENGER.”

Aku mendengar suaraku memantul di koridor lantai empat belas dan tidak peduli sama sekali.

Dia membuka pintunya lebih lebar, dan aku masuk, dan pintunya menutup, dan aku berdiri di ruang tamu unit 14B yang masih tidak punya apa pun di dindingnya dan masih punya satu koper di sudut yang belum sepenuhnya dibongkar setelah delapan bulan.

“Kamu marah waktu aku ngalah,” kataku.

“Iya.”

“Kamu teriak. Sekali. Seumur hidup kamu, sekali, dan itu buat bilang jangan pernah ngalah ke aku.”

“Iya.”

“Terus kamu ngapain, Rey?”

Dia berdiri di dekat meja yang dia pakai untuk bekerja dan bukan untuk makan.

“Aku nggak ngalah,” katanya.

“Kamu narik kandidasi kamu empat minggu sebelum keputusan—”

“Aku ambil posisi lain.”

Aku berhenti.

“Apa?”

“Delivery Lead. Praktik operasi.” Dia mengambil sesuatu dari meja — satu lembar, dicetak, karena tentu saja dia mencetaknya — dan menyerahkannya kepadaku. “Band-nya sama. Tunjangannya sama. Efektif satu November.”

Aku membaca lembar itu.

Aku membacanya dua kali, dan lalu ketiga kalinya, dan pada kali ketiga aku sampai ke baris yang membuat seluruh isi dadaku berpindah tempat.

Jalur pengembangan: Senior Delivery Lead. Tidak termasuk jalur partner.

“Rey.”

“Hm.”

“Ini jalan buntu.”

“Iya.”

“Ini—” Aku mengangkat kertas itu. “Kamu masuk Meridian ngalahin seratus delapan puluh orang. Kamu ada di halaman satu Helios. Kamu—”

“Renata nawarin ini dua kali sebelumnya,” katanya. “Empat belas bulan lalu dan delapan bulan lalu. Aku tolak dua-duanya.”

“Kenapa?”

“Karena gengsi.”

Dia mengucapkannya begitu saja. Datar. Tanpa satu pun lapisan.

“Kamu bilang itu di dapur kamu bulan lalu,” lanjutnya. “Bahwa seluruh hidup aku itu gengsi. Aku bantah. Kamu benar.”

Aku menaruh kertas itu di meja karena tanganku tidak stabil.

“Dan sekarang kamu ambil,” kataku. “Empat minggu sebelum keputusan. Setelah aku ngosongin dua bagian.”

“Iya.”

“Rey, itu sama aja!”

“Nggak.”

“Itu SAMA AJA—”

“Aku nggak ngalah,” katanya, dan suaranya naik untuk kedua kalinya dalam sejarah, dan lalu turun lagi dalam waktu setengah detik seperti orang yang menangkap sesuatu sebelum jatuh. “Aku berhenti butuh menang.”

Ruangan itu diam.

“Kamu ngosongin dua bagian supaya aku dapet kursinya,” katanya. “Itu ngalah, karena kamu masih pengen kursinya dan kamu ngasih. Aku ambil posisi lain yang nutup angkanya. Itu bukan ngalah, itu nyari jalan yang nggak ngambil dari kamu.”

“Kamu ngambil dari kamu sendiri!”

“Iya.” Dia mengangkat bahu satu senti. “Itu boleh.”

“KENAPA ITU BOLEH?”

Dan Rey Alvaro — yang mengeluarkan sedikit kata di tempat yang benar selama sebelas tahun, yang tidak pernah menjelaskan dirinya kepada siapa pun, yang enam minggu lalu berdiri di ruang kerja lantai dua puluh satu dan menjawab aku sayang sama kamu dengan terus kamu pikir aku bakal terima

— berdiri di ruang tamunya yang kosong jam satu pagi dan berkata:

“Karena kamu satu-satunya hal yang aku punya yang bukan angka, Lis. Dan aku nggak sanggup ngeliat kamu berubah jadi angka gara-gara aku.”


Aku tidak ingat siapa yang bergerak duluan.

Aku sudah mencoba mengingatnya berkali-kali sesudahnya dan tidak pernah berhasil, dan aku curiga jawabannya adalah kami berdua, pada waktu yang sama, karena satu setengah meter itu hilang terlalu cepat untuk dijelaskan oleh satu orang.

