Chapter Six
Kode
POV: Lisa
Aku membuat keputusan itu pada hari Minggu, jam empat sore, di tengah antrean kasir.
Bukan keputusan yang dramatis. Justru sebaliknya — aku sampai pada keputusan itu dengan cara yang sama seperti aku sampai pada rekomendasi klien: dengan menyadari bahwa ada satu variabel yang tidak kuketahui, dan bahwa seluruh sisa modelku tidak akan pernah stabil selama variabel itu kosong.
Variabelnya adalah ini: Rey Alvaro tertarik sama aku, atau Rey Alvaro cuma begitu?
Karena kalau jawabannya yang kedua, semua yang terjadi tiga minggu terakhir adalah aku salah membaca data, dan aku sangat, sangat tidak nyaman dengan kemungkinan itu.
Dan kalau jawabannya yang pertama—
Aku tidak menyelesaikan kalimatku di kepala. Antreannya maju.
Caraku menangani ketidakpastian, sejak umur delapan tahun, selalu sama: aku menanyakannya keras-keras.
Ini sudah beberapa kali menghancurkan hidupku. Kelas dua SMP aku bertanya kepada seorang anak laki-laki apakah dia menyukaiku, di kantin, dan jawabannya adalah tidak, dan seluruh angkatan mengetahuinya sebelum jam empat. Umur dua puluh dua aku bertanya kepada pembimbing skripsiku apakah beliau sebenarnya membenciku secara pribadi, dan jawabannya adalah jeda tujuh detik yang jauh lebih buruk daripada iya.
Tapi aku selalu keluar dari ruangan itu dengan data.
Data selalu lebih baik daripada tidak ada data. Itu prinsip yang kupercayai sepenuh hati, dan yang sepenuhnya salah dalam kasus ini, meskipun aku belum tahu.
Senin, sepanjang hari, aku gagal total.
Bukan gagal dalam pekerjaan — pekerjaanku baik-baik saja. Gagal dalam hal yang kurencanakan sejak antrean kasir, yaitu mengajukan satu pertanyaan kepada satu orang.
Kesempatan pertama datang jam sembilan lewat dua puluh, di depan mesin kopi. Rey ada di sana. Aku membuka mulut dan yang keluar adalah pertanyaan tentang jadwal rekonsiliasi.
Kesempatan kedua jam sebelas, di lift. Ada empat orang lain di dalam lift.
Kesempatan ketiga jam dua, di ruang kerja, berdua, pintu tertutup. Aku mengucapkan tiga kata pertama dari kalimatku — “Aku mau nanya” — sebelum otakku melakukan penilaian risiko darurat dan membelokkan sisanya menjadi “kamu udah kirim lampiran enam belum.”
“Udah,” katanya.
“Oke.”
“Itu yang mau kamu tanya?”
“Iya.”
Dia memandangiku satu detik lebih lama dari yang diperlukan, lalu kembali ke layarnya.
Jam empat sore, Gege lewat dan berhenti.
“Kamu kenapa jalan bolak-balik?”
“Aku nggak jalan bolak-balik.”
“Lis, kamu udah lewat depan meja aku lima kali dalam dua belas menit. Aku ngitung, karena aku selalu—”
“Kamu selalu ngitung, iya, aku tau.”
Gege menyandarkan pinggul ke meja. “Kamu mau nanya sesuatu ke seseorang dan kamu takut jawabannya.”
Aku berhenti.
“Itu tebakan yang sangat spesifik.”
“Itu bukan tebakan, itu kamu. Kamu selalu jalan bolak-balik kalau mau nanya sesuatu yang kamu udah tau jawabannya.”
“Aku nggak tau jawabannya.”
“Lis.” Gege mengangkat alis. “Kalau kamu nggak tau, kamu nggak akan takut.”
Senin malam. Jam sepuluh lewat empat puluh.
Rey ada di balkonnya, membaca sesuatu di tablet dengan alis yang sedikit berkerut, yang baginya adalah setara dengan orang lain memaki.
Aku keluar dengan dua gelas.
Aku sudah melakukan ini empat kali dalam sebulan terakhir, dan setiap kali aku melakukannya, aku menyusun ulang penjelasanku: kopinya kebanyakan. Airnya kebanyakan. Gelasnya dua, jadi ya sekalian.
Kali ini aku tidak repot menyusun apa pun.
Aku meletakkan satu gelas di atas sekat beton, di titik tengah, di garis pembatas — di tempat yang persis sama dengan tempat dia meletakkan gelasnya minggu lalu, karena aku mencatat hal-hal seperti itu.
Dia meletakkan tabletnya.
“Aku mau nanya sesuatu,” kataku.
“Oke.”
“Dan aku mau kamu jawab jujur, karena kamu selalu jawab jujur, dan itu satu-satunya hal yang aku suka dari kamu.”
“Oke.”
