Chapter Five
Terlalu Dekat
POV: Rey
Orang mengira aku tidak banyak bicara karena aku tidak punya banyak yang ingin dikatakan.
Kenyataannya terbalik, dan kenyataannya membosankan: aku berhenti bicara waktu umur tujuh belas, di ruang tunggu sebuah rumah sakit di Bekasi, waktu aku menghabiskan empat jam menjelaskan kepada seorang perempuan di balik kaca kenapa keluargaku butuh keringanan, dan perempuan itu mendengarkan seluruhnya dengan sopan, lalu menggeleng.
Empat jam. Ratusan kalimat. Nol.
Dua minggu kemudian pamanku masuk ke ruangan yang sama, mengatakan sembilan kata ke orang yang tepat, dan urusannya selesai.
Aku tidak menarik kesimpulan yang dramatis dari itu. Aku menarik kesimpulan yang praktis, yaitu bahwa jumlah kata dan hasil tidak berkorelasi, dan bahwa kalau kamu punya sedikit, kamu harus menaruhnya di tempat yang benar.
Sejak itu aku menaruhnya di tempat yang benar.
Itu bekerja dengan sangat baik selama sebelas tahun, di sekolah, di kampus, di dua firma, sampai seorang perempuan pindah ke unit 14A dan mulai bicara empat ratus kata per menit di seberang sekat beton, dan aku mendapati diriku, untuk pertama kalinya sejak umur tujuh belas, menghitung ulang persediaanku.
Kamis adalah hari yang buruk untuk semua hal, karena Kamis adalah salah satu dari tiga hari itu.
Aku menelepon jam enam pagi, sebelum berangkat, seperti biasa. Ibuku yang mengangkat.
“Udah berangkat?”
“Belum, Bu. Bapak gimana?”
“Ya gitu.” Suara kursi digeser. “Tadi malem agak susah tidur, tapi pagi ini udah mau makan.”
“Habis berapa?”
“Rey.”
“Habis berapa, Bu.”
Jeda.
“Setengah.”
Aku mencatatnya, di kepala, di kolom yang sudah ada di sana sejak dua tahun lalu.
“Nanti sore aku transfer buat yang Sabtu.”
“Nggak usah, kemarin—”
“Bu.”
“Ya udah.” Ibuku menghela napas dengan cara yang sudah kuhafal, cara yang berarti kita akan bertengkar soal ini lagi bulan depan. “Kamu jangan lupa makan.”
“Iya.”
“Rey.”
“Iya, Bu.”
“Kamu udah tiga minggu nggak cerita apa-apa.”
Aku berdiri di dapur unit 14B dengan ponsel di telinga dan pintu kaca yang setengah terbuka, dan di seberang sekat beton ada suara seseorang yang sedang mencari kunci sambil mengomel kepada tasnya sendiri.
“Nggak ada yang perlu diceritain, Bu,” kataku.
Itu adalah kebohongan pertama yang kuucapkan kepada ibuku dalam sebelas tahun.
Kamis malam, jam sepuluh lewat empat puluh, dan lantai dua puluh satu kosong.
Kosong dalam arti sesungguhnya: lampu utama sudah mati sendiri jam sepuluh karena sensornya, dan yang menyala tinggal lampu darurat di lorong dan satu meja di sudut timur. Dari luar, gedung Meridian jam segini terlihat seperti papan sirkuit yang hampir mati, dengan satu titik yang masih menyala keras kepala.
Titik itu adalah meja Lisa Hartawan.
Aku berjalan ke arah pantry, dan tidak sampai ke pantry.
Aku berhenti tiga meter di belakang kursinya, dengan alasan yang cukup masuk akal untuk ditulis di formulir: layarnya memperlihatkan model konsolidasi Helios, versi yang harusnya sudah dikunci sejak Senin, dan angka di baris tiga puluh dua bergerak.
Baris tiga puluh dua seharusnya tidak bergerak.
“Aku tau kamu di belakang aku.”
Dia tidak menoleh. Punggungnya tetap ke arahku, dan tangannya tetap di keyboard.
“Kamu bisa liat pantulannya di jendela,” kataku.
“Aku bisa denger sepatu kamu.”
“Sepatu aku nggak bunyi.”
“Makanya.” Dia menekan enter. “Semua orang di lantai ini bunyi. Kamu satu-satunya yang jalan kayak orang mau nyuri sesuatu.”
Aku mendekat.
Aku melakukannya tanpa memutuskan untuk melakukannya, yang adalah hal yang tidak pernah terjadi padaku, dan yang akan kupikirkan lagi nanti malam dengan perasaan yang tidak nyaman.
Dua langkah. Lalu satu lagi.
Sekarang aku berdiri tepat di belakang kursinya, cukup dekat untuk meletakkan tangan di sandaran, yang kemudian kulakukan.
Dia berhenti mengetik.
Bahunya naik setengah senti. Bukan menegang — aku tahu bedanya, aku pernah melihatnya menegang di depan Bu Renata dan itu terlihat sangat berbeda. Ini sesuatu yang lain. Ini tubuh yang menyadari sesuatu sebelum orangnya sempat memutuskan bagaimana bereaksi.