Yang kuingat adalah bahwa ini bukan seperti tangga darurat.

Tidak ada yang tidak sabar. Tidak ada pagar besi, tidak ada gema, tidak ada sebelas tahun disiplin yang runtuh dalam satu detik.

Dia cuma memelukku, dan aku memeluknya, dan kami berdiri di ruang tamu unit 14B yang tidak punya apa pun di dindingnya sampai kakiku sakit.

Aku merasakan napasnya berubah di suatu titik.

Aku tidak menyinggungnya. Aku tidak mengangkat wajahku untuk memeriksa. Aku menaruh keningku lebih dalam ke bahunya dan berpura-pura tidak menyadari apa pun, karena ada beberapa hal yang bisa kamu berikan kepada seseorang hanya dengan tidak melihatnya.

Kami tidak bicara.

Aku mau menuliskan sesuatu yang bagus tentang bagian ini, tapi tidak ada yang terjadi yang layak ditulis dengan bagus. Kami berdiri. Lalu kami duduk di sofa, satu-satunya sofa, dan aku menaruh kakiku di pangkuannya dan dia meletakkan satu tangan di pergelangan kakiku dan tidak menggerakkannya.

Jam dua lewat, aku berkata, “Kamu belum bongkar koper.”

“Enggak.”

“Delapan bulan, Rey.”

“Aku tau.”

“Kenapa?”

Dia memandangi koper itu di sudut ruangan.

“Karena kalau aku bongkar,” katanya, “artinya aku tinggal di sini.”

Aku tidak menjawab.

Jam tiga kurang, kami tertidur di sofa yang terlalu kecil untuk dua orang, dengan cara yang akan membuat leher kami sakit selama dua hari, dan tidak ada satu pun bagian dari malam itu yang jadi hal lain.

Itu, entah kenapa, adalah malam paling intim yang pernah kualami.


Aku bangun jam lima lewat sepuluh karena kakiku kesemutan dan karena ada cahaya.

Bukan matahari. Terlalu pagi.

Lampu balkon 14B menyala, dan pintu kacanya terbuka.

Aku bangun, melepaskan diri dari sofa dengan gerakan yang sangat tidak elegan, dan berjalan ke pintu itu.

Dia berdiri di balkonnya sendiri dengan siku di sekat beton.

Di depannya, satu setengah meter jauhnya, tiga meter kanvas abu-abu yang kupasang hari Sabtu sore bergerak sedikit waktu angin lewat.

“Rey.”

Dia tidak menoleh.

“Hari Sabtu malam,” katanya.

“Hm.”

“Aku ada di sini.”

Aku berhenti di ambang pintu.

“Kamu ngomong sesuatu ke kainnya,” lanjutnya. “Aku berdiri tiga puluh senti dari situ. Tangan aku udah naik.”

Angin bergerak. Kanvasnya bergerak.

“Kenapa kamu nggak jawab?” tanyaku.

Dan Rey Alvaro, yang selalu menjawab jujur, berdiri di balkon lantai empat belas jam lima lewat sepuluh pagi dan mengatakan hal yang membuatku harus memegang kusen pintu.

“Karena aku belum ngirim suratnya,” katanya. “Dan kalau aku jawab malam itu, aku nggak akan pernah ngirim.”

Dia menoleh.

“Aku butuh kamu marah sama aku selama tiga hari lagi,” katanya. “Maaf.”

Aku berjalan ke sekat.

Kanvas itu terikat dari pipa air di sisi kiri ke pagar di sisi kanan, dengan simpul yang kuulang tiga kali sampai rapi, dan aku mengurainya dengan satu tangan sementara tangan yang lain memegang tangannya di atas beton.

Butuh empat menit.

Waktu jatuh, kain itu jatuh ke sisiku, ke lantai balkon 14A, dan tidak ada satu pun dari kami yang memungutnya.

Langit Jakarta di belakangnya sedang berubah dari hitam ke abu-abu.

“Balkonnya masih kebuka?” kataku.

“Iya,” katanya.

Dan kali ini dia tidak melewati sekat, dan aku juga tidak, karena tidak ada yang perlu diseberangi lagi.