Chapter Eleven
Aturan
POV: Lisa
Dua hari kemudian, hari Minggu, aku membuat dokumen.
Aku sadar sepenuhnya betapa memalukannya hal itu. Aku tetap melakukannya, karena aku menyelesaikan masalah dengan cara yang sama sejak umur sembilan tahun: dengan menuliskannya sampai berhenti menakutkan.
Judul dokumennya, setelah tiga kali diganti, akhirnya: hal-hal.docx
Isinya empat baris.
Jam empat sore aku menutup laptop, mengambil kunci, dan berjalan enam langkah ke pintu unit 14B.
Dia membuka pintu dengan kaus abu-abu dan celana pendek dan rambut yang jelas belum disisir sejak dia bangun, dan aku harus mengalihkan pandangan ke titik di atas bahunya untuk bisa melanjutkan hidup.
“Kita perlu ngomong.”
Dia membuka pintunya lebih lebar.
Unit 14B kosong dengan cara yang membuatku sedih tanpa aku mengerti kenapa.
Satu sofa. Satu meja makan yang jelas dipakai untuk bekerja, bukan untuk makan. Tidak ada satu pun benda di dinding. Di sudut, satu koper yang belum sepenuhnya dibongkar — dan koper itu, dari kondisinya, sudah berada di sudut itu selama dua bulan.
“Kamu tinggal di sini kayak orang lagi transit.”
“Aku emang lagi transit.”
“Semua orang lagi transit, Rey, itu bukan alasan buat nggak punya kursi kedua.”
Dia mengambil kursi lipat dari balik pintu dapur dan membukanya.
Aku duduk di kursi lipat itu dan memutuskan untuk tidak menang di ronde ini demi kepentingan yang lebih besar.
“Oke.” Aku menaruh ponselku di meja, membuka dokumenku, dan meletakkannya menghadapnya. “Aku bikin aturan.”
Dia membaca layarnya.
Dia membacanya cukup lama sehingga aku mulai menyesali seluruh keputusan hidupku.
“Kamu bikin dokumen,” katanya.
“Iya.”
“Ada judulnya.”
“Jangan dibahas.”
“‘hal-hal titik docx’.”
“Rey, kalau kamu bahas judulnya satu kali lagi aku pulang.”
Dia menaruh ponsel itu kembali di meja.
“Baca,” katanya.
Aku menarik napas.
“Satu. Kita nggak pacaran.”
“Oke.”
“Dua. Nggak di kantor. Sama sekali. Nggak ada apa-apa di dalam gedung itu.”
“Oke.”
“Tiga. Promosi tetap jalan. Kamu ngejar, aku ngejar, nggak ada yang ngalah, nggak ada yang bantu, nggak ada yang ngerjain ulang model orang lain jam tiga pagi tanpa bilang.”
Jeda.
“Yang terakhir itu nego,” katanya.
“Nggak nego.”
“Nego.”
“Rey.”
“Aku nggak akan janji berhenti benerin angka yang salah.”
Aku menatapnya. “Kamu tau kalimat itu kedengeran gimana?”
“Enggak.”
“Kedengeran kayak orang yang lagi ngerayu.”
“Aku emang lagi ngerayu.”
Aku kehilangan tempatku di daftar dan harus mencari lagi.
“Empat,” kataku, dengan suara yang terlalu cepat. “Ini nggak akan—” Aku berhenti. “Ini cuma—”
Aku sudah menulis baris keempat itu tiga kali dan menghapusnya tiga kali, dan di layar sekarang baris keempat cuma berisi kata Ini diikuti kursor yang berkedip.
Dia menunggu.
Dia menunggu dengan cara yang sama seperti di balkon di malam pertama: tanpa membantu sama sekali.
“Ini cuma,” ulangku.
“Bilang aja apa,” katanya. “Aku nggak akan malu.”
Aku mengangkat wajahku.
Dan itu bagian yang tidak kusiapkan — bukan kalimatnya, tapi kenyataan bahwa dia mengucapkannya tanpa satu pun lapisan pelindung. Tidak ada lelucon di belakangnya. Tidak ada jalan keluar yang disediakan untuk kami berdua. Orang ini duduk di kursinya sendiri, di apartemen kosong yang dia tempati seperti ruang tunggu, dan dengan tenang mempersilakanku menyebutkan hal yang paling memalukan di ruangan itu, sambil mengumumkan lebih dulu bahwa dia tidak akan menggunakannya sebagai senjata.
“Ini cuma fisik,” kataku.
“Oke.”
“Kamu percaya?”
“Nggak.”
“Rey—”
“Kamu nulis dokumen,” katanya. “Orang nggak nulis dokumen buat hal yang cuma fisik.”
Aku menutup ponselku dengan bunyi kecil.
“Kamu setuju sama aturannya atau nggak?”
