Chapter Thirty Two
Kuncinya
POV: Lisa
Kontrak unit di Verde Residence habis akhir Februari.
Firma menyewa enam unit di lantai empat belas untuk tim Helios, dan Helios sudah selesai sejak Desember, dan divisi umum mengirim email dengan subjek Pengembalian Unit — Batas 28 Februari kepada enam orang yang semuanya membacanya dengan perasaan berbeda.
Aku membacanya di lantai dua puluh satu pada hari Selasa dan langsung membuka aplikasi properti di ponselku, karena itu yang kulakukan, karena aku menyelesaikan masalah dengan cara mencarikan datanya.
Aku mengirim empat tautan ke Rey dalam waktu sebelas menit.
Lisa: Yang ketiga bagus. Dua kamar, deket stasiun, lantai 6. Lisa: Yang keempat lebih murah tapi jauh dari Bekasi. Lisa: Yang pertama abaikan, salah kirim. Lisa: Rey. Lisa: Kamu baca nggak sih.
Balasannya masuk empat jam kemudian.
Rey: Nanti malam.
“Nanti malam” ternyata berarti jam sembilan, di balkon.
Kami masih memakainya. Itu hal yang cukup bodoh kalau dipikir — dia sudah tidak tinggal di 14B sejak November, kopernya sudah dibongkar di unitku sejak Oktober, dan sekat beton setinggi dada itu sekarang memisahkan balkonku dari balkon kosong.
Tapi kami tetap keluar ke sana jam sembilan atau sepuluh, hampir setiap malam, dengan dua gelas.
Kebiasaan itu bertahan lebih lama daripada alasannya.
“Aku udah liat empatnya,” katanya.
“Terus?”
“Yang ketiga.”
“Bagus. Aku juga yang ketiga.” Aku membuka ponselku. “Aku udah hubungin agennya, dia bilang bisa lihat hari Sabtu, tapi Sabtu kita ke Bekasi jadi aku bilang Minggu, dan dia bilang Minggu dia—”
“Lis.”
“—bisa tapi cuma pagi, jadi aku bilang oke jam sembilan, dan kalau kita berangkat dari sini jam delapan lewat—”
“Lisa.”
Aku berhenti.
Dia meletakkan gelasnya di atas sekat beton, di titik tengah, di garis pembatas antara 14A dan 14B — di tempat yang persis sama dengan tempat dia meletakkan gelasnya pada malam pertama, sembilan bulan lalu, waktu aku berdiri di sini dengan rambut basah dan sebelas kardus dan tidak punya satu pun kalimat.
“Aku udah tanda tangan,” katanya.
“Apa?”
“Yang ketiga. Aku udah tanda tangan hari Jumat.”
Aku menatapnya.
“Jumat itu tiga hari sebelum aku kirim tautannya.”
“Iya.”
“Rey.”
“Aku liat unit itu bulan Januari,” katanya. “Sama agen yang sama. Aku ke sana dua kali.”
“Kamu ke sana dua kali dan kamu nggak bilang?”
“Aku bilang sekarang.”
“Itu—” Aku mengangkat kedua tanganku. “Itu bukan bilang! Itu ngasih tau setelah selesai! Itu persis hal yang kamu janji nggak akan—”
“Aku nggak janji berhenti ngitung,” katanya. “Aku janji ngasih tau hasilnya.”
“Kamu ngasih tau hasilnya tiga bulan kemudian!”
“Dua bulan.”
“REY.”
Dia mengambil gelasnya kembali dan meminumnya, dengan ketenangan seseorang yang telah menghitung seluruh percakapan ini sebelumnya dan tahu persis di mana dia akan kalah dan memutuskan bahwa harganya sepadan.
“Kenapa kamu ke sana dua kali?” tanyaku.
“Yang pertama buat liat.”
“Yang kedua?”
“Buat ngukur.”
“Ngukur apa?”
Dia meletakkan gelasnya lagi.
“Dindingnya,” katanya. “Buat rak buku. Dua puluh tiga buku aku, sama punya kamu ada seratus sebelas. Yang di unit ini nggak cukup, kamu numpuk enam belas di lantai deket sofa sejak bulan Desember.”
Aku membuka mulut.
“Dan aku ngukur jarak ke rumah sakit,” lanjutnya. “Lewat tol dalam, dua puluh delapan menit jam enam pagi. Dari sini tiga puluh sembilan. Selisihnya sebelas menit, tiga kali seminggu, jadi tiga puluh tiga menit.”
“Rey—”
“Dan aku ngukur kamar keduanya,” katanya. “Tiga koma dua kali dua koma delapan. Muat satu ranjang single dan satu kursi.”
