← Balkonnya Masih Kebuka?

Chapter Twenty Three

Kain di Sekat

POV: Lisa


Hari pertama aku menyebutnya sibuk.

Itu masuk akal. Orang punya urusan. Dia bilang ada urusan, dan dia bilang nanti dia kabari, dan Rey Alvaro tidak pernah dalam empat tahun mengatakan sesuatu yang tidak dia maksud.

Hari kedua aku menyebutnya capek.

Kami baru saja melewati satu jam empat puluh menit di dapur selebar satu koma dua meter, dan malam yang mengikutinya, dan aku sendiri juga capek dengan cara yang tidak bisa dijelaskan oleh tidur.

Hari ketiga aku berhenti memberinya nama.


Yang perlu dimengerti tentang hilangnya seseorang yang tinggal enam langkah dari pintumu adalah bahwa dia tidak hilang.

Itu bagian yang paling tidak bisa kutanggung.

Senin pagi dia ada di ruang kerja jam tujuh kurang lima, seperti biasa. Dia menaruh kopi di sisi kiri mejaku jam sepuluh, seperti biasa. Dia menjawab tujuh pertanyaanku sepanjang hari dengan total tiga puluh satu kata, yang kalau dirata-rata sebenarnya di atas rata-ratanya.

Dia tidak dingin. Itu akan lebih mudah.

Dia sopan.

Dan aku duduk di meja yang menempel dengan mejanya selama sembilan jam per hari dan mengerti, perlahan, bahwa aku sedang menonton seseorang menutup pintu dari dalam sambil tetap membiarkan lampunya menyala supaya tidak ada yang curiga.

“Rey.”

“Hm.”

“Bapak kamu gimana?”

Jarinya berhenti setengah detik di keyboard.

“Baik.”

“Baik gimana?”

“Baik.”

Dan dia kembali mengetik, dan aku duduk di sana dengan pertanyaan kedelapan sampai keenam belas berbaris rapi di belakang lidahku, dan tidak melepaskan satu pun, karena aku sudah mencoba tiga kali dalam empat hari terakhir dan ketiganya berakhir di tempat yang sama.

Aku menelepon ibunya hari Selasa malam.

Itu, kalau kalian ingin tahu seberapa jauh keadaannya sudah sampai, adalah ukurannya: aku menelepon ibu seorang laki-laki yang duduk sembilan jam sehari di sebelahku untuk menanyakan hal yang bisa kutanyakan langsung.

“Alhamdulillah udah pulang, Mbak. Sabtu sore.”

“Sabtu?”

“Iya. Masuk IGD Sabtu subuh, terus—” Suara ibunya berhenti. “Lho, Rey nggak bilang?”

“Bilang,” kataku. “Bilang, Bu. Saya cuma mau memastikan.”

Aku menutup telepon dan duduk di lantai unit 14A dengan punggung ke sofa selama entah berapa lama.

Sabtu subuh.

Jam tiga lewat lima puluh dua, kalau menurut ibunya. Yang berarti telepon itu masuk waktu aku ada di ranjang yang sama, kurang dari satu meter darinya. Yang berarti dia keluar ke balkon supaya tidak membangunkanku. Yang berarti dia berdiri di sana — dan aku melihatnya, aku melihat punggung itu jam empat pagi dan berpikir dia sedang menghitung sesuatu dan tidak memanggilnya, karena aku pikir memberi orang ruang adalah bentuk perhatian.

Yang berarti dia membuat dua gelas kopi dan pergi.

Aku menghabiskan malam Selasa dengan marah, yang jauh lebih nyaman daripada alternatifnya.

Aku menghabiskan malam Rabu dengan menyadari bahwa aku tidak berhak marah, karena kalau dia membangunkanku Sabtu subuh, aku akan ikut. Aku tahu itu. Dia tahu itu. Kami berdua tahu persis apa yang akan terjadi dan dia membuat keputusannya berdasarkan pengetahuan itu, dan itu bukan kelalaian.

