Chapter Four
Jemuran
POV: Lisa
Hal yang tidak pernah dijelaskan kepada siapa pun tentang tinggal di apartemen yang dibayari kantor adalah bahwa gedungnya punya kepribadian, dan kepribadian Verde Residence adalah seorang paman yang bermaksud baik tapi tidak kompeten.
Lift kanan mati setiap Rabu. Air panas datang dalam bentuk saran, bukan janji. Dan mesin cuci di lantai empat belas ada dua, untuk empat belas unit, dengan pengering yang sudah lama menyerah, sehingga seluruh lantai menjemur di balkon masing-masing seperti sebuah kampung yang kebetulan disusun secara vertikal.
Sabtu pagi jam delapan, aku mengangkat jemuranku dan menemukan bahwa aku punya empat kaus kaki yang bukan milikku.
Kaus kaki laki-laki. Abu-abu. Dilipat.
Dilipat.
Aku memandangi keempatnya cukup lama sampai kopiku dingin.
Angin semalam kencang. Itu penjelasannya, dan itu penjelasan yang masuk akal, karena sekat balkon setinggi dada tidak menghalangi apa pun yang lebih tinggi dari dada, dan tali jemuran di balkon 14B terpasang lebih tinggi dari tali jemuran di balkon 14A karena orang yang memasangnya jelas lebih tinggi dariku.
Yang tidak masuk akal adalah bagian dilipatnya.
“Kamu nglipetin kaus kaki,” kataku ke sekat.
Balkon 14B kosong.
“Kamu nglipetin kaus kaki sebelum dijemur,” aku mengulang, lebih keras. “Itu nggak normal. Itu bikin nggak kering.”
Pintu kaca 14B terbuka.
Rey keluar dengan celana pendek dan kaus polos dan rambut yang jelas belum bertemu sisir, dan aku mendapati diriku harus melakukan penyesuaian internal yang cepat dan tidak menyenangkan terhadap fakta bahwa Rey Alvaro punya versi yang seperti ini.
“Itu bukan buat kering,” katanya. “Itu biar nggak ilang.”
Aku mengangkat empat kaus kaki abu-abu.
Dia memandanginya. Wajahnya tidak melakukan apa pun.
“Sistemnya gagal,” kataku.
“Sistemnya kena angin.”
“Sistem yang bagus tahan angin, Rey. Itu prinsip dasar.”
“Ini kaus kaki.”
“Ini soal metodologi.”
Dan begitulah Sabtu pagi itu dimulai.
Yang berikutnya terjadi berlangsung selama dua puluh menit dan akan, kalau ada yang merekamnya, sangat sulit dipertahankan sebagai perilaku dua orang dewasa yang sedang bersaing memperebutkan posisi manajerial.
Aku mengembalikan empat kaus kaki dengan cara melemparkannya satu per satu melewati sekat, sambil mengomentari setiap lemparan.
Dia menangkap tiga dan membiarkan satu jatuh ke lantai balkonnya, yang menurutku adalah pernyataan.
“Kamu sengaja nggak nangkep yang keempat.”
“Tangan aku dua.”
“Kamu bisa taruh yang di tangan kiri.”
“Terus yang di tangan kanan?”
“Rey.”
Lalu aku menemukan bahwa satu handuk kecil milikku ada di sisi 14B, tersangkut di kaki kursi lipat, dan menuntut pengembalian dengan bahasa yang, kalau dipikir ulang, mungkin agak berlebihan untuk sebuah handuk.
“Aku nggak ambil handuk kamu.”
“Handuk itu ada di balkon kamu.”
“Angin.”
“Angin nggak selektif, Rey! Angin nggak milih handuk aku doang dari empat belas unit!”
“Kamu yang paling deket.”
Aku membuka mulut. Menutupnya.
“Itu,” kataku, “argumen yang valid dan aku benci itu.”
Dia melempar handukku kembali. Lemparannya, secara tidak adil, sempurna.
“Kamu main basket?” tanyaku, menuduh.
“Nggak.”
“Orang yang nggak main basket nggak bisa lempar handuk selurus itu.”
“Handuknya berat sebelah.”
“Handuknya nggak berat sebelah, Rey, itu handuk—”
“Ada air di ujungnya.”
Aku memeriksa ujung handukku.
Ada air di ujungnya.
“Aku benci kamu,” kataku, ke handuk.
Lalu, karena Sabtu pagi adalah waktu di mana orang membuat keputusan buruk, aku mengambil satu jepitan jemuran dari tali dan melemparkannya ke balkon 14B.