Dia menyandar.
“Satu, oke. Dua, oke — dan itu yang paling penting, karena Renata nggak boleh punya alasan buat mikir salah satu dari kita dapet sesuatu di luar kerjaan.” Dia mengangkat dua jari. “Tiga, nggak. Aku nggak akan ngalah dan aku nggak akan minta kamu ngalah, tapi aku nggak akan pura-pura nggak liat kalau angka kamu salah. Kamu juga jangan.”
“Fine.”
“Empat—”
“Empat udah.”
“Empat belum kamu selesaikan.”
“Empat,” kataku dengan tegas, “adalah bahwa ini berhenti bulan November.”
Ruangan itu diam.
November adalah bulan pengumuman. Semua orang di lantai dua puluh satu tahu itu.
“Karena salah satu dari kita bakal jadi atasan yang lain,” lanjutku, “atau salah satu dari kita bakal keluar. Dan dua-duanya nggak ada versi yang bagus.”
Dia tidak menjawab selama beberapa saat.
“Berapa lama itu?” tanyanya.
“Empat bulan.”
“Oke.”
“‘Oke’?”
“Iya.”
“Kamu nggak mau nego yang ini?”
“Nggak,” katanya. “Aku ambil empat bulan.”
Dan cara dia mengucapkannya — datar, cepat, seperti orang yang baru saja menerima tawaran yang jauh lebih baik dari yang dia harapkan — membuat sesuatu di dadaku terasa dingin selama satu detik penuh.
Aku mengabaikannya.
Aku akan mengingat momen itu nanti, di bulan November, dan mengerti apa yang sudah kulewatkan.
“Jadi sekarang gimana?” tanyaku.
“Sekarang kamu pulang.”
“Apa?”
“Enam langkah.” Dia berdiri. “Kamu bikin aturan. Kalau aku ngelanggar hari ini, aturannya jadi lelucon.”
“Aku—” Aku berdiri juga. “Aku nggak bilang mau ngelanggar.”
“Kamu duduk di kursi lipat aku selama dua puluh menit.”
“Itu bukan pelanggaran.”
“Kamu nggak liat kaki aku sekali pun.”
“Itu—” Aku merasakan wajahku memanas. “Itu observasi yang sangat nggak sopan.”
“Iya.”
Kami berdiri di ruang tamu yang kosong itu dengan jarak sekitar satu meter, dan aku sangat sadar bahwa satu meter adalah jarak yang sepenuhnya bisa diselesaikan.
“Selesai?” tanyanya.
Suaranya sudah berubah. Bukan sarkastik. Ini versi yang lain — pelan, dan bertanya betulan, dan menyerahkan seluruh keputusan kepadaku dengan cara yang sama sekali tidak adil.
“Belum,” kataku.
Aku melangkah satu kali.
Dia tidak mundur.
Dan ciuman ketiga kami — karena aku menghitung, karena aku selalu menghitung — berlangsung di ruang tamu yang tidak punya apa pun di dindingnya, dengan tangannya di tengkukku dan punggungku ke daun pintu yang masih setengah terbuka, dan berhenti sebelum menjadi hal lain karena salah satu dari kami masih punya sisa disiplin.
Bukan aku.
“Pulang,” kata Rey, dengan suara yang tidak stabil sama sekali.
“Kamu yang—”
“Lisa. Pulang.”
Aku pulang.
Enam langkah.
Aku menutup pintuku, menyandarkan punggungku ke daun pintu, dan berdiri di sana sambil menatap langit-langit unit 14A.
Lalu aku membuka ponselku, membuka hal-hal.docx, dan menambahkan baris kelima yang tidak pernah kubacakan kepada siapa pun:
5. Jangan sampai suka.
Aku menatapnya selama sepuluh detik.
Lalu aku menyimpan dokumen itu, mematikan layar, dan pergi mandi dengan air yang jauh lebih dingin dari yang biasanya kupilih.
- 1 Unit Sebelah
- 2 Empat Menit
- 3 Sekat
- 4 Jemuran
- 5 Terlalu Dekat
- 6 Kode
- 7 Kerah
- 8 Pantry
- 9 Tangga Darurat
- 10 Semalem
- 11 Aturan reading
- 12 Di Bawah Meja
- 13 Delapan Lantai
- 14 Empat Jam
- 15 Dua Kamar
- 16 Bu Lisa
- 17 Bekasi
- 18 Lewat Sekat
- 19 Dua Bagian Kosong
- 20 Meninggikan Suara
- 21 Pintu Depan
- 22 Dua Gelas
- 23 Kain di Sekat
- 24 Mundur
- 25 Jam Satu Pagi
- 26 Pagi
- 27 Ketahuan
- 28 Selesai?
- 29 Berkali-Kali
- 30 Kening
- 31 Nol
- 32 Kuncinya