← Balkonnya Masih Kebuka?

Chapter Thirteen

Delapan Lantai

POV: Lisa


Nadine Pramesti berumur dua puluh empat tahun, sangat kompeten, dan sama sekali tidak berusaha menyembunyikan apa pun.

Aku menghormatinya karena itu. Aku juga, pada hari Selasa jam dua belas lewat sepuluh, ingin sekali dia berhenti.

“Rey,” kata Nadine, berdiri di sisi meja kami dengan tas selempang yang sudah dipakai. “Makan siang?”

Aku tidak mengangkat kepalaku dari layar.

Ini penting. Aku mencatatnya. Aku tidak mengangkat kepalaku dari layar, dan itu membuktikan bahwa aku adalah orang dewasa yang berfungsi.

“Aku bawa bekal,” katanya.

“Kamu selalu bawa bekal.”

“Iya.”

“Itu karena hemat atau karena kamu nggak suka keluar?”

Jeda.

“Dua-duanya.”

Nadine tertawa. Tawanya bagus. Aku membenci fakta bahwa aku mencatat itu.

“Ya udah, Kamis?”

“Kamis aku ada di Cirebon.”

“Jumat?”

“Nadine.”

“Iya?”

“Nggak,” katanya. Datar, tidak kasar, dan sangat jelas. “Makasih.”

“Oke.” Nadine mengangkat bahu dengan ringan, seperti orang yang sudah menyiapkan diri untuk jawaban itu dan tetap menganggap pertanyaannya sepadan. “Aku nanya lagi tahun depan.”

Dia pergi.

Aku mengetik satu paragraf yang sepenuhnya tidak masuk akal ke dalam catatan rapatku.

“Kamu ngetik apa?” tanyanya.

“Kerjaan.”

“Kamu ngetik kata ‘gudang’ delapan kali berturut-turut.”

Aku menghapus baris itu.

“Dia lucu,” kataku.

“Hm.”

“Nadine. Dia lucu.”

“Oke.”

“Dan pinter.”

“Iya.”

“Dan dua puluh empat.”

Dia berhenti mengetik.

“Kamu lagi apa?”

“Aku lagi ngasih informasi objektif.”

“Lisa.”

“Aku lagi—” Aku menutup laptopku, membukanya lagi karena menutup laptop terlalu dramatis, dan menatap layar. “Nggak apa-apa. Aku laper. Kalau aku laper aku jadi orang jahat.”

Dia mengambil sesuatu dari tasnya dan meletakkannya di sisi kiri mejaku.

Kotak bekal. Yang kedua.

Aku menatapnya.

“Kamu bawa dua?”

“Iya.”

“Sejak kapan?”

“Empat hari.”

“Kenapa kamu nggak bilang?”

“Karena kamu nggak pernah minta,” katanya, “dan kamu selalu makan.”

Aku membuka kotak itu dan menemukan nasi, telur dadar yang dipotong rapi, dan tumis buncis, dan sesuatu di dadaku melakukan hal yang sangat tidak profesional di lantai dua puluh satu gedung Meridian.

“Ini nggak masuk aturan dua,” katanya, dengan mulut penuh.

“Nggak,” setuju Rey.

“Ini kolegial.”

“Iya.”

“Kolegial banget.”

“Hm.”

Aku makan seluruhnya dan tidak mengatakan terima kasih, karena aku belum siap untuk itu, dan dia tidak menunggu.


Jam tujuh malam, tim analis pulang.

Jam delapan, Gege pulang, dengan pandangan panjang ke arah dua meja yang menempel itu yang kuputuskan untuk tidak kutafsirkan.

Jam sembilan, kami menyerah.

“Cirebon Kamis,” katanya di lorong. “Kamu ikut?”

“Renata bilang dua orang.”

“Iya.”

“Berarti aku ikut.”

“Empat jam di mobil.”

“Aku tau berapa jam ke Cirebon, Rey.”

Kami masuk lift.

Lift kosong.

Pintu menutup, dan aku menyadari — dengan bagian otakku yang selalu menghitung, yang tidak pernah libur — bahwa kami berada di lantai dua puluh satu, bahwa lobi ada di lantai satu, dan bahwa ada dua puluh lantai di antaranya.

Aku menekan tombol lantai basement.

“Mobil kamu di lobi,” katanya.

“Aku tau.”

“Basement dua lantai lebih jauh.”

“Aku tau.”

Dan aku berdiri di sana dengan punggung tegak dan wajah lurus ke depan seperti orang yang tidak baru saja melakukan apa-apa, dan menghitung lantai.

Dua puluh.

Sembilan belas.

Delapan belas.

Dia bergerak di lantai tujuh belas.

Bukan ke arahnya. Ke arah panel.

Dan menekan tombol berhenti.


Lift itu berhenti dengan sentakan kecil di antara lantai tujuh belas dan enam belas, dan lampu darurat kecil menyala di panel, dan seluruh dunia tiba-tiba menjadi kotak logam berukuran satu setengah kali dua meter.