Aku berhenti.
“Buat apa?”
Dan Rey Alvaro berdiri di balkon lantai empat belas Verde Residence pada malam Selasa di bulan Februari dan berkata, dengan nada yang persis sama seperti waktu dia melaporkan angka di ruang rapat:
“Buat Bapak sama Ibu. Kalau nanti perlu.”
Aku tidak bisa bicara.
Itu tidak akan mengejutkan siapa pun yang sudah mengikuti sembilan bulan terakhir ini. Aku tidak bisa bicara di balkon pada malam pertama, dan di rapat empat menit, dan waktu kerah blazerku terlipat, dan di pantry, dan di tangga darurat, dan di jam satu pagi di ruang tamu yang tidak punya apa pun di dindingnya.
Enam kali, dulu. Aku menyimpan skornya seperti orang gila.
Aku berhenti menyimpannya sejak bulan Desember.
Tapi malam itu, di balkon, dengan satu gelas di sekat beton dan seorang lelaki yang mengukur kamar kedua sebuah apartemen yang belum dia tempati untuk dua orang yang belum tentu membutuhkannya —
— aku menghitungnya lagi.
Yang terakhir.
“Rey.”
“Hm.”
“Aku nggak punya kata.”
“Aku tau,” katanya. “Aku ngitung juga.”
“Berapa?”
“Ini yang kedua belas.”
“Dua belas?”
“Kamu berhenti ngitung bulan Desember,” katanya. “Aku enggak.”
Kami pindah tanggal dua puluh enam Februari.
Om Bram membantu mengangkat kardus, karena Om Bram selalu ada dan selalu membantu dan selalu muncul di waktu yang paling tidak tepat selama sembilan bulan terakhir, termasuk pada satu Sabtu pagi di bulan Juni yang melibatkan empat kaus kaki abu-abu, dan pada satu jam dua belas malam di bulan Oktober yang tidak akan pernah kubicarakan dengan siapa pun.
Dia mengangkat kardus terakhir ke lift dan berdiri di depan pintu 14A yang sudah kosong.
“Sepi juga ya, Bu, kalau udah kosong.”
“Iya, Om.”
Dia melihat ke arah balkon, lewat pintu kaca yang terbuka, ke sekat beton setinggi dada yang membelah dua balkon.
“Sekatnya rendah amat,” katanya, seperti orang yang baru menyadarinya setelah sebelas tahun bekerja di gedung itu.
“Iya, Om.”
“Nggak guna.”
“Nggak guna sama sekali, Om.”
Om Bram mengangguk-angguk, memasukkan tangan ke saku, dan berjalan ke lift dengan kepuasan seseorang yang telah menyampaikan pengamatan penting.
Di ambang pintu dia berhenti.
“Bu Lisa.”
“Ya, Om?”
“Yang malem itu,” katanya, tanpa menoleh, “yang bulan Oktober.”
Aku merasakan seluruh wajahku memanas.
“Om—”
“Saya nggak liat apa-apa,” katanya. “Saya cuma naik satu lantai lebih cepet dari biasanya.”
Dan dia masuk ke lift, dan pintunya menutup, dan aku berdiri sendirian di unit 14A yang kosong sambil menutup wajahku dengan kedua tangan.
Balkon unit baru menghadap timur, bukan barat.
Itu perbedaan pertama yang kami sadari, dan itu perbedaan yang cukup besar: tidak ada lagi ruangan yang berubah jadi warna jeruk jam tujuh malam. Yang ada adalah cahaya jam enam pagi yang masuk lurus dan tidak minta izin, dan yang membuat kami berdua bangun lebih pagi tanpa alarm dalam waktu satu minggu.
Balkonnya lebih lebar. Muat dua kursi.
Dan tidak ada sekat, karena unit di sebelahnya punya balkon yang menghadap arah lain.
Malam kelima, jam sepuluh lewat, aku keluar dengan dua gelas dan menemukannya sudah di sana, duduk di kursi lipat rendah yang dia bawa dari 14B dan menolak buang.
Aku duduk di kursi satunya.
Kami tidak bicara selama sekitar sepuluh menit, yang setahun lalu akan membuatku gila dan sekarang tidak.
“Rey.”
“Hm.”
“Aku kangen sekatnya.”
Dia menoleh.
“Kamu kangen tembok.”
“Aku kangen tembok,” kataku. “Iya. Itu memalukan dan aku sadar.”
“Kenapa?”
Aku memutar gelasku.
