← Balkonnya Masih Kebuka?

Chapter Two

Empat Menit

POV: Lisa


Ada satu hal yang kukuasai lebih baik daripada siapa pun di lantai dua puluh satu, dan itu adalah berdiri di depan ruangan penuh orang yang tidak percaya padaku, lalu keluar dari ruangan itu empat menit kemudian dengan semua orang percaya padaku.

Bukan sihir. Cuma stamina.

Kebanyakan orang, kalau berdiri di depan, akan berhenti di detik ke lima puluh untuk melihat apakah ada yang mengangguk. Di situlah mereka kalah. Jeda itu adalah undangan; begitu kamu berhenti, ruangan masuk, dan begitu ruangan masuk kamu tidak akan pernah dapat lantai itu kembali.

Aku tidak berhenti. Aku tidak pernah berhenti. Itu bukan kepercayaan diri — aku punya cukup kejujuran pada diriku sendiri untuk tahu bahwa aku tidak sepercaya diri itu. Itu cuma pengetahuan bahwa keheningan adalah tempat yang berbahaya, dan selama aku mengisinya, tidak ada yang bisa menaruh apa pun di sana.

Rapat kickoff dimulai jam sembilan lewat sepuluh, karena klien terlambat, karena klien selalu terlambat.

Yang tidak terlambat adalah Rey Alvaro, yang sudah duduk di ruang tujuh sejak jam delapan lewat lima puluh dua, dengan buku catatan abu-abu terbuka dan gelas air yang belum disentuh, membaca lampiran keuangan seperti orang membaca koran di halte.

Aku masuk jam delapan lewat lima puluh empat.

“Kamu di sini,” kataku.

“Aku di sini.”

“Rapatnya sembilan.”

“Iya.”

“Kamu dateng delapan menit lebih awal buat apa?”

Dia membalik halaman. “Buat duduk.”

Aku menarik kursi di seberangnya — bukan di sebelahnya; itu penting, dan kami berdua tahu itu penting — dan mengeluarkan deck-ku, dan menghabiskan enam menit berikutnya membaca ulang halaman yang sudah kuhafal.

Di menit kelima aku menyerah.

“Kamu udah baca lampiran empat?”

“Iya.”

“Halaman tiga puluh satu?”

“Iya.”

“Angka persediaan gudang Cikarangnya salah.”

Dia mengangkat wajah. “Iya.”

“Kamu tau?”

“Sejak kemarin.”

“Kamu nggak bilang?”

“Kamu baru nanya.”

Aku menatapnya. “Itu—” Aku menahan sisa kalimatku, karena kalau kuselesaikan aku akan terdengar seperti orang yang berharap sesuatu. “Ya udah.”

Dia membalik halaman lagi.

Jam sembilan lewat dua puluh tiga, aku berdiri.


Proyeknya bernama Helios: penilaian ulang portofolio untuk grup ritel yang sudah delapan tahun tidak berani melihat angkanya sendiri. Tim gabungan, dua praktik, dua senior associate.

Bu Renata menyebutnya “kolaborasi.” Semua orang di ruangan itu tahu kata yang benar adalah “kandang.”

“Sebelum masuk ke temuan,” kataku, “saya mau memperbaiki cara pertanyaannya diajukan.”

Aku sudah kehilangan dua orang di sudut kanan. Aku melihatnya — laki-laki berkemeja biru dari sisi klien, sudah setengah menoleh ke ponselnya. Aku menaikkan tempo.

“Karena selama ini pertanyaan yang diajukan ke tim adalah: lini mana yang paling tidak menguntungkan? Dan itu pertanyaan yang, dengan segala hormat, akan selalu memberi jawaban yang sama, yaitu lini yang paling kecil. Selalu. Setiap tahun. Bapak Ibu sudah menutup tiga lini dengan logika itu dan margin grup tetap turun, karena yang dipotong bukan yang rugi, tapi yang belum sempat besar.”

Kemeja biru sudah tidak menoleh ke ponsel.

“Pertanyaan yang benar adalah: lini mana yang tidak bisa Bapak Ibu ceritakan? Bukan angkanya. Ceritanya. Kalau sebuah lini tidak punya kalimat yang bisa diucapkan seorang manajer toko dalam sepuluh detik ke pelanggan, lini itu tidak akan selamat, berapa pun marginnya, karena tidak ada yang tahu kenapa lini itu ada.”

Menit kedua. Aku melangkah setengah langkah ke kiri, cukup untuk membuat mata orang ikut bergerak, cukup untuk memindahkan berat ruangan.

“Kami menguji itu ke lima puluh empat SKU. Hasilnya tidak nyaman.”

Menit ketiga. Angka, tiga angka, tidak lebih — orang tidak ingat lebih dari tiga. Lalu satu contoh konkret dari toko di Bekasi, karena orang tidak ingat angka tapi ingat toko di Bekasi.

