Chapter Fifteen
Dua Kamar
POV: Lisa
Pusat distribusi Cirebon adalah gudang seluas dua setengah hektare dengan sistem pencatatan yang, menurut penilaian profesionalku setelah enam jam di sana, dirancang oleh seseorang yang membenci masa depan.
“Ini kertas,” kataku, jam tiga sore, memegang buku besar.
“Iya, Bu,” kata kepala gudang.
“Semuanya kertas.”
“Sistemnya ada, Bu. Cuma kadang nggak sinkron.”
“Kadang.”
“Iya.”
“Pak Deden,” kataku, dengan senyum yang oleh Gege pernah dijuluki senyum sebelum kiamat, “boleh saya lihat data bulan Maret?”
Kami menemukannya jam lima sore: duplikasi Semarang bukan kesalahan sistem klien. Duplikasi itu dibuat manual, di Cirebon, oleh dua tim berbeda yang mencatat pengiriman yang sama karena tidak ada yang memberi tahu mereka bahwa rute itu sudah dialihkan sembilan bulan lalu.
Dia berdiri di depan rak arsip dengan tiga buku besar terbuka dan tidak mengatakan apa-apa selama empat menit penuh.
“Ini bukan Semarang,” katanya akhirnya.
“Bukan.”
“Ini semua rute yang dialihkan sejak Januari.”
“Iya.”
“Berapa rute?”
Aku membalik halaman.
“Sembilan belas.”
Dia menutup buku besar itu.
Dan aku melihat sesuatu di wajahnya yang tidak pernah kulihat sebelumnya di kantor, di rapat, atau di mana pun: Rey Alvaro sedang senang.
Bukan tersenyum. Tidak sejauh itu.
Tapi ada sesuatu yang terjadi di sekitar matanya, dan aku berdiri di gudang berdebu di Cirebon dengan buku besar di tanganku dan menyadari bahwa aku akan melakukan banyak hal bodoh untuk melihat ekspresi itu lagi.
“Kita nggak pulang malam ini,” katanya.
“Nggak.”
“Ini tiga hari kerja.”
“Minimal.”
Dia mengambil ponselnya.
“Aku telepon hotel.”
Hotelnya biasa saja. Tiga lantai, dekat alun-alun, jenis hotel yang dipakai orang yang datang untuk bekerja dan bukan untuk apa pun yang lain.
Dia memesan dua kamar. Aku mendengarnya melakukan itu di telepon, di dalam mobil, dengan suara yang sepenuhnya normal: dua kamar, satu malam, mungkin diperpanjang.
Dua kamar.
Aku mencatat itu sebagai fakta yang sangat baik dan sangat menenangkan dan tidak memikirkannya lagi selama seluruh perjalanan ke hotel, kecuali empat kali.
Kamar 204 dan 206.
“Aku mandi dulu,” kataku di lorong.
“Oke.”
“Terus kita kerja.”
“Oke.”
“Di ruang makan bawah. Yang ada mejanya.”
“Oke.”
“Rey.”
“Hm.”
“Berhenti bilang oke.”
“Oke,” katanya, dan membuka pintu 206.
Kami bekerja sampai jam sembilan malam di ruang makan hotel yang lampunya terlalu kuning, dengan dua laptop dan salinan tiga belas halaman buku besar yang kufoto dengan ponselku, dan seorang pelayan yang berhenti bertanya apakah kami mau memesan sesuatu setelah upaya keempat.
Ini adalah pekerjaan terbaik yang pernah kulakukan.
Aku menyadarinya di suatu titik sekitar jam delapan, ketika dia menyodorkan angka dan aku langsung melihat implikasinya dan mengucapkannya dan dia sudah mengetiknya sebelum aku selesai bicara.
Empat tahun kami saling melawan.
Ternyata inilah yang kami lewatkan.
“Kalau sembilan belas rute ini kita bersihkan,” kataku, “seluruh model biaya distribusi berubah.”
“Iya.”
“Dan Pak Wisnu bakal marah, karena artinya laporan internal dia salah sembilan bulan.”
“Iya.”
“Dan Renata bakal seneng banget.”
“Iya.”
Aku menyandar ke kursiku.
“Ini bagian siapa?” tanyaku.
Dia berhenti mengetik.
Pertanyaan itu keluar lebih ringan dari yang kumaksudkan, tapi sudah keluar, dan ruang makan yang kuning itu tiba-tiba terasa lebih kecil.
Satu nama per bagian.
Sembilan belas rute. Temuan terbesar di proyek Helios. Yang akan berada di halaman pertama rekomendasi November, dengan satu nama di bawahnya.
“Kamu yang minta liat data Maret,” katanya.
“Kamu yang nemu duplikatnya bulan lalu.”
“Kamu yang nanya ke Deden.”
“Rey.”
Dia menutup laptopnya.
“Aku nggak mau mikirin itu malam ini,” katanya.
Dan itu — bukan ciuman, bukan sentuhan, cuma satu kalimat dari orang yang tidak pernah menunda apa pun seumur hidupnya — yang akhirnya membuat sesuatu di dalam diriku menyerah sepenuhnya.
“Oke,” kataku.
“Sekarang kamu yang bilang oke.”
“Aku belajar dari yang terbaik.”
Kami naik jam sepuluh.
Lorong lantai dua hotel itu sempit dan berkarpet dan sangat sunyi, dan di antara pintu 204 dan pintu 206 ada jarak sekitar empat meter.
