← Balkonnya Masih Kebuka?

Chapter Eighteen

Lewat Sekat

POV: Lisa


Hal yang tidak ada yang memberitahuku tentang jatuh cinta pada umur dua puluh tujuh adalah bahwa itu tidak terasa seperti jatuh sama sekali.

Aku sudah menyiapkan diriku untuk versi yang lain. Versi yang di film, yang ada momennya, yang ada satu detik jelas di mana kamu tahu. Aku menunggu detik itu di tangga darurat, dan di lorong hotel, dan di pagi Cirebon dengan kaus abu-abu yang kebesaran.

Detik itu tidak datang.

Yang datang adalah hari Minggu jam sebelas siang, di unit 14A, sambil melipat baju, waktu aku menyadari bahwa aku sudah menghafal jam berapa dia berangkat.

Enam lewat dua puluh dua. Setiap hari. Kadang enam lewat dua puluh empat kalau dia menelepon Bekasi lebih lama.

Aku berdiri di depan tumpukan kaus dengan satu handuk di tangan dan berpikir: oh.

Sesederhana itu. Tidak ada musik, tidak ada momen. Cuma satu data kecil yang sudah lama duduk di kepalaku dan tiba-tiba mengangkat tangan dan memperkenalkan diri.

Aku melipat handuk itu. Lalu aku duduk di lantai selama beberapa menit dan tidak melipat apa-apa lagi.


Sore itu aku membuka hal-hal.docx untuk pertama kalinya dalam tiga minggu.

Baris satu: Kita nggak pacaran. Baris dua: sudah kuhapus. Baris tiga: Promosi tetap jalan. Baris empat: Ini berhenti bulan November. Baris lima: Jangan sampai suka.

Aku menatap baris lima cukup lama sampai layar ponselku mati sendiri.

Lalu aku menyalakannya lagi, dan menghapus baris lima, karena aturan yang sudah dilanggar bukan aturan dan aku lebih memilih dokumen yang jujur daripada dokumen yang benar.

Yang tersisa empat baris, dan tiga di antaranya tentang menang.


Malam Senin, jam sepuluh lewat.

Aku di balkon dengan laptop di lantai dan punggung ke dinding, persis seperti malam ketiga minggu ketiga berbulan-bulan lalu, kecuali sekarang aku tahu persis apa yang kulakukan di sini dan tidak repot berpura-pura ini soal panas.

Pintu kaca 14B terbuka.

“Kamu belum tidur,” katanya.

“Kamu juga.”

“Aku nanya duluan.”

“Kamu nggak nanya. Kamu ngasih pernyataan.” Aku menutup laptop. “Itu dua hal beda dan kamu selalu pakai yang kedua.”

Dia berjalan ke sekat dan menyandarkan siku di atas beton.

Dua minggu terakhir kami seperti ini setiap malam. Bukan hal besar. Dia keluar, aku keluar, kami bicara selama dua puluh menit sampai satu jam tentang hal yang sembilan puluh persennya tidak penting, dan lalu masuk ke unit masing-masing dan tidur di dua ranjang yang jaraknya mungkin sembilan meter kalau ditarik garis lurus lewat tembok.

Enam langkah lewat koridor. Satu setengah meter lewat balkon.

Kami tidak pernah menempuh keduanya.

Itu keputusan yang tidak pernah kami ucapkan juga. Setelah Cirebon, setelah kamar 204, setelah kalimat aku ambil empat bulan karena aku pikir aku bisa — ada semacam kesepakatan diam bahwa kalau kami mengulanginya, sesuatu akan bergeser dan tidak bisa dikembalikan.

Jadi kami berdiri di dua sisi sekat beton setinggi dada seperti dua orang bodoh dan bicara tentang harga cabai.

“Bapak kamu nanyain aku,” kataku.

“Aku tau.”

“Kamu tau?”

“Ibu telepon Minggu pagi.” Dia memutar gelasnya. “Empat puluh menit.”

“Empat puluh menit ngomongin apa?”

“Kamu.”

“Empat puluh menit?”

“Ibu juga banyak ngomong,” katanya. “Aku satu-satunya di rumah itu yang enggak.”

Aku menoleh.

Kalimat itu keluar biasa saja, datar, seperti semua kalimatnya. Tapi ada sesuatu di ujungnya — sesuatu yang tidak biasanya ada — dan aku sudah cukup lama berdiri di balkon ini untuk mengenali kalau orang ini sedang mengizinkanku masuk ke suatu tempat.

“Rey.”

“Hm.”

“Kenapa kamu ngomongnya dikit?”

Dia tidak menjawab selama beberapa detik.

Di bawah, sebuah motor lewat dengan knalpot yang tidak seharusnya legal, seperti setiap malam.

“Bapak ngomong empat belas bulan,” katanya akhirnya. “Waktu usahanya bangkrut. Nelepon, jelasin, duduk di ruang tunggu. Tiap hari. Empat belas bulan.”

“Terus?”

“Terus nggak ada yang berhenti.”

Aku menaruh gelasku di sekat.

“Jadi kamu mutusin kata itu nggak ada gunanya.”

“Aku mutusin kata itu mahal,” katanya. “Bedanya, kalau sesuatu mahal, kamu nggak buang-buang.”

“Dan sekarang?”

“Sekarang aku ngomong lebih banyak dari sebelas tahun terakhir,” katanya, “sama satu orang, di balkon, jam sepuluh malam. Dan aku belum nemu alasan yang masuk akal buat itu.”

Ada sesuatu yang runtuh di dadaku, pelan, seperti pasir.

