Chapter Seven
Kerah
POV: Lisa
Kabar itu datang jam delapan lewat empat puluh dua, dalam bentuk yang paling buruk: Bu Renata berjalan cepat, dan Bu Renata tidak pernah berjalan cepat.
“Pak Wisnu maju.”
Gege, yang sedang memegang gelas kopi, meletakkannya seperti orang yang baru diberi tahu ada kebakaran. “Maju kapan?”
“Sekarang.”
“Sekarang sekarang?”
“Dia di lobi.” Bu Renata berhenti di depan mejaku. “Dua puluh menit. Ruang tujuh. Bawa versi yang kemarin.”
“Versi kemarin belum ada rekonsiliasi kas, Bu.”
“Saya tahu.”
“Halaman sembilan sampai empat belas isinya masih placeholder.”
“Saya tahu.” Bu Renata melihat ke arah meja seberang. “Rey.”
“Bu.”
“Kamu pegang angka. Lisa pegang ruangan.”
Dan dia pergi.
Ada tiga detik hening di lantai dua puluh satu.
“Oke,” kata Gege, dengan suara orang yang sedang menenangkan kuda. “Oke. Ini fine. Ini totally fine. Ini cuma pemilik grup senilai empat koma dua triliun yang datang sembilan hari lebih cepat dari jadwal buat ngeliat deck yang setengahnya kotak abu-abu.”
“Ge.”
“Aku ngomong biar nggak panik.”
“Kamu ngomong dan aku jadi panik.”
“Itu efek samping.”
Aku sudah berdiri, sudah menarik map, sudah menghitung mundur di kepalaku. Dua puluh menit. Enam halaman yang harus dijelaskan tanpa slide. Satu klien yang menurut rumor pernah membatalkan engagement senilai delapan miliar karena seseorang salah menyebut nama anaknya.
Yang kubutuhkan sekarang adalah empat menitku.
Aku bisa. Aku selalu bisa.
Yang sama sekali tidak kubutuhkan adalah menoleh dan melihat Rey Alvaro sudah berdiri, jasnya sudah dikancingkan, dan sedang menatapku dengan ekspresi yang tidak kukenali.
“Apa,” kataku.
“Kerah kamu.”
“Kenapa kerah aku?”
“Kelipat.”
Aku mengangkat tangan ke leherku, meraba, tidak menemukan apa-apa, meraba lagi. Blazer biruku — yang paling bagus, yang kusimpan untuk hal-hal seperti ini — punya kerah yang memang selalu bermasalah di sisi kanan, dan tentu saja hari ini, dan tentu saja sekarang.
“Sebelah mana?”
“Kanan.”
Aku meraba lagi. “Aku nggak—”
“Diem.”
Dan dia melangkah masuk.
Ada satu setengah langkah di antara kami sebelumnya. Sekarang tidak ada.
Aku berhenti bergerak sepenuhnya, karena tubuhku membuat keputusan itu tanpa berkonsultasi denganku, dan karena dia berdiri cukup dekat untuk membuat seluruh lantai dua puluh satu menghilang dari kesadaranku dalam waktu kurang dari satu detik.
Dia mengangkat tangan ke kerah blazerku.
Membalik lipatannya. Pelan.
Dan tidak berhenti di situ.
Jarinya turun — punggung jari, bukan telapak, menyusuri tepi kerah ke bawah, dari titik di bawah telingaku sampai ke tulang selangkaku, meratakan kain yang sudah rata, dengan kecepatan yang tidak punya satu pun alasan fungsional.
Kulitnya menyentuh kulitku selama mungkin dua sentimeter perjalanan itu.
Aku berhenti bernapas.
Ini bukan kiasan. Aku betul-betul berhenti bernapas, selama empat detik, dan bagian dari otakku yang masih bekerja mencatat bahwa ini adalah hal paling memalukan yang pernah terjadi padaku di kantor ini, dan bagian lain dari otakku menjawab bahwa aku tidak peduli.
Dia membetulkan sisi kiriku juga. Sisi kiri tidak terlipat.
Lalu tangannya turun.
Dia mundur setengah langkah, memeriksa hasil kerjanya dengan ekspresi seorang teknisi, dan berkata:
“Udah.”
Aku mengangkat wajah.
“Kamu sengaja,” katanya.
Suaraku keluar terlalu rendah dan terlalu pelan dan sama sekali bukan suara yang kurencanakan.
Dia menatapku.
“Iya.”
Dua suku kata.
Lift berdenting di ujung lorong. Ada suara orang. Bu Renata memanggil nama seseorang di kejauhan. Dunia jelas masih berjalan di suatu tempat di luar radius satu meter ini, dan aku akan sangat berterima kasih kalau dunia itu bisa menunggu sebentar.
“Ruang tujuh,” katanya.
“Aku tau.”
“Kamu pegang ruangan.”
“Aku tau.”
“Lisa.”
“Apa.”
Aku sudah setengah berbalik. Sekarang aku berhenti.
