Chapter Twenty Nine
Berkali-Kali
POV: Lisa
Empat sesi seminggu dimulai hari Selasa, tanggal empat November.
Aku ikut.
Bukan setiap kali — dia menang di negosiasi itu, sebagian, karena dia benar bahwa aku punya pekerjaan dan bahwa duduk empat jam di ruang tunggu tiga kali seminggu akan menghancurkan jadwalku dalam waktu dua minggu.
Kesepakatannya: Selasa dan Sabtu. Kamis dia sendiri.
Aku mencoba menawar hari Kamis selama empat hari dan kalah.
“Kenapa Kamis nggak boleh?”
“Boleh.”
“Kamu bilang enggak.”
“Aku bilang nggak perlu.”
“Rey, itu dua hal yang beda dan kamu tau persis—”
“Kamis Ibu ada,” katanya. “Kalau kamu ikut Kamis, Ibu nggak akan ada lagi.”
Dan itu mengakhiri seluruh perdebatan dalam empat detik, karena orang itu punya kemampuan yang sangat tidak adil untuk menemukan kalimat yang membuat argumenmu berhenti bukan karena kalah, tapi karena kamu tidak lagi ingin memenangkannya.
Ruang tunggu unit hemodialisis di rumah sakit Bekasi punya empat belas kursi, satu televisi yang selalu menyala di saluran berita, dan pendingin ruangan yang bekerja terlalu keras di sisi kiri dan tidak sama sekali di sisi kanan.
Aku duduk di sisi kanan pada hari Selasa pertama karena aku tidak tahu.
Pada hari Selasa kedua aku duduk di sisi kiri, dan Rey — yang sudah duduk di ruangan ini selama dua tahun tanpa memberi tahu siapa pun — melirik dan tidak berkomentar.
Empat jam per sesi.
Aku membawa laptop di dua sesi pertama. Aku berhenti membawanya di sesi ketiga, karena aku menemukan bahwa aku tidak bisa bekerja di ruangan itu, dan karena aku menemukan sesuatu yang lain yang jauh lebih menarik.
Rey Alvaro punya kenalan di ruang tunggu ini.
Bukan teman. Dia tidak akan pernah menyebutnya teman. Tapi ada seorang bapak bernama Pak Salim yang selalu duduk di kursi ketiga dari pintu, yang istrinya masuk sesi jam sembilan, dan yang setiap kali Rey masuk akan mengangkat dagunya satu senti dan berkata “Rey” dan Rey akan menjawab “Pak”.
Dan itu saja. Dua tahun. Dua kata per pertemuan, tiga kali seminggu.
Aku duduk di antara dua orang itu di Selasa ketiga dan tidak tahan lagi.
“Pak Salim ini yang bawa bantal sendiri?”
Rey menoleh sangat cepat.
“Iya,” kata Pak Salim, dari kursi ketiga, tanpa mengalihkan pandangan dari televisi. “Kenapa? Bapaknya ngomongin saya?”
“Nggak, Pak,” kata Rey.
“Iya,” kataku.
“Lis.”
“Bapaknya bilang Bapak sombong,” lanjutku, “karena bawa bantal sendiri.”
Pak Salim menoleh perlahan.
“Bantal rumah sakit itu tipis,” katanya, dengan martabat penuh. “Istri saya empat jam di situ. Empat jam.”
“Saya setuju, Pak.”
“Bapaknya itu yang sombong. Dia nggak mau pakai kursi roda dari lobi.”
“Dia bilang kakinya masih jalan.”
“Kakinya jalan tiga meter terus ngos-ngosan.”
Dan begitulah Selasa ketiga berlalu: aku dan Pak Salim membahas kelakuan dua lelaki tua di dalam ruangan itu selama satu jam dua puluh menit, sementara Rey duduk di antara kami dan tidak mengatakan apa-apa dan tidak sekali pun melihat ponselnya.
Waktu Pak Salim pergi ke kantin, dia menoleh.
“Kamu ngomong satu jam dua puluh sama Pak Salim.”