Aku menarik napas.
Kota di bawah kami melakukan hal yang biasa. Jauh di suatu tempat ada motor yang knalpotnya tidak seharusnya legal. Angin bergerak sedikit, membawa panas dari beton yang belum selesai melepas siangnya.
“Kamu naksir aku, ya?”
Ada satu detik.
Satu detik penuh di mana aku bisa mendengar jantungku di telingaku sendiri, dan di mana seluruh rencana cadanganku berbaris rapi di belakang lidahku — becanda, Rey dan aku cuma pengin tau apa kamu bisa panik dan lupain, aku kebanyakan kopi — semuanya siap, semuanya terlatih.
Dia mengangkat wajahnya.
“Iya.”
Dan itu saja.
Tidak ada jeda sebelumnya. Tidak ada tarikan napas. Tidak ada perubahan apa pun di wajahnya, tidak ada usaha untuk melunakkan atau membungkus atau memberi konteks. Dia menjawab pertanyaan itu dengan nada yang persis sama seperti waktu Bu Renata bertanya apakah model konsolidasinya sudah siap.
Iya.
Rencana cadanganku runtuh semuanya sekaligus, seperti rak yang bautnya tidak pernah dikencangkan.
Karena semua rencana itu dibangun untuk menghadapi tidak. Untuk menghadapi elakan, canda, pengalihan, “kamu ini ngomong apa sih”. Aku punya balasan untuk semua itu; aku punya tiga lapis pertahanan dan lapis keempat cadangan.
Aku tidak punya apa-apa untuk iya.
“Kamu—”
Berhenti.
“Kamu nggak—”
Berhenti lagi.
Aku, yang bicara empat menit tanpa jeda di depan dewan direksi, yang tidak pernah kehilangan lantai sekali pun dalam lima tahun karier, berdiri di balkon lantai empat belas dan mengeluarkan tiga suku kata yang tidak menyusun apa pun.
Dia menunggu.
Tidak menikmatinya. Itu bagian yang paling tidak adil. Dia tidak tersenyum, tidak mengangkat alis, tidak melakukan satu pun hal yang akan membuatku berhak marah. Dia cuma berdiri di sana, satu setengah meter jauhnya, dan membiarkan kalimatnya menggantung di udara sampai aku memutuskan apa yang mau kulakukan dengannya.
“Itu curang,” kataku akhirnya.
“Kamu yang nanya.”
“Kamu harusnya—” Aku melambaikan tangan, mencari kata, tidak menemukan kata, melambaikan lagi. “Ngeles dikit! Orang normal ngeles dikit dulu!”
“Kenapa?”
“Karena—” Aku berhenti. “Karena kalau kamu ngeles, aku bisa maksa. Kalau kamu langsung ngaku, aku nggak punya kerjaan.”
Sudut mulutnya bergerak satu milimeter.
“Sejak kapan,” kataku.
“Kamu bilang tadi cuma satu pertanyaan.”
“Aku bohong. Sejak kapan.”
Dia menimbang. Aku bisa melihatnya menimbang, dan itu sendiri sudah merupakan informasi, karena dia tidak pernah menimbang apa pun kecuali sesuatu yang mahal.
“Engagement Sentosa,” katanya. “Tahun lalu.”
“Sentosa itu—” Aku mengernyit. “Itu bukan proyek kita berdua. Aku cuma masuk dua minggu buat backup.”
“Iya.”
“Aku bahkan nggak ngomong ke kamu di proyek itu.”
“Kamu ngomong ke Pak Danang.”
“Aku ngomong ke Pak Danang?”
“Hari Jumat, jam tujuh malam, di ruang enam.” Dia menyandarkan lengan ke sekat. “Dia salah baca tabel, dan tim analisisnya nggak ada yang berani ngomong karena dia partner. Kamu masuk, ngomong lima menit, dan keluar dengan dia mikir itu idenya sendiri.”
Aku membuka mulut.
“Aku duduk di belakang,” katanya. “Kamu nggak liat.”
Ada sesuatu yang sangat aneh terjadi di dadaku, sesuatu yang terasa seperti seluruh lantai bergeser satu derajat.
Setahun. Setahun penuh di mana aku menganggap dia tidak pernah melihatku sebagai apa pun kecuali hambatan.
“Kamu ketawa,” kataku.
“Nggak.”
“Aku liat.”
“Kamu selalu ngomong kamu liat.”
“Karena aku selalu liat!”
Dia mengambil gelas dari sekat. Meminumnya. Meletakkannya kembali di titik yang sama, satu sentimeter lebih dekat ke sisiku, dan aku melihat sentimeter itu dan membencinya karena aku tahu aku akan memikirkannya nanti.
“Sekarang giliran aku,” katanya.
“Nggak ada giliran.”
“Kamu bikin aturannya barusan.”
“Aku nggak—”
“Kamu naksir aku, ya?”