“Dua puluh menit ini,” katanya, “kamu bakal bagus.”
Bukan semoga sukses. Bukan kamu pasti bisa. Kalimatnya dibangun seperti seluruh kalimatnya yang lain — datar, pendek, disusun seperti temuan, bukan seperti dukungan.
Dan justru karena itu aku mempercayainya sepenuhnya.
Ruang tujuh punya meja yang terlalu panjang untuk sembilan orang.
Pak Wisnu duduk di ujungnya. Dia lebih kecil daripada yang kubayangkan, dan lebih tua, dan memakai kemeja batik yang jelas sudah sering dicuci. Tidak ada satu pun hal tentang dirinya yang menunjukkan empat koma dua triliun, dan aku curiga itu memang tujuannya.
Halaman satu sampai delapan berjalan mulus. Aku tahu bagian itu di luar kepala.
Halaman sembilan adalah kotak abu-abu.
“Ini apa?” tanya Pak Wisnu.
Ada jenis pertanyaan yang bukan pertanyaan. Ini salah satunya. Semua orang di ruangan itu bisa melihat bahwa halaman sembilan adalah kotak abu-abu.
“Rekonsiliasi kas per wilayah,” kataku. “Belum kami tampilkan.”
“Kenapa?”
“Karena kalau saya tampilkan hari ini, angkanya belum diverifikasi ke sistem Bapak. Dan kalau saya kasih Bapak angka yang belum diverifikasi, Bapak akan pakai angka itu di rapat direksi hari Kamis, dan hari Jumat saya yang harus jelasin kenapa selisihnya tiga persen.”
Pak Wisnu memandanginya.
Di seberang meja, seseorang dari sisi klien menggerakkan kursi.
“Bagus,” kata Pak Wisnu. “Tapi saya tetap mau angkanya.”
Dan di situlah aku kehabisan.
Bukan kehabisan kata — aku tidak pernah kehabisan kata. Aku kehabisan hal yang benar untuk dikatakan, yang berbeda dan jauh lebih buruk, dan aku sudah menarik napas untuk mengisi kekosongan itu dengan sesuatu ketika terdengar suara kertas di sisi kananku.
Rey mendorong satu lembar ke tengah meja.
“Empat wilayah,” katanya. “Tiga sudah tervalidasi. Yang keempat belum, dan saya tandai.”
Pak Wisnu menarik kertas itu.
Hening delapan detik.
Aku melihat ke bawah, ke lembar yang sekarang berbaring di antara kami, dan mengenali formatnya. Aku mengenali formatnya karena kemarin sore aku sendiri yang bilang, keras-keras, di depannya, bahwa rekonsiliasi itu tidak mungkin selesai sebelum Rabu.
Kolomnya rapi. Angkanya kecil-kecil. Ada satu baris di bawah yang ditulis tangan.
“Yang keempat kenapa?” tanya Pak Wisnu.
“Data gudang Semarang masuk dua kali di bulan Maret,” katanya. “Sistem Bapak yang duplikat, bukan kami. Kalau saya bersihkan sekarang, saya menghapus sesuatu yang bukan milik saya.”
Pak Wisnu meletakkan kertas itu.
Lalu dia mengeluarkan pulpen.
Aku merasakan sesuatu bergerak di dadaku yang bukan lega dan bukan kesal dan sangat mungkin campuran keduanya, dan kusimpan untuk nanti, karena halaman sepuluh sudah menunggu dan ruangan ini sekarang milikku.
Aku mengambilnya.
Presentasi itu berlangsung dua puluh enam menit.
Aku tahu, karena Gege mencatat, karena Gege selalu mencatat.
Aku tahu juga bahwa itu adalah dua puluh enam menit terbaik yang pernah kulakukan seumur hidupku. Aku tahu itu bukan dari perasaanku sendiri — aku tahu itu dari fakta bahwa Pak Wisnu, yang menurut rumor tidak pernah menulis di rapat, mengeluarkan pulpen di menit ketujuh. Dari fakta bahwa dua orang dari sisi klien berhenti melihat layar dan mulai melihatku. Dari fakta bahwa Bu Renata, di ujung meja, menyandarkan punggung ke kursi, yang dalam bahasa Bu Renata berarti saya sudah tidak perlu di sini.
Dan aku tahu itu dari fakta bahwa di menit ke sembilan belas, waktu Pak Wisnu mengajukan pertanyaan tentang beban gudang yang seharusnya menghancurkan seluruh argumenku, aku mendengar diriku sendiri menjawab dengan relokasi gudang tahun kedua — bersih, ringkas, dengan angka yang benar — dan melihat sudut mata Rey bergerak dari seberang meja.
Itu bagian yang kuingat.
Sudut mata itu.
Karena selebihnya — dan ini adalah hal yang membuatku duduk di kubikelku jam sebelas siang dengan perasaan sangat aneh — selebihnya hilang.