Itu perhitungan.

Dan aku menghabiskan malam Kamis dengan mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi, dan itu jauh lebih buruk daripada dua malam sebelumnya digabung.

Dia tidak menjauh karena marah soal dua bagian kosong.

Dia menjauh supaya aku berhenti melihat.

Karena selama aku tidak melihat, aku tidak menghitung. Dan selama aku tidak menghitung, aku bisa masuk ke ruang rapat bulan November dan bertanding dengan jujur.

Rey Alvaro sedang mengosongkan dirinya sendiri dari hidupku dengan sangat hati-hati, satu lapisan pada satu waktu, supaya tidak terlihat kosong.

Persis seperti yang kulakukan pada bagian empat dan bagian enam.

Dia belajar itu dariku.


Hari Jumat, Gege berdiri di depan mejaku jam lima sore dan tidak duduk.

“Kamu ikut,” katanya.

“Ge, aku ada—”

“Kamu ikut ke lorong barat dan aku beliin kopi dan kamu boleh nggak ngomong apa-apa, tapi kamu ikut.”

Kami berdiri di depan jendela yang menghadap barat, tempat semua orang Meridian pergi kalau mau bicara tentang hal yang tidak boleh dibicarakan di ruang rapat. Di luar, Jakarta melakukan hal yang selalu dilakukan Jakarta jam lima sore.

Gege menyerahkan gelas kopi.

“Aku nggak akan nanya,” katanya.

“Bagus.”

“Aku mau kasih data.”

“Ge—”

“Rapat harian Senin, kamu ngomong empat menit. Selasa, dua menit lima puluh. Rabu, dua menit sepuluh. Kamis kamu bagi tugas pakai tujuh kalimat dan keluar.” Dia menyeruput kopinya. “Hari ini kamu belum ngomong sama sekali di rapat, Lis. Nadine yang mimpin.”

Aku memandangi kota.

“Aku nyatet,” katanya. “Karena aku selalu nyatet.”

“Aku tau.”

“Lima tahun aku kerja bareng kamu.” Suaranya berubah. “Lima tahun. Dan aku nggak pernah, sekali pun, liat kamu diem di rapat.”

“Orang boleh capek.”

“Orang boleh capek,” setujunya. “Tapi kamu nggak capek. Kamu lagi ngecilin diri sendiri, dan kamu ngelakuinnya rapi banget, dan satu-satunya alasan aku tau adalah karena aku yang nyusun notulennya dan aku bisa liat jumlah barisnya turun tiap hari.”

Aku tidak menjawab.

“Lis.” Gege menaruh gelasnya di ambang jendela. “Aku bilang apa waktu di ruang kerja bulan lalu?”

“Ge.”

“Aku bilang kasihan itu rasanya mirip banget sama sayang. Dan yang satu bikin orang bertahan—”

“—dan yang satu bikin orang malu. Aku inget.”

“Kamu inget dan kamu tetep ngelakuin.”

“Iya,” kataku.

Gege memandangiku lama.

“Yang aku nggak ngerti,” katanya akhirnya, “kamu ngecilin diri buat apa. Karena dari tempat aku berdiri, kamu udah ngasih halaman satu ke dia, kamu udah ngosongin dua bagian di pitch internal, dan sekarang kamu ngasih ruang rapat juga. Terus dianya ngapain?”

Aku membuka mulut.

“Dia nggak minta,” kataku.

“Aku tau dia nggak minta.” Gege mengambil gelasnya lagi. “Itu justru yang bikin ini lebih parah, Lis. Kalau dia minta, kamu bisa marah.”


Sabtu pagi aku pergi ke pasar dan membeli kain.

Aku ingin mencatat bahwa aku tidak merencanakannya. Aku pergi untuk membeli buah dan pulang dengan tiga meter kain kanvas berwarna abu-abu dan seikat tali nilon, dan aku tidak punya penjelasan yang bisa kuberikan kepada siapa pun tentang bagaimana satu berubah menjadi yang lain.

