Chapter Twelve
Di Bawah Meja
POV: Lisa
Aturan nomor dua bertahan sembilan hari.
Aku cukup bangga dengan sembilan hari itu. Sembilan hari kerja penuh, dua meja yang menempel, satu ruangan, dan tidak ada satu pun pelanggaran di dalam gedung Meridian. Tidak ada sentuhan. Tidak ada tatapan yang berlebihan. Dia menaruh kopi di sisi kiri mejaku dan aku mengucapkan terima kasih dengan nada seorang kolega, dan kami berdua pulang ke lantai empat belas secara terpisah setiap malam dan melanggar aturan nomor dua di tempat yang secara teknis bukan gedung Meridian.
Sembilan hari.
Lalu tiba hari Kamis, dan rapat pengarahan tengah proyek, dan meja rapat ruang utama yang panjangnya empat setengah meter.
Yang perlu diketahui tentang meja rapat ruang utama adalah bahwa meja itu punya panel kayu di bagian depan, dari permukaan sampai hampir ke lantai, sehingga dari luar tidak ada yang bisa melihat apa pun di bawahnya.
Aku tidak pernah memikirkan panel itu selama empat tahun.
Hari itu aku memikirkannya selama lima puluh menit.
Pak Wisnu datang dengan empat orang. Bu Renata di ujung meja. Gege di belakang dengan laptop pencatat. Aku di sisi kanan, halaman satu sampai lima belas, dan dia di seberangku — bukan di sebelahku, karena Bu Renata mengatur tempat duduk dan Bu Renata selalu memisahkan kami.
Di seberang.
Yang berarti kaki kami berada di ruang yang sama.
Aku menyadarinya di menit kedelapan, ketika ujung sepatuku menyentuh sesuatu yang bukan kaki meja.
Aku menariknya. Refleks.
Menit kesepuluh, aku menyentuhnya lagi.
Dan kali ini yang di seberang tidak bergerak.
“Halaman enam,” kataku. Suaraku normal. Aku mengecek. Normal. “Kalau kita lihat sebaran gerai di koridor timur—”
Ujung sepatunya bergerak. Setengah sentimeter. Ke arahku.
“—koridor timur,” ulangku.
Gege, di belakang, mengangkat kepala.
“—punya karakteristik yang berbeda dari tiga koridor lain, dan itu yang bikin model umum nggak jalan di sini.”
Selamat. Aku menyelamatkan kalimatku. Aku melanjutkan ke halaman tujuh dengan perasaan seorang pilot yang baru saja mendarat di landasan yang salah tetapi mendarat.
Di menit ketujuh belas, sepatu itu ada di sisi kakiku, dan tetap di sana.
Bukan gerakan. Bukan usaha. Cuma kontak, terus-menerus, sepanjang sisi pergelangan kakiku, yang secara objektif adalah bagian tubuh paling tidak erotis yang pernah diciptakan.
Aku menatap halaman delapan dan menemukan bahwa halaman delapan sekarang terdiri dari simbol-simbol yang tidak kukenali.
“Bu Lisa?” kata Bu Renata.
“Ya, Bu.”
“Halaman delapan.”
“Halaman delapan,” kataku.
Semua orang menunggu.
Aku melihat ke seberang meja. Dia sedang membaca dokumennya sendiri dengan ekspresi seorang manusia yang tidak pernah dalam hidupnya melakukan sesuatu yang tidak pantas.
“Halaman delapan,” kataku untuk ketiga kalinya, “adalah bagian Rey.”
Kepalanya terangkat.
Sepersekian detik. Cuma itu. Tapi aku melihatnya dan aku akan menghitungnya.
“Silakan,” kata Bu Renata.
Dan Rey Alvaro, yang tidak menyiapkan halaman delapan untuk dipresentasikan hari itu, membuka mulutnya dan menjelaskan seluruh halaman delapan dalam waktu satu menit empat puluh detik, dengan sempurna, karena tentu saja.
Tapi kakinya sudah ditarik.
Aku menghabiskan sisa rapat dengan perasaan menang yang tidak sebanding dengan kerusakan yang sudah terjadi.
“Dua,” kataku di lift.
“Apa?”
“Nggak apa-apa.”
Dia menekan tombol lantai dua puluh satu. Lift itu penuh; ada empat orang lain, dan kami berdiri dengan jarak yang sepenuhnya sopan.
“Kamu ngitung apa?” tanyanya pelan.
“Berapa kali aku bikin kamu diem.”
“Aku nggak diem.”
“Kamu berhenti setengah detik di menit ketujuh belas.”
“Itu bukan diem.”
“Itu diem versi kamu,” kataku, dan keluar di lantai dua puluh satu dengan langkah yang sangat puas.
Bu Renata memanggilku jam empat sore.
Ruangannya di sudut, kacanya menghadap ke arah yang salah untuk pemandangan, dan Bu Renata tidak pernah menutup pintunya kecuali kalau ada yang perlu ditutup.
