← Balkonnya Masih Kebuka?

Chapter Thirty One

Nol

POV: Lisa


Aku meminta bertemu Bu Renata hari Senin, jam delapan pagi, lima belas menit.

Aku menyiapkannya selama akhir pekan. Tiga halaman catatan, yang kemudian kuringkas jadi satu halaman, yang kemudian kuringkas jadi empat poin, karena aku sudah belajar sesuatu dari seseorang selama enam bulan terakhir walaupun aku tidak akan pernah mengakuinya keras-keras.

Bu Renata menutup pintunya.

“Duduk.”

Aku duduk.

“Kamu mau protes soal promosi kamu sendiri,” katanya.

Aku membuka mulut.

“Bu—”

“Saya sudah dua puluh dua tahun di sini, Lisa. Kalau orang minta lima belas menit di hari Senin jam delapan dan bawa catatan, ada tiga kemungkinan, dan dua di antaranya sudah gugur waktu kamu masuk dengan wajah itu.”

Aku menaruh catatanku di pangkuan.

“Saya nggak protes, Bu.”

“Terus?”

“Saya mau minta dinilai ulang.”

Bu Renata menyandarkan punggungnya.

“Jelaskan.”

Dan aku menjelaskan. Aku menyampaikan empat poin itu dalam waktu tiga menit lima belas detik, yang adalah presentasi terpendek yang pernah kulakukan dan mungkin yang paling kusiapkan.

Bahwa panel promosi kuartal ini berakhir dengan satu kandidat.

Bahwa kandidat kedua menarik diri delapan hari sebelum keputusan, dan bahwa penarikan itu tercatat di sistem dengan kolom alasan yang kosong.

Bahwa aku tidak meminta penilaian ulang karena aku merasa tidak pantas.

Bahwa aku memintanya karena catatan panel akan menyebutkan, selamanya, bahwa aku mendapat kursi itu tanpa pembanding — dan bahwa ada sembilan orang di lantai dua puluh satu yang sejak tahun pertama sudah menyimpan penjelasan cadangan di kantong belakang tentang kenapa aku mendapatkan apa pun.

“Saya nggak bisa hapus sembilan orang itu, Bu,” kataku. “Tapi saya bisa minta catatannya nggak ngasih makan mereka.”

Bu Renata tidak mengatakan apa-apa selama beberapa detik.

Lalu dia membuka laci mejanya, mengeluarkan satu map, dan meletakkannya di atas meja menghadapku.

“Buka.”

Aku membukanya.

Di dalamnya ada berkas penilaian panel promosi kuartal empat, dan di halaman kedua ada tabel dengan tiga kolom yang tidak kuduga sama sekali.

Kolom satu: penilaianku.

Kolom dua: rentang penilaian Engagement Manager yang diangkat di praktik strategi Meridian dalam lima tahun terakhir, sembilan orang, dinormalisasi.

Kolom tiga: rentang penilaian kandidat eksternal yang diwawancarai untuk posisi setara di kuartal ini. Empat orang. Dari luar.

Aku membaca angka-angka itu tiga kali.

“Bu.”

“Saya jalankan benchmark eksternal tanggal dua puluh sembilan Oktober,” katanya. “Sehari setelah Rey menarik diri.”

“Ibu nggak bilang apa-apa.”

“Tidak.”

“Kenapa?”

Bu Renata mengambil pulpennya, tidak menulis apa-apa, meletakkannya lagi. Aku sudah melihatnya melakukan itu tiga kali dalam enam bulan dan aku baru mengerti sekarang bahwa itu adalah caranya menahan diri.

“Karena kalau saya bilang ke kamu bulan lalu, kamu akan bekerja untuk angka itu,” katanya. “Dan saya nggak mau tahu berapa nilai kamu waktu kamu tahu sedang dinilai. Saya sudah tahu itu. Semua orang bagus waktu tahu sedang dinilai.”

Dia mengetuk halaman kedua dengan satu jari.

“Yang saya nggak tahu adalah berapa nilai kamu di kuartal waktu kamu sedang berantakan, sedang melepas dua bagian dari tujuh di pitch internal, dan sedang tidak bicara sama sekali di rapat harian selama seminggu penuh.”

Aku merasakan wajahku memanas.

“Ibu tau.”

“Saya menyusun notulen dari Gerald selama lima tahun, Lisa. Jumlah barisnya turun tiap hari selama seminggu di bulan Oktober.” Bu Renata menutup map itu. “Kamu di persentil delapan puluh empat dibanding sembilan EM sebelumnya. Di kuartal terburuk kamu. Kandidat eksternal terbaik ada di persentil enam puluh satu.”

Ruangan itu sangat sunyi.

