Chapter Twenty
Meninggikan Suara
POV: Rey
Aku tidak tahu dari bagian empat.
Itu perlu kucatat, karena kalau tidak, aku terdengar seperti orang yang lebih tajam dari yang sebenarnya. Bagian empat bisa saja jujur. Orang memang kadang menahan sensitivitas sampai asumsinya divalidasi; aku sendiri pernah melakukannya dua kali.
Aku tahu dari bagian enam.
Karena selama enam bulan terakhir aku duduk di meja yang menempel dengan mejanya, dan selama enam bulan itu aku sudah menonton perempuan itu menjual urutan implementasi kepada tiga klien berbeda, dan setiap kali dia melakukannya, dia melakukan hal yang sama: dia berhenti setelah menyebutkan urutannya, membiarkan hening dua detik, lalu berkata dan ini alasannya kenapa nggak bisa dibalik.
Dua detik itu adalah senjatanya. Dia bahkan tidak sadar dia punya.
Hari Jumat itu dia menyebutkan urutannya dan langsung lanjut ke bagian tujuh.
Tidak ada dua detik.
Aku duduk di seberang meja dan merasakan sesuatu yang sangat dingin masuk ke dadaku, dan menghabiskan sisa presentasinya untuk memeriksa ulang, mencari penjelasan lain, mencari versi yang tidak seperti ini.
Ada satu penjelasan lain. Dia capek. Dia bilang dia capek Kamis malam.
Aku memegang penjelasan itu selama tiga jam.
Lalu jam empat sore aku membuka folder bersama dan mencari file sensitivitas upah gudang yang kutahu ada di sana tiga minggu lalu, karena aku pernah membukanya, karena aku membuka semua yang dia kerjakan.
File itu tidak ada.
Aku duduk di depan layar selama dua menit.
Lalu aku membuka log versi dokumen presentasinya, yang bisa dilihat siapa pun di tim, yang tidak dirahasiakan dari siapa pun karena tidak ada yang pernah memikirkannya.
Bagian empat: diedit Selasa, jam 22.14. Bagian enam: diedit Selasa, jam 23.02.
Selasa jam sepuluh malam adalah malam ketika aku ada di balkonnya sampai jam satu.
Bukan. Itu Senin.
Selasa jam sepuluh malam aku ada di unitku sendiri, mengerjakan rute empat belas, dan lampu di 14A menyala sampai lewat tengah malam, dan aku ingat karena aku memeriksanya sebelum tidur, seperti yang kulakukan setiap malam sejak bulan Mei tanpa pernah mengakuinya kepada siapa pun.
Aku menunggu sampai lantai dua puluh satu kosong.
Itu keputusan sadar, dan itu satu-satunya keputusan yang benar yang kubuat malam itu.
Jam delapan lewat empat puluh, tim analis pulang. Jam sembilan, Gege pulang — dan berhenti di ambang pintu, dan melihat ke arah kami berdua, dan berkata “Aku duluan ya” dengan nada seseorang yang sedang mempertimbangkan untuk tidak pulang.
“Duluan, Ge,” kata Lisa.
Pintu tertutup.
Ruangan itu punya dua meja yang menempel, satu papan tulis yang penuh, dan lampu langit-langit yang sudah mati sendiri di separuh ruangan karena sensornya.
“Bagian empat,” kataku.
Dia tidak mengangkat wajah. “Kita udah bahas.”
“Kita belum bahas.”
“Rey—”
“File sensitivitasnya udah nggak ada di folder bersama.”
Tangannya berhenti di keyboard.
Aku sudah menyusun kalimat berikutnya. Aku menyusunnya sejak jam empat sore. Ada empat versi dan semuanya pendek dan semuanya cukup, dan aku memilih yang paling pendek karena aku selalu memilih yang paling pendek.
“Kenapa.”
Satu kata.
Dia menutup laptopnya.
“Karena belum divalidasi.”
“Lisa.”