“Kamu ngitung?”
“Iya.”
“Rey, dua tahun kamu duduk di sini dan kamu cuma tau nama dia.”
“Aku tau lebih dari nama.”
“Kamu tau apa?”
Dia berpikir sebentar.
“Istrinya namanya Bu Yanti. Sesi jam sembilan, Selasa Kamis Sabtu, sama kayak Bapak. Anaknya dua, yang kecil di Semarang. Dia pensiunan guru SMP. Dia bawa bantal karena Bu Yanti pernah sakit leher tiga minggu di tahun pertama dan dia nggak mau itu kejadian lagi.”
Aku menatapnya.
“Kamu tau semua itu.”
“Iya.”
“Dari mana?”
“Dari denger,” katanya. “Dia ngomong tiap Selasa. Aku duduk di sini.”
Dan aku duduk di ruang tunggu unit hemodialisis di rumah sakit Bekasi pada hari Selasa ketiga bulan November dan mengerti, dengan sangat terlambat, bahwa aku sudah menghabiskan enam bulan mengira orang ini tidak bicara karena dia tidak tertarik.
Dia tidak bicara karena dia sedang mendengarkan.
Selama dua tahun. Tiga kali seminggu. Empat jam per sesi.
Bapak keluar jam satu.
Dia jalan sendiri sampai ke pintu, karena dia sombong, dan Rey berjalan setengah langkah di belakangnya tanpa menyentuhnya sama sekali, karena dia juga sombong, dan aku berjalan di belakang keduanya dan memikirkan bahwa aku sedang menonton satu penyakit turunan yang tidak ada hubungannya dengan ginjal.
Di mobil, Bapak bicara sepanjang jalan pulang.
Tentang Pak Salim. Tentang seorang perawat baru yang menurutnya terlalu cepat memasang jarum. Tentang bagaimana dulu, tahun sembilan puluh delapan, dia pernah menyetir dari Surabaya ke Jakarta dalam tiga belas jam.
“Pak,” kataku dari kursi belakang, “itu nggak mungkin.”
“Lho—”
“Saya udah cek. Tiga belas jam itu rata-rata delapan puluh kilometer per jam nonstop. Tanpa berhenti. Tanpa isi bensin.”
“Saya isi bensin.”
“Berarti bukan tiga belas jam, Pak.”
“Tiga belas jam lebih sedikit.”
“Berapa lebih sedikitnya?”
Bapak diam.
“Dua jam,” katanya.
“PAK.”
Dan dia tertawa, dan lalu berhenti karena tertawa itu mahal sekarang, dan dari kursi pengemudi Rey berkata, tanpa mengalihkan pandangan dari jalan:
“Aku bilang lima belas dari dulu.”
“Kamu nggak pernah bilang apa-apa!”
“Aku bilang. Umur dua belas.”
“Kamu bilang ‘hm’.”
“Itu artinya lima belas.”
Aku menyandarkan kepalaku ke jendela belakang dan tertawa sampai perutku sakit, dan di kursi depan dua orang Alvaro duduk dalam diam dengan ekspresi yang persis sama, dan salah satu dari mereka melirikku lewat kaca spion selama mungkin satu detik.
Malamnya, di unit 14A, jam sebelas lewat.
Aku sedang duduk di sofa dengan kaki di pangkuannya dan dia sedang membaca sesuatu dan tidak ada satu pun dari kami yang bicara selama sekitar dua puluh menit, yang tiga bulan lalu akan membuatku gila dan sekarang tidak.
“Rey.”
“Hm.”
“Kamu tau kamu bisa bilang ‘aku sayang kamu’, kan?”
Dia menaruh bacaannya.
“Aku udah bilang.”
“Sekali. Di parkiran. Enam minggu telat.”
“Berkali-kali,” katanya.
Aku duduk tegak.
“Kapan?”
