Chapter Thirty
Kening
POV: Lisa
Keputusannya keluar jam sebelas pagi lewat email, ke seluruh praktik strategi, dengan subjek yang sangat pendek.
Promosi — Efektif 1 Desember
Aku membacanya di ruang kerja lantai dua puluh satu dengan dua puluh delapan orang di sekitarku yang semuanya membaca email yang sama pada detik yang sama, dan efeknya seperti gelombang: satu barisan berhenti mengetik, lalu barisan berikutnya, lalu seluruh lantai.
HARTAWAN, LISA — Engagement Manager, Praktik Strategi.
Gege berdiri dari kursinya di seberang ruangan dengan tangan terangkat seperti wasit yang mengesahkan gol.
“Ge, duduk.”
“Nggak.”
“Ge—”
“Lima tahun, Lis!” Dia sudah setengah jalan ke mejaku. “Lima tahun aku nyatet kamu di rapat dan sekarang aku nyatet ini juga—”
Dan lantai dua puluh satu meledak, dengan cara yang dilakukan lantai dua puluh satu, yaitu dengan dua puluh delapan orang yang semuanya berdiri dan bertepuk tangan selama tujuh detik dan lalu langsung duduk lagi dan pura-pura bekerja karena ada partner lewat.
Aku menerima jabat tangan. Aku menerima pelukan dari Nadine yang jauh lebih erat dari yang kuduga. Aku menerima tepukan bahu dari seorang bapak dari praktik pajak yang jelas tidak tahu siapa aku.
Dan sepanjang tujuh menit itu, kursi di sebelahku kosong.
Karena kursi itu sudah kosong sejak tanggal satu November, karena orangnya sekarang duduk di lantai sembilan belas, di praktik operasi, sebagai Delivery Lead.
Ponselku bergetar jam sebelas lewat empat.
Rey: Selamat.
Satu kata.
Aku menatap layar itu selama beberapa detik, dan lalu menaruh ponselku menghadap ke bawah, dan tidak membalasnya sampai malam.
Ini bagian yang tidak kuceritakan kepada siapa pun di kantor.
Aku menghabiskan sisa hari itu dengan perasaan yang tidak bisa kuletakkan di mana pun.
Bukan tidak bahagia. Aku bahagia — aku mengecek berkali-kali dan hasilnya selalu sama, ada perasaan yang benar di sana, yang hangat, yang sudah kutunggu sejak tahun pertama.
Tapi ada sesuatu di bawahnya yang membuatku terus-menerus memeriksa ponselku sepanjang siang tanpa alasan.
Jam empat sore aku mengerti apa itu.
Aku sudah menang, dan orang yang paling ingin kubagi kemenangan ini dengannya adalah orang yang keluar dari perlombaannya supaya aku bisa menang.
Dan aku tidak tahu apakah itu berarti aku menang.
Aku pulang jam delapan.
Unit 14A gelap. Itu tidak biasa; sejak sembilan minggu terakhir selalu ada lampu.
Dia ada di sofa.
Belum ganti baju. Masih pakai kemeja kantornya dengan lengan yang sudah digulung sampai siku, sepatu masih di kakinya, duduk membungkuk dengan siku di lutut dan kepala menunduk, di ruangan yang tidak dia nyalakan lampunya.
Aku berhenti di ambang pintu.
“Rey.”
Dia mengangkat kepala.
“Kamu udah pulang.”
“Kamu kenapa?”
“Nggak apa-apa.”
“Rey.”
Dia menggosok wajahnya dengan satu tangan, dan aku melihat — dari cahaya yang masuk dari koridor lewat pintu yang belum kututup — bahwa orang itu terlihat seperti belum tidur selama tiga hari, yang mungkin benar.
“Bapak masuk lagi tadi siang,” katanya.
Aku menaruh tasku di lantai.
“IGD?”
“Iya. Jam satu.”
“Sekarang gimana?”
“Udah stabil. Ibu di sana. Pak Salim juga ada, dia yang nelepon aku duluan sebelum Ibu.” Dia menyandarkan punggungnya. “Aku baru pulang dari sana jam tujuh.”
“Kenapa kamu nggak bilang?”
“Kamu lagi dapet promosi.”
Aku berdiri di tengah ruang tamu unit 14A.