Dia menutup pintunya.
“Duduk.”
Aku duduk.
“Rapat tadi bagus.”
“Terima kasih, Bu.”
“Halaman delapan.” Bu Renata menyandar. “Kamu lempar ke Rey.”
“Bagian itu memang punya dia.”
“Bagian itu punya dia sejak tiga minggu lalu, dan kamu presentasi bagian orang lain empat kali di proyek ini tanpa kelihatan terganggu sedikit pun.” Bu Renata melipat tangannya. “Jadi saya nggak nanya soal halaman delapan. Saya nanya kenapa kamu kehilangan tempat di halaman tujuh.”
Aku merasakan sesuatu di perutku turun beberapa sentimeter.
“Saya kurang tidur, Bu.”
“Semua orang di lantai ini kurang tidur.”
“Timeline-nya dipotong lima minggu.”
“Iya, dan kamu yang bilang sanggup.” Bu Renata mengambil pulpennya, tidak menulis apa-apa, dan meletakkannya lagi. “Lisa, saya sudah lihat kamu di dua belas rapat klien. Kamu itu jenis orang yang bisa ngomong sambil gedungnya kebakaran. Hari ini kamu berhenti dua kali di halaman yang kamu tulis sendiri.”
Diam.
“Ada sesuatu yang ganggu fokus kamu?”
Ada dua jawaban.
Aku tahu keduanya, dan tahu persis berapa harga masing-masing, dan menyadari di detik itu betapa mudahnya aturan nomor dua diucapkan pada hari Minggu di apartemen kosong dan betapa berbedanya rasanya di kursi ini.
“Nggak ada, Bu.”
Bu Renata memandangiku.
“Bagus,” katanya akhirnya. “Karena November tinggal empat bulan, dan saya nggak mau ngasih kursi itu ke orang yang kehilangan tempat di halaman tujuh.”
“Ya, Bu.”
“Satu lagi.”
Aku berhenti di ambang pintu.
“Dua nama di halaman tujuh,” kata Bu Renata. “Itu ide siapa?”
“Rey.”
“Hm.” Dia sudah kembali ke layarnya. “Saya kira kamu.”
Malam itu aku keluar ke balkon jam sepuluh lewat.
Dia sudah di sana, dengan gelas air, menyandar ke sekat dengan siku di atas beton.
“Renata manggil kamu,” katanya. Bukan pertanyaan.
“Iya.”
“Soal apa?”
“Halaman tujuh.” Aku berdiri di sisiku sendiri, dua puluh sentimeter dari sekat. “Dan halaman delapan. Dan kenapa aku berhenti di halaman tujuh.”
Dia menaruh gelasnya.
“Aku minta maaf.”
Aku menoleh cepat. Rey Alvaro tidak minta maaf. Itu bukan bagian dari perangkatnya.
“Kamu—”
“Aturan dua,” katanya. “Aku yang bikin kamu ngelanggar.”
“Aku juga nggak nolak.”
“Aku duluan.”
Aku menyandarkan lenganku ke sekat beton, cukup dekat sehingga sisi lengan kami hampir bersentuhan, dan tidak bersentuhan.
Di bawah, Jakarta melakukan hal-hal yang biasa dilakukan Jakarta jam sepuluh malam.
“Aku bohong ke dia,” kataku.
“Aku tau.”
“Kamu nggak tau, kamu nggak ada di ruangan.”
“Kamu masih di sini,” katanya. “Kalau kamu jujur, kamu nggak akan berdiri di sini.”
Aku menutup mataku sebentar.
“Rey.”
“Hm.”
“Balkonnya masih kebuka?”
Dia menoleh.
Dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya — empat tahun, dua bulan, satu tangga darurat — aku melihat sesuatu bergerak di wajah orang itu yang bukan perhitungan.
“Iya,” katanya.
Dia melewati pintu gesernya sendiri, dan aku melewati pintuku, dan kami berdua masuk ke unit masing-masing.
Aturan nomor dua tidak dilanggar malam itu.
Aturan nomor lima dilanggar sekitar tiga kali sebelum aku tertidur.
- 1 Unit Sebelah
- 2 Empat Menit
- 3 Sekat
- 4 Jemuran
- 5 Terlalu Dekat
- 6 Kode
- 7 Kerah
- 8 Pantry
- 9 Tangga Darurat
- 10 Semalem
- 11 Aturan
- 12 Di Bawah Meja reading
- 13 Delapan Lantai
- 14 Empat Jam
- 15 Dua Kamar
- 16 Bu Lisa
- 17 Bekasi
- 18 Lewat Sekat
- 19 Dua Bagian Kosong
- 20 Meninggikan Suara
- 21 Pintu Depan
- 22 Dua Gelas
- 23 Kain di Sekat
- 24 Mundur
- 25 Jam Satu Pagi
- 26 Pagi
- 27 Ketahuan
- 28 Selesai?
- 29 Berkali-Kali
- 30 Kening
- 31 Nol
- 32 Kuncinya