Rambutnya diikat asal, dan ada satu helai di tengkuknya yang lepas, dan aku mendapati diriku melihat helai itu jauh lebih lama daripada yang bisa kubenarkan dengan alasan apa pun tentang baris tiga puluh dua.
“Baris tiga puluh dua,” kataku.
“Kenapa dengan baris tiga puluh dua?”
“Kamu ubah asumsinya.”
“Aku memperbaiki asumsinya.”
“Deck-nya udah dikirim ke Bu Renata jam enam.”
“Makanya aku ngerjain jam sepuluh.” Dia memutar kursinya empat puluh lima derajat, yang berarti sekarang wajahnya berada dua puluh sentimeter dari lenganku. “Karena kalau aku ngerjain jam enam, aku harus ngasih tau kamu.”
Aku tidak bergerak.
“Kamu bisa liat dari sana,” katanya.
Suaranya keluar setengah nada lebih rendah dari biasanya.
Aku melihat ke layar, lalu ke bawah, ke wajah yang menengadah ke arahku dengan ekspresi yang bermaksud menantang dan gagal di bagian mulutnya.
“Bisa,” kataku.
Dan tidak mundur.
Ini adalah bagian yang, secara profesional, tidak bisa kupertahankan. Aku tahu itu. Ada kamera di sudut timur, ada kebijakan, ada seribu alasan untuk mengambil satu langkah ke belakang dan berdiri di tempat yang wajar.
Yang kurasakan malah semacam ketenangan yang aneh — kesadaran bahwa aku sedang berdiri di titik yang jelas-jelas salah dan tidak berniat pindah.
Satu detik. Dua.
Dia yang mengalihkan pandangan duluan.
Dan aku mendaftarkan itu, di suatu tempat di dalam diriku, sebagai kemenangan yang tidak kuinginkan.
“Asumsi kamu salah,” kataku, dan menunjuk ke layar melewati bahunya, yang berarti lenganku sekarang melintas di depan wajahnya. “Bukan angkanya. Cara kamu bacanya.”
“Jelasin.”
“Kamu pakai tiga tahun rata-rata.”
“Karena datanya tiga tahun.”
“Tahun keduanya ada relokasi gudang.” Ujung jariku menyentuh layar, meninggalkan noda. “Biayanya masuk dua kali. Kalau kamu rata-ratain, kamu bawa hantu itu ke seluruh proyeksi.”
Dia diam.
Lalu dia menarik keyboard-nya, dan mulai mengetik ulang, cepat.
“Sialan,” katanya.
“Iya.”
“Ini bakal makan dua jam.”
“Satu setengah.”
“Kamu ngitung?”
“Aku pernah ngerjain.”
Dia berhenti mengetik. Menoleh lagi, dan sekarang jaraknya lebih dekat karena dia sudah maju ke arah meja, dan aku masih belum mundur, dan situasinya sudah berkembang menjadi sesuatu yang sulit dijelaskan ke divisi SDM.
“Kenapa kamu ngasih tau aku?”
Ini pertanyaan yang sama dengan malam di balkon. Aku menyadari dia mengajukan pertanyaan yang sama untuk kedua kalinya, dengan kata yang persis sama, dan bahwa itu berarti jawabanku yang pertama tidak diterima.
“Karena kamu bakal ketahuan di rapat Senin,” kataku.
“Bagus buat kamu.”
“Nggak.”
“Rey.” Dia menyandarkan siku ke sandaran kursi, dan aku harus memindahkan tanganku, dan tangan kami bersentuhan lagi selama seperempat detik dan dua-duanya berpura-pura tidak. “Kita lagi rebutan satu kursi. Aku ketahuan salah di depan Bu Renata itu literally hal terbaik yang bisa kejadian ke kamu bulan ini.”
“Iya.”
“Terus?”
Aku menimbang kalimatku. Aku punya beberapa. Semuanya jujur; itu masalahnya.
Yang kupilih adalah yang paling murah.
“Aku nggak mau menang dari orang yang lagi capek.”
Dia memandangiku.
Sesuatu bergerak di wajahnya, sesuatu yang lebih pelan dan lebih dalam daripada semua ekspresi cepat yang biasa dia pakai, dan aku merasakan dorongan yang sangat kuat untuk mundur dua langkah.
Aku tidak mundur.
“Itu,” katanya pelan, “hal paling sombong yang pernah aku denger.”
“Iya.”
“Kamu ngomongnya kayak kamu udah menang, terus kamu nunggu aku sehat dulu.”
“Iya.”
“Kamu—” Dia berdiri, mendorong kursi ke belakang, yang membuat jarak kami nol koma nol untuk sepersekian detik sebelum dia melangkah ke samping. “Aku benci kamu.”
“Aku tau.”
“Duduk.”
“Apa?”
Dia menarik kursi kosong dari meja sebelah dan mendorongnya ke arahku dengan kaki, terlalu keras, sehingga kursi itu berputar setengah lingkaran dan berhenti menabrak kaki meja.