Jepitan itu memantul dari bahunya.
Ada jeda tiga detik yang sangat panjang.
“Kenapa,” katanya, dengan nada seseorang yang sedang mencoba memahami sistem hukum negara asing.
“Nggak ada alasan.”
“Kamu lempar aku pakai jepitan.”
“Aku tau.”
“Kenapa.”
“Karena aku pengin,” kataku, “dan karena kamu nggak akan bales.”
Dia memandangiku.
Lalu dia menunduk, memungut jepitan itu, memasangnya di tali jemurannya sendiri, dan menjemur satu kaus di situ.
“Itu jepitan aku.”
“Sekarang bukan.”
“Rey—”
“Kamu yang lempar.”
Aku berdiri di balkonku dengan mulut setengah terbuka dan menyadari bahwa aku baru saja kalah dalam sebuah pertengkaran mengenai jepitan jemuran, secara telak, kepada orang yang total mengeluarkan sebelas kata.
Sudut mulutnya bergerak. Satu milimeter. Naik. Selama mungkin sepertiga detik.
Aku melihatnya, dan sesuatu di dadaku melakukan hal yang tidak profesional.
“Kamu ketawa.”
“Nggak.”
“Aku liat.”
“Kamu salah liat.”
“Aku ini orang yang lima tahun mbaca ekspresi klien—”
“Terus kenapa kamu selalu kaget waktu klien nolak?”
“REY.”
Yang menyelamatkannya adalah dering ponselku, yang berbunyi di atas meja balkon dengan nama MAMA di layar, dan yang kuangkat tanpa berpikir karena tanganku sedang memegang handuk yang baru saja dilempar balik ke wajahku.
“Halo, Ma.”
“Lisa! Kamu di mana?”
“Di balkon.”
“Ngapain di balkon?”
“Ngambil jemuran.”
“Bagus. Ibu yang mana yang nggak seneng anaknya ngambil jemuran.” Jeda satu detik, yang kukenali sebagai ancang-ancang. “Ngomong-ngomong, tetanggamu udah kenalan belum?”
Aku membeku.
Ponselku, karena hari itu adalah hari yang seperti itu, tidak dalam mode telepon biasa. Ponselku dalam mode loudspeaker, karena aku mengangkatnya dengan siku, dan suara Mama menyeberangi sekat beton setinggi dada dengan kejernihan yang luar biasa.
Rey berhenti melipat handuk.
“Ma, nanti aja—”
“Cowok apa cewek?”
“MA.”
“Mama nanya doang. Kalau cowok, umur berapa?”
Aku menekan tombol volume sampai habis. Terlambat lima kalimat.
“Ma, aku telepon balik.”
“Ganteng nggak?”
Aku menutup telepon.
Balkon menjadi sangat, sangat sunyi.
Di seberang sekat, satu setengah meter, Rey Alvaro melipat handuk dengan konsentrasi seorang ahli bedah.
“Jangan,” kataku.
“Aku nggak ngomong apa-apa.”
“Kamu mikir sesuatu.”
“Aku selalu mikir sesuatu.”
“Rey.”
Dia menyelesaikan lipatannya, meletakkannya di atas sekat, dan berjalan masuk. Di ambang pintu dia berhenti, tanpa menoleh.
“Bilang ke Ibu kamu,” katanya, “dua puluh delapan.”
Pintu tertutup.
Aku berdiri sendirian dengan handukku sendiri di atas sekat beton, dan menyadari — dengan rasa panas yang naik dari leher ke pipi dengan kecepatan yang sangat memalukan — bahwa dari empat pertanyaan ibuku, dia memilih untuk menjawab satu.
Dan itu bukan pertanyaan pertama.
Hal itu terjadi tiga jam kemudian, di depan lift.
Aku turun untuk membeli detergen, karena persediaan detergenku habis, karena tentu saja. Dia turun untuk alasan yang tidak dia jelaskan, karena dia tidak pernah menjelaskan apa pun.
Kami sampai di depan lift dari dua arah pada waktu yang sama, dan tangan kami menyentuh tombol yang sama.
Bukan dorongan. Bukan tabrakan. Punggung tangannya menempel di punggung tanganku, di atas satu tombol plastik bulat yang menyala oranye, dan berhenti di sana.
Aku tidak menarik tanganku.
Ini adalah bagian yang akan kuputar ulang di kepalaku berkali-kali selama tiga hari berikutnya: aku punya waktu. Ada jeda yang cukup panjang untuk menarik tangan. Setengah detik lebih dari cukup, dan aku punya refleks yang bagus.
Aku tidak menariknya.