Aku memasangnya sore itu.

Sekat balkon lantai empat belas Verde Residence setinggi dada, dari beton, dengan permukaan atas selebar dua puluh sentimeter yang selama enam bulan dipakai untuk meletakkan gelas.

Aku mengikat kanvas itu dari pipa air di sisi kiri ke pagar balkon di sisi kanan, melintasi seluruh sekat, dan menariknya sampai setinggi kepala.

Butuh empat puluh menit. Talinya kurang panjang dan aku harus turun lagi ke minimarket. Simpul di sisi kanan tidak rapi dan aku mengulanginya tiga kali sampai rapi, karena aku tidak sanggup menyerahkan hal ini dalam keadaan berantakan.

Waktu selesai, balkon 14A tidak lagi menghadap ke mana-mana.

Aku berdiri di depannya sampai gelap.


Jam sebelas malam, aku keluar.

Aku tidak tahu untuk apa. Tidak ada gunanya; itu bagian dari intinya. Aku sudah memasang kain setinggi kepala di antara dua balkon dan tidak ada satu pun alasan rasional untuk berdiri di sisiku sendiri jam sebelas malam.

Aku berdiri di sana dua puluh menit.

Angin bergerak sedikit dan kanvas itu bergerak dengannya, dan di baliknya, satu setengah meter jauhnya, ada garis cahaya tipis di lantai beton yang berasal dari unit sebelah.

Lampunya menyala.

Aku tahu dia di sana. Aku tahu dengan kepastian yang tidak bisa kupertahankan di depan siapa pun. Bukan karena lampunya — lampu bisa menyala sendiri.

Karena selama enam bulan aku sudah belajar mengenali suara orang itu bergerak di dalam unitnya lewat dinding, dan malam itu tidak ada suara sama sekali, dan Rey Alvaro tidak pernah diam kalau dia sedang bekerja; kursinya berdecit, gelasnya diletakkan, ada satu papan lantai di dekat dapurnya yang selalu berbunyi.

Malam itu unit 14B sunyi total.

Yang berarti dia sedang berdiri.

Yang berarti dia sedang berdiri di sisinya sendiri, di balik tiga meter kanvas abu-abu, pada jarak satu setengah meter, dan tidak mengatakan apa-apa.

Aku menyandarkan telapak tanganku ke kain itu.

“Balkonnya masih kebuka?” kataku.

Suaraku keluar sangat pelan. Cukup pelan sehingga aku bisa meyakinkan diriku bahwa aku tidak berniat didengar, kalau nanti aku perlu meyakinkan diriku.

Cukup keras untuk menyeberangi satu setengah meter.

Aku menunggu.

Sepuluh detik. Dua puluh. Satu menit.

Ada motor di jalan bawah dengan knalpot yang tidak seharusnya legal, seperti setiap malam.

Ada kompresor AC di suatu tempat.

Ada tiga meter kanvas abu-abu yang bergerak sedikit waktu angin lewat, dan garis cahaya kuning di lantai beton yang tidak berubah sama sekali.

Aku berdiri di sana empat menit lagi.

Lalu aku masuk, dan menutup pintu kaca, dan menarik tirai — yang belum pernah kutarik sejak malam kelima, sejak malam waktu seseorang bilang sampai kamu tutup — dan duduk di lantai ruang tamu dengan punggung ke sofa dan menangis dengan cara yang sangat tidak efisien dan sangat lama.

Jam satu pagi aku membuka ponselku.

hal-hal.docx

Empat baris tersisa.

Aku menghapus semuanya, satu per satu, dari bawah ke atas.

Baris empat: Ini berhenti bulan November. Baris tiga: Promosi tetap jalan. Baris satu: Kita nggak pacaran.

Layar kosong. Kursor berkedip di halaman putih.

Aku mengetik satu baris baru dan menutup ponsel tanpa membacanya ulang, karena aku tahu kalau kubaca ulang aku akan menghapusnya juga:

1. Tanya dia. Sekali lagi. Yang bener.