Dan Rey Alvaro menutup bacaannya, dan meletakkannya di meja, dan berkata dengan nada yang sepenuhnya biasa — nada orang yang melaporkan angka di ruang rapat, nada yang sudah kudengar ratusan kali:
“Tiap kali aku nggak pulang.”
Aku membuka mulut.
Tidak ada apa-apa di dalamnya.
Dan itu bukan pertama kalinya orang ini membuatku kehilangan kata; aku sudah menghitungnya sejak bulan Mei, aku punya angkanya, aku bahkan sempat menyimpan skor seperti orang gila di lift lantai dua puluh satu.
Tapi ini pertama kalinya aku kalah dan tidak keberatan sama sekali.
“Itu—” Suaraku keluar seperti kertas. “Itu curang.”
“Kamu yang nanya.”
“Kamu nyiapin itu.”
“Enggak,” katanya.
“Rey.”
“Aku nggak nyiapin,” katanya. “Aku emang mikir gitu.”
Dan itu, entah bagaimana caranya, jauh lebih buruk.
Aku menekan kedua tanganku ke wajahku dan mengeluarkan suara yang tidak bisa dipertanggungjawabkan oleh perempuan dewasa berumur dua puluh tujuh tahun.
Dia menunggu sampai aku selesai.
“Lis.”
“Apa.”
“Aku ngitung juga.”
Aku menurunkan tanganku.
“Ngitung apa?”
“Berapa malam aku nggak pulang.” Dia mengambil bacaannya lagi, dan membukanya, dan tidak melihat ke arahku sama sekali. “Sejak Cirebon.”
“Berapa?”
“Tiga puluh satu.”
“Tiga puluh—”
“Tiga puluh satu dari enam puluh tiga,” katanya. “Dan tiga puluh dua yang lain aku ada di 14B, sembilan meter, sama tembok di tengah.”
Dia membalik halaman.
“Aku nggak bilang berkali-kali buat gaya-gayaan,” katanya. “Aku punya angkanya.”
Aku pergi ke kamar mandi setelah itu dan menutup pintunya dan duduk di tepi bak selama empat menit dengan tangan menutup mulutku, karena aku tidak ingin dia mendengar, dan karena aku tahu persis kalau dia mendengar dia akan masuk dan bertanya kenapa dan aku tidak punya jawaban yang bisa diucapkan tanpa hancur.
Waktu aku keluar, dia sudah tidur di sofa dengan bacaan terbuka di dadanya.
Aku mengambil bacaannya.
Buku catatan bersampul abu-abu. Yang dia bawa ke setiap rapat selama empat tahun. Yang menurut Gege isinya kemungkinan besar daftar orang yang akan dia habisi.
Aku tidak membacanya.
Aku menutupnya dan meletakkannya di meja dan berdiri di ruang tamu unit 14A selama beberapa detik, memandangi foto delapan truk yang tergantung di lubang paku setinggi mata.
Lalu aku mengambil selimut dari kamar dan menutupinya, dan mematikan lampu, dan pergi tidur sendirian di kamar yang sembilan meter dari kamar yang sudah tidak dia tempati sejak sembilan minggu lalu.
Dua hari kemudian, hari Kamis, keputusan panel promosi keluar.
- 1 Unit Sebelah
- 2 Empat Menit
- 3 Sekat
- 4 Jemuran
- 5 Terlalu Dekat
- 6 Kode
- 7 Kerah
- 8 Pantry
- 9 Tangga Darurat
- 10 Semalem
- 11 Aturan
- 12 Di Bawah Meja
- 13 Delapan Lantai
- 14 Empat Jam
- 15 Dua Kamar
- 16 Bu Lisa
- 17 Bekasi
- 18 Lewat Sekat
- 19 Dua Bagian Kosong
- 20 Meninggikan Suara
- 21 Pintu Depan
- 22 Dua Gelas
- 23 Kain di Sekat
- 24 Mundur
- 25 Jam Satu Pagi
- 26 Pagi
- 27 Ketahuan
- 28 Selesai?
- 29 Berkali-Kali reading
- 30 Kening
- 31 Nol
- 32 Kuncinya