“Rey.”
“Aku nggak mau ngerusak hari kamu.”
“REY.”
Dan aku mendengar suaraku sendiri pecah di ruangan yang gelap itu, dan aku tidak bisa menghentikannya, dan seluruh hal yang sudah kutahan selama sebelas jam — sejak jam sebelas pagi, sejak dua puluh delapan orang berdiri dan bertepuk tangan selama tujuh detik untuk kursi yang tidak diperebutkan siapa pun — keluar sekaligus di tempat yang salah.
“Kamu nggak boleh ngelakuin ini!”
“Lis—”
“Kamu nggak boleh terus-terusan ngitung dulu di kepala kamu apa yang boleh aku tau!” Aku sudah menangis dan aku membencinya. “Kamu bilang di parkiran, sebelas menit, kamu bilang semuanya, dan aku pikir udah selesai. Ternyata belum. Kamu masih ngelakuin itu. Bapak kamu masuk IGD jam satu dan kamu duduk di lantai sembilan belas sampai jam berapa sebelum kamu pergi?”
Dia tidak menjawab.
“Jam berapa, Rey.”
“Setengah tiga.”
“Satu setengah jam.”
“Ada handover praktik yang—”
“Aku nggak peduli sama handover praktik!”
Aku menekan pangkal tanganku ke mataku.
“Aku dapet kursi itu hari ini,” kataku. “Dan aku nggak tau apa aku pantes dapet, karena kamu keluar dari lombanya. Dan aku duduk di lantai dua puluh satu seharian sambil orang-orang salamin aku, dan yang aku pikirin cuma satu: kalau aku nanya ke kamu apa aku pantes, kamu bakal bilang iya, dan aku nggak akan pernah tau apa itu bener atau itu cuma kamu ngelindungin aku lagi.”
Ruangan itu sangat sunyi.
“Dan sekarang aku pulang,” kataku, “dan kamu duduk di gelap sejak jam tujuh, dan kamu udah mutusin sendiri bahwa aku nggak boleh tau bapak kamu masuk rumah sakit, karena hari ini hari aku.”
Aku menurunkan tanganku.
“Kapan aku boleh ada di hari kamu, Rey?”
Dia berdiri.
Dia melintasi ruang tamu unit 14A yang lebarnya tiga setengah langkah, dan berhenti di depanku, dan aku sudah menyiapkan diriku untuk semua hal — untuk kalimat pendek yang telak, untuk penjelasan, untuk salah satu dari empat versi yang selalu dia siapkan.
Dia tidak mengatakan apa-apa.
Dia mengangkat kedua tangannya ke wajahku dan menghapus air mata di sisi kiri dengan ibu jarinya, sekali, dengan gerakan orang yang tidak yakin apakah dia melakukannya dengan benar.
Lalu dia menunduk dan mencium keningku.
Dan aku hancur.
Sepenuhnya, di tengah ruang tamu, dengan cara yang sangat tidak elegan dan sangat berisik.
Karena selama enam bulan aku sudah dicium di tangga darurat dan di lift dan di lorong hotel dan di depan pintu, dan tidak satu pun dari semuanya yang melakukan ini kepadaku.
Yang lain soal ingin.
Yang ini soal tinggal.
Ciuman di kening tidak minta apa-apa. Tidak ada lanjutannya. Tidak ada satu pun bagian darinya yang bisa ditafsirkan sebagai sesuatu yang menuju ke tempat lain, dan justru karena itu, ciuman itu adalah satu-satunya yang tidak punya jalan keluar.
Kamu tidak mencium kening seseorang yang akan kamu tinggalkan.
Aku menangis di dadanya selama entah berapa lama sementara kemeja kantornya menjadi sangat basah dan dia tidak melakukan apa pun kecuali berdiri di sana dengan satu tangan di belakang kepalaku.
“Sekarang,” katanya akhirnya.
“Apa?”
“Kamu nanya kapan kamu boleh ada di hari aku.” Suaranya di atas kepalaku. “Sekarang.”
“Rey—”
“Aku salah tadi. Aku harusnya nelepon kamu jam satu.”
“Iya.”
“Aku bakal salah lagi,” katanya. “Mungkin banyak. Sebelas tahun, Lis. Aku nggak bisa ngubah itu dalam sebelas minggu.”
