← Balkonnya Masih Kebuka?

Chapter Three

Sekat

POV: Lisa


Tiga minggu berlalu, dan sistemnya terbentuk sendiri, seperti semua hal buruk.

Jam tujuh pagi kami ada di kantor. Bukan janjian — aku akan mati sebelum menyebutnya janjian — tapi Rey selalu sudah di sana jam tujuh kurang lima, dan aku selalu sampai jam tujuh kurang tiga, dan setelah minggu kedua aku berhenti berpura-pura kaget.

Jam sembilan sampai jam tujuh malam kami saling menjatuhkan. Ini bagian yang jujur. Helios punya dua alur kerja dan dua senior associate, dan setiap keputusan yang diambil salah satu dari kami adalah keputusan yang tidak diambil yang lain. Aku menang di ruang klien. Dia menang di angka. Skornya, kalau ada yang menghitung — dan Gege menghitung — kira-kira imbang, yang membuat semua orang di lantai dua puluh satu sangat gembira dan membuatku sangat tidak.

Jam sebelas malam kami ada di balkon.

Ini bagian yang tidak jujur.

Karena tidak ada yang pernah mengucapkannya. Tidak ada janji, tidak ada pesan, tidak ada satu pun kalimat yang bisa dijadikan bukti kalau nanti ada yang bertanya. Aku cuma membuka pintu kaca karena panas, dan dia cuma di luar karena lampunya panas, dan kalau dua alasan itu kebetulan terjadi setiap malam selama tiga minggu, itu urusan gedung, bukan urusan kami.

Di balkon, aturan siangnya tidak berlaku.

Aku belum tahu kapan persisnya itu terjadi. Suatu malam kami masih saling menyerang, dan malam berikutnya dia bertanya kenapa aku selalu makan malam jam sepuluh, dan aku menjawab jujur, dan tidak ada satu pun bagian dari jawaban itu yang muncul kembali di ruang rapat keesokan harinya.

Itu, akhirnya, yang membuatku berhenti waspada. Dia tidak pernah membawa apa pun dari balkon ke kantor. Tidak sekali pun. Untuk orang yang mengubah empat kata jadi senjata, itu semacam kesopanan yang hampir tidak masuk akal.

Aku mengujinya, sekali, di minggu kedua. Aku mengaku di balkon bahwa aku tidak pernah bisa membaca laporan arus kas tanpa membuat tabel terjemahan sendiri terlebih dahulu — sebuah kelemahan yang, kalau disebut di ruang rapat, akan membuatku terlihat seperti anak magang.

Empat hari berikutnya aku menunggu.

Tidak terjadi apa-apa.

Yang terjadi, di hari kelima, adalah aku menemukan satu file di folder bersama. Namanya `arus-kas-helios-terjemahan.xlsx`. Isinya tabel terjemahan, sudah jadi, disusun persis seperti caraku menyusunnya sendiri.

Tidak ada catatan. Tidak ada nama di kolom pembuat.

Aku duduk memandangi file itu selama empat menit, lalu menutup laptopku, lalu pergi ke toilet dan berdiri di depan cermin sampai wajahku kembali ke ukuran normal.

Malam itu aku tidak menyinggungnya sama sekali di balkon. Dia juga tidak.

Itu, kalau aku jujur, adalah malam pertama yang berbahaya.


Malam ketiga minggu ketiga, Jakarta panas dengan cara yang membuat orang membenci arsitektur.

Aku sudah mandi, sudah menyerah pada AC, dan sudah sampai di titik malam di mana keputusan berpakaian dibuat berdasarkan fisika, bukan sosiologi. Kaus tidur kebesaran, celana pendek, rambut basah diikat asal. Aku membawa laptop ke balkon karena di dalam terasa seperti dipanggang perlahan, mendudukkan diri di lantai beton dengan punggung ke dinding, dan bekerja.

Empat puluh menit. Model alokasi biaya, yang salah di tab keempat, yang sudah salah sejak Selasa.