“Itu—” Suaraku keluar tidak stabil. “Itu kalimat paling panjang yang pernah kamu ucapin.”

“Aku tau.”

“Aku mau kamu ulangin.”

“Nggak.”

“Rey.”

“Nggak.”

Aku berdiri dari lantai. Kakiku kesemutan dan aku tidak peduli.

“Balkonnya masih kebuka?” kataku.

Dia menatapku.

Aku sudah mengucapkan kalimat itu dua kali sebelumnya, dan dua-duanya berakhir dengan dua pintu kaca yang tertutup dalam jarak tiga detik.

Kali ini dia meletakkan gelasnya di atas sekat beton.

Lalu dia menaruh satu tangan di beton itu, mengangkat kaki, dan melewatinya.


Sekat itu setinggi dada. Untuk orang setinggi Rey Alvaro, itu bukan halangan sama sekali, dan mengetahui hal itu secara teori selama berbulan-bulan ternyata sangat berbeda dari melihatnya terjadi.

Dia mendarat di balkonku dengan bunyi pelan.

“Ada pintu, lho,” kataku.

“Jauh.”

“Enam langkah.”

“Iya.”

Dan lalu tidak ada lagi jarak, dan aku berhenti menghitung apa pun.


Ini yang kuingat dari malam itu, dan urutannya mungkin salah, karena ingatanku tidak menyimpannya sebagai urutan.

Bahwa tangannya dingin di awal karena dia habis memegang gelas, dan lalu tidak dingin lagi.

Bahwa aku tertawa di suatu titik — betulan tertawa, ke bahunya — karena laptopku masih menyala di lantai balkon dan layarnya mati sendiri dengan bunyi kecil dan aku memikirkan betapa konyolnya seluruh situasi ini.

Bahwa dia berhenti waktu aku tertawa, dan menunggu, dan waktu aku mengangkat wajah dia sedang melihatku dengan ekspresi yang belum pernah kulihat di gedung Meridian atau di mana pun, dan aku harus menutup mata karena tidak sanggup.

Bahwa punggungku ke pintu kaca dan pintu kaca itu dingin dan aku tidak peduli.

Bahwa kami masuk ke dalam pada akhirnya, karena lantai empat belas punya empat belas unit dan setidaknya tiga di antaranya punya balkon yang menghadap arah yang salah.

Bahwa dia tidak pulang.

Bahwa jam dua pagi aku bangun dan dia sedang duduk di tepi ranjang lagi, seperti di Cirebon, dengan ponsel di tangan — dan aku merasakan ketakutan yang sangat spesifik naik dari perutku sebelum dia menoleh dan berkata, “Alarm. Bapak Selasa pagi.”

Bahwa dia berbaring lagi.

Bahwa itu, entah kenapa, adalah bagian terbaik dari seluruh malam itu. Bukan yang sebelumnya. Bagian di mana dia mematikan ponselnya dan berbaring lagi dan menarik selimut ke bahuku tanpa berkata apa-apa, seperti orang yang sudah melakukannya bertahun-tahun.


Aku bangun jam lima lewat empat puluh.

Dia masih di sana. Itu bagian pertama yang kuperiksa, dan aku membenci diriku sedikit karena memeriksanya.

Cahaya jam enam pagi di Jakarta berbeda dengan cahaya jam enam pagi di Cirebon; lebih abu-abu, lebih ragu-ragu. Masuk lewat pintu kaca yang tirainya juga lupa kami tutup.

Aku berbaring miring dan melihat punggung orang ini dan melakukan sesuatu yang sangat bodoh, yaitu berpikir.

Sembilan belas rute di halaman satu, dengan namanya.

Kursi Engagement Manager di bulan November.

Tiga koma dua juta per sesi. Empat kali seminggu. Mulai bulan depan, kalau dokternya bilang iya.

Dan angka terakhir yang tidak pernah dia sebutkan tapi yang sudah kuhitung sendiri di kalkulator ponselku jam dua pagi minggu lalu, seperti orang gila, di kamar mandi: selisih antara band Senior Associate dan band Engagement Manager, ditambah tunjangan kesehatan keluarga inti yang cuma mulai berlaku di band itu.

Angka itu menutupnya. Persis. Dengan sisa yang tidak banyak.

Aku menghitungnya tiga kali malam itu dan ketiganya sama.

Di sebelahku, orang yang tidak pernah salah hitung seumur hidupnya bernapas pelan dan teratur dan tidak tahu bahwa aku sedang duduk di dalam kepalaku sendiri, di jam lima lewat empat puluh, menyelesaikan satu perhitungan yang seharusnya tidak pernah kumulai.

Kalau aku menang, pikirku, dia nggak akan bilang apa-apa.

Itu bagian yang paling tidak bisa kutanggung.

Bukan bahwa dia akan marah. Bukan bahwa dia akan pergi.

Bahwa dia akan mengucapkan selamat dengan nada yang sama seperti waktu dia bilang “hm”, dan pulang ke unit 14B, dan menghitung ulang sesuatu di kepalanya, dan tidak sekali pun menyinggungnya lagi seumur hidupnya.

Aku bangun jam enam kurang seperempat, pergi ke dapur, dan membuat dua gelas kopi yang tidak diminta siapa pun.

Jam enam lewat dua puluh dua, dia berangkat.

Jam tujuh lewat, di ruang kerja lantai dua puluh satu, aku membuka file presentasi internal yang harus masuk hari Jumat dan menatap struktur bagiannya selama sebelas menit.

Ada tujuh bagian.

Dua di antaranya, kalau dikosongkan dengan hati-hati, tidak akan terlihat kosong.