“Jadi tidak,” katanya. “Saya tidak akan menilai ulang kamu. Karena sudah, dan karena kamu lulus, dan karena saya tidak menjalankan panel promosi untuk menenangkan sembilan orang yang tidak punya keberanian untuk mengatakan sesuatu ke wajah kamu.”

Aku duduk di kursi itu dan tidak bisa bicara.

“Satu hal lagi,” kata Bu Renata.

“Bu.”

“Kolom alasan di penarikan kandidasi itu bukan wajib. Kamu tahu itu, kan?”

“Iya, Bu.”

“Delapan orang punya akses ke dashboard panel.” Dia sudah kembali ke layarnya. “Dan orang itu tahu persis siapa saja delapan orang itu. Dia menghitung segalanya. Dia tidak mengosongkan kolom itu karena malas.”


Aku keluar dari ruangan itu jam delapan lewat sepuluh dan berdiri di lorong lantai dua puluh satu selama beberapa menit tanpa pergi ke mana-mana.

Lalu aku turun ke lantai sembilan belas.


Praktik operasi punya tata ruang yang berbeda. Lebih banyak meja, lebih sedikit ruang rapat kaca, lebih banyak layar besar dengan diagram alur yang bergerak. Suasananya juga berbeda — lebih berisik, dalam arti yang praktis, karena orang di sini berbicara satu sama lain sepanjang hari tentang hal-hal yang harus jalan hari ini.

Aku menemukannya di meja di sudut timur.

Dia sudah menggulung lengan kemejanya, jam delapan lewat dua puluh, yang tidak pernah dia lakukan sebelum jam tujuh malam selama empat tahun.

“Kamu gulung lengan,” kataku.

Dia mengangkat kepala.

“Di sini beda.”

“Beda gimana?”

“Di strategi kamu ngomong. Di sini kamu ngerjain.” Dia menutup laptopnya setengah. “Ada apa?”

“Renata udah jalanin benchmark eksternal. Tanggal dua puluh sembilan Oktober.”

Dia tidak bergerak.

“Sehari setelah kamu narik diri,” kataku.

“Hm.”

“Rey.”

“Bagus,” katanya. “Berapa?”

“Delapan puluh empat. Eksternal terbaik enam puluh satu.”

Dan aku melihat sesuatu terjadi di wajah orang itu yang belum pernah kulihat di gedung ini — bukan di rapat, bukan di gudang Cirebon, bukan di mana pun.

Dia tersenyum.

Betulan tersenyum. Dengan gigi. Selama mungkin dua detik, di lantai sembilan belas, di depan sekitar dua puluh orang praktik operasi yang tidak satu pun dari mereka tahu bahwa mereka sedang menyaksikan sesuatu yang langka.

Lalu hilang.

“Kamu udah tau,” kataku.

“Enggak.”

“Kamu keliatan kayak orang yang udah tau.”

“Aku nggak tau,” katanya. “Aku nebak.”

“Nebak berapa?”

“Delapan puluh dua.”

Aku menarik kursi kosong dari meja sebelah dan duduk menghadapnya, yang membuat empat orang di sekitar kami berpura-pura sangat sibuk.

“Rey.”

“Hm.”

“Aku mau bilang satu hal dan aku mau kamu dengerin sampai selesai.”

Dia menutup laptopnya sepenuhnya.

“Kamu bilang bulan lalu kamu nggak ngalah, kamu berhenti butuh menang,” kataku. “Dan aku terima itu, karena itu bener, dan karena Delivery Lead itu jalan yang nggak ngambil apa-apa dari aku.”

“Iya.”

“Tapi aku duduk di sini sekarang dan aku liat kamu di lantai sembilan belas jam delapan lewat dua puluh dengan lengan udah digulung, dan aku tau persis apa yang bakal terjadi.”

“Apa.”

“Kamu bakal jadi Delivery Lead terbaik yang pernah punya firma ini,” kataku, “dan kamu bakal ngelakuin itu tanpa sekali pun ngomong ke siapa pun bahwa kamu bisa lebih. Dan lima tahun lagi ada orang baru masuk dan nanya kenapa Rey Alvaro nggak di jalur partner, dan nggak akan ada satu orang pun di gedung ini yang bisa jawab, karena kamu nggak akan pernah cerita.”

Dia tidak menjawab.

“Dan aku nggak bisa larang kamu,” kataku. “Itu keputusan kamu dan itu keputusan yang bener dan aku nggak akan ngutak-ngatik itu.”

Aku mencondongkan badan ke depan.

“Tapi aku mau kamu janji satu hal.”

“Apa.”