Waktu aku mengangkat kepala, Rey ada di balkonnya.

Berdiri, menyandar ke sekat, dengan gelas di tangan. Entah sudah berapa lama.

Dan dia sedang melihat.

Bukan melirik. Bukan kebetulan menoleh. Melihat, terbuka, tanpa buru-buru, dengan cara yang sama sekali tidak dia miliki di kantor.

Aku merasakan seluruh kesadaran tentang apa yang kupakai turun ke tubuhku sekaligus, seperti air dingin.

Ada dua pilihan. Pilihan pertama adalah berdiri, masuk, tutup pintu, dan tidak pernah membicarakan ini lagi. Pilihan itu ada di sana, terbuka, sangat masuk akal.

Aku mengambil pilihan kedua.

Aku menutup laptopku. Bangkit — pelan, karena lantai beton dan karena kakiku kesemutan dan bukan karena alasan lain — dan berjalan ke sekat sampai jarakku dengannya tinggal satu setengah meter beton.

“Ngeliatin apa?”

Dia tidak mengalihkan pandangan. Tidak juga meminta maaf, yang sebenarnya sudah kuantisipasi, dan yang sudah kusiapkan tiga kalimat untuk menghancurkannya.

“Kamu tau apa,” katanya.

Tiga kata.

Ada mekanisme di dalam diriku yang seharusnya bekerja sekarang. Mekanisme itu bernama jawab. Mekanisme itu tidak pernah gagal sekali pun dalam dua puluh tujuh tahun, tidak di depan CEO, tidak di depan ibuku, tidak di depan penguji sidang skripsi yang membenciku.

Mekanisme itu tidak bekerja.

Yang bekerja adalah sesuatu yang lain, di tempat yang lebih rendah dan lebih tidak sopan, dan aku merasakannya menjalar dari tengkuk ke bawah dan menyadari dengan kengerian murni bahwa aku mungkin sedang memerah dan tidak ada cukup gelap di balkon ini untuk menyembunyikannya.

“Itu,” kataku, “bukan jawaban.”

“Itu jawaban.”

“Itu penghindaran.”

“Kamu mau aku jelasin?”

Aku membuka mulut untuk mengatakan iya, dan mendengar suaraku sendiri berhenti tepat sebelum kata itu keluar, dan menyadari — dengan kejelasan yang menyakitkan — bahwa aku berhenti bukan karena tidak mau.

Dia menunggu. Sabar. Selalu sabar. Itu bagian yang tidak adil: dia tidak pernah mendesak, tidak pernah mengejar, cuma berdiri di tempatnya dan membiarkanku berjalan sendiri ke arahnya.

“Kamu tau ini nggak boleh, kan,” kataku, dan menyadari terlambat bahwa itu bukan jawaban dari pertanyaan mana pun.

“Yang mana?”

“Semuanya.” Aku melambaikan tangan ke arah sekat, ke arah balkon, ke arah seluruh geometri malam itu. “Ini. November. Satu kursi. Kamu tau berapa banyak engagement yang batal di firma ini gara-gara dua orang di satu tim mulai—”

Aku berhenti.

“Mulai apa,” katanya.

“Jangan.”

“Kamu yang mulai kalimatnya.”

“Aku mau kamu berhenti,” kataku akhirnya.

“Oke.”

Dan dia mengalihkan pandangan.

Ke arah kota, ke arah tiang-tiang lampu di jalan bawah, ke arah apa pun yang bukan aku. Wajahnya kembali ke pengaturan pabriknya. Tangannya memutar gelas.

Aku berdiri di sana, mendapatkan persis apa yang kuminta, dan merasa seperti orang yang baru saja menutup pintu ke ruangan yang belum sempat kulihat isinya.

Berhenti, ternyata, lebih buruk.