Aku berhenti di depan pintuku.
Dia berhenti di depan pintunya.
Ada momen yang sangat panjang di mana tidak ada yang membuka pintu.
“Besok jam tujuh,” katanya.
“Jam tujuh.”
“Deden datang jam delapan.”
“Aku tau.”
“Oke.”
Aku memasukkan kartuku. Lampu di gagang pintu berubah hijau.
Aku tidak membuka pintuku.
“Rey.”
“Hm.”
Dan aku berbalik, dan menyandar ke pintu kamarku sendiri, dan menatap orang yang berdiri empat meter di ujung lorong dengan kunci di tangannya dan tidak bergerak sama sekali.
“Kenapa kamu pesen dua kamar?”
Dia tidak menjawab.
“Rey.”
“Karena aku nggak mau kamu ngerasa harus.”
Aku merasakan seluruh udara di lorong itu berubah.
“Itu jawaban yang sangat menyebalkan,” kataku, dan suaraku sudah tidak stabil, “karena itu jawaban yang bener.”
“Iya.”
“Dan sekarang aku nggak bisa marah sama kamu.”
“Iya.”
“Rey Alvaro.”
“Hm.”
“Kalau kamu mau aku berhenti,” kataku, “bilang sekarang.”
Empat meter.
Dan untuk kedua kalinya sejak aku mengenal orang ini, dia tidak mengatakan apa-apa — tapi kali ini keheningannya berlangsung setengah detik, bukan enam, karena kali ini dia sudah bergerak.
Kartu kamar 206 jatuh ke karpet dan tidak diambil siapa pun sampai pagi.
Punggungku membentur pintu 204 yang lampunya sudah kembali merah, dan aku harus meraba dengan satu tangan mencari kartuku sendiri sementara tangan yang lain di rambutnya, dan gagal tiga kali, dan tertawa ke mulut orang itu — dan dia mengambil kartu itu dari tanganku dan membukanya sendiri dalam satu gerakan.
Pintu terbuka.
Lorong lantai dua hotel itu kembali sunyi.
Yang kuingat dari pagi berikutnya bukan yang semalam.
Yang kuingat adalah bahwa aku bangun jam enam kurang sepuluh dengan kaus abu-abu yang bukan milikku, di kamar yang tirainya lupa kami tutup, dengan cahaya Cirebon jam enam pagi yang masuk lurus ke wajahku.
Dan bahwa dia sudah bangun.
Duduk di tepi ranjang, punggung membelakanginya, dengan ponsel di tangan dan layar yang menyala.
“Jam berapa?” tanyaku.
Suaraku serak.
Dia mematikan layarnya dan menoleh setengah.
“Enam kurang.”
“Kamu udah bangun dari kapan?”
“Setengah lima.”
Aku menarik diriku sampai duduk.
“Kenapa?”
Ada jeda.
Dan aku — yang tidak bertanya di mobil, yang menahan seluruh persediaan pertanyaanku selama empat jam di jalan tol — merasakan sesuatu yang dingin merayap di bawah kehangatan pagi itu.
“Rey.”
“Aku nggak bisa tidur,” katanya.
“Karena?”
Dia menaruh ponselnya di meja kecil di samping ranjang, menghadap ke bawah.
Lalu dia berbalik sepenuhnya, dan aku melihat wajahnya untuk pertama kali pagi itu, dan wajah itu terlihat seperti seseorang yang sudah menghitung sesuatu berulang-ulang selama satu setengah jam dan tidak menyukai hasilnya.
“Empat bulan,” katanya.
Aku berhenti bernapas.
“Aku ambil empat bulan hari Minggu itu,” lanjutnya, “karena aku pikir aku bisa.”
“Rey—”
“Dan sekarang baru bulan pertama.”
Dia mengambil kausnya dari lantai.
“Jam tujuh,” katanya. “Deden datang jam delapan.”
Dan dia keluar, ke kamar 206, meninggalkan kartu kunci yang masih tergeletak di karpet lorong.
Aku duduk di tengah ranjang di kamar 204, dengan kaus abu-abu yang kebesaran dan cahaya jam enam pagi di wajahku, dan menyadari dua hal secara bersamaan.
Yang pertama, bahwa aku sangat, sangat bahagia.
Yang kedua, bahwa aku baru saja mendengar orang yang paling tidak pernah panik di seluruh gedung Meridian mengaku, dengan suaranya sendiri, bahwa dia sudah salah hitung.
Dan Rey Alvaro tidak pernah salah hitung.
- 1 Unit Sebelah
- 2 Empat Menit
- 3 Sekat
- 4 Jemuran
- 5 Terlalu Dekat
- 6 Kode
- 7 Kerah
- 8 Pantry
- 9 Tangga Darurat
- 10 Semalem
- 11 Aturan
- 12 Di Bawah Meja
- 13 Delapan Lantai
- 14 Empat Jam
- 15 Dua Kamar reading
- 16 Bu Lisa
- 17 Bekasi
- 18 Lewat Sekat
- 19 Dua Bagian Kosong
- 20 Meninggikan Suara
- 21 Pintu Depan
- 22 Dua Gelas
- 23 Kain di Sekat
- 24 Mundur
- 25 Jam Satu Pagi
- 26 Pagi
- 27 Ketahuan
- 28 Selesai?
- 29 Berkali-Kali
- 30 Kening
- 31 Nol
- 32 Kuncinya