Dan dia juga tidak.
Angka di atas lift bergerak. Sepuluh. Sebelas. Dua belas.
“Lift kanan mati,” kataku, ke arah pintu lift, karena harus ada yang dikatakan.
“Rabu.”
“Ini Sabtu.”
“Berarti dia bosen.”
Tiga belas.
Kulit tangannya lebih hangat dari yang kuduga, dan itu adalah informasi yang tidak kuminta dan tidak bisa kukembalikan.
Empat belas.
Lift berdenting.
Kami menarik tangan masing-masing pada saat yang persis sama, dengan kecepatan yang persis sama, seperti dua orang yang sama-sama ketahuan.
Pintu terbuka.
Om Bram berdiri di dalam lift dengan seragam keamanan Verde Residence dan sekantong plastik gorengan, dan memandangi kami berdua dengan ekspresi manusia yang telah bekerja tiga puluh satu tahun dan tidak lagi terkejut oleh apa pun.
“Turun?” tanya Om Bram.
“Turun,” kataku, terlalu cepat.
“Turun,” kata Rey, terlalu tenang.
Kami masuk dan berdiri di dua sudut yang berlawanan dari kotak berukuran satu setengah meter kali dua meter, yang secara matematis lebih dekat daripada balkon kami, dan Om Bram menekan tombol lobi dan tidak mengatakan apa-apa selama empat belas lantai.
Di lantai tujuh, dia berdehem.
“Detergen di minimarket sebelah lagi promo,” katanya, ke arah pintu.
“Makasih, Om,” kataku.
“Sama-sama.”
Jeda tiga lantai.
“Yang buat mesin cuci ya, jangan yang buat tangan. Nanti berbusa.”
“Iya, Om.”
Rey, di sudut yang berlawanan, memandangi angka lantai dengan wajah orang yang sedang menghadiri pemakaman.
Telinganya merah.
Aku melihatnya, tepat sebelum pintu terbuka di lobi, dan menghabiskan seluruh perjalanan ke minimarket dengan berusaha keras untuk tidak menyimpulkan apa pun dari sebuah pembuluh darah.
Aku gagal di depan rak detergen.
Aku tersenyum ke arah botol biru selama empat detik penuh, sendirian, di lorong dua, seperti orang tidak waras.
Lalu aku mengambil dua botol — satu untuk mesin cuci, satu lagi karena harganya promo — dan naik kembali ke lantai empat belas.
Di depan lift lantai empat belas, aku berhenti.
Karena aku sudah melihat, sepanjang tiga minggu terakhir, isi mesin cuci di ruang laundri bersama. Dan karena aku tahu — dengan kepastian seorang konsultan yang memang dibayar untuk memperhatikan hal-hal kecil — bahwa botol detergen di rak paling kiri, yang bertuliskan huruf R dengan spidol permanen, sudah tinggal seperempat sejak Rabu.
Orang yang detergennya tinggal seperempat pada hari Rabu akan kehabisan pada hari Minggu.
Orang itu tidak akan pernah mengatakannya kepada siapa pun.
Aku berdiri di depan lift memegang dua botol dan melakukan perhitungan singkat mengenai harga diri, dan sampai pada kesimpulan bahwa harga diri adalah komoditas yang bisa dinegosiasikan asal tidak ada saksi.
Senin pagi jam enam lewat sepuluh, satu botol detergen berdiri di depan pintu 14B.
Tanpa catatan. Tanpa nama.
Jam enam lewat dua puluh lima, waktu aku keluar untuk berangkat kerja, botol itu sudah tidak ada.
Dan di depan pintu 14A ada satu kaus kaki abu-abu.
Dilipat.
- 1 Unit Sebelah
- 2 Empat Menit
- 3 Sekat
- 4 Jemuran reading
- 5 Terlalu Dekat
- 6 Kode
- 7 Kerah
- 8 Pantry
- 9 Tangga Darurat
- 10 Semalem
- 11 Aturan
- 12 Di Bawah Meja
- 13 Delapan Lantai
- 14 Empat Jam
- 15 Dua Kamar
- 16 Bu Lisa
- 17 Bekasi
- 18 Lewat Sekat
- 19 Dua Bagian Kosong
- 20 Meninggikan Suara
- 21 Pintu Depan
- 22 Dua Gelas
- 23 Kain di Sekat
- 24 Mundur
- 25 Jam Satu Pagi
- 26 Pagi
- 27 Ketahuan
- 28 Selesai?
- 29 Berkali-Kali
- 30 Kening
- 31 Nol
- 32 Kuncinya