Menit keempat, aku sudah melihat hal yang kutunggu: dua orang di sisi klien saling melirik. Bukan lirikan skeptis. Lirikan dia benar dan kita sudah tahu ini selama empat tahun.

Aku menutup dengan satu kalimat pendek karena kalimat penutup harus pendek.

“Jadi kami tidak mengusulkan pemotongan. Kami mengusulkan Bapak Ibu berhenti berbohong ke rak sendiri.”

Ruangan diam dengan cara yang benar.

Aku mengenal keheningan itu. Keheningan itu milikku.

Lalu, dari ujung meja, tanpa mengangkat kepala dari buku catatannya:

“Selesai?”

Satu kata.

Aku menoleh. Rey sedang menggambar sesuatu yang mungkin bukan gambar — garis, kotak, tiga panah — dan tidak melihat ke arahku.

Ada dua cara menjawab. Aku memilih yang salah, karena aku selalu memilih yang salah kalau sedang di atas angin.

“Belum.”

Dia mengangkat wajah.

“Sayang,” katanya. “Aku mulai suka dengerin.”

Ruangan bergerak.

Bukan tawa. Meridian tidak tertawa di depan klien. Tapi ada sesuatu yang berubah di tekanan udara — semacam tarikan napas kolektif yang tertahan, dan seseorang di belakang menjatuhkan pulpen, dan aku merasakan seluruh empat menit yang baru saja kubangun itu bergeser satu senti ke arah orang di ujung meja.

Dan yang paling parah bukan itu.

Yang paling parah adalah dia tidak mengatakannya seperti serangan. Nadanya datar, sabar, hampir sopan. Kalau ditranskrip, kalimat itu adalah pujian. Kalau didengar, kalimat itu adalah tangan yang menarik kursi tepat sebelum kamu duduk.

Aku berdiri di depan ruangan, dengan tujuh ratus kalimat cadangan di kepalaku, dan tidak satu pun yang bisa kupakai tanpa membuatku terlihat seperti orang yang perlu membalas.

Aku tersenyum ke arah klien.

“Kita lanjut ke halaman sebelas.”


“Empat kata,” kata Gege di lorong, jam dua belas lewat sedikit, dengan ekspresi orang yang baru pulang dari pertandingan tinju. “Lima, kalau ‘sayang’ dihitung terpisah, dan menurutku harus.”

“Aku nggak mau bahas.”

“Lis, dia bilang aku mulai suka dengerin—”

“Aku nggak mau bahas.”

“—di depan klien—”

“Ge.”

“—dan kupingnya merah.”

Aku berhenti berjalan.

“Apa?”

“Kupingnya merah.” Gege menunjuk telinganya sendiri dengan dua jari, seperti sedang menjelaskan bukti forensik. “Setelah dia ngomong. Cuma tiga detik. Aku duduk di sebelahnya, aku liat. Mukanya nggak ngapa-ngapain, tapi kupingnya merah.”

“Itu AC-nya rusak.”

“AC-nya nggak rusak.”

“AC di ruang tujuh selalu rusak.”

“Lis.” Gege menaruh tangan di dadanya. “Aku ini orang yang lima tahun ngerjain due diligence. Kalau ada satu hal yang aku bisa, itu adalah ngeliat satu data yang nggak cocok sama seluruh sisa deck-nya.”

Aku berjalan lagi, lebih cepat.

“Dia bikin aku keliatan bodoh di depan klien.”

“Dia bikin kamu keliatan menarik di depan klien,” kata Gege ke punggungku. “Itu masalahnya.”


Klien pulang jam sebelas. Bu Renata memanggil kami berdua ke ruangannya jam sebelas lewat sepuluh.

“Bagus,” katanya, ke arahku.

“Terima kasih, Bu.”

“Rey.”

“Bu.”

“Kamu ngomong satu kali hari ini, dan yang kamu bilang adalah ‘selesai?‘.” Bu Renata menyandarkan punggung. “Kamu tahu klien nanya ke saya di lobi tadi?”

“Nggak, Bu.”

“Dia nanya siapa laki-laki yang di ujung meja itu.” Jeda. “Bukan tentang isinya. Tentang siapa.”

Aku merasakan sesuatu di perutku yang tidak menyenangkan.

“Saya nggak akan bilang itu strategi,” lanjut Bu Renata, “karena saya nggak yakin kamu sepintar itu. Tapi saya akan bilang ini sekali: kalau kalian berdua terus main begini di depan klien, salah satu dari kalian akan menang, dan Helios akan kalah. Dan kalau Helios kalah, dua-duanya nggak dapat apa-apa.”

“Iya, Bu,” kataku.

