Chapter Twenty Two
Dua Gelas
POV: Rey
Telepon itu masuk jam tiga lewat lima puluh dua.
Aku bangun sebelum getaran kedua, karena aku selalu bangun sebelum getaran kedua, karena selama dua tahun terakhir ada satu nomor di ponselku yang tidak pernah menelepon pada jam itu untuk hal yang baik.
Aku keluar ke balkon supaya suaraku tidak membangunkannya.
“Bu.”
“Rey.” Suara ibuku sudah bukan suara yang mencoba menenangkan. Itu yang pertama kali kudengar. “Bapak sesak. Dari jam dua. Ini udah di IGD.”
“IGD mana.”
“Yang biasa.”
“Aku ke sana.”
“Nggak usah, ini udah ditangani, kamu kerja—”
“Bu.”
Jeda.
“Ya udah,” katanya. “Hati-hati.”
Aku menutup telepon dan berdiri di balkon unit 14A dengan siku di sekat beton dan tidak masuk ke dalam.
Langit Jakarta jam empat pagi itu berubah dari hitam ke abu-abu dalam waktu yang jauh lebih lama daripada yang orang kira. Ada burung di suatu tempat. Ada motor pertama di jalan bawah.
Dan di dalam, sembilan meter di belakangku, ada seseorang yang tertidur di ranjangnya sendiri dengan lengan yang sepanjang malam menempel di lenganku, yang enam jam lalu berteriak sesuatu di ruang kerja lantai dua puluh satu yang belum kubalas, dan yang kalau kubangunkan sekarang akan bangkit dalam waktu empat detik dan ikut ke Bekasi tanpa bertanya apa pun.
Aku tahu itu dengan kepastian penuh.
Itu masalahnya.
Aku berdiri di sana selama empat puluh menit dan mengerjakan satu perhitungan yang sudah kuhindari selama enam bulan, dan pada akhirnya perhitungan itu selesai, dan hasilnya tidak menyenangkan dan sangat jelas.
Kalau aku membangunkannya, dia ikut.
Kalau dia ikut, dia melihat.
Kalau dia melihat — bapakku dengan selang di IGD jam lima pagi, ibuku menandatangani sesuatu, angka di layar kasir yang tidak perlu kubaca karena aku sudah hafal — maka dia tidak akan pernah lagi bisa masuk ke ruang rapat pada bulan November dan bertanding dengan jujur.
Dia sudah kehilangan dua bagian dari tujuh cuma karena mendengar satu angka di dalam mobil.
Aku tidak sanggup menghitung berapa yang akan dia lepas kalau dia melihat sendiri.
Jam empat lewat empat puluh aku masuk.
Aku membuat dua gelas kopi, karena aku sudah membuat dua gelas setiap pagi selama tiga minggu terakhir dan tanganku melakukannya sebelum kepalaku sempat memutuskan. Aku meletakkan keduanya di meja pantry.
Aku mengambil kemejaku dari lantai.
Lalu aku berdiri di ambang pintu kamar selama mungkin sepuluh detik, dan melihat bentuk seseorang di bawah selimut dengan satu tangan menjulur ke sisi ranjang yang sudah kosong, dan tidak membangunkannya.
Aku menutup pintu depan pelan.
Lift lantai empat belas berdenting jam empat lewat lima puluh tiga.
IGD rumah sakit di Bekasi jam setengah enam pagi punya kualitas cahaya yang tidak dimiliki tempat lain di dunia — putih, rata, tanpa bayangan, dirancang oleh orang yang memutuskan bahwa pada jam ini tidak ada gunanya berpura-pura.
Bapak sudah stabil waktu aku sampai.
Itu yang pertama dikatakan perawatnya, dan itu kalimat yang, dalam pengalaman dua tahunku, berarti antara “dia baik-baik saja” dan “dia akan baik-baik saja sampai lain kali”.
“Rey,” katanya, dari balik masker oksigen, dengan suara yang tidak seharusnya dia pakai. “Kamu bolos kerja.”
“Ini hari Sabtu, Pak.”
“Oh.” Dia menutup matanya. “Bagus.”
Ibu duduk di kursi plastik di sisi ranjang dengan tas yang sudah dia siapkan sejak dua tahun lalu dan tidak pernah dibongkar. Di dalamnya ada sarung, dua stel baju, dompet berisi fotokopi kartu, dan satu botol air.
Kami tidak bicara selama sekitar dua puluh menit.
“Dokternya tadi ngomong apa?” tanyaku akhirnya.
“Nanti aja.”
“Bu.”
Ibuku menghela napas. Dia melipat ujung selimut Bapak yang sudah rapi.
“Empat,” katanya. “Mulai bulan depan. Bukan mungkin lagi.”
Aku mengangguk.
Ada kolom di kepalaku yang sudah menunggu angka itu sejak enam bulan lalu, dan angka itu masuk, dan kolomnya bergerak, dan seluruh baris di bawahnya bergerak.
