Chapter Twenty Six
Pagi
POV: Lisa
Hal pertama yang kupelajari tentang tinggal bersama seseorang adalah bahwa kamar mandi unit 14A berukuran satu koma delapan kali dua meter dan itu ternyata sangat penting.
“Geser.”
“Aku lagi sikat gigi.”
“Aku juga lagi sikat gigi.”
“Wastafelnya satu, Lis.”
“Makanya geser.”
Dia menggeser sekitar lima sentimeter, yang secara teknis adalah menggeser dan secara praktis adalah penghinaan, dan aku menyikutnya di rusuk, dan dia tidak bergerak sama sekali karena orang itu terbuat dari beton.
Jam enam kurang seperempat, hari Kamis.
Kami sudah melakukan ini selama sembilan hari dan aku belum berhenti terkejut setiap paginya.
Bukan terkejut yang besar. Tidak ada satu pun bagian dari ini yang besar. Yang mengejutkan justru itu: bahwa seluruh hal yang selama enam bulan terasa seperti tebing ternyata, di sisi seberangnya, cuma dua orang yang berebut wastafel jam enam kurang seperempat.
“Kamu pakai sikat gigi aku,” kataku, dengan mulut penuh busa.
“Aku beli yang baru.”
“Kamu beli yang biru. Yang biru punya aku.”
“Punya kamu yang putih.”
“Punya aku yang biru sejak bulan Juli, Rey.”
Dia berkumur, meludah, dan meletakkan sikat gigi biru itu di gelas dengan gerakan orang yang menaruh bidak.
“Sekarang punya aku,” katanya.
Dan keluar dari kamar mandi.
Aku berdiri sendirian di depan cermin dengan mulut masih penuh busa dan wajah yang, waktu kulihat di pantulan, terlihat sangat bodoh.
Yang tidak kuceritakan ke siapa pun tentang sembilan hari itu:
Bahwa dia bangun jam lima lewat empat puluh, setiap hari, tanpa alarm.
Bahwa dia membuat dua gelas kopi dan kali ini dua-duanya diminum.
Bahwa hari ketiga, waktu aku bangun jam enam kurang sepuluh dan panik karena mengira sudah telat, aku menemukannya duduk di lantai ruang tamu dengan koper terbuka di depannya.
Koper dari unit 14B. Yang di sudut. Yang delapan bulan.
Dia sedang mengeluarkan bukunya satu per satu dan menumpuknya di lantai, dan dia tidak menoleh waktu aku keluar dari kamar, dan aku berdiri di ambang pintu kamar dengan rambut yang berantakan dan tidak mengatakan apa-apa selama mungkin dua menit.
Ada dua puluh tiga buku.
Ada satu foto dalam bingkai kecil — delapan truk, berjajar, di halaman gudang di pinggir Bekasi, dengan seorang lelaki yang jauh lebih muda berdiri di depan yang paling kiri.
Ada tiga kemeja.
Dan di dasar koper itu, di bawah semuanya, ada satu buku catatan bersampul abu-abu yang sudah kukenal sejak empat tahun lalu, yang dia bawa ke setiap rapat, yang menurut Gege isinya kemungkinan besar daftar orang yang akan dia habisi.
Dia meletakkannya di tumpukan paling atas.
“Rey.”
“Hm.”
“Kamu bongkar koper.”
“Iya.”
“Di unit aku.”
“Iya.”
Dan itu saja. Dia melanjutkan mengeluarkan barang, dan aku duduk di lantai di sebelahnya, dan kami menghabiskan empat puluh menit menyusun buku di rak yang sebenarnya milikku dan sekarang bukan.
Aku terlambat ke kantor untuk pertama kalinya dalam tiga tahun.
Bahwa dia memasang satu paku.
Ini bagian yang paling tidak masuk akal dan yang paling sering kupikirkan.
Di dinding ruang tamu unit 14A, tepat di ketinggian mata, ada satu lubang paku bekas penghuni sebelumnya yang sudah kupandangi berkali-kali sejak malam pertama sambil menduga-duga apa yang pernah digantung di sana.
Hari keenam, aku pulang jam sembilan malam dan menemukan foto delapan truk itu tergantung di lubang tersebut.
Dia sedang mencuci piring dan tidak menoleh.
“Rey.”
“Hm.”
“Kamu gantung fotonya.”
“Lubangnya udah ada.”
“Aku tau lubangnya udah ada, aku mandangin lubang itu selama enam bulan—”
“Makanya aku isi.”
Aku berdiri di ruang tamu unit 14A dan memandangi delapan truk berjajar di halaman gudang di pinggir Bekasi, dan menyadari bahwa aku sedang menangis di depan sebuah foto truk, dan bahwa orang yang mencuci piring di dapur belakangku tahu persis itu dan sengaja tidak menoleh.
Bahwa dia tidak pernah bicara lebih banyak.
Ini penting dan aku ingin mencatatnya dengan jujur, karena kalau tidak, cerita ini jadi cerita tentang seseorang yang berubah, dan orang tidak berubah dalam sembilan hari.
Rey Alvaro tetap mengeluarkan sekitar dua ratus kata per hari.
Yang berubah adalah apa yang dia lakukan dengan sisanya.
Hari ketujuh, jam sepuluh malam, aku sedang menjelaskan sesuatu yang sangat panjang tentang validasi rute dan tentang seorang staf di Cirebon dan tentang teoriku bahwa Pak Deden menyembunyikan sesuatu yang bukan hal penting, dan di tengah kalimat aku menyadari bahwa aku sudah bicara selama sebelas menit tanpa jeda.