“Karena selama enam bulan itu satu-satunya tempat kita jujur,” kataku. “Di kantor kita saling jatuhin. Di balkon kita ngomong. Dan aku tau itu bodoh karena sekarang kita jujur terus, tapi—”
Aku berhenti.
“Aku kangen jadi orang yang harus nyeberang buat sampai ke kamu,” kataku. “Kayaknya gitu.”
Dia tidak menjawab selama beberapa saat.
Di bawah, di jalan yang berbeda dari jalan yang dulu, ada motor dengan knalpot yang tidak seharusnya legal, karena ternyata ada motor seperti itu di seluruh kota dan bukan cuma di depan Verde Residence.
“Lis.”
“Hm.”
“Balkonnya masih kebuka?”
Aku menoleh sangat cepat.
Dia sedang melihat lurus ke depan, ke kota, dengan gelas di tangan dan ekspresi yang tidak melakukan apa pun.
“Kamu nggak boleh pakai itu,” kataku. “Itu punya aku.”
“Kamu pinjem ‘jangan pernah ngalah ke aku’.”
“Itu beda!”
“Beda gimana?”
“Itu—” Aku mencari argumennya, tidak menemukan argumennya, dan menemukan sebaliknya bahwa aku sedang tersenyum ke arah gelas seperti orang tidak waras, persis seperti di depan rak detergen sembilan bulan lalu. “Ya udah. Nggak beda.”
“Jadi,” katanya. “Jawab.”
Dan aku duduk di kursi kedua di balkon yang menghadap timur, di apartemen yang bukan disediakan firma, di sebelah orang yang mengukur dinding untuk rak buku dan mengukur kamar kedua untuk orang tuanya dan mengukur jarak ke rumah sakit sampai ke menitnya —
— dan menyiapkan jawaban.
Aku punya beberapa. Aku selalu punya beberapa; itu keahlianku, itu yang membuatku dibayar, itu yang membuat seorang pemilik grup senilai empat koma dua triliun mengangguk pada kalimat yang isinya kamu salah selama sembilan bulan.
Aku membuka mulut.
“Nggak usah dijawab,” katanya.
“Apa?”
“Kuncinya udah aku kasih ke kamu bulan lalu.”
Dan aku duduk di sana, di balkon yang menghadap timur, dengan gelas di tangan dan kunci apartemen ini di tas yang tergantung di gagang pintu tiga meter di belakangku — kunci yang dia serahkan tanggal empat belas Januari di ruang tamu unit 14A tanpa satu kata pun, yang kuterima sambil mengomel tentang agen properti, yang tidak pernah kami bicarakan lagi sesudahnya.
Sebulan.
Dia sudah menyerahkannya sebulan sebelum kami pindah.
“Rey.”
Dia tidak menoleh.
“Hm.”
Dan aku tidak mengatakan apa-apa.
Bukan karena aku tidak bisa. Untuk pertama kalinya dalam sembilan bulan, bukan karena aku tidak bisa.
Karena tidak ada satu pun kalimat di seluruh persediaanku — tujuh ratus, cadangannya, cadangan dari cadangannya — yang lebih baik daripada duduk diam di kursi kedua di balkon yang menghadap timur, jam sepuluh lewat, dengan seseorang yang sudah menghitung semuanya jauh sebelum aku sempat bertanya.
Jadi aku diam.
Dan orang di sebelahku — yang sudah menghabiskan sebelas tahun percaya bahwa kata itu mahal dan bahwa kalau kamu punya sedikit, kamu harus menaruhnya di tempat yang benar —
— membiarkan keheningan itu ada, tanpa mengisinya, selama sisa malam.
Karena dia tahu persis di mana tempatnya.
— TAMAT —
- 1 Unit Sebelah
- 2 Empat Menit
- 3 Sekat
- 4 Jemuran
- 5 Terlalu Dekat
- 6 Kode
- 7 Kerah
- 8 Pantry
- 9 Tangga Darurat
- 10 Semalem
- 11 Aturan
- 12 Di Bawah Meja
- 13 Delapan Lantai
- 14 Empat Jam
- 15 Dua Kamar
- 16 Bu Lisa
- 17 Bekasi
- 18 Lewat Sekat
- 19 Dua Bagian Kosong
- 20 Meninggikan Suara
- 21 Pintu Depan
- 22 Dua Gelas
- 23 Kain di Sekat
- 24 Mundur
- 25 Jam Satu Pagi
- 26 Pagi
- 27 Ketahuan
- 28 Selesai?
- 29 Berkali-Kali
- 30 Kening
- 31 Nol
- 32 Kuncinya reading