“Bulan Maret ada siklus panel lagi,” kataku. “Dan bulan Maret Bapak kamu udah stabil, atau enggak, kita nggak tau. Tapi kalau nanti ada satu titik di mana angkanya nutup dari arah lain — kalau nanti kamu punya pilihan lagi—”

Aku berhenti sebentar.

“Jangan pernah ngalah ke aku.”


Aku menonton kalimat itu mendarat.

Bukan seperti waktu dia mengucapkannya, di ruang kerja setengah gelap, dengan suara yang memantul dari dinding kaca.

Ini lebih pelan. Ini di lantai sembilan belas jam delapan lewat dua puluh dengan diagram alur bergerak di layar besar di belakangnya dan dua puluh orang berpura-pura sibuk.

Tapi aku melihatnya mendarat di tempat yang sama.

Dia melihat ke bawah, ke laptopnya yang sudah tertutup, selama beberapa detik.

“Itu kalimat aku,” katanya.

“Iya.”

“Kamu curi.”

“Aku pinjem.”

“Kamu pakai buat lawan aku sendiri.”

“Iya,” kataku. “Kamu ngajarin aku itu.”

Dan Rey Alvaro duduk di meja di sudut timur lantai sembilan belas dan tidak mengatakan apa-apa selama empat detik penuh, dan aku menghitungnya, karena tentu saja aku menghitungnya.

“Empat,” kataku.

“Apa?”

“Nggak apa-apa.”

Dia memandangiku dengan curiga.

“Kamu ngitung sesuatu.”

“Aku selalu ngitung,” kataku. “Kamu yang ngajarin.”

“Aku nggak pernah ngajarin kamu ngitung.”

“Kamu ngajarin aku semuanya, Rey,” kataku, dan berdiri, dan mendorong kursi kembali ke meja sebelah. “Itu masalahnya. Kamu nggak pernah ngomong apa-apa dan aku tetep belajar semuanya dari kamu, dan itu sangat nggak adil, dan aku bakal ngeluh soal itu seumur hidup.”

Aku sudah setengah jalan ke lift waktu dia memanggil.

“Lis.”

Aku berbalik.

Dia berdiri di sebelah mejanya, di tengah lantai sembilan belas, dengan dua puluh orang di sekitarnya yang sekarang bahkan tidak berpura-pura lagi.

“Aku janji,” katanya.

Dan dia duduk lagi, dan membuka laptopnya, dan mulai bekerja.


Di lift naik ke lantai dua puluh satu, sendirian, aku menyandarkan punggungku ke dinding logam dan memandangi pantulan diriku di pintu.

Empat bulan lalu aku berdiri di kotak yang sama dan menghitung skor.

Enam kali dia membuatku kehilangan kata. Nol untukku.

Aku menghitung ulang sekarang, dari awal, dengan jujur.

Bab-bab kecil di kepalaku: balkon malam pertama, rapat empat menit, sekat, kerah blazer, pantry, tangga darurat. Enam. Lalu semalem-nya, lalu di bawah meja, lalu Bekasi, lalu jam satu pagi, lalu tiap kali aku nggak pulang.

Angkanya sudah tidak imbang lagi ke arah mana pun, dan aku menyadari — di antara lantai sembilan belas dan lantai dua puluh satu — bahwa aku sudah berhenti menyimpannya sebagai skor sejak entah kapan.

Dua orang. Enam bulan. Satu kursi.

Selisihnya nol.

Pintu lift terbuka di lantai dua puluh satu, dan dua puluh delapan orang menoleh, dan seseorang berteriak “Bu Manajer!” dari barisan belakang dengan suara yang jelas milik Gerald Tanuwijaya.

“Ge, jangan mulai.”

“AKU BELUM MULAI.”

Aku berjalan ke mejaku.

Kursi di sebelahnya masih kosong, dan akan tetap kosong, karena orangnya ada di lantai sembilan belas dengan lengan sudah digulung jam delapan lewat dua puluh.

Aku duduk.

Di sisi kiri mejaku ada satu gelas kopi.

Masih hangat.

Aku menoleh ke Nadine, dua meja jauhnya, yang langsung menunduk ke layarnya dengan kecepatan yang sangat mencurigakan.

“Nadine.”

“Ya, Bu?”

“Ini dari siapa?”

“Dari lantai sembilan belas, Bu,” katanya, tanpa mengangkat kepala. “Titipan. Jam delapan kurang.”

Jam delapan kurang.

Sebelum aku turun. Sebelum percakapan itu. Sebelum apa pun.

Aku memegang gelas itu dengan dua tangan dan duduk di lantai dua puluh satu gedung Meridian pada hari Senin pagi bulan Desember, dengan jabatan baru di bawah namaku dan persentil delapan puluh empat di berkas yang tidak akan pernah dibaca siapa pun.

Dan yang kupikirkan bukan salah satu dari keduanya.