“Karena aku belum sempat—”
“Kamu edit bagian enam jam sebelas malam hari Selasa,” kataku. “Log versinya kelihatan. Siapa pun di tim bisa liat.”
Dan aku menonton wajah perempuan itu berubah, pelan, dari pertahanan menjadi sesuatu yang lain — sesuatu yang lebih telanjang dan jauh lebih buruk untuk dilihat.
“Oke,” katanya.
“Oke apa?”
“Oke, aku lepas dua bagian.”
Ruangan itu sangat sunyi.
“Kenapa,” kataku lagi.
Dan dia berdiri, dan menghadapku, dan mengucapkan hal yang selama enam jam terakhir kuharap tidak akan dia ucapkan, karena selama dia tidak mengucapkannya aku masih bisa berpura-pura ada penjelasan lain.
“Karena kamu butuh kursi itu dan aku enggak.”
Aku tidak pernah meninggikan suara.
Bukan prinsip. Bukan disiplin. Cuma kenyataan sederhana bahwa aku tidak pernah punya alasan; orang yang bicara sedikit tidak pernah sampai ke titik di mana suaranya harus naik, karena dia sudah berhenti jauh sebelum itu.
Aku ingin mencatat bahwa aku mencoba.
Aku mencoba selama mungkin dua detik.
“Jangan pernah ngalah ke aku.”
Suaraku memantul di ruangan yang setengah gelap itu, kembali kepadaku dari dinding kaca, jauh lebih keras daripada yang kuduga bisa kuhasilkan, dan aku melihat perempuan itu mundur setengah langkah — bukan takut, dia tidak takut padaku, tapi kaget, dengan cara orang yang mendengar suara yang belum pernah ada di ruangan ini sebelumnya.
“Rey—”
“Jangan pernah.” Aku berdiri. “Sekali pun. Nggak di sini, nggak di rapat, nggak di mana pun.”
“Aku nggak ngalah, aku—”
“Kamu ngosongin dua bagian dari tujuh, Lis, itu bukan lupa, itu tiga jam kerja!”
“Iya!” Suaranya ikut naik, dan itu bagus, karena setidaknya sekarang kami berdua ada di tempat yang sama. “Iya, itu tiga jam, dan aku ngerjainnya sampai jam sebelas malam, dan aku tau persis apa yang aku lakuin!”
“Kenapa?”
“Karena aku ngitung!” katanya. “Karena aku nggak bisa berhenti ngitung, karena itu yang aku lakuin, dan angkanya nggak nutup, Rey. Aku udah hitung tiga kali. Tiga koma dua kali empat kali empat, ditambah yang di luar sesi, ditambah obat, dan itu semua nggak nutup sama band Senior Associate. Nggak nutup. Dan yang nutup cuma satu hal dan kamu duduk di sebelah aku tiap hari sambil pura-pura itu bukan apa-apa—”
“Itu urusan aku.”
“Aku tau itu urusan kamu!”
“Terus kenapa kamu—”
“KARENA AKU SAYANG SAMA KAMU!”
Ruangan itu berhenti.
Papan tulis di belakangnya. Lampu setengah mati. Kota di luar jendela dengan lampu-lampunya yang tidak peduli.
Dia berdiri di sana dengan napas berantakan dan wajah yang perlahan menyadari apa yang baru saja keluar dari mulutnya, dan aku berdiri satu setengah meter darinya — jarak yang sama persis dengan sekat balkon itu, dan aku membenci otakku karena mencatat itu di detik ini — dan tidak bisa menemukan satu pun kata.
Bukan karena tidak ada.
Karena semuanya datang sekaligus, dan aku tidak punya mekanisme untuk itu. Sebelas tahun aku membangun sistem yang mengeluarkan sedikit kata di tempat yang benar, dan sistem itu tidak dirancang untuk situasi di mana ada terlalu banyak.
Tiga detik.
Empat.
Dan pada detik kelima, otakku menyerahkan satu kalimat — satu-satunya yang bisa lewat — dan aku mengucapkannya sebelum aku sempat memeriksanya.
“Terus kamu pikir aku bakal terima?”