Aku duduk di kursi plastik kedua dan melihat lantai.
“Rey.”
“Hm.”
“Mbak Lisa itu—”
“Bu.”
“Ibu nanya doang.”
“Bu, jangan sekarang.”
Ibuku diam beberapa detik.
“Dia telepon Ibu semalam,” katanya.
Aku mengangkat kepala.
“Apa?”
“Jam sembilan. Nanyain Bapak. Katanya cuma mau tau.” Ibu merapikan tas yang tidak perlu dirapikan. “Ibu bilang biasa aja, agak sesak. Dia bilang kalau ada apa-apa Ibu boleh telepon dia.”
“Kapan dia minta nomor Ibu?”
“Waktu di rumah kemarin. Ibu yang kasih.”
Aku menatap lantai rumah sakit yang dipel jam lima pagi dan masih basah di satu sisi.
Enam bulan aku memastikan tidak ada satu orang pun di dunia ini yang perlu ikut masuk ke dalam kolom.
Dan perempuan itu sudah masuk sendiri, lewat pintu belakang, tanpa izinku, dengan cara paling khas dirinya: dengan menelepon dan bertanya.
“Rey.”
“Iya, Bu.”
“Kamu kenapa?”
“Nggak apa-apa.”
Dan itu adalah kebohongan keempat yang kuucapkan kepada ibuku dalam sebelas tahun, dan ketiga yang lain semuanya terjadi dalam enam bulan terakhir.
Ponselku bergetar jam delapan lewat dua puluh.
Lisa: Kopinya dua. Yang satu masih penuh.
Aku menatap layar itu selama satu menit.
Lalu aku mengetik enam kata, menghapusnya, mengetik sembilan, menghapusnya, dan mengirim yang tersisa.
Rey: Ada urusan. Nanti aku kabarin.
Titik dua terlihat di layar. Muncul, hilang, muncul lagi.
Berlangsung selama empat puluh detik, dan aku bisa melihat perempuan itu di kepalaku — duduk di lantai unit 14A dengan punggung ke sofa, mengetik tiga paragraf, menghapusnya, mengetik lagi.
Lisa: Oke.
Satu kata.
Aku sudah mengenal orang itu selama empat tahun dan tinggal di sebelahnya selama enam bulan, dan itu adalah pesan terpendek yang pernah kuterima darinya.
Aku mematikan layar dan menaruh ponsel di saku, dan tidak mengeluarkannya lagi sampai jam tiga sore.
Bapak dipindahkan ke ruang rawat jam sebelas. Ibu pulang jam satu untuk mandi. Aku duduk di kursi di sisi ranjang selama empat jam dengan laptop yang tidak kubuka dan mengerjakan sesuatu yang jauh lebih buruk daripada bekerja, yaitu berpikir.
Ini yang kususun selama empat jam itu, dan aku menyusunnya dengan cara yang sama seperti aku menyusun rekomendasi klien, karena itu satu-satunya cara berpikir yang kupunya:
Fakta satu. Empat sesi per minggu mulai bulan depan. Selisihnya tidak tertutup oleh band Senior Associate.
Fakta dua. Ada satu posisi yang menutupnya, dan aku salah satu dari dua kandidatnya.
Fakta tiga. Kandidat yang satu lagi sudah melepas dua bagian dari tujuh, secara sukarela, dan akan melepas lebih banyak lagi kalau situasinya memburuk, karena dia tidak bisa berhenti menghitung dan sekarang dia punya angkaku di dalam hitungannya.
Fakta empat — dan ini yang butuh tiga jam untuk kuakui — bahwa kalau aku mendapat kursi itu, aku tidak akan pernah tahu.
Seumur hidup. Sampai mati. Setiap kali seseorang mengucapkan selamat, setiap kali aku menandatangani sesuatu dengan gelar itu di bawah namaku, akan ada satu pertanyaan kecil yang tidak akan pernah bisa kubuang: berapa bagian dari ini yang kukerjakan, dan berapa bagian yang dilepas seseorang karena dia melihat rumah kecil di Bekasi.
Aku hidup dari perhitungan.
Dan aku baru saja menemukan satu hasil yang tidak akan pernah bisa kuverifikasi.
Jam tiga sore, aku mengeluarkan ponselku dan tidak membuka pesan.
Aku membuka kalender.
Senin, jam delapan pagi: Renata — 15 menit.
Bapak bangun jam empat.
“Kamu dari tadi di situ?”
“Iya.”
“Nggak makan?”
“Nanti.”
“Rey.” Dia menggeser maskernya ke bawah, yang tidak boleh, yang selalu dia lakukan. “Kamu itu dari kecil kalau lagi mikir mukanya kayak orang marah.”
“Aku nggak marah.”
“Ibumu juga bilang gitu waktu kamu SMA. Terus tiga bulan kemudian kamu pindah jurusan.”