“Kamu—” kataku.

Dia sudah di depanku.

“Ini gedung Meridian,” kataku.

“Iya.”

“Aturan dua.”

“Kamu yang mencet basement.”

“Itu bukan—”

Tangannya di pinggangku, memutar tubuhku setengah, punggungku ke dinding logam yang dingin — persis gerakan pantry, persis, kecuali kali ini tidak ada gula dan tidak ada yang berpura-pura.

“Kamu mau aku lepas?” tanyanya.

Wajahnya sepuluh sentimeter.

“Nggak,” kataku.

Dan dia tidak mencium mulutku.

Dia menunduk ke leherku — ke titik persis di bawah telinga, dua sentimeter yang sama, tempat yang sama dengan pagi ketika kerah blazer biru itu terlipat — dan aku mendengar suara yang keluar dari diriku sendiri memantul di kotak logam itu dan tidak punya satu pun cara untuk menariknya kembali.

Tanganku mencengkeram lengan jasnya.

Delapan lantai.

Itu yang kemudian kuhitung, karena tentu saja aku menghitung, karena bahkan dalam keadaan seperti ini bagian otakku yang menghitung tetap bekerja: kalau lift bergerak dengan kecepatan normal, delapan lantai adalah sekitar dua puluh detik.

Kami berhenti jauh sebelum itu.

Bukan karena ada yang ingin berhenti.

Karena speaker kecil di panel lift berbunyi, dan sebuah suara dari pusat kendali gedung berkata, dengan nada yang sangat bosan:

“Halo? Lift tiga? Ada masalah?”

Dia menekan tombol berhenti sekali lagi, dan lift bergerak, dan dia mundur setengah langkah dan membetulkan jasnya dalam waktu kurang dari dua detik.

“Nggak ada,” katanya ke arah panel. “Kepencet.”

“Oke, Pak.”

Aku menekan kedua telapak tanganku ke wajahku.

“Kamu gila,” kataku, teredam.

“Kamu yang mencet lantai basement.”

“Aku mencet lantai basement, bukan tombol berhenti!”

“Kamu mencet basement,” katanya, “dan kamu nggak ngomong apa-apa selama empat lantai. Kamu nggak pernah nggak ngomong selama empat lantai.”

Aku menurunkan tanganku.

“Itu—” kataku. “Itu observasi yang sangat nggak sopan.”

“Iya.”

Lift berhenti di basement.

Pintu terbuka ke ruang parkir yang kosong dan berbau beton.

Kami berdiri di dalam selama dua detik lagi.

“Rey.”

“Hm.”

“Kamera.”

Dia berhenti bergerak.

Aku melihat, untuk pertama kalinya sejak aku mengenal orang ini, ekspresi yang bisa dikategorikan sebagai panik — sangat kecil, sangat singkat, tapi ada.

“Ada kamera di lift,” ulangku.

“Iya.”

“Rey.”

“Aku tau.”

“Kenapa kamu nggak mikir?”

“Aku mikir,” katanya, dan suaranya masih belum stabil. “Aku mikir dua puluh menit sebelum kita masuk lift. Aku mikir sepanjang lorong. Terus kamu mencet basement.”

Dia keluar dari lift.

Aku berdiri sendirian di kotak logam itu selama tiga detik penuh, dengan lampu neon di atas kepalaku dan pantulan diriku sendiri di pintu, dan mengucapkan — kepada tidak seorang pun, dengan nada seseorang yang mengumumkan hasil resmi:

“Tiga.”


Keesokan paginya, jam delapan lewat sepuluh, Gerald Tanuwijaya menaruh gelas kopi di mejaku dan tidak duduk.

“Lis.”

“Hm.”

“Kamu tau aku kerja bareng anak-anak IT buat migrasi arsip, kan.”

Aku mengangkat kepalaku dengan sangat pelan.

“Iya.”

“Dan kamu tau CCTV gedung itu masuk sistem yang sama.”

Aku meletakkan pulpenku.

“Ge.”

“Aku nggak liat apa-apa,” kata Gege. “Sumpah. Aku nggak buka apa pun. Aku cuma denger Pak Yudi dari kendali gedung ngomong sama temennya pagi ini soal lift tiga yang kepencet berhenti jam sembilan lewat dua belas semalem.”

Aku tidak bergerak.

“Dan aku inget,” lanjut Gege, dengan nada yang sangat hati-hati, “kamu bilang kemarin kamu pulang jam delapan.”

Diam.

“Aku bikin kopi,” kata Gege, dan pergi.

Aku menatap layarku selama satu menit penuh.

Lalu aku membuka ponselku, membuka hal-hal.docx, dan menghapus baris nomor dua.

Bukan mengubahnya. Menghapusnya.

Karena aturan yang sudah dilanggar tiga kali bukan aturan, dan aku lebih memilih dokumen yang jujur daripada dokumen yang benar.