Aku membuka mulut.
Dan menemukan, dengan kejelasan yang menghancurkan, bahwa aku tidak bisa mengatakan tidak.
Bukan karena tidak mau berbohong. Aku bisa berbohong; aku berbohong ke klien setiap minggu dengan cara yang sangat halal secara profesional. Tapi berbohong butuh persiapan, dan persiapan butuh waktu, dan aku sudah menghabiskan seluruh persediaan waktuku untuk tidak menjawab pertanyaan sebelumnya.
“Aku nggak akan jawab itu,” kataku.
“Oke.”
“Bukan karena jawabannya iya.”
“Oke.”
“Rey.”
“Aku bilang oke.”
“Kamu bilang oke dengan nada yang artinya bukan oke!”
“Aku punya satu nada.”
“Itu bohong dan kita berdua tau itu bohong.”
Dia menyandarkan lengan ke sekat beton. Jaraknya berkurang lagi — dan aku mendapati diriku, tanpa memutuskan, ikut menyandar, sehingga sekarang kami berdua bersandar ke dua sisi dari benda yang sama dan jarak antara wajah kami mungkin tujuh puluh sentimeter.
“Aku nggak akan tanya lagi,” katanya pelan.
“Bagus.”
“Tapi aku nggak akan lupa kamu nggak bilang nggak.”
Aku menoleh terlalu cepat, dan itu adalah kesalahan, karena sekarang wajahku menghadap wajahnya pada jarak yang tidak bisa dijelaskan kepada siapa pun.
Aku bisa melihat bahwa dia belum bercukur sejak pagi. Aku bisa melihat bahwa ada bekas lipatan kerah di lehernya. Aku bisa melihat bahwa mata orang ini, yang selama dua tahun kuanggap kosong, sebenarnya tidak kosong sama sekali — cuma tertutup, seperti pintu yang selalu ditutup rapat sehingga orang lupa bahwa di baliknya ada ruangan.
Pintunya sedang tidak tertutup.
Aku mundur satu langkah.
“Aku masuk,” kataku.
“Oke.”
“Besok kita rapat jam sembilan.”
“Aku tau.”
“Dan aku akan menghancurkan kamu di rapat itu.”
“Aku tau.”
Aku berjalan ke pintu kacaku. Membukanya. Berhenti.
Dan kemudian, karena aku tidak bisa menahan diri, karena aku tidak pernah bisa menahan diri, aku menoleh dan mengucapkan kalimat yang akan kami bawa jauh lebih lama daripada yang bisa kubayangkan malam itu:
“Balkonnya masih kebuka?”
Dia menatapku.
“Sampai kamu tutup,” katanya.
Aku tidak menutupnya.
Aku masuk, menaruh gelas di wastafel, menyikat gigi, mematikan lampu, dan berbaring di ranjang dengan pintu kaca yang masih terbuka lebar dan tirai yang tidak ditarik, dan udara Jakarta jam sebelas masuk ke dalam kamarku bersama suara kota.
Jam dua belas kurang seperempat aku bangun untuk minum.
Balkon 14B masih terang.
Jam satu, waktu aku bangun karena tidak bisa tidur dan bukan karena alasan lain, masih terang.
Jam setengah dua aku berdiri di ambang pintu kacaku, dalam gelap, dan melihat ke seberang sekat, dan dia masih di sana — duduk di kursi lipat rendah itu, dengan tablet di pangkuan yang jelas-jelas sudah lama tidak dia baca.
Dia tidak bergerak. Aku juga tidak.
Dua orang, satu setengah meter, satu balkon yang tidak ditutup.
Aku kembali ke ranjang tanpa mengatakan apa pun, dan tidur untuk pertama kalinya dalam seminggu tanpa memikirkan rapat besok pagi sama sekali, dan bangun jam enam dengan satu kesadaran yang sangat jelas dan sangat tidak berguna:
Aku sudah kalah, dan permainannya belum dimulai.
- 1 Unit Sebelah
- 2 Empat Menit
- 3 Sekat
- 4 Jemuran
- 5 Terlalu Dekat
- 6 Kode reading
- 7 Kerah
- 8 Pantry
- 9 Tangga Darurat
- 10 Semalem
- 11 Aturan
- 12 Di Bawah Meja
- 13 Delapan Lantai
- 14 Empat Jam
- 15 Dua Kamar
- 16 Bu Lisa
- 17 Bekasi
- 18 Lewat Sekat
- 19 Dua Bagian Kosong
- 20 Meninggikan Suara
- 21 Pintu Depan
- 22 Dua Gelas
- 23 Kain di Sekat
- 24 Mundur
- 25 Jam Satu Pagi
- 26 Pagi
- 27 Ketahuan
- 28 Selesai?
- 29 Berkali-Kali
- 30 Kening
- 31 Nol
- 32 Kuncinya