Rey tidak mengatakan apa-apa, yang entah bagaimana terasa lebih seperti persetujuan daripada apa pun yang bisa dia ucapkan.


Yang membuatku marah sepanjang sore bukan kalimatnya.

Kalimat bisa dibalas. Aku sudah menyusun empat balasan sambil makan siang, dan dua di antaranya cukup bagus untuk disimpan sampai kesempatan berikutnya.

Yang membuatku marah adalah kesadaran, yang datang jam empat sore di tengah rapat internal yang sangat membosankan, bahwa aku telah menghabiskan tiga jam terakhir menyusun balasan.

Dia, sementara itu, jelas tidak menghabiskan tiga detik.

Itulah ketimpangannya. Aku membawa seluruh percakapan itu pulang ke mejaku, membongkarnya, menyusunnya ulang, mencari di mana aku bisa masuk. Dia menutup pulpennya dan pergi ke rapat berikutnya.

Kalimat Rey murah bagi Rey. Kalimat Rey mahal bagiku.

Dan aku punya firasat yang sangat tidak menyenangkan bahwa aku sudah tahu ini sejak dua tahun lalu, dan baru sekarang punya balkon yang cukup dekat untuk terpaksa mengakuinya.


Jam sebelas malam, aku membuka pintu kaca.

Aku meyakinkan diriku bahwa alasannya adalah panas. Unit 14A memang panas; ACnya kecil dan bekerja dengan semangat seorang pegawai kontrak di minggu terakhirnya.

Balkon 14B gelap.

Aku menyandarkan lengan ke sekat beton dan merasakan sesuatu yang sangat mirip dengan kecewa, yang kulabeli ulang dalam waktu setengah detik menjadi lega, dan kemudian dalam setengah detik berikutnya menjadi tidak ada apa-apa, aku cuma cari angin.

“Kalimat kamu tadi curang,” kataku ke kegelapan di sebelah, karena kalau tidak ada orang maka tidak ada yang dengar, dan aku perlu mengucapkan itu ke suatu tempat sebelum bisa tidur.

Diam.

Lalu, dari dalam kegelapan, jarak satu setengah meter, suara yang sangat tenang:

“Iya.”

Aku melompat cukup tinggi untuk membuat lututku membentur sekat beton.

Dia ada di sana. Duduk, di kursi lipat rendah yang tidak kelihatan dari sudutku, dengan lengan disandarkan ke lutut. Tidak ada lampu di belakangnya. Itu sebabnya balkonnya gelap. Dia sudah di sana sejak entah kapan.

“Kamu—” Aku menahan diri untuk tidak memegang dada, dan gagal. “Kamu duduk di gelap?”

“Lampunya panas.”

“Kamu bisa bilang sesuatu.”

“Aku bilang sesuatu.”

“Setelah aku ngomong sendiri kayak orang gila!”

Dia berdiri. Pelan, tanpa terburu-buru, seperti orang yang tidak pernah terburu-buru untuk apa pun dalam hidupnya. Sekarang wajahnya masuk ke cahaya yang jatuh dari unitku, dan aku berharap dia tetap di kegelapan, karena ternyata jauh lebih mudah bicara kasar ke bayangan.

“Curang gimana?” tanyanya.

“Kamu tau curang gimana.”

“Aku nanya kamu udah selesai. Kamu bilang belum.” Dia mengangkat bahu satu senti. “Aku jawab jujur.”

“Kamu bilang di depan klien.”

“Kamu yang ngasih aku empat menit.”

Aku menunjuknya. “Itu presentasi terbaik yang pernah kamu dengar dan kamu tau itu.”

Dia diam. Cukup lama sampai aku mulai menyesali kalimatku, yang terlalu jujur, yang terlalu memperlihatkan seberapa besar aku peduli pada penilaian orang ini.

“Iya,” katanya akhirnya.

Aku berkedip. “Apa?”

“Kamu denger.”

“Ulangin.”

“Nggak.”

“Rey—”

Tapi dia sudah bergerak ke arah pintunya, dan berhenti, satu tangan di gagang.

“Besok jam tujuh,” katanya. “Ada revisi model. Kalau kamu mau ikut, aku nggak nunggu.”

“Aku nggak butuh diajak.”

“Aku nggak ngajak.” Pintu kaca terbuka. “Aku ngasih tau jamnya.”

Dan dia masuk.

Aku berdiri di balkonku selama satu menit penuh, dengan lutut yang berdenyut karena membentur beton, dan dengan kesadaran yang perlahan-lahan mengendap seperti sesuatu yang berat di air:

Besok pagi jam tujuh, aku akan ada di sana.

Bukan karena diajak. Karena tidak diajak.

“Curang,” gumamku.

Dari balik pintu kaca 14B, lampu menyala.