“Duduk,” ulangnya. “Kamu yang nemuin relokasi gudangnya, kamu yang bantuin aku benerin. Satu setengah jam, katanya.”
“Ini model kamu.”
“Ini model yang kamu rusakin jam sebelas malam.” Dia sudah kembali ke keyboard. “Kalau kamu mau menang, menang aja hari Senin. Tapi malam ini kamu duduk.”
Aku berdiri di sana selama tiga detik.
Lalu aku menarik kursi itu, mendudukkan diri di sebelahnya, cukup dekat untuk melihat layar dan terlalu dekat untuk alasan apa pun.
Kami bekerja sampai jam satu lewat dua puluh.
Dan di suatu titik — aku tidak bisa menentukan kapan persisnya, yang mengganggu, karena aku biasanya bisa menentukan kapan persisnya untuk semua hal — pekerjaan itu berhenti terasa seperti pekerjaan.
Dia bicara sambil mengetik. Terus-menerus. Tentang model, tentang klien, tentang seorang dosen statistik yang dia benci di semester lima, tentang kenapa gedung Meridian memasang keran otomatis yang tidak pernah menyala pada percobaan pertama. Sembilan puluh persennya tidak relevan dengan apa pun.
Aku tidak menyuruhnya diam.
Itu bagian yang kuperhatikan sendiri, dengan semacam ketidaknyamanan klinis. Sebelas tahun terakhir aku selalu bekerja dalam sunyi, dan pernah pindah meja dua kali karena orang di sebelahku bersenandung.
Sekarang ada seseorang yang mengeluarkan empat ratus kata per menit di jarak lima puluh sentimeter dari telingaku, dan yang kurasakan adalah — dan aku benar-benar mencari kata lain sebelum menyerah pada yang ini — tenang.
Jam dua belas lewat empat puluh, dia berhenti bicara di tengah kalimat.
Aku menoleh.
Dia tertidur. Duduk tegak, dengan tangan masih di keyboard, kepala miring ke arah bahu kanan. Napasnya pelan.
Aku duduk di sana selama satu menit penuh dan tidak melakukan apa-apa.
Lalu aku menyimpan file, menutup laptopnya, dan menggeser kursiku sendiri lima sentimeter ke kanan sehingga kalau kepalanya jatuh lebih jauh, dia akan mendarat di sesuatu.
Dia bangun sembilan menit kemudian, dengan suara “hah” yang sangat tidak elegan, dan langsung melanjutkan kalimat yang tadi terputus seakan-akan tidak terjadi apa-apa.
Aku tidak menyinggungnya.
Aku juga tidak menggeser kursiku kembali.
Hal yang tidak kukatakan malam itu, dan yang membuat semua yang datang sesudahnya jauh lebih rumit dari seharusnya:
Aku sudah tahu soal relokasi gudang sejak hari Selasa.
Aku menemukannya waktu memeriksa dokumen sumber, dan aku menyimpannya, seperti aku menyimpan segalanya, di halaman terakhir buku catatan abu-abu itu. Kalau dia membawa model itu ke rapat Senin, aku akan menunjukkannya di menit ke dua belas dan urusannya selesai.
Aku sudah menyiapkan kalimatnya. Sembilan kata. Ditulis, di halaman terakhir, seperti orang lain menulis daftar belanja.
Yang kulakukan malam itu, jam sepuluh lewat empat puluh, adalah berjalan ke pantry dan berhenti di tengah jalan karena melihat satu lampu meja masih menyala, dan berdiri di belakang kursi seseorang, dan membuang sembilan kata itu.
Untuk apa, aku belum tahu.
Yang aku tahu, waktu kami turun ke lobi jam setengah dua dan dia masih mengomel tentang relokasi gudang di dalam lift dengan volume yang jelas melanggar peraturan gedung, adalah bahwa aku menghitung.
Bukan detik. Bukan lagi.
Jarak. Sebelas sentimeter di dalam lift. Satu setengah meter di balkon. Dua puluh sentimeter tadi, di depan layar, dengan satu helai rambut lepas di tengkuk.
Dan angka-angka itu, untuk pertama kalinya seumur hidupku, tidak menuju ke mana-mana yang berguna.
- 1 Unit Sebelah
- 2 Empat Menit
- 3 Sekat
- 4 Jemuran
- 5 Terlalu Dekat reading
- 6 Kode
- 7 Kerah
- 8 Pantry
- 9 Tangga Darurat
- 10 Semalem
- 11 Aturan
- 12 Di Bawah Meja
- 13 Delapan Lantai
- 14 Empat Jam
- 15 Dua Kamar
- 16 Bu Lisa
- 17 Bekasi
- 18 Lewat Sekat
- 19 Dua Bagian Kosong
- 20 Meninggikan Suara
- 21 Pintu Depan
- 22 Dua Gelas
- 23 Kain di Sekat
- 24 Mundur
- 25 Jam Satu Pagi
- 26 Pagi
- 27 Ketahuan
- 28 Selesai?
- 29 Berkali-Kali
- 30 Kening
- 31 Nol
- 32 Kuncinya