Aku berhenti.
“Maaf.”
“Kenapa?”
“Aku ngomong sebelas menit.”
Dia menaruh gelasnya.
“Lis.”
“Hm.”
“Aku itung.”
“Kamu itung apa?”
“Berapa lama kamu ngomong tiap malam.” Dia mengambil gelasku juga, dan berdiri, dan berjalan ke wastafel. “Sejak Mei.”
Aku menoleh.
“Kenapa?”
Dan dia berdiri di dapur unit 14A dengan dua gelas di tangan, membelakangiku, dan berkata dengan nada yang persis sama seperti waktu dia melaporkan angka di ruang rapat:
“Karena itu bagian hari aku yang paling aku suka, dan aku pengin tau berapa lama.”
Aku tidak bisa bicara selama sekitar delapan detik.
“Berapa lama?” tanyaku akhirnya.
“Rata-rata dua puluh enam menit.”
“Dua puluh enam?”
“Sebelum Cirebon, dua puluh enam. Habis Cirebon, tiga puluh sembilan.” Dia menaruh gelasnya di rak. “Yang paling lama satu jam empat belas. Itu malam kamu jelasin kenapa arsitek gedung ini benci manusia.”
Aku menekan kedua tanganku ke wajahku.
“Rey.”
“Hm.”
“Aku bakal nangis dan aku benci itu.”
“Oke.”
Dan bahwa hari kedelapan, pagi, dia lewat di belakangku.
Aku sedang berdiri di depan wastafel dapur, jam enam lewat sepuluh, mencuci gelas kopi. Dia lewat untuk mengambil kunci dari meja.
Dan sambil lewat — tanpa berhenti, tanpa jeda, tanpa satu pun tanda bahwa ini adalah kejadian — dia mencium tengkukku.
Sekali. Cepat. Di titik yang persis, di bawah garis rambut.
Dan terus berjalan ke pintu.
Aku berdiri di depan wastafel dengan gelas di tangan dan air yang masih mengalir selama entah berapa lama.
Bukan karena ciumannya.
Karena caranya.
Karena tidak ada satu pun bagian dari gerakan itu yang berupa keputusan. Dia tidak memutuskan untuk melakukannya; tubuhnya melakukannya dalam perjalanan mengambil kunci, seperti orang yang sudah melakukannya setiap pagi selama bertahun-tahun, seperti hal yang sudah lama berhenti perlu dipikirkan.
Sembilan hari.
Sembilan hari dan tubuh orang itu sudah memutuskan sesuatu yang kepalanya butuh enam bulan untuk mengucapkannya.
Aku mematikan keran.
“Rey.”
Dia berhenti di pintu.
“Hm.”
“Nggak apa-apa,” kataku. “Hati-hati.”
Dan dia keluar, dan pintunya menutup, dan aku berdiri sendirian di dapur unit 14A jam enam lewat dua belas.
Enam lewat dua belas.
Bukan enam lewat dua puluh dua.
Aku sudah menghafal jam keberangkatannya sejak bulan Juli, dan selama sembilan hari terakhir angka itu bergeser sepuluh menit lebih awal, setiap hari, konsisten.
Aku berdiri di dapur dan menghitungnya.
Sepuluh menit lebih awal setiap pagi, dikali lima hari kerja, dikali empat minggu.
Tiga jam dua puluh menit sebulan.
Dan aku tahu persis ke mana perginya, karena hari Selasa aku secara tidak sengaja melihat riwayat lokasi di ponselnya yang tergeletak di meja: rumah sakit di Bekasi, jam enam empat puluh lima, tiga kali dalam sembilan hari.
Sebelum kantor.
Dia berangkat lebih pagi supaya bisa mampir, dan tetap sampai di lantai dua puluh satu jam tujuh kurang lima, dan tidak mengatakan apa-apa kepadaku tentang itu selama sembilan hari.
Aku menaruh gelas di rak.
Aku mengambil ponselku, membuka aplikasi kalender, dan membuat satu acara berulang di hari Selasa, Kamis, dan Sabtu, jam enam pagi, dengan judul yang cuma satu huruf supaya kalau ada yang melihat layarku di kantor tidak akan mengerti apa pun.
Lalu aku berangkat kerja.
Aku belum memberitahunya.
Aku akan memberitahunya hari Sabtu, di mobil, di suatu titik antara Jakarta dan Bekasi, dan aku sudah menyiapkan kalimatnya dan aku sudah tahu persis apa yang akan dia jawab.
Dia akan bilang “nggak usah”.
Dan aku akan bilang “aku nggak nanya”, dan dia akan diam, dan aku akan menghitungnya sebagai satu.
- 1 Unit Sebelah
- 2 Empat Menit
- 3 Sekat
- 4 Jemuran
- 5 Terlalu Dekat
- 6 Kode
- 7 Kerah
- 8 Pantry
- 9 Tangga Darurat
- 10 Semalem
- 11 Aturan
- 12 Di Bawah Meja
- 13 Delapan Lantai
- 14 Empat Jam
- 15 Dua Kamar
- 16 Bu Lisa
- 17 Bekasi
- 18 Lewat Sekat
- 19 Dua Bagian Kosong
- 20 Meninggikan Suara
- 21 Pintu Depan
- 22 Dua Gelas
- 23 Kain di Sekat
- 24 Mundur
- 25 Jam Satu Pagi
- 26 Pagi reading
- 27 Ketahuan
- 28 Selesai?
- 29 Berkali-Kali
- 30 Kening
- 31 Nol
- 32 Kuncinya