Aku mengangkat wajahku.
“Aku nggak minta kamu berubah.”
“Terus kamu minta apa?”
“Aku minta kamu ngasih tau aku waktu kamu salah,” kataku. “Itu doang. Kamu boleh tetep jadi orang yang ngitung dulu. Tapi habis ngitung, kasih tau aku hasilnya.”
Dia diam beberapa detik.
“Oke,” katanya.
Dan aku menyadari, dengan sisa air mata di wajahku, bahwa untuk pertama kalinya dalam enam bulan kata “oke” dari orang itu tidak terdengar seperti pintu yang ditutup.
Kami ke Bekasi jam sembilan malam.
Bapak sudah di ruang rawat, sudah bisa mengomel, sudah menuntut agar seseorang mengambilkan bantalnya sendiri dari rumah karena bantal rumah sakit tipis — yang membuatku dan Rey saling melirik dan tidak mengatakan apa pun.
“Rey.”
“Iya, Pak.”
“Kamu kenapa mukanya kayak orang marah?”
“Aku nggak marah, Pak.”
“Mbak Lisa, dia marah nggak?”
“Marah, Pak.”
“Nah.”
“Aku nggak—”
“Ngomong-ngomong,” kata Bapak, memotong, dengan nada orang yang sudah menunggu tiga jam untuk mengucapkan sesuatu, “Ibumu bilang Mbak Lisa naik jabatan hari ini.”
Ruangan itu berhenti.
Aku menoleh ke Ibu, yang duduk di kursi plastik dan sedang melipat ujung selimut yang sudah rapi, dan yang balas menatapku dengan wajah polos yang sama sekali tidak polos.
“Ibu tau dari mana?” tanyaku.
“Dari Rey.”
“Rey nggak—”
“Jam sebelas lewat lima,” kata Ibu. “Dia telepon Ibu dari lantai sembilan belas. Ibu lagi di IGD, jadi Ibu angkat sambil jalan.”
Aku menoleh sangat perlahan ke kanan.
Rey Alvaro sedang memandangi tirai jendela ruang rawat dengan intensitas seorang manusia yang sedang menyesali seluruh keputusan hidupnya.
“Kamu telepon Ibu kamu,” kataku.
“Hm.”
“Dari IGD.”
“Hm.”
“Buat ngabarin promosi aku.”
“Hm.”
“Bapak kamu lagi di dalem dan kamu berdiri di lorong IGD dan kamu nelepon Ibu kamu buat bilang aku naik jabatan.”
“Dia bilang ‘Bu, Lisa dapet’,” kata Ibu, dengan senang hati. “Terus telepon ditutup. Delapan detik.”
“DELAPAN DETIK?”
“Ibu itung,” kata Ibu.
Dan aku duduk di kursi plastik kedua di ruang rawat rumah sakit di Bekasi jam setengah sepuluh malam, di antara seorang perempuan yang menghitung durasi telepon dan seorang lelaki yang mengaku pernah menyetir Surabaya–Jakarta dalam tiga belas jam, dan mengerti dengan sangat jelas dari mana orang itu berasal.
“Pak,” kataku.
“Iya?”
“Anak Bapak nyebelin.”
“Saya tau,” kata Bapak, dan menutup matanya, dan tersenyum di balik maskernya. “Dari kecil.”
- 1 Unit Sebelah
- 2 Empat Menit
- 3 Sekat
- 4 Jemuran
- 5 Terlalu Dekat
- 6 Kode
- 7 Kerah
- 8 Pantry
- 9 Tangga Darurat
- 10 Semalem
- 11 Aturan
- 12 Di Bawah Meja
- 13 Delapan Lantai
- 14 Empat Jam
- 15 Dua Kamar
- 16 Bu Lisa
- 17 Bekasi
- 18 Lewat Sekat
- 19 Dua Bagian Kosong
- 20 Meninggikan Suara
- 21 Pintu Depan
- 22 Dua Gelas
- 23 Kain di Sekat
- 24 Mundur
- 25 Jam Satu Pagi
- 26 Pagi
- 27 Ketahuan
- 28 Selesai?
- 29 Berkali-Kali
- 30 Kening reading
- 31 Nol
- 32 Kuncinya