Ini adalah hal yang tidak kuakui ke siapa pun, tidak ke Gege, tidak ke ibuku, terutama tidak ke diriku sendiri sampai detik ini: aku tahu persis seperti apa rasanya diperhatikan. Aku diperhatikan sepanjang hari. Ruang rapat, klien, lorong. Orang melihat Lisa Hartawan terus-menerus.

Tapi mereka semua melihat sesuatu yang sudah punya nama. Anak Hartawan. Yang bisa presentasi. Yang berisik. Yang mungkin masuk lewat jalur.

Dia melihat sesuatu yang tidak dia beri nama, dan tidak memberitahuku nama itu, dan itu — aku akhirnya mengakui ini, di lantai empat belas, jam setengah dua belas malam, dengan rambut basah — jauh lebih menakutkan daripada kehilangan promosi.

Karena promosi bisa kukerjakan. Promosi punya kriteria.

“Aku nggak masuk,” kataku.

Dia menoleh.

“Aku bilang berhenti,” lanjutku, “tapi aku nggak masuk.”

Diam.

Aku bisa mendengar suara AC kompresor di suatu tempat, dan klakson jauh di bawah, dan detak sesuatu di telingaku sendiri yang kutolak untuk kuidentifikasi.

“Aku tau,” katanya.

“Kamu tau.”

“Kamu udah dua menit di situ.”

“Kamu ngitung?”

Dia tidak menjawab itu. Yang dia lakukan adalah meletakkan gelasnya di atas sekat beton, di titik tengah, tepat di garis pembatas antara 14A dan 14B — dan itu, entah kenapa, terasa jauh lebih berani daripada semua yang sudah dia katakan malam itu.

“Model kamu salah di tab empat,” katanya.

Aku mengedip. “Apa?”

“Tab empat. Alokasi overhead-nya kamu bagi pakai jumlah SKU. Harusnya jam rak.” Dia mengangkat dagu ke arah laptopku di lantai. “Makanya dari Selasa nggak ketemu.”

“Kamu—” Aku menoleh ke laptopku, lalu ke dia, lalu ke laptopku lagi. “Kamu liat layar aku dari sini?”

“Nggak.”

“Terus kamu tau dari mana?”

“Karena aku salah di tempat yang sama, dua tahun lalu, di engagement Pramesta.” Dia mengambil gelasnya kembali. “Dan karena kamu ngerutin dahi tiap kali scroll ke kanan.”

Ada beberapa detik di mana aku tidak melakukan apa-apa.

“Itu,” kataku pelan, “kesempatan kamu buat bikin aku kalah. Kamu tau itu, kan? Kalau aku bawa model itu ke rapat Kamis dengan salah alokasi, kamu menang telak.”

“Iya.”

“Terus kenapa kamu kasih tau?”

Dia menyandarkan lengan ke sekat. Untuk pertama kalinya malam itu, jarak kami berkurang — bukan banyak, mungkin dua puluh senti, tapi cukup untuk membuat udara di antara kami terasa punya berat.

“Karena kalau aku menang gara-gara tab empat,” katanya, “aku nggak akan pernah tau aku beneran menang atau nggak.”

Dia masuk setelah itu.

Aku berdiri di balkonku sampai lewat tengah malam, membetulkan tab empat, dan menyadari di tengah jalan bahwa aku sedang tersenyum ke arah spreadsheet.

Aku berhenti tersenyum.

Lalu, tiga puluh detik kemudian, tersenyum lagi.


Yang tidak kuakui malam itu, dan yang akan kuhabiskan waktu berminggu-minggu untuk tidak mengakui:

Aku tidak masuk ke dalam bukan karena ingin membuktikan sesuatu.

Aku tidak masuk karena aku ingin dilihat lebih lama.

Dan di kamar 14A, dengan lampu sudah dimatikan dan tab empat sudah benar, aku berbaring memandangi langit-langit dan mengucapkan satu kalimat ke dalam gelap, dengan nada orang yang sedang menandatangani sesuatu tanpa membaca isinya:

“Ini nggak akan baik-baik aja.”