Aku tidak ingat apa yang kukatakan di halaman sepuluh. Aku tidak ingat bagaimana aku menjembatani ke halaman dua belas. Gege bilang aku melakukan sesuatu dengan tangan di menit keempat belas yang “kayak konduktor orkestra dan agak sombong tapi berhasil,” dan aku tidak punya ingatan apa pun tentang tanganku sendiri.
Yang kuingat adalah dua sentimeter kulit di bawah telingaku.
Sepanjang dua puluh enam menit itu.
“Kamu keren banget tadi,” kata Gege, mendudukkan diri di mejaku tanpa diundang. “Serius. Aku nggak sering ngomong gini karena aku takut kamu jadi susah dihubungi, tapi kamu keren banget.”
“Makasih.”
“Kamu inget bagian sistem alokasi kanal?”
“Nggak.”
Gege berhenti mengunyah. “Apa?”
“Aku nggak inget.”
“Lis, kamu ngomong empat menit tanpa slide tentang alokasi kanal dan Pak Wisnu ngangguk dua kali.”
“Aku tau. Aku nggak inget.”
Gege memandangiku lama.
Lalu, dengan nada yang sangat berbeda: “Kamu kenapa?”
“Nggak apa-apa.”
“Lisa.”
“Aku capek.”
“Kamu nggak pernah capek. Kamu itu jenis manusia yang bikin orang lain capek.”
Aku membuka laptopku, yang adalah cara paling jelas untuk mengakhiri percakapan, dan Gege — karena Gege sebenarnya teman yang sangat baik di balik seluruh perilakunya — berdiri dan pergi tanpa memaksa.
Di lorong, dua puluh detik kemudian, aku mendengarnya berhenti dan berkata, ke arah seseorang:
“Rey.”
“Ge.”
“Kerah blazer Lisa tadi kelipat, ya?”
Jeda.
“Iya.”
“Terus?”
Jeda yang lebih panjang.
“Terus udah nggak.”
Langkah kaki menjauh.
Aku duduk di depan layarku yang menyala dengan file yang tidak kubuka, dan menutup mata, dan mengizinkan diriku selama tepat lima detik untuk mengakui bahwa dua puluh enam menit terbaik dalam karierku baru saja terjadi karena seseorang menyentuh leherku selama dua detik dan mengaku bahwa itu disengaja.
Lima detik.
Lalu aku membuka mata, membuka file, dan mulai bekerja.
Aku bertahan sampai jam empat sore sebelum menyadari bahwa aku sudah tiga kali membaca paragraf yang sama.
Jam sembilan malam, di unit 14A, aku membongkar mapku untuk mencari sesuatu yang lain dan menemukan lembar itu.
Dia menyerahkan salinannya kepada Pak Wisnu. Yang ada di tanganku berarti dia mencetak dua.
Kolomnya rapi. Empat wilayah, tiga bersih, satu ditandai. Dan di bawahnya, tulisan tangan yang kecil dan miring dan sama sekali tidak indah:
Semarang duplikat. Jangan dipakai sebelum Rabu.
Tidak ada yang lain. Tidak ada nama, tidak ada tanda, tidak ada satu pun kata yang tidak diperlukan.
Aku duduk di lantai ruang tamuku yang masih setengah kosong dan memandangi lembar itu terlalu lama.
Kemarin sore aku bilang rekonsiliasi ini butuh empat hari.
Kemarin sore dia tidak berkomentar apa-apa.
Dan malam itu, di unit sebelah, dia jelas tidak tidur.
Aku berdiri. Melipat kertas itu dua kali, lalu membukanya lagi, lalu meletakkannya di meja seperti benda yang bisa pecah.
Kemudian aku ke balkon.
Lampu di 14B menyala.
Aku berdiri di sana cukup lama untuk menyusun tiga kalimat berbeda di kepalaku, membuang ketiganya, dan menyadari bahwa masalahnya bukan aku tidak tahu harus bilang apa.
Masalahnya, satu-satunya kalimat yang benar-benar ingin kuucapkan adalah makasih — dan aku tidak yakin sanggup mengucapkannya tanpa terdengar seperti sedang mengaku kalah.
Jadi aku tidak mengucapkan apa-apa.
Dan lampu itu tetap menyala sampai aku masuk.
- 1 Unit Sebelah
- 2 Empat Menit
- 3 Sekat
- 4 Jemuran
- 5 Terlalu Dekat
- 6 Kode
- 7 Kerah reading
- 8 Pantry
- 9 Tangga Darurat
- 10 Semalem
- 11 Aturan
- 12 Di Bawah Meja
- 13 Delapan Lantai
- 14 Empat Jam
- 15 Dua Kamar
- 16 Bu Lisa
- 17 Bekasi
- 18 Lewat Sekat
- 19 Dua Bagian Kosong
- 20 Meninggikan Suara
- 21 Pintu Depan
- 22 Dua Gelas
- 23 Kain di Sekat
- 24 Mundur
- 25 Jam Satu Pagi
- 26 Pagi
- 27 Ketahuan
- 28 Selesai?
- 29 Berkali-Kali
- 30 Kening
- 31 Nol
- 32 Kuncinya