← Balkonnya Masih Kebuka?

Chapter Nineteen

Dua Bagian Kosong

POV: Lisa


Ini yang perlu dimengerti supaya kalian tidak menganggapku lebih mulia daripada yang sebenarnya:

Aku tidak merusak presentasiku.

Merusak itu kasar. Merusak akan ketahuan dalam waktu empat menit oleh siapa pun di ruangan itu, termasuk oleh Gege, terutama oleh Bu Renata, dan yang paling pasti oleh orang yang duduk di meja yang menempel dengan mejaku selama enam minggu terakhir.

Yang kulakukan jauh lebih rapi, dan karena itu jauh lebih buruk.

Bagian empat presentasiku adalah proyeksi dampak biaya. Isinya benar. Angkanya benar. Yang kuhilangkan adalah satu lapisan: skenario sensitivitas kalau asumsi upah gudang naik delapan persen tahun depan, yang sudah kukerjakan tiga minggu lalu, yang ada di file terpisah di folder pribadiku, dan yang tidak kumasukkan ke lampiran.

Kalau ada yang bertanya, aku punya jawabannya di kepala. Aku bisa menjelaskannya dalam empat puluh detik.

Tapi kalau tidak ada yang bertanya, bagian empat akan terlihat seperti pekerjaan yang berhenti satu langkah sebelum selesai.

Bagian enam adalah rekomendasi urutan implementasi. Isinya juga benar. Yang kuhilangkan adalah kenapa urutan itu — argumen jalur kritisnya, yang adalah bagian yang membuat orang mengangguk, yang adalah bagian yang bisa kulakukan lebih baik daripada siapa pun di lantai ini.

Aku menuliskan urutannya. Aku tidak menjualnya.

Dan itu, di Meridian, adalah perbedaan antara Senior Associate dan Engagement Manager. Semua orang bisa menyusun urutan. Yang membuatmu naik adalah kemampuan membuat ruangan percaya pada urutanmu.

Aku menghabiskan waktu tiga jam untuk mengosongkan dua bagian itu dengan sangat hati-hati.

Tiga jam. Lebih lama daripada waktu yang kubutuhkan untuk mengisinya.


Hari Kamis malam, jam sepuluh, dia melewati sekat lagi.

Aku hampir mengatakannya di situ.

Kami di lantai balkon, dua gelas, laptopku sudah tertutup. Dia bicara tentang validasi rute ketujuh belas dan tentang seorang staf gudang di Cirebon yang menurutnya menyembunyikan sesuatu tapi bukan hal yang penting, dan aku mendengarkan setengahnya sambil menyusun kalimat di kepalaku.

Rey, besok aku bakal presentasi setengah bagus.

Empat kata dari ujung lidahku.

“Lis.”

“Hm?”

“Kamu nggak dengerin.”

“Aku dengerin.”

“Rute berapa?”

“Tujuh belas.”

“Aku bilang delapan belas dua menit lalu.”

Aku menoleh. Dia sedang melihatku dengan ekspresi yang biasanya dia simpan untuk baris di spreadsheet yang jumlahnya tidak cocok.

“Aku capek,” kataku.

Dan itu bukan kebohongan pertamaku ke orang ini, tapi itu yang pertama yang terasa seperti sesuatu yang harus kucuci dari tanganku.

Dia tidak mengejar. Itu bagian yang membuatnya lebih buruk. Dia cuma mengangguk, dan mengambil gelasku dari sekat, dan berkata, “Tidur.”

“Kamu juga.”

“Aku ada dua rute lagi.”

“Rey.”

“Dua rute.”

Dan dia melewati sekat kembali ke sisinya sendiri, dan aku berdiri di balkonku dan menonton punggungnya masuk ke unit 14B, dan berpikir bahwa besok jam sebelas siang aku akan berdiri di depan ruangan dan menjadi versi diriku yang lebih kecil dengan sengaja.

Lampu di 14B menyala sampai jam dua.

Aku tahu karena aku juga tidak tidur.


Jumat, jam sebelas.

Ruang tujuh. Bu Renata, dua partner lain dari praktik strategi, Gege di belakang, tim analis di sisi kiri, dan Rey di seberang meja.

Presentasi internal terakhir sebelum rekomendasi final ke Pak Wisnu. Empat puluh menit per orang. Dia duluan.

Dan dia bagus.

Aku perlu mencatat itu dengan jujur, karena kalau tidak, seluruh cerita ini jadi cerita tentang perempuan mulia yang mengalah, dan itu bukan yang terjadi. Rey Alvaro berdiri di depan ruangan selama tiga puluh delapan menit dan membangun kasus sembilan belas rute dari bawah, dengan kalimat sependek biasanya dan tanpa satu pun hiasan, dan di menit ke dua puluh sembilan salah satu partner menaruh pulpennya dan menyandarkan punggung.

Itu bahasa Meridian untuk sudah, saya percaya.

Dia selesai di menit ke tiga puluh delapan dan duduk.

“Bu Lisa,” kata Bu Renata.

Aku berdiri.


Bagian satu bagus. Aku tidak menahan apa-apa di bagian satu; kalau kamu menahan sejak awal, orang akan tahu.

Bagian dua bagus. Bagian tiga bagus, dan salah satu partner menulis sesuatu, dan aku merasakan mesin lama itu menyala di dadaku — perasaan memiliki ruangan, perasaan yang membuatku bertahan lima tahun di gedung ini.