Aku tidak menjawab.
Bapak memandangiku cukup lama, dengan cara yang cuma bisa dilakukan orang yang sudah melihat wajah yang sama selama dua puluh delapan tahun.
“Yang kemarin ke rumah itu,” katanya.
“Pak.”
“Dia dengerin Bapak satu setengah jam.”
“Aku tau.”
“Nggak ada yang dengerin Bapak satu setengah jam, Rey. Ibumu aja udah nggak.” Dia terkekeh, lalu berhenti karena terkekeh itu mahal sekarang. “Dia beneran dengerin. Nanya soal Surabaya. Dua kali.”
Aku memandangi tanganku.
“Kamu mau ngapain?” tanya Bapak.
“Apa?”
“Bapak nggak tau kamu mau ngapain. Tapi Bapak tau kamu udah mutusin sesuatu, karena kamu duduk di situ dari pagi dan nggak sekali pun buka laptop.”
Aku tidak menjawab itu juga.
“Rey.”
“Iya, Pak.”
“Apa pun itu.” Dia menutup matanya lagi. “Jangan yang bikin kamu nggak usah ngomong.”
Aku pulang jam sembilan malam.
Lift lantai empat belas. Koridor. Enam langkah antara dua pintu.
Aku berhenti di depan 14A selama mungkin dua puluh detik.
Di baliknya ada lampu yang menyala; aku bisa melihat garisnya di bawah pintu. Ada suara — televisi, atau mungkin bukan, mungkin cuma seseorang yang berbicara sendiri kepada dinding tentang model alokasi biaya, seperti yang dia lakukan setiap malam sejak bulan Mei.
Aku mengangkat tangan.
Dua kali, jeda, sekali. Itu polanya. Aku tidak pernah memutuskan untuk membuat pola itu; itu terjadi sendiri, dan dia mengenalinya, dan dia tidak pernah menyinggungnya, dan itu adalah satu-satunya benda yang pernah kumiliki bersama seseorang tanpa harus diucapkan.
Tanganku berhenti sekitar tiga sentimeter dari daun pintu.
Karena kalau dia membuka pintu, aku harus mengatakan sesuatu.
Dan yang harus kukatakan adalah Bapak masuk IGD jam dua pagi dan aku pergi tanpa bangunin kamu, dan aku tahu persis apa yang akan terjadi setelah kalimat itu: dia akan marah selama empat menit, dan lalu dia akan bertanya nomor kamarnya, dan besok pagi dia akan ada di Bekasi dengan kotak kue yang masih hangat.
Dan pada hari Senin dia akan membuka file presentasinya lagi dan mencari bagian ketiga yang bisa dikosongkan tanpa terlihat kosong.
Aku menurunkan tanganku.
Aku masuk ke unit 14B, yang kosong dengan cara yang membuat seseorang sedih tanpa mengerti kenapa, dan menaruh kunci di meja yang kupakai untuk bekerja dan bukan untuk makan.
Balkonnya tidak kubuka.
Aku duduk di kursi lipat rendah itu di dalam ruangan, di tempat yang salah, dengan lampu yang tidak kunyalakan.
Dan jam sebelas lewat, lewat dinding, aku mendengar pintu kaca 14A dibuka.
Aku mendengar langkah di lantai beton balkon.
Aku mendengarnya berhenti — di titik yang persis, di tempat yang sudah kuhafal, di sisi sekat yang selama enam bulan tidak pernah jadi halangan bagi siapa pun.
Dia berdiri di sana selama sembilan menit.
Aku menghitung.
Lalu pintu kacanya tertutup lagi, dan aku duduk di dalam kegelapan unit 14B dan mengerti bahwa aku baru saja melakukan hal yang paling kejam yang pernah kulakukan kepada siapa pun seumur hidupku, dan bahwa aku melakukannya dengan cara yang tidak bisa dituduhkan kepadaku oleh siapa pun.
Aku tidak berbohong.
Aku cuma tidak keluar.
- 1 Unit Sebelah
- 2 Empat Menit
- 3 Sekat
- 4 Jemuran
- 5 Terlalu Dekat
- 6 Kode
- 7 Kerah
- 8 Pantry
- 9 Tangga Darurat
- 10 Semalem
- 11 Aturan
- 12 Di Bawah Meja
- 13 Delapan Lantai
- 14 Empat Jam
- 15 Dua Kamar
- 16 Bu Lisa
- 17 Bekasi
- 18 Lewat Sekat
- 19 Dua Bagian Kosong
- 20 Meninggikan Suara
- 21 Pintu Depan
- 22 Dua Gelas reading
- 23 Kain di Sekat
- 24 Mundur
- 25 Jam Satu Pagi
- 26 Pagi
- 27 Ketahuan
- 28 Selesai?
- 29 Berkali-Kali
- 30 Kening
- 31 Nol
- 32 Kuncinya