Aku melihatnya mendarat.
Itu bagian yang akan kuputar ulang berkali-kali selama beberapa minggu berikutnya: aku melihatnya mendarat, dari jarak satu setengah meter, dengan penerangan yang cukup untuk melihat semuanya.
Wajahnya tidak runtuh. Dia tidak menangis. Dia melakukan sesuatu yang jauh lebih buruk, yaitu berhenti sepenuhnya — seperti mesin yang dimatikan dari sumbernya, bukan dari sakelarnya.
“Oke,” katanya.
“Lisa.”
“Nggak, fair.” Dia mengambil tasnya dari sandaran kursi. “Fair banget.”
“Bukan itu maksud aku.”
“Terus apa maksud kamu?”
Dan di sinilah aku seharusnya menjelaskan.
Aku punya penjelasannya. Aku bisa melihatnya, utuh, tersusun rapi, sekitar dua puluh sentimeter di luar jangkauanku, seperti selalu.
Bahwa yang tidak sanggup kuterima bukan bantuannya.
Bahwa aku sudah menghabiskan sebelas tahun memastikan tidak ada satu orang pun yang harus ikut menanggung angka di kepalaku, dan bahwa satu-satunya hal di dunia ini yang belum tersentuh angka itu adalah dia — bahwa selama enam bulan terakhir, perempuan ini adalah satu-satunya tempat di hidupku yang tidak punya kolom, tidak punya jadwal, tidak punya tiga hari dalam seminggu.
Dan bahwa kalau dia mulai mengalah untukku, tempat itu hilang.
Bukan karena dia berbuat salah.
Karena aku akan berdiri di depan Bu Renata di bulan November, menerima kursi itu, dan tidak akan pernah tahu — seumur hidupku, sampai mati — bagian mana yang kudapat karena kerjaku dan bagian mana yang dia serahkan karena dia melihat rumah kecil di Bekasi dan seorang lelaki dengan selang oksigen yang bercerita tentang delapan truk.
Aku bisa melihat seluruh penjelasan itu.
Empat puluh detik. Mungkin lima puluh.
“Rey.”
Dia menunggu.
Dia berdiri di ambang pintu dengan tas di bahu dan menunggu, seperti aku selalu menunggunya, dan untuk pertama kalinya dalam enam bulan posisinya terbalik dan akulah yang harus berjalan.
Aku membuka mulut.
“Nggak apa-apa,” kataku.
Dua kata. Di tempat yang paling salah yang pernah kupilih seumur hidupku.
Dia mengangguk sekali.
Lalu dia keluar, dan pintu ruang kerja itu menutup dengan bunyi pneumatik yang sopan, dan aku berdiri sendirian di antara dua meja yang menempel dengan papan tulis penuh tulisan tangan dua orang di belakangku.
Aku pulang jam sebelas.
Lampu di 14A menyala.
Aku berdiri di balkonku, di sisi sekat beton setinggi dada yang selama ini tidak pernah jadi halangan, dan tidak melewatinya.
Aku berdiri di sana empat puluh menit.
Lalu lampunya mati.
- 1 Unit Sebelah
- 2 Empat Menit
- 3 Sekat
- 4 Jemuran
- 5 Terlalu Dekat
- 6 Kode
- 7 Kerah
- 8 Pantry
- 9 Tangga Darurat
- 10 Semalem
- 11 Aturan
- 12 Di Bawah Meja
- 13 Delapan Lantai
- 14 Empat Jam
- 15 Dua Kamar
- 16 Bu Lisa
- 17 Bekasi
- 18 Lewat Sekat
- 19 Dua Bagian Kosong
- 20 Meninggikan Suara reading
- 21 Pintu Depan
- 22 Dua Gelas
- 23 Kain di Sekat
- 24 Mundur
- 25 Jam Satu Pagi
- 26 Pagi
- 27 Ketahuan
- 28 Selesai?
- 29 Berkali-Kali
- 30 Kening
- 31 Nol
- 32 Kuncinya