Bagian empat.

Aku menyampaikannya persis seperti yang kurencanakan. Bersih, cepat, benar, dan berhenti satu lapisan sebelum tempat yang seharusnya.

“Sensitivitasnya?” tanya partner di sebelah kiri.

Dan di situlah aku mengerti bahwa aku tidak sekuat yang kukira.

Karena jawabannya ada di kepalaku. Utuh. Empat puluh detik. Delapan persen kenaikan upah gudang menggeser titik impas ke kuartal ketiga, dan ada tiga cara meredamnya, dan aku tahu ketiganya.

Aku membuka mulut.

“Belum kami tampilkan, Pak,” kataku. “Kami mau validasi asumsi upahnya dulu ke sisi klien.”

Yang mana benar.

Yang mana juga tidak menjawab apa pun.

Partner itu mengangguk dan menulis sesuatu, dan lanjut, dan itu saja — tidak ada ledakan, tidak ada wajah kecewa, tidak ada satu pun kejadian dramatis. Cuma satu pertanyaan yang dijawab dengan jawaban yang cukup, dan sebuah ruangan yang bergeser setengah senti ke arah yang salah tanpa ada yang menyadarinya kecuali dua orang.

Bagian lima bagus.

Bagian enam aku bacakan urutannya, tidak kujual, dan berlangsung empat menit lebih cepat dari yang seharusnya.

Bagian tujuh penutup.

Aku selesai di menit ke tiga puluh satu.

Tiga puluh satu. Aku punya empat puluh.

Bu Renata melihat jam di dinding, lalu melihatku.

“Selesai?”

Nadanya biasa. Sepenuhnya biasa. Bu Renata menanyakan itu ke semua orang yang selesai lebih cepat.

Tapi kata itu punya sejarah di ruangan ini, dan dari seberang meja aku merasakan seseorang mengangkat kepalanya.

“Selesai, Bu,” kataku.


Ruangan bubar jam dua belas lewat.

Aku mengumpulkan berkasku dengan sangat efisien dan sangat lama.

“Lis.” Gege, di sisi pintu, dengan laptop pencatat masih terbuka. “Bagian empat kamu—”

“Aku tau.”

“Kamu punya sensitivitasnya. Aku liat filenya tiga minggu lalu di folder bersama.”

“Aku pindahin ke folder pribadi.”

Gege menatapku.

“Kenapa?”

“Karena belum divalidasi.”

“Lis.”

“Ge, aku harus ke ruang sepuluh.”

Aku lewat. Dia tidak menghalangi. Tapi aku bisa merasakannya berdiri di sana sampai aku belok di ujung lorong, dan aku tahu — dengan kepastian yang tidak menyenangkan — bahwa Gerald Tanuwijaya sudah mencatat sesuatu, karena dia selalu mencatat.

Ruang sepuluh kosong. Aku duduk di sana selama sepuluh menit tanpa melakukan apa pun.

Lalu aku kembali ke ruang kerja.


Dia sudah di mejanya.

Tidak mengetik. Itu hal pertama yang kulihat, dan itu sendiri sudah salah, karena Rey Alvaro tidak pernah duduk di depan laptop yang menyala tanpa mengetik.

Laptopnya terbuka. Layarnya menampilkan sesuatu yang tidak bisa kulihat dari sudutku.

“Hai,” kataku.

“Hm.”

Aku duduk. Membuka laptopku. Membuka file yang salah, menutupnya, membuka yang benar.

Empat menit berlalu.

“Lis.”

“Hm?”

“Bagian enam kamu.”

Jantungku melakukan sesuatu yang tidak profesional.

“Kenapa bagian enam?”

“Urutannya benar,” katanya.

“Ya.”

“Kamu nggak jelasin kenapa.”

“Nggak sempat.” Aku mengetik sesuatu yang bukan kata. “Waktunya mepet.”

“Kamu selesai sembilan menit lebih cepat.”

Aku tidak menjawab.

Di sebelahku, dia tidak bergerak sama sekali. Tidak menuntut, tidak mendesak, tidak melakukan satu pun hal yang bisa kupakai sebagai alasan untuk marah dan mengubah percakapan ini menjadi pertengkaran yang bisa kumenangkan.

Dia cuma duduk di sana. Menunggu.

Sama seperti di balkon di malam pertama. Sama seperti di tangga darurat. Dia tidak pernah mengejar; dia berdiri di tempatnya dan membiarkanku berjalan sendiri ke arahnya.

“Rey.”

“Hm.”

Aku menoleh.

Dan menemukan bahwa dia sudah menoleh lebih dulu, dan sudah menoleh entah sejak berapa lama, dan bahwa ekspresi di wajah orang itu bukan ekspresi orang yang sedang bertanya.

Itu ekspresi orang yang sedang menunggu konfirmasi dari sesuatu yang sudah dia hitung sampai selesai.

“Nggak apa-apa,” kataku.

“Oke.”

“Serius.”

“Oke,” katanya, dan berpaling ke layarnya.

Dan aku duduk di sana dengan tangan di keyboard dan menyadari, dengan rasa dingin yang menjalar dari tengkuk ke bawah, bahwa “oke” adalah kata yang sudah kudengar dari orang ini ratusan kali dalam enam bulan terakhir.

Dan bahwa ini pertama kalinya kata itu